Di dalam kesunyian kamar President Suite, hanya terdengar suara napas yang memburu dan isak tangis yang tertahan. Ayana merasa tubuhnya kaku di bawah kukungan Altarez. Ciuman yang mendarat di bibirnya terasa brutal. Alta, yang dikuasai oleh rasa obsesi yang meledak-ledak, mulai kehilangan kendali. Tangan berototnya merenggut paksa blazer seragam yang dikenakan Ayana hingga kancingnya terlepas. Kain itu merosot, menampakkan bahu Ayana yang putih mulus.
"Lepaskan aku! Kumohon... aku tidak bisa menikah denganmu. Lupakan aku!" teriak Ayana di sela tangisnya.
Mendengar ucapan Ayana membuat Alta menghentikan aksinya. Ia mengangkat kepalanya, menatap wajah gadis di bawahnya yang kini basah oleh air mata. Sorot matanya yang tajam perlahan berubah menjadi dingin yang mengintimidasi.
"Kenapa?" tanya Alta dengan suara berat yang menggetarkan udara. "Kamu sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan nenekmu yang sedang sakit di desa, bukan? Aku tahu semuanya, Ayana."
Ayana tertegun, napasnya seolah terhenti. "Kamu... kamu mencari tahu tentangku?" tanya Ayana tak percaya. Sejauh itukah pria gila ini menggali informasi pribadinya hanya dalam waktu singkat?
"Kamu tidak perlu memikirkan biaya itu lagi jika kamu menjadi istriku," lanjut Alta, tangannya kini mengusap pipi Ayana dengan gerakan lembut namun terasa sebagai sebuah ancaman bagi Ayana. "Nikmati hartaku. Gunakan kekuasaanku untuk menyelamatkan siapapun yang ingin kau selamatkan. Bukankah itu yang kau butuhkan sekarang?"
Ayana menatap Alta dengan pandangan tak percaya. Ia memang sangat membutuhkan uang itu, namun hatinya menolak. Ia bukan barang yang bisa dibeli dengan kemewahan dan kuasa.
"Aku memang membutuhkan uang itu, Altarez! Sangat butuh!" ucap Ayana lantang, suaranya bergetar karena emosi. "Tetapi aku ingin mendapatkan uang itu dengan hasil kerja kerasku sendiri! Bukan dengan menjual diriku pada pria asing yang secara tidak sengaja aku tolong!"
Alta tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat sinis di telinga Ayana. "Kamu ini terlalu polos, Ayana. Di kota ini, kerja keras hanya akan membawamu pada kelelahan, bukan kekayaan. Aku sudah memberikan kesempatan emas yang diimpikan jutaan wanita di luar sana. Kamu pikir aku tipe pria yang bisa mencintai sembarangan perempuan?"
Tanpa menunggu jawaban, Alta kembali menyerang. Ia membungkam bibir Ayana dengan ciuman yang lebih kasar. Dalam kondisi terdesak dan tenaga yang mulai habis, Ayana menyadari bahwa ia butuh tameng yang lebih kuat dari sekadar penolakan.
"Aku telah bertunangan!" teriak Ayana tepat di depan wajah Alta.
Kalimat itu berhasil membuat Alta tersentak. Ia segera menarik tubuhnya yang menindih Ayana, berdiri dengan cepat di ujung ranjang. Sorot matanya yang tadi membara kini menyiratkan ketidaksukaan. Rahangnya mengeras dan aura di kamar itu mendadak menjadi jauh lebih dingin.
Alta berdiri memunggungi Ayana, menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. "Aku memberimu satu kesempatan," ucapnya tanpa menoleh. "Pergi dan putuskan hubungan itu. Sekarang aku lepaskan kamu. Silahkan keluar sebelum aku berubah pikiran."
Tanpa membuang waktu, Ayana segera bangkit. Ia merapikan pakaiannya yang berantakan dengan tangan gemetar, mengancingkan kembali blazernya sebisanya, dan lari keluar kamar. Beruntung, area Presidenti Suite sangat sepi sehingga tidak ada yang melihat kondisinya yang kacau.
Ayana berjalan cepat menuju lobi dengan wajah tertunduk malu. Ia merasa kotor dan terhina. Karena pikirannya yang berkecamuk, ia tidak memperhatikan jalan.
BUGH!
Ayana menabrak d**a bidang seseorang yang baru saja hendak memasuki lobi. Ia hampir terjatuh jika orang tersebut tidak segera menangkap lengannya. Ayana mendongakkan wajahnya dengan kaget, dan seketika itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Angga?" bisik Ayana tak percaya.
Di hadapannya berdiri Angga Nugraha, kekasihnya yang sangat berjasa menyelamatkan nyawanya. Angga tampak rapi dengan setelan jas kerjanya, menunjukkan posisinya sebagai karyawan elit di kota ini. Ekspresi Angga pun tak kalah terkejut.
"Ayana? Kenapa kamu ada di sini? Dan... kenapa kamu tidak bilang kalau Nenek sedang sakit parah?" tanya Angga dengan nada cemas yang tulus.
Angga telah mendengar kondisi nenek Ayana dari Baskoro.
Ayana bingung harus menjawab apa. Ia memang sengaja menyembunyikan kondisi neneknya karena tidak ingin membebani Angga, meskipun ia tahu Angga memiliki gaji yang cukup besar. Ia ingin Angga fokus pada kariernya tanpa harus memikirkan masalah finansial di keluarganya.
"Aku hanya... aku tidak ingin merepotkanmu, Angga," jawab Ayana lirih.
Melihat mata gadisnya yang sembap dan tubuhnya yang gemetar, Angga tak sanggup menahan diri. Ia menarik Ayana ke dalam dekapannya yang hangat. Pelukan yang terasa seperti rumah bagi Ayana, sangat berbeda dengan dekapan posesif Alta.
"Ayana, dengarkan aku," ucap Angga sambil membelai rambut Ayana. "Aku ini pacarmu. Kita sebentar lagi akan bertunangan. Ingat janji kita dulu? Apapun yang terjadi akan kita hadapi bersama."
Air mata Ayana kembali tumpah. Ia merasa sangat berdosa karena hampir saja disentuh oleh pria lain, sementara Angga masih begitu mencintainya. Ia teringat masa kecil mereka, saat mereka masih sering bermain di hutan desa. Suatu kali, Angga pernah bertaruh nyawa menyelamatkannya dari serangan serigala liar yang hampir melukainya. Sejak hari itu, Ayana sudah menyerahkan hatinya sepenuhnya pada Angga.
Angga, kamu selalu baik padaku. Walau kita sudah berteman sejak kecil dan dalam hubungan jarak jauh seperti sekarang. Bagaimana bisa aku berpaling dari pria yang sangat mencintaiku. Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku saat itu, Angga batin Ayana bangga. Ia merasa cintanya pada Angga bukanlah sesuatu yang salah.
Angga melepaskan pelukannya perlahan, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu debit dan meraih tangan Ayana.
"Ambil ini, Ayana. Di dalamnya ada uang tabunganku, sekitar 150 juta rupiah. Gunakan semuanya untuk pengobatan Nenek," ucap Angga tegas namun lembut.
Dada Ayana sesak oleh rasa haru. "Angga, ini terlalu banyak..."
"Tidak ada yang terlalu banyak untuk keluargaku nanti," potong Angga. Tiba-tiba, ia melakukan sesuatu yang membuat orang-orang di lobi menoleh. Angga berlutut di depan Ayana, memegang tangan gadis itu. "Ayana Septia, maukah kamu menikah denganku? Mari kita bangun hidup kita sendiri, jauh dari semua masalah ini."
Ayana merasa seperti terbang ke langit. Di tengah badai yang diciptakan oleh Altarez, Angga datang sebagai penenang. Ia merasa aman, merasa terlindungi, dan merasa sangat dicintai.
Namun, di balik kebahagiaan yang meluap itu, Ayana melewatkan satu hal yang sangat berbahaya. Di lantai atas, dari balik kaca gelap balkon yang menghadap langsung ke lobi, sepasang mata elang sedang mengamati setiap interaksi mereka. Altarez Atmaja berdiri di sana, mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol, dengan api kecemburuan yang siap membakar siapapun yang berani menyentuh apa yang telah ia klaim sebagai miliknya.