Rencana Mendadak Altarez

1093 Kata
Sebuah janji suci yang terucap di tengah badai obsesi. Membuat semua wanita yang merasakannya tak mampu untuk sekedar mengucapkan "iya". Namun, melihat Angga yang masih berlutut di hadapannya, menanti sebuah jawaban, membuat Ayana tersadar dari lamunan. Ia menatap wajah Angga, merasa bahwa inilah satu-satunya jalan keluar. Ayana tersenyum. Ia menyambut tangan Angga, membantu pria itu berdiri kembali. "Iya, Angga... aku mau. Aku mau menikah denganmu," ucapnya lirih namun pasti. Wajah Angga seketika cerah, sebuah binar kebahagiaan terpancar dari matanya. Ia menggenggam tangan Ayana erat. "Terima kasih, Ayana. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku. Aku akan mengurus semua administrasi dan persiapan pernikahan kita secepatnya." Ayana harusnya juga merasa senang namun, bayangan tatapan tajam Altarez di kamar tadi masih menghantuinya. Ia tahu pria seperti Alta tidak akan membiarkannya pergi begitu saja hanya dengan pengakuan pertunangannya. Ayana tidak ingin dua harinya di Bandung yang penuh perjuangan ini menjadi sia-sia hanya karena gangguan pria gila itu. "Kelamaan, Angga. Kita menikah besok saja. Tidak perlu pesta, yang penting sah secara agama dan hukum," desak Ayana tidak sabar. membuat Angga sedikit mengernyit heran. Angga terkekeh pelan, "Baiklah, calon istrik. aku akan urus secepatnya. Sekarang, ayo kita pulang ke rumah ayahmu dulu untuk meminta restu." "Heeh, ayo. Tapi..." Ayana menunjuk ke arah sudut parkiran hotel. "Karena aku hanya dua hari di sini, aku sudah menyewa motor tadi pagi untuk mencari pekerjaan. Kita pakai itu saja ya?" Lagi-lagi Angga terkekeh, kali ini lebih keras. Ia merasa geli sekaligus gemas dengan tingkah laku Ayana yang sangat mandiri, namun terkadang terlalu polos untuk standar kota besar. "Kamu lucu sekali, Ayana. Padahal kamu bisa meminta supir rumah atau taksi online, kan? Tapi tidak apa, aku yang akan memboncengmu." Mereka berjalan menuju tempat parkir. Sebuah motor matic terparkir di sana. Angga naik ke jok depan, sementara Ayana duduk di boncengan, memeluk pinggang Angga erat-erat—mencari perlindungan yang selama ini ia inginkan. Perjalanan mereka awalnya terasa normal dan menyenangkan. Angin Bandung yang sejuk menerpa wajah mereka, membawa harapan baru bagi Ayana. Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat mereka mencapai jalanan yang sedikit lengang menuju kompleks perumahan elite. Secara tiba-tiba, iring-iringan mobil mewah berwarna hitam legam muncul dari berbagai arah dan langsung memotong jalan mereka. Angga yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres segera menarik rem dalam-dalam, membuat ban motor berdecit di atas aspal. "Mobil-mobil ini... mereka sengaja menghadang jalan kita," bisik Angga dengan suara yang mulai bergetar. Ayana ikut menatap deretan mobil itu dengan jantung yang berdegup kencang. Tiba-tiba, kaca penumpang salah satu mobil yang berada di urutan tengah diturunkan secara perlahan. Di balik kaca gelap itu, muncullah wajah Altarez Atmaja, duduk dengan tenang namun memancarkan aura gelap yang menakutkan. Angga dan Ayana sama-sama terkesiap. Namun, refleks mereka sangat berbeda. Angga menunjukkan keterkejutan yang disertai rasa takut yang nyata, sedangkan Ayana, ia segera membuang wajahnya ke arah lain, menolak untuk menatap mata gelap Alta yang seolah ingin menelannya. "Oh... Bos Alta," ucap Angga dengan nada bicara yang sedikit bergetar. Sebagai karyawan di sektor elit Bandung, ia tahu betul siapa pria yang ada di hadapannya. Angga menundukkan kepalanya dalam-dalam, tanda hormat sekaligus usaha untuk menyembunyikan ketakutannya. Sedangkan Ayana di jok belakang sedang sibuk merogoh tasnya. Ia mengeluarkan ponsel jadulnya, berniat menyibukkan diri dengan apa saja asal tidak harus berurusan dengan tatapan tajam Alta. Namun, tepat saat itu, ponselnya bergetar. TING! Sebuah notifikasi m-banking muncul di layar. Ayana membelalak. Sebuah transfer dana dari bank lokal masuk ke rekeningnya dengan angka yang membuat kepalanya pening: Rp 50.000.000.000. Lima puluh milyar rupiah. Di bawah nominal itu, terdapat sebuah catatan singkat: "Aku tidak bisa melihat wanitaku kepanasan menaiki motor murah itu. Pergilah beli mobil apa saja yang kamu mau sekarang juga." Sontak Ayana mendongak, matanya yang berkilat marah menatap tepat ke arah jendela mobil Alta. Dalam hatinya, ia mengumpat habis-habisan. Dasar cowok gila! Psikopat kaya! Bagaimana bisa dia mengetahui nomor rekeningku? Apakah tidak ada privasi di dunia ini bagi seorang Altarez? "Angga, ayo cepat jalan!" perintah Ayana dengan buru-buru, tangannya menarik-narik jaz Angga agar segera melajukan motor. Mata tajam Alta hanya memandang tanpa berkedip. Ia tidak menghalangi, tidak juga turun. Ia hanya ingin memastikan Ayana tahu bahwa sejauh mana pun ia berlari, Alta akan selalu berada di dekatnya. "Ma-mari Bos Alta, kami permisi dulu," ucap Angga sopan, meski keringat dingin sudah membasahi punggungnya. Ia segera memacu motornya melewati celah mobil-mobil mewah itu. Setelah motor Ayana menjauh dan menghilang di belokan jalan, Devan yang duduk di kursi depan baru berani mengeluarkan suaranya. Ia menoleh ke belakang, menatap bosnya yang masih menatap jalanan kosong dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Bos... jujur saja, saya rasa Nona Ayana sudah kelewatan. Dia terang-terangan menolak Anda demi pria lain," ucap Devan dengan nada prihatin. Alta tidak menyahut, ia hanya menyandarkan punggungnya ke jok mobilnya yang empuk. "Bagaimana kalau kita mencari wanita lain saja, Bos? Sesuatu yang dipaksakan itu biasanya akan berakhir tidak baik, Bos," lanjut Devan mencoba memberi saran. Alta tidak merasa tersinggung. Baginya, menaklukkan Ayana bukan lagi sekadar keinginan, melainkan sebuah tantangan hidup. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, Devan. Biarkan aku berjuang untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Ayana itu berbeda. Dia satu-satunya orang yang berani menentangku. Gadis itu unik." Dalam hati, Devan menghela napas panjang. Baiklah, jika sudah seperti ini, mereka berdua memang sama-sama gila, batin Devan. Ia harus sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak meledak di depan Alta. Ia menyadari bahwa bosnya yang berdarah dingin, sekarang sedang merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya—tipe jatuh cinta yang membuat orang paling rasional sekalipun menjadi tidak waras. "Siapkan mahar," ucap Alta tiba-tiba, memecah keheningan. Devan yang sedang sibuk menahan senyum di sudut bibirnya itu langsung menoleh tak percaya. "Mahar? Sekarang, Bos? Untuk siapa?" "Untuk Ayana, bodoh. Siapa lagi?" Alta menatap Devan dengan tatapan kesal. "Siapkan yang terbaik." Ekspresi Alta sangat serius, sangat kontras dengan Devan yang kini menunjukkan raut bingung yang terlihat lucu. "Tapi Bos, bukannya besok dia mau menikah dengan si Angga itu..." "Besok aku yang akan membawanya pulang ke rumahku sebagai istriku yang sah. Bukan Angga, tapi aku yang akan bersanding dengannya di pelaminan," pungkas Alta tegas, suaranya tidak menerima bantahan. Devan hanya mampu mengiyakan sambil mencatat cepat di tabletnya. Ia tak pernah melihat bosnya seserius ini dengan wanita. Ia tahu betul Alta adalah pemain ulung di masa lalu, namun ia juga saksi hidup bahwa Alta bahkan belum pernah tidur dengan wanita mana pun karena seleranya yang terlalu tinggi. Dan kini, hanya untuk seorang Ayana yang galak dan sederhana, Alta mengerahkan seluruh kekuasaanya. "Baik, Bos. Saya siapkan maharnya sekarang juga," gumam Devan sambil geleng-geleng kepala, sementara Alta kembali menutup kaca mobilnya, merencanakan dengan matang untuk pernikahan dadakannya besok pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN