Perkenalan Gila

1048 Kata
Lobi hotel itu kini terasa seperti panggung sandiwara. Angel menyaksikan semua adegan itu dengan napas yang memburu dan d**a yang bergemuruh hebat karena rasa iri yang membakar. Bertahun-tahun ia mengagumi Altarez, memuja kekuasaan dan ketampanan dingin pria itu, namun tak pernah sekali pun ia mendapatkan lirikan, apalagi sentuhan. Kini, di depan matanya sendiri, seorang gadis desa sederhana, mendapatkan segalanya hanya dalam hitungan menit. Kurang ajar sekali wanita ini. Bagaimana bisa pria sekelas Altarez tertarik pada gembel seperti dia? Apa yang dia berikan sampai Alta menggila seperti ini? gumam Angel dalam hati, jemarinya mengepal kuat. Namun, bagi Ayana, semua kemewahan ini bukanlah keinginannya. Rasa frustrasinya sudah mencapai batasnya. Dengan tangan gemetar, Ayana beranjak dari sofa mewah yang didudukinya. Ia berbalik, menatap tajam ke arah Altarez yang berdiri tepat di belakangnya. Berkas kepemilikan hotel yang tadi disodorkan Alta ia raih, lalu ia melempar berkas itu ke lantai dengan asal. "Aku tidak ingin apapun darimu! Kumohon... lepaskan aku!" pinta Ayana dengan suara yang mulai serak dan memelas. Matanya kini berkaca-kaca, memohon belas kasihan yang tampaknya tidak ada dalam kamus pria di depannya. Devan yang berdiri tak jauh dari sana merasa tindakan Ayana sudah sangat keterlaluan. Menghina pemberian Altarez di depan umum sama saja dengan mencari mati. Devan melangkah maju dengan wajah mengeras. "Nona Ayana, jaga sikap Anda. Anda sudah keterlaluan menghina kebaikan Tuan Alta!" ucap Devan seraya membungkuk untuk mengambil berkas yang berserakan. Devan berniat mendekat untuk memberi peringatan lebih keras, namun dengan satu gerakan tangan yang tegas, Alta menahan d**a Devan. Ia melarang asistennya itu mengambil langkah lebih jauh. Alta tidak marah; ia justru merasa gairahnya tertantang. Devan mundur kembali ke posisinya dengan kepala tertunduk, sementara kini giliran Alta yang melangkah pelan mendekati Ayana. Tanpa peringatan, Alta meraih tubuh ramping Ayana, menariknya masuk ke dalam dekapan yang begitu posesif. Dekapan itu adalah bukti nyata bahwa ia tidak berniat melepaskan Ayana sedetik pun. "Kamu sekarang adalah milikku. Camkan itu di kepalamu," bisik Alta dengan suara rendah yang menggetarkan d**a Ayana. "Semua yang aku punya adalah milikmu juga. Tidak ada bantahan. Ikut denganku sekarang, kita menikah!" "Menikah?!" Ayana memekik, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Kegilaan pria ini benar-benar di luar nalar. "Bos, katakan padaku... apa alasanmu terus memaksaku untuk menikah denganmu? Kenapa harus aku?" tanya Ayana pada akhirnya. Alta menatap mata Ayana dalam-dalam. "Tidak ada alasan apapun. Aku menginginkanmu dan apa yang aku inginkan, harus aku dapatkan," jawabnya mutlak. Ayana tertawa getir, tawa yang penuh dengan keputusasaan. "Ya sudah, jika tidak ada alasan, maka aku tidak mau! Aku punya hak untuk menolak, kan? Kita bahkan tidak saling kenal! Kemarin aku hanya berbaik hati mengobatimu. Apa karena itu kamu merasa jatuh cinta? Segampang itu?" Alta terdiam sejenak, lalu seringai tipis muncul di bibirnya. "Belum kenal? Baiklah, mari kita berkenalan secara resmi." Alta memberikan isyarat kecil pada bodyguard-nya. Seketika, beberapa pria berbadan tegap maju sambil membawa tumpukan dokumen. "Namaku Altarez Atmaja. Sembilan puluh persen properti dan gedung yang kau lihat di pusat kota ini adalah milikku. Aku memegang kendali atas ekonomi wilayah ini," jelas Alta dengan nada santai. "Dan satu lagi, sebagai tanda perkenalan, aku baru saja menyelesaikan pembelian sebuah pulau pribadi di Hawaii pagi ini. Dan pulau itu sudah terdaftar atas namamu, Ayana Septia." Ayana ternganga. Dunianya serasa berputar. Pria ini benar benar gila. Dengan kasar dan sisa tenaga yang ada, Ayana menyentakkan tangan Alta dari pinggangnya. Ia berbalik badan, berusaha lari dari kenyataan mengerikan ini. "Gila! Kau benar-benar sakit jiwa!" umpat Ayana sebelum melangkah pergi dengan cepat. "Mau ke mana, Sayang?" suara dingin Alta bergema, namun langkahnya tetap tenang. Ayana tidak mempedulikan lagi. Ia mempercepat langkahnya menuju pintu keluar lobi. Namun, rok span seragam OB yang ia pakai benar-benar membatasi geraknya. Langkah-langkah kecilnya tidak sebanding dengan langkah lebar milik Alta. Hanya dalam beberapa detik, Alta sudah berhasil menjangkaunya. Tanpa aba-aba dan tanpa peduli pada tatapan ratusan pasang mata di lobi, Alta menyambar tubuh Ayana. Ia mengangkatnya dengan gaya bridal style ke dalam gendongannya. "Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku! Lepas!" hardik Ayana geram, kakinya yang menggantung bergerak-gerak liar mencoba menendang, sementara tangannya memukul-mukul bahu keras Alta. Alta seolah mendadak tuli. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan wajah datar namun tatapan yang tajam, ia membawa Ayana menuju lift eksklusif yang langsung menuju lantai VIP hotel tersebut. Ia membawa Ayana ke salah satu kamar President Suite yang paling mewah. Pintu kamar terbanting tertutup. Dengan hati-hati namun penuh penekanan, Alta membaringkan tubuh Ayana di atas kasur king size yang sangat empuk. Ayana yang ketakutan segera merangkak mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Di depannya, Alta berdiri tegak. Tangannya yang berotot mulai bergerak perlahan, membuka satu persatu kancing kemeja hitamnya. "Mau apa kamu? Jangan mendekat!" tanya Ayana waspada, suaranya gemetar hebat. "Kau bilang kita belum saling mengenal, kan?" ucap Alta dingin. Ia melemparkan kemejanya ke lantai, membiarkan d**a bidangnya yang penuh otot dan beberapa bekas luka lama terekspos liar di bawah lampu kamar yang temaram. "Mari kita berkenalan dengan tubuhku lebih dulu." Alta mulai merangkak naik ke atas ranjang secara perlahan, mengurung tubuh Ayana di antara kedua lengannya yang kekar. Melihat ketakutan yang begitu ketara di mata Ayana justru membuat sisi gelap Alta semakin menggila. Ia menyentuh dagu Ayana dengan jarinya, lalu turun perlahan menelusuri leher jenjang gadis itu yang halus dan wangi. "Tidak perlu takut," bisik Alta, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Ayana. "Asal kau tahu, meski orang menyebutku iblis, aku bahkan belum pernah tidur dengan wanita manapun. Kau adalah yang pertama, dan akan menjadi yang terakhir." Ayana memberontak, ia memalingkan wajahnya ke kiri dan kanan dengan cepat, menolak untuk bersitatap dengan mata elang yang seolah ingin menelannya bulat-bulat. Ia menutup rapat matanya, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. "Bagaimana? Sudah merasa kenal denganku sekarang?" lanjut Alta dengan nada yang lebih lembut namun tetap mengancam. Ayana tetap diam, bibirnya terkatup rapat, enggan mengeluarkan suara. Di dalam dirinya hanya ada ketakutan yang bercampur dengan rasa sesak yang luar biasa. "Aku akan menjamin hidupmu, jika kau menerimaku dengan baik." Setelah mengatakan hal itu, Alta tak lagi memberi ruang untuk Ayana bicara. Ia mendaratkan bibirnya pada bibir Ayana dengan brutal dan penuh tuntutan, membiarkan berat tubuhnya menindih sepenuhnya pada tubuh gadis itu. Di kamar yang mewah itu, Ayana menyadari bahwa ia telah benar-benar terjebak dalam candu sang Mata Elang yang tidak akan pernah melepaskannya hidup-hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN