19. Bunga Idola

1322 Kata
Hanya beberapa hari bekerja, Lintang sudah menjadi idola. Banyak sekali pemuda yang memperebutkannya. Sehingga Mesya menggunakan kesempatan ini untuk menaikkan tarif harga perjamnya. Tentu saja hal ini juga membuat honor Lintang semakin banyak. Akan tetapi Devan malam ini sama sekali tidak datang, entah ada apa gerangan tapi Lintang justru merasa lebih tenang. "Bunga, kamu mau nggak mendapatkan penghasilan yang lebih?" bisik Lala. "Bagaimana caranya?" tanya Lintang serius. "Kamu temani saja mereka ke hotel, nanti hasilnya setara satu Minggu kamu menemani mereka bernyanyi," jawab Lala tanpa rasa malu. "Tidak, Kak Lala. Aku ini masih sekolah, aku takut jika nanti sampai hamil di luar nikah," tolak Lintang secara halus. "Kamu ini, masih banyak cara untuk mencegah kehamilan kok, lagian jaman sekarang banyak anak remaja yang sudah berani melakukan hal itu bersama pacarnya. Kau aku sih rugi, dari pada dengan pacar mending dengan pelanggan yang menghasilkan," sergah Lala. Lintang hanya tersenyum mencoba menghargai keputusan Lala, karena setiap orang memang punya jalan pilihan masing-masing. Di antara sesama teman seprofesi hanya Lala yang mau mengobrol dengan Lintang, sebab yang lainnya seperti iri karena pelanggan mereka menjadi berkurang dan lebih memilih untuk berebut Lintang. Sedangkan Lala walaupun tampangnya terlihat judes tapi kalau sudah akrab sangat baik. "Bunga, ada tamu spesial yang ingin menemuimu. Ayo kamu ikut aku," ajak Mesya. "Iya," jawab Lintang masuk. Lintang masuk ke ruangan pribadi bosnya, dan di sana duduk seorang lelaki yang usianya sekitar tiga puluh tahunan. "Namamu Bunga ya, ternyata wajahmu lebih cantik dari bunga yang sedang mekar," sapa lelaki itu. "Maaf, ada Anda memanggil saya?" tanya Lintang agak takut. "Perkenalkan, namaku Hyuga. Jujur saja, aku pertama kali melihatmu langsung tertarik. Bagaimana kalau kamu menjadi kekasihku? Maka setelah ini kamu tidak perlu bekerja dan semua biaya kebutuhan kamu akan aku tanggung?" tawar Hyuga dengan tatapan yang sulit diartikan. Lintang semakin gelisah, untuk saat ini dia hanya ingin fokus bekerja dan memperbaiki ekonomi keluarga. Soal percintaan tentu saja dia tidak memikirkannya sama sekali. "Maaf, Tuan Hyuga. Tapi saya ini masih sekolah yang masih di bawah umur Dan saya juga merasa belum pantas untuk pacaran. Maaf sekali ya, kalau begitu saya permisi dulu," tolak Lintang secara halus. "Baiklah kalau begitu, silahkan kamu bekerja lagi," jawab Hyuga sambil tersenyum. Sesampainya di luar Mesya sudah menunggu dengan harap-harap cemas. "Bunga, Bagaimana pembicaraan kalian? Apa yang dikatakan oleh Bos Hyuga padamu?" tanya Mesya penasaran. "Dia meminta saya untuk berhenti bekerja dan menjadi pacarnya, tapi saya menolak karena masih sekolah dan masih di bawah umur," jawab Lintang takut-takut. "Terus dia melepaskan begitu saja?" tanya Mesya heran. "Iya, saat saya meminta izin untuk keluar Tuan Hyuga tidak keberatan," balas Lintang. Mesya hanya diam saja dan tampak sedang berpikir keras. "Bunga, sebaiknya kamu hati-hati ya mulai sekarang! Bos Hyuga itu bukan orang yang mudah ditebak," saran Mesya. "Iya," jawab Lintang patuh. Walaupun Lintang mencoba untuk bersikap tenang tapi tetap saja dia merasa takut. Setelah jam pekerjaan selesai Lintang pulang, karena dia sudah pindah ke kontrakan yang tidak begitu jauh dari tempat kerja dia bisa berjalan kaki dan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Walaupun sudah larut malam, akan tetapi jalanan masih ramai dan banyak anak muda yang sedang nongkrong. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, sebab di sekitar sana memang banyak kos-kosan yang di huni oleh para pelajar. Lintang terkejut, sebab pintu kamarnya tidak terkunci. "Ya ampun, sepertinya tadi sudah aku kunci," batin Lintang khawatir. Akan tetapi begitu pintu di buka ternyata sudah ada Desty yang sedang tiduran sambil bermain ponsel. "Ya ampun, Desty. Kamu mengagetkanku saja, dari mana kamu bisa masuk?" tanya Lintang lega. "Aku kan punya kunci cadangan satu, jadi sewaktu-waktu aku ingin kemari aku bisa masuk tanpa harus menunggu kamu," jawab Desty santai. "Oh, aku sempat takut tadi," balas Lintang ikut merebahkan tubuhnya ke ranjang yang lumayan luas. "Bagaimana pekerjaanmu? Dan apa kabar hubunganmu dengan Devan?" tanya Desty bertubi-tubi. "Devan sudah dua hari ini tidak datang, entah ada masalah apa. Dan soal pekerjaan sih lancar, hanya saja tadi ada orang yang datang menemuiku dan meminta aku untuk berhenti bekerja terus menjadi kekasihnya," ujar Lintang jujur apa adanya. "Serius, Siapa? Apa dia tampan?" tanya Desty antusias. "Dia tampan, dan jauh lebih dewasa. Namanya Tuan Hyuga," jawab Lintang. "Ya ampun, Hyuga? Lintang, mulai sekarang kamu jangan mendekati dia ya! Dia itu bandar Narkoba dan juga pemilik tempat perjudian terbesar di wilayah ini. Kamu kok bisa kenal dengan dia sih?" pekik Desty. "Aku juga tidak kenal dia, tapi tiba-tiba saja dia yang menyuruh tante Mesya untuk memanggilku," ujar Lintang juga kebingungan. "Tapi untunglah kamu sudah pindah kesini, jadi dia tidak akan tahu mengenai keluargamu. Aku hanya takut saja jika terjadi seperti di drama, seorang mafia yang menyandera keluarganya agar si gadis cantik mau dinikahi," cetus Desty cemas. "Kamu jangan membuat aku takut," sergah Lintang. "Makanya kamu jangan sampai ketahuan jika Bunga adalah Lintang," pinta Desty. "Iya, ayo sekarang kita tidur. Besok pagi kita juga harus berangkat sekolah," ajak Lintang. "Iya," jawab Desty memosisikan dirinya senyaman mungkin. Pagi harinya Lintang ikut Desty ke rumahnya untuk berganti seragam, karena Desty agak lama mereka berdua menjadi terlambat. Mau tak mau mereka harus di hukum berdiri di depan kelas saat jam pelajaran. "Lintang, maafkan aku ya?" bisik Desty. "Tidak apa-apa, dari sini aku masih bisa mendengar pelajarannya kok," jawab Lintang santai. "Astaga, dalam keadaan seperti ini kamu masih sempat-sempatnya memperhatikan pelajaran?" pekik Desty heran. "Kenapa memangnya?" tanya Lintang polos. "Kamu memang luar biasa," decak Desty "Sudah diam, aku ingin mendengarkan penjelasan dari pak guru dulu!" pinta Lintang. Desty diam dan hanya tersenyum geli, jangankan dalam kondisi seperti ini. Saat duduk manis di kelas gadis itu tidak bisa menyerap pelajaran walau sudah mencoba memperhatikan baik-baik. Makanya Desty nyerah dan lebih memilih membuat desain perhiasan dan baju sesuai hobinya. Jika soal yang satu itu kemampuan Desty tidak bisa diragukan lagi. Setelah jam istirahat selesai mereka berdua terbebas dari hukuman. "Lintang, ayo kita makan ke kantin?" ajak Desty. "Ayo, aku lapar sekali tadi belum sarapan," jawab Lintang. "Bukannya kita juga sama?" balas Desty nyengir. Keduanya tertawa dan bergandengan tangan menuju ke kantin. "Woh, mesra sekali kalian. Apa karena tidak laku jadi kalian saling jatuh cinta ya? Tapi dipikir-pikir mana ada cowok yang akan naksir kalian, apalagi manusia purba seperti..." sindir Devan melirik ke arah Desty dan Lintang. "Aku heran, kenapa pula ada mulut lelaki yang comber seperti nenek lampir ya? Mungkin orang tuanya tidak mendidiknya kali," sindir Desty. Devan begitu disinggung soal orang tua tersinggung, hampir saja pemuda itu memukul Desty. Namun, dengan sigap Adit menghalangi. "Devan, jangan membuat keributan di sini! Ayo sebaiknya kita makan di luar sambil melihat gadis cantik yang membuat mata kita segar," sergah Adit. "Kamu benar, karena melihat hal yang buruk akan merusak mataku," jawab Devan langsung setuju. "Otak kamu tuh yang sudah rusak!" teriak Desty tidak terima. "Sudah Des, tidak enak dilihat yang lain. Ayo sebaiknya kita memesan makanan. Karena semalam aku dapat bonusan besar jadi aku yang traktir ya?" bujuk Lintang menenangkan emosi sahabatnya yang mudah meledak. "Baiklah, kalau begitu aku pesankan mie ayam dan mendoan juga es jeruk. Aku tunggu di sini," jawab Desty cemberut. "Iya, iya. Tunggu sebentar ya anak manis," balas Lintang membujuk Desty. Desty menjadi tersenyum, memang di antara semua orang yang bisa tahan dengan sifat emosional Desty hanya Lintang. Tapi memang Lintang adalah seorang sahabat baik yang tidak memandang dari fisik saja. Tak lama kemudian Lintang kembali membawa dua nampan sekaligus. "Ya ampun, Lintang. Kamu bisa membawa secara bersamaan?" Desty merasa terkejut. "Namanya juga jiwa pelayan, pastinya hal seperti itu mudah untuk dilakukannya," sindir Lita. "Diam kamu! Jika tidak akan aku pastikan mie ayam ini melayang ke wajahmu," bentak Desty. "Memang kamu berani?" tantang Desty. "Kamu mau mencobanya?" balas Desty yang sudah mengangkat mangkoknya. Akan tetapi secepat kilat Lintang segera memegang mangkok tersebut. "Karena kamu anak orang kaya sepertinya tidak pantas makan di sini bersanding dengan pelayan sepertiku, atau kamu sudah merendahkan seleramu?" ucap Lintang menatap Lita, entah keberanian dari mana tapi dia sangat kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN