Malam harinya saat bekerja Lintang merasa cemas, sebab seseorang yang menyewanya untuk menemani bernyanyi adalah Hyuga.
‘’Ya ampun, kenapa aku gemetar begini?’’ batin Lintang sembari membawa minuman keras dan juga gelas di nampan.
Begitu memasuki ruangan yang tersedia, di sana Hyuga sedang duduk sambil merokok dengan santainya.
‘’Si cantik sudah datang, ayo temani aku minum. Jika kamu bisa menghabiskan minuman ini satu gelas saja akan aku beri hadiah satu juta,’’ pinta Hyuga.
Namun, Lintang tahu jika dirinya tidak pernah minum. Bahkan minuman yang saat ini di bawanya memiliki kadar alcohol yang paling tinggi di kelasnya.
‘’Maaf Tuan Hyuga, saya tidak bisa minum. Jadi biar saya tuangkan minumanya saja ya,’’ tolak Lintang secara lembut dan mencoba tidak menyinggung orang yang berbahaya itu.
‘’Kamu ini manis sekali, coba kamu mau jadi kekasihku maka kamu tak perlu bekerja seperti ini. Akan aku tanggung semua biaya hidupmu dan kamu bisa hidup mewah,’’ jawab Hyuga tertawa.
Tentu saja Lintang mau bisa merasakan hidup tanpa kekurangan seperti orang lain, tapi dia lebih memilih bekerja keras dengan hasil sendiri dibanding harus menjadi simpanan seorang yang menakutkan. Apalagi Hyuga sudah memiliki dua istri sah, dan dia yakin jika di luar sana pasti memiliki banyak simpanan.
‘’Tuan Hyuga mau bernyanyi lagu apa? Biar saya putarkan,’’ tawar Lintang dengan ramahnya dan mencoba tenang.
‘’Terserah kamulah aku tidak bisa bernyanyi , yang penting lagunya syahdu dan enak dinikmati. Aku tidak suka musik yang keras,’’ jawab Hyuga.
Akhirnya Lintang memutarkan musik yang mellow, dia berharap jika Hyuga cocok. Namun musik pilihan acaknya sepertinya di sukai oleh tuannya. Karena Hyuga begitu menikmati sambil minum seteguk demi seteguk.
Lama kelamaan Hyuga mabuk, dan tangannya mulai menggerayang ke pundak Lintang. Bahkan dia juga mengendus pundaknya seperti seekor kucing.
Lintang ketakutan, tapi dia tetap berusaha tenang dan tidak panik.
‘’Ini saatnya aku menggunakan cara yang diberikan oleh Desty,’’ gumam Lintang.
‘’Bunga, tidurlah denganku satu malam saja. Aku beri kamu seratus juta,’’ rayu Hyuga yang sudah hilang kesadaran.
‘’Tuan Hyuga, mari minum lagi aku temani,’’ bujuk Lintang yang sudah memasukkan ke dalam gelas obat tidur bubuk yang tidak ada aroma atau rasanya.
Hyuga dengan patuhnya meminum, tak lama kemudian lelaki berumur 30 tahunan yang terlihat tampan tapi angker itu mulai tertidur pulas.
‘’Rencana Desty manjur juga, kali ini aku bisa selamat. Bekerja di tempat seperti ini memang terlalu beresiko, tapi aku harus bertahan sementara. Setidaknya aku bisa mengumpulkan uang untuk modal usaha keluargaku agar kedepannya tidak terjebak dalam kekurangan lagi,’’ batin Lintang.
Waktu bekerja masih ada dua jam lagi, Lintang terus memutar lagu dan menyanyi seorang diri. Kali ini dia memutar lagu Nike Ardilla. Entah kenapa dia sangat menyukai walaupun itu lagu lawas.
Dua jam berlalu, Hyuga masih tertidur pulas. Lintang kemudian melaporkan pada bosnya jika tamunya masih tertidur.
‘’Tante Mesya, Tuan Hyuga masih tertidur. Sekarang bagaimana? Jam kerja saya sudah habis,’’ lapor Lintang.
‘’Kamu pulang saja, Bunga. Biar tante yang urus. Untuk selanjutnya kamu berusaha jangan sampai menyinggung dia ya, sebab jika hal itu terjadi Tante juga tidak bisa menolong,’’ tutur Mesya.
‘’Iya, Tante. Saya paham,’’ jawab Lintang.
Lintang pun akhirnya berjalan pulang, karena malam ini Desty tidur di rumahnya sendiri maka dia hanya seorang diri di kontrakan.
‘’Lelah sekali, padahal hanya duduk saja kerjanya. Atau mungkin hati aku yang mulai lelah?’’ batin Lintang mulai memejamkan matanya, padahal dia belum sempat berganti baju atau menghapus make up nya.
Siangnya setelah pulang sekolah Lintang dan Desty menuju rumah Devan untuk mengerjakan tugas.
Lintang takjub juga melihat rumah Devan yang jauh lebih mewah dari Desty, memang Devan pantas sombong karena memiliki keluarga yang kaya raya.
Tapi di sana sangat sepi, tadi hanya melihat dua pembantu yang berseliweran membereskan rumah dan yang satunya di dapur membuat cemilan untuk hidangan teman Devan.
‘’Namanya juga orang kaya, pasti mereka lebih bekerja keras dan bahkan selalu sibuk,’’ batin Lintang.
‘’Semua bahan sudah ada di sini,’’ kata Adit sambil meletakkan satu kardus besar.
‘’Karena Lintang bertugas berbicara di depan kelas, Devan sebagai donator dan Adit yang membeli bahan maka sekarang giliran aku yang menjadi perancangnya. Semalam aku sudah mencari rumah adat mana yang paling menarik dan memiliki sejarah paling keren. Lintang, ini ada kertas mengenai sejarahnya, kamu hafalkan baik-baik ya! Dan buat kalian berdua cukup menontob saja, karena aku tidak yakin tangan kalian memiliki bakat!’’ kata Desty percaya diri.
‘’Baiklah kalau begitu, akau tidur di kamar saja ya?’’ jawab Devan senang.
‘’Eh, enak saja kamu. Ini kan tugas kelompok, setidaknya kamu tetap di sini memperhatikan,’’ sergah Desty mulai emosi.
Devan menghembuskan napas berat sebab malas meladeni Desty yang memiliki emosi tinggi.
‘’Iya deh,’’ jawab Devan, tapi pemuda itu bersandar pada sofa dan lama kelamaan tertidur.
Sedangkan Lintang fokus pada membaca sejarah rumah adat tersebit yang lumayan banyak.
Adit sendiri hanya berdiam diri memperhatikan Desty yang sedang serius menata dan mengelem kayu, tapi lama kelamaan pemuda itu bosan juga.
‘’Des, apa ada yang bisa aku kerjakan? Aku bosan sekali kalau seperti ini,’’ ujar Adit.
‘’Baiklah, kamu lem saja batu kecil-kecil ini di atas papan ya, nanti akan digunakan sebagai dasar dari rumah ini. Nanti di selipi rumput-rumput biar terlihat persis dengan aslinya,’’ jawab Desty.
Adit melakukan sesuai perinta Desty, sedangkan Lintang senang melihat kedua orang yang kini di depannya itu tampak akrab.
Entah kenapa kadang Lintang merasa jika Adit menyukai Desty, begitu juga sebaliknya. Hanya saja keduanya sama-sama gengsi untuk mengakuinya.
‘’Kalau aku menghapalkan ini di luar boleh nggak ya? Sekalian melihat taman dan kola mikan di luar biar otak aku segar,’’ pinta Lintang ingin memberikan kesempatan pada Desty dan Adit berduaan.
‘’Terserah kamu saja,’’ jawab Desty cuek.
Walaupun sering bikin rusuh tapi soal mengerjakan sesuatu yang sesuai hobinya Desty selalu serius dan fokus.
Adit yang sadar ditinggal berduaan langsung memerah wajahnya, dan pada saat itu Lintang melihatnya. Karena Devan sudah tertidur di sofa semenjak tadi.
Lintang segera keluar agar tidak merusak moment itu.
Rumah Devan sangat luas sekali, Lintang sangat menyukainya. Apalagi sepoi sepoi angina menggugurkan dedaunan kering yang berjatuhan di atas kolam dan kepalanya.
Lintang sangat betah di sana, sampai dia merasa malas untuk kembali masuk ke dalam.
Tiba-tiba datang mobil yang baru saja memasuki pekarangan, tapi karena Lintang terhanyut dalam lamunan membuat dia tidak menyadarinya.
Seseorang yang baru turun dari mobil adalah Yuta, kakaknya Devan. Pemuda itu heran sebab tumben ada tamu di rumahnya, terlebih lagi adalah seorang wanita yang mengenakan seragam sekolah seperti adiknya.
Namun, setelah diperhatikan lebih jelas lagi gadis yang sedang melamun di samping kolam ikan adalah seseorang yang tidak asing.
‘’Diakan gadis yang berada di salon dan juga yang bekerja di tempat karaoke? Kenapa dia di sini?’’ batin Yuta heran.
Namun, Yuta begitu sibuk dan tidak mau membuang waktu untuk sesuatu yang tidak penting.
Pemuda itu masuk rumah, dan mendapati Devan tertidur di sofa sedangkan Adit beserta teman ceweknya sedang mengerjakan tugas.
‘’Kak,’’ sapa Adit.
Yuta hanya mengangguk dan tersenyum simpul lalu langsung masuk ke kamarnya sendiri, karena saat itu Desty terlalau fokus melihat rumah mininya yang hampir jadi sehingga antara Desty dan Yuta tidak saling bertatap muka.