Yuta Asari, satu – satunya pemuda yang tahu jika Lintang dan Bunga adalah orang yang sama. Yuta sendiri sebenarnya adalah kakak kandung Devan. Di rumah yang megah mereka hanya tinggal berdua, sebab Yuta hanya memanggil pembantu rumah tangga dari pagi sampai sore saja.
Yuta pemuda yang disiplin dan tegas, sebab dia adalah anak pertama yang bertanggung jawab mengenai bisnis keluarga sekaligus menjadi orang tua bagi Devan. Apalagi orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat lima tahun lalu membuat dirinya menjadi sosok yang berpikiran lebih dewasa dibanding umurnya yang seharusnya.
‘’Devan kenapa dua hari ini selalu pulang tengah malam?’’ Batin Yuta cemas.
Biarpun selama ini Yuta terlihat cuek dan memberikan kebebasan kepada adiknya sebenarnya Yuta sangat perhatian. Jadi pemuda itu mengawasi pergaulan Devan secara jarak jauh, seandainya hanya kenakalan remaja yang normal Yuta tidak akan mempermasalahkannya.
Diam – diam Yuta melacak GPS adiknya, betapa terkejutnya jika Devan malam ini berada di sebuah tempat karaoke ternama.
‘’Devan, jangan sampai kamu terjerumus pergaulan yang bisa merusak masa depanmu,’’ batin Yuta takut jika adiknya bermain dengan wanita panggilan.
Karena Yuta tahu pasti, tempat karaoke itu bukan hanya menyediakan jasa menemani bernyanyi saja. Ada transaksi jual beli obat terlarang dan juga jual beli gadis cantik bahkan gigolo.
Yuta segera meluncur ke tempat dimana adiknya berada, sesampainya di sana dia langsung menyelinap masuk. Yuta tak ingin merusak repotasinya sebagai pemimpin perusahaan, diapun memakai kaca mata hitam dan masker sekaligus topi.
Namun, baru saja dia masuk masuk ke gerbang dari kejauhan Yuta melihat adiknya sedang bersama seorang gadis cantik yang terasa tidak asing lagi.
‘’Devan… Gadis itu…’’ gumam Yuta bersembunyi.
Devan sedang terlihat tertawa riang bersama perempuan yang ditemui Yuta saat di salon, mereka berdua sedang mau berjalan keluar dari tempat tersebut.
Sebelum ketahuan Yuta segera pergi duluan dan bergegas pulang untuk menyidang adiknya di rumah.
‘’Gadis itu, aku ingat jelas jika dia beberapa hari yang lalu tampak begitu lugu dan polos. Siapa sangka jika gadis itu seorang bunga malam,’’ batin Yuta.
Beberapa menit kemudian Devan secara mengendap – endap masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang, akan tetapi Yuta sudah berdiri di sofa dekat dengan kamar mereka.
‘’Devan, dari mana kamu?’’ tanya Yuta dengan tatapan tajam.
Di dunia ini orang yang paling ditakuti oleh Devan adalah kakaknya sendiri, walaupun kakaknya terlihat cuek akan tetapi kalau sudah marah bisa sangat menakutkan.
‘’Bermain ke rumah teman,’’ jawab Devan tak berani menatap kakaknya.
‘’Devan, jangan harap kamu bisa membohongi kakak. Kamu masih seorang pelajar. Jika kamu sampai ke tepat itu lagi dengan terpaksa kartu kredit kamu kakak bekukan,’’ancam Yuta serius.
Satu – satunya cara ini memang yang paling ampuh untuk mengancam Yuta, sebab tanpa uang Devan tidak bisa berkutik.
‘’Iya, kakak,’’ jawab Devan patuh.
‘’Tidurlah, walaupun kamu tidak suka belajar setidaknya kamu jangan sampai tidak lulus,’’ tutur Yuta berubah lembut lalu masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Devan merasa resah sebab tidak bisa lagi menemui Bunga yang sudah membuatnya tergila – gila.
Di sisi lain Lintang yang sudah selesai bekerja segera menemui sahabatnya di tempat tongkrongan biasa.
‘’Desty, ayo kita pulang sekarang,’’ ajak Lintang.
‘’Baiklah,’’ jawab Desty langsung berpamitan pada teman – temannya dan menggandeng lengan Lintang dengan manja.
‘’Desty, apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai kos-kosan di sekitar sini?’’ tanya Lintang tak sabar.
‘’Sudah dong, tadi aku sudah melihatnya. Aku memilih yang agak besar biar cukup untuk kita berdua. Dan yang lebih penting lagi kamar mandi di dalam dan sudah ada Kasur nyaman beserta lemarinya. Besok aku akan menyuruh seseorang untuk memindahkan televisi beserta kipas angin yang sudah tidak terpakai di rumahku,’’ jawab Desty senang.
‘’Wah terima kasih banyak ya,’’ balas Lintang sangat senang memiliki sahabat yang selalu bisa di andalkan.
‘’Iya, sama – sama, lagian aku bosan tidur sendiri di rumah. Kadang suka ingin menginap di rumahmu, tapi kamar kamu kecil sekali mana cukup,’’ jawab Desty ikut senang.
‘’Eh, berapa harga sewa perbulan?’’ tanya Lintang.
‘’Satu juta,’’ jawab Desty.
‘’Baiklah, karena aku sudah bekerja dengan hasil yang lumayan maka hal itu tidak masalah,’’ ujar Lintang tenang.
Sebelum pulang tentu saja Lintang akan berganti baju dan menghapus make upnya. Dan betapa bahagianya sesampainya di rumah keluarganya sudah komplit.
‘’Paman, paman apa sudah baikan kok pulang?’’ tanya Desty mewakili Lintang.
‘’Sudah, Nak. Maaf paman jadi merepotkan kamu. Karena mengantar dan menjemput Lintang bekerja,’’ ucap ayahnya Lintang merasa tidak enak.
‘’Ah paman ini santai saja, aku setiap malam juga kebetulan suka sekali nongkrong di samping tempat bekerjanya Lintang. Jadi sama sekali tidak merepotkan,’’ jawab Desty santai.
‘’Ayah, Ibu. Pekerjaanku ini memang pulang larut malam karena shift malam. Apa sebaiknya Lintang ngekos saja di dekat tempat kerja. Takutnya juga nanti saat Desty nanti ada urusan lain aku bingung mau berangkat dan pulang naik apa,’’ pinta Lintang.
‘’Paman tenang saja, aku akan sering menemani Lintang tidur di kos – kosan. Apalagi aku bosan sendirian di rumah,’’ sela Desty ikut memohon.
‘’Iya, Nak. Yang penting kamu bisa jaga diri baik – baik,’’ jawab Ayahnya Lintang setelah berpikir panjang.
Ibunya Lintang juga mau tak mau harus setuju, sebab memikirkan keluarga mereka yang tidak memiliki kendaraan memang sulit.
‘’Mulai sekarang Ibu juga tidak perlu bekerja lagi, sebaiknya Ibu menjaga ayah dan farel di rumah. Aku yakin gaji sebulan aku cukup untuk membayar kontrakan beserta kebutuhan kita harian,’’ bujuk Lintang.
‘’Bukannya kamu harus mencicil hutangmu kepada Desty?’’ tanya Ibunya Lintang.
‘’Bibi santai saja, lagipula sebelum uangku habis papa dan mama sudah mengirim uang banyak,’’ sela Desty menenangkan orang tua sahabatnya.
‘’Beruntung sekali kamu, Des. Andaikan paman ini bisa seperti orang tuamu yang bisa memberikan segalanya untuk Lintang dan Farel,’’ sela Ayahnya Lintang sedih.
‘’Kalau disuruh memilih aku lebih ingin seperti Lintang, walaupun pas – pasan tapi selalu berkumpul dengan keluarga. Soal uang itu bisa dicari, Paman. Akan tetapi mengenai waktu yang terbuang sia – sia tak bisa di ulang,’’ jawab Desty tersenyum tegar.
Orang tua Lintang terperanjat, mereka ingat jika orang tua Desty bercerai dan memiliki kehidupan masing – masing. Sedangkan setelah nenek Desty meninggal, sahabat Lintang itu memilih tinggal seorang diri.
‘’Sabar ya, Nak.’’ Hibur orang tua Lintang secara bersamaan.
‘’Tidak apa – apa, Paman, Bibi. Tapi semenjak aku mengenal Lintang hidupku tidak terlalu menyedihkan,’’ balas Desty tulus.
Lintang hanya tersenyum memberikan kekuatan hidup kepada sahabatnya, lebih tepatnya sahabat rasa saudara.
‘’Lintang, jadi kapan kamu akan pindah?’’ tanya Ayahnya Lintang.
‘’Mumpung besok hari minggu, jadi besok saja,’’ jawab Lintang.
‘’Maaf Ayah yang tidak berguna gini,’’ ucap lelaki setengah baya itu menangis pilu.
‘’Paman jangan bersedih lagi, sebaiknya paman berpikir yang bahagia saja biar cepat sembut. Jika paman sembuh kan nanti bisa membuka usaha bersama, aku lihat ada pembangunan kios baru di pasar tradisional. Karena itu milik pemerintah resmi jadi harga sewa lebih murah. Dan kabar baiknya setiap kios itu lantai dua, di lantai atas bisa di buat kamar beserta kamar mandi dan dapur. Jadinya masih sekitar lima bulan lagi, jadi menunggu paman sembuh Lintang juga bisa menabung agar nanti paman dan bibi pindah ke sana saja sekalian bisnis kecil – kecilan. Jualan mie ayam, bakso, dan gorengan atau makanan yang lainnya,’’ saran Desty.
‘’Des, kamu ini selalu memiliki banyak informasi,’’ ucap Lintang kagum.
‘’Tentu saja, biarpun aku tidak secerdas kamu tapi soal informasi aku jauh lebih unggul,’’ jawab Desty bangga.
‘’Benar, Ayah, Ibu. Kadang aku merasa jika kontrakan ini sudah tidak layak lagi. Kasihan Farel juga takutnya saat musim hujan banyak nyamuk demam berdarah. Jadi Ayah harus segera sembuh, ya. Lintang akan berusaha mengumpulkan uang,’’ timpal Lintang penuh semangat.
Kedua orang tua Lintang tersenyum bahagia dengan pemikiran anaknya, mereka tidak pernah berhenti mendoakan semoga ekonomi keluarga mereka semakin membaik.