Senja mulai menghiasi langit, akan tetapi Desty masih belum selesai menghias rumah miniaturnya. Lintang tidak bisa protes, sebab temannya itu selalu menginginkan kesempurnaan. Jika sudah begitu maka satu orangpun tidak diizinkan untuk membantunya karena justru dianggap pengganggu.
Lintang memilih duduk di taman menenangkan dirinya, sebab jika di dalam dan satu ruangan dengan Devan hanya akan terjadi pertengkaran. Jika sudah begitu Desty yang tidak terima dirinya ditindas pasti tidak akan tinggal diam dan membuat keadaan semakin rumit.
Lintang sendiri tidak mengerti kenapa Devan begitu membencinya, bahkan dari pertama kali dia masuk ke sekolah. Hanya karena penampilannya yang cupu selalu membuat Devan kesal.
"Di sini lebih nyaman," gumam Lintang tersenyum melihat ikan-ikan yang berenang kesana-kemari.
Di sisi lain dari kamar lantai dua ada seorang pemuda yang cukup lama juga memperhatikan Lintang dari balik jendela.
"Kenapa jika sekolah dia berdandan seperti itu, padahal jika dia dandan dan memakai baju yang lebih pantas terlihat sangat cantik," gumam Yuta penasaran.
Yuta masih ingat saat di salon, gadis yang sedang duduk di tamannya itu tampak begitu cantik dan mempesona. Namun, yang membuat Yuta semakin penasaran lagi kenapa jika temannya Devan itu sampai bekerja di tempat yang berbahaya. Padahal dari gelagat dan raut wajah tampak kalem dan lugu.
"Kenapa aku jadi memikirkan gadis ini?" batin Yuta menutup tirai jendela dan fokus dengan pekerjaanya.
Setelah langit benar-benar gelap Lintang baru masuk, dan Desty tengah membereskan sisa bahan.
"Lintang ayo kita segera pulang," ajak Desty.
"Iya," jawab Lintang lega, karena malam ini dia juga harus segera bekerja.
"Kami pulang dulu, Devan kamu harus jaga ini ya. Awas jika sampai maha karyaku ini rusak sedikit saja!" ancam Desty.
"Iya aku tahu, bawel ah," balas Devan ketus.
"Desty, sebaiknya aku naik ojek saja. Aku kasihan kamu jika harus mengantar aku dan bolak balik," ujar Lintang.
"Ah, malam ini aku mau menginap bersamamu saja. Lagian di sana aku juga ada baju ganti," jawab Desty santai.
Lintang hanya tersenyum saja dan menghargai keputusan temannya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang Lintang dan Desty sampai di kontrakan, setelah itu dia segera bersiap-siap untuk bekerja. Karena ada Desty jadi saat make up dia di bantu.
"Hari ini aku ingin kamu make up yang lebih menggoda bagaimana? Biar nanti pelanggan semakin terpesona dan kamu mendapat tip banyak," saran Desty.
"Oke," jawab Lintang senang.
"Ingat, obat tidur yang aku kasih itu jangan sampai lupa dibawa," tutur Desty.
"Iya, Des. Terima kasih banyak," jawab Lintang bahagia memiliki teman yang sangat perhatian.
Sesuai berdandan Lintang dan Desty pergi ke tempat karaoke, setelah itu Desty masuk ke tempat sebelah untuk dugem bersama teman-teman. Tanpa sengaja di sana Desty bertemu dengan Adit.
"Adit, ngapain kamu kesini?" tanya Desty heran.
"Lah kamu sendiri ngapain kesini?" balas Adit.
"Ini tongkrongan aku," jawab Desty santai.
"Anak gadis tidak baik bermain di sini, lebih baik pergi ke mall atau salon," saran Adit tampak cemas.
"Suka-suka aku, memangnya hanya lelaki saja yang bisa bersenang-senang?" balas Desty.
"Kamu di sini bersama siapa?" tanya Adit.
"Aku memiliki teman lelaki banyak di sini," canda Desty berlalu pergi.
Entah kenapa Adit tiba-tiba berubah masam dan kesal.
Sedangkan Lintang yang akan bekerja langsung menemui pelanggannya di ruangan yang sudah di pilih oleh pelanggan.
Lintang sudah termasuk populer, jadi soal pelanggan tidak perlu menunggu karena sebelumnya sudah ada pelanggan yang memboking.
Lintang tidak bisa menyangka jika yang datang merupakan Devan.
"Bunga, bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa denganmu," sapa Devan tersenyum manis.
"Baru saja kita bertemu Devan, dan kamu begitu bermuka dua," batin Lintang.
"Baik, kenapa kamu kemarin-kemarin tidak datang ke sini?" jawab Lintang mencoba bersikap semanis mungkin.
"Aku ada kepentingan keluarga," balas Devan berbohong.
"Kamu mau minum apa dan mau bernyanyi apa?" tanya Lintang menawarkan.
"Tidak, aku tidak ingin keduanya. Aku hanya ingin bertemu dan mengibrol denganmu saja," jawab Devan.
Lintang heran, kenapa Devan hanya demi mengobrol dan bertemu dengannya sampai rela membayar cukup besar. Dia sungguh tidak mengerti dengan kehidupan orang kaya yang suka menghambur-hamburkan uang.
Tapi Lintang tidak peduli, toh Devan juga bukan orang yang baik. Sedikit memanfaatkan lelaki tersebut tidak masalah.
"Bunga, kenapa aku tidak boleh meminta nomor teleponmu?" tanya Devan memelas.
"Tidak apa-apa," jawab Lintang kikuk sendiri.
"Kalau begitu di mana rumahmu?" tanya Devan lagi.
"Dev, aku di sini hanya sebatas bekerja menemani bernyanyi. Setelah itu aku tidak mau para tamu mengetahui urusan pribadiku," kata Lintang tegas.
"Kenapa? Tidak bisakah aku lebih mengenalmu?" bujuk Devan.
"Tidak, siapapun juga tidak. Intinya aku hanya ingin bekerja saja," jawab Lintang menatap ke arah lain.
"Bunga, kenapa kamu misterius seperti ini? Apa kamu ada masalah? Coba ceritakan semuanya padaku biar aku bisa membantu, atau kamu tak perlu lagi bekerja jadi biar aku perbulan memberi uang sesuai gaji yang kamu dapatkan," bujuk Devan serius.
Lintang tertawa, dia merasa konyol sebab Devan menjadi bodoh hanya karena tertipu oleh kecantikan.
"Devan, aku tahu kamu ini masih pelajar dan bahkan uang yang kamu pakai itu dari orang tuamu. Apa kamu tidak malu berkata sepeti itu?" ejek Lintang.
Devan terdiam, pemuda itu merenungi dan sadar apa yang dikatakan oleh wanita pujaannya adalah sesuatu yang benar. Selama ini Devan hanya menghambur-hamburkan uang dari jerih payah kakaknya.
"Baiklah, bagaimana kalau aku berhasil mendapat uang dari hasil jerih payahku sendiri? Apa kamu mau berhenti bekerja di tempat seperti ini?" pinta Devan.
Lintang terkejut, tidak menyangka jika Devan beneran serius.
"Kamu kan masih sekolah, nanti kamu akan dimarahi orang tuamu jika bekerja tapi hasilnya diberikan padaku," jawab Lintang yang kebingungan mau bicara apa.
"Aku sudah tidak punya orang tua, sejak kecil aku hidup hanya bersama kakakku saja," jawab Devan.
Lintang tiba-tiba merasa iba melihat sorot mata Devan yang tampak begitu merindukan kasih sayang dari orang tuanya.
"HM... Aku pikirkan baik-baik dulu," balas Lintang.
Devan melirik jam tangannya, sudah pukul sembilan malam. Dia takut jika pulang larut malam akan dicurigai kakaknya lagi.
"Kalau begitu aku pulang dulu, ini untukmu," pamit Devan sembari memberikan uang satu juta.
"Devan tunggu, kenapa kamu begitu baik padaku?" tanya Lintang terharu juga.
"Karena aku peduli padamu," jawab Devan tersenyum manis dan berlalu pergi.
Lintang terdiam dan terpana. Karena sikap Devan benar-benar berbeda sekali saat Dian menjadi Lintang dan Bunga.
"Devan, mungkin jika aku adalah Bunga bisa saja aku akan tertarik padamu. Namun jati diriku ini adalah Lintang, seseorang yang sering kamu hina dan sakiti dengan ucapanmu yang kejam," batin Lintang dilema.
Setelah ini Lintang melihat ke jadwal kerjanya, ternyata adalah Hyuga lagi.
Lintang selalu saja merasa takut dan cemas setiap kali berhadapan dengan orang tersebut. Jujur saja dia lebih memilih bertemu dengan Devan yang menyebalkan di banding dengan Hyuga. Karena meskipun Devan kadang suka menggombal tapi tangan Devan tidak pernah berani usil. Sedangkan Hyuga seperti hewan buas yang hendak menerkam mangsanya.