Kedatangan Tuan Doni

1056 Kata
Langkah kaki Ayana dan Angga menggema di atas lantai marmer penthouse keluarga Baskoro. Suasana rumah mewah itu sore ini terasa berbeda. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tamu yang luas, Ayana menyadari bahwa keluarga ayahnya tidak sedang sendirian. Mereka sedang kedatangan tamu. Kehadiran Ayana yang datang bersama Angga segera menjadi pusat perhatian. Baskoro, Vina, dan Jihan yang sedang duduk melingkar di sofa mewah serentak menoleh. Jihan, dengan tatapan tajam, menunjukkan sorot mata yang dipenuhi ketidaksukaan yang amat ketara. "Loh, Ayana? Kok bisa pulang bareng Angga?" tanya Baskoro. Suaranya terdengar datar. Ayana baru saja hendak membuka mulut untuk menjelaskan pertemuan tak terduga mereka di hotel, namun Vina, sang ibu tiri, telah lebih dulu menyela dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Tuan Doni, perkenalkan, ini adalah Ayana. Putri sulung suamiku yang baru saja tiba dari desa," ucap Vina seraya mengarahkan telapak tangannya ke arah Ayana. Ayana terpaksa menoleh ke arah pria yang dipanggil Tuan Doni tersebut. Pria itu adalah pemilik perusahaan material besar yang menjadi kolega bisnis Baskoro. Tuan Doni tampak sudah berumur, dengan perut buncit dan wajah yang terlihat keriput. Namun, yang membuat Ayana merinding adalah cara pria itu menatapnya. Tuan Doni menatap Ayana tanpa berkedip, memindai tubuh gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan lapar, bahkan ia sengaja memainkan lidahnya di ujung bibir dengan gerakan yang menjijikkan. Jihan, yang menyadari reaksi Tuan Doni, justru merasa mendapatkan peluang. Ia ingin memastikan bahwa rencana ayahnya ini benar-benar menarik minat pria tua itu. Jihan mencondongkan tubuhnya ke arah Tuan Doni. "Pppsssst... Tuan Doni, Tuan Doni," panggil Jihan lirih, menggunakan telapak tangannya untuk menutupi mulut agar suaranya tidak terdengar oleh Ayana. Tuan Doni yang masih terpesona oleh kecantikan polos Ayana akhirnya tersadar. Ia menoleh ke arah Jihan. "Bagaimana? Cocok, kan?" tanya Jihan dengan nada tak sabar, matanya mengisyaratkan kesepakatan gelap. "Cocok sekali. Sangat cantik, segar, dan muda. Tipikal gadis pembawa hoki yang langka," timpal Tuan Doni dengan suara serak dan wajah b******k yang tidak lagi disembunyikan. Mendengar konfirmasi itu, Baskoro dan Vina saling bertukar pandang lalu tersenyum penuh arti. Mereka merasa beban utang perusahaan mereka akan segera lunas dengan "menjual" Ayana kepada pria tua bangka ini. "Angga, aku rasa Tuan Doni memandangku dengan tatapan m***m. Aku tidak suka berada di sini," keluh Ayana berbisik pelan, tangannya mencengkeram lengan kemeja Angga. "Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Ayana. Dia hanya kolega bisnis Ayahmu, jangan terlalu dipikirkan," balas Angga berusaha menenangkan, namun matanya tidak menatap Ayana, ia justru menatap lurus ke arah Jihan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tak sampai sepuluh menit setelah kepulangan Ayana, Tuan Doni memilih untuk berpamitan. Pria tua itu sudah merasa cukup puas. Ia telah melihat "objek" yang akan ia beli dengan harga mahal. Baginya, Ayana adalah kunci untuk kejayaan bisnisnya di masa depan. "Baik, Tuan dan Nyonya Baskoro. Saya rasa pembahasan kita sudah cukup jelas sampai di sini. Saya sangat puas dengan kesepakatan kita," ucap Tuan Doni seraya bangkit berdiri. Baskoro dan Vina pun ikut berdiri dengan sigap, menjabat tangan Tuan Doni dengan penuh hormat. "Ah, baik Tuan Doni. Terima kasih atas kunjungannya. Sampai berjumpa besok di acara... utama," ucap Baskoro dengan penekanan pada kata terakhir. Sebelum keluar dari ruangan, Tuan Doni harus melewati posisi di mana Ayana berdiri. Bukannya berjalan lurus, pria itu sengaja memperlambat langkahnya saat berada di samping Ayana. Ia melemparkan seringai nakal yang membuat bulu kuduk Ayana berdiri tegak. Ayana refleks mundur selangkah, menolak bersentuhan bahkan dengan bayangan pria itu sekalipun. Setelah pintu gerbang menutup dan mobil mewah Tuan Doni menjauh, suasana di ruang tamu menjadi sedikit lebih santai, namun tetap terasa ganjil. Angga berdeham, mencoba menarik perhatian Baskoro. "Om, Tante. Kedatanganku kemari bersama Ayana sebenarnya untuk meminta izin dan restu dari kalian. Besok, aku dan Ayana berencana untuk menikah," ucap Angga dengan nada tegas. Ayana menahan napas, bersiap untuk menghadapi penolakan atau setidaknya pertanyaan yang bertubi-tubi. Namun, reaksi yang ia terima justru sebaliknya. Baskoro dan Vina tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Mereka hanya berdiri di sana dengan senyum yang terlihat biasa. "Baiklah kalau begitu. Kalian memang sudah dijodohkan sedari kecil, bukan?" jawab Baskoro dengan nada bicara yang sangat santai, seolah-olah pembahasan mereka tidak terlalu penting. "Terima kasih, Angga, karena kau sudah menyelamatkan Ayana di hutan waktu itu. Aku rasa pernikahan ini memang sudah seharusnya segera dilaksanakan, mengingat kalian berpacaran sudah cukup lama." "Kalian urus saja semuanya. Kami tidak akan menghalangi," lanjut Baskoro singkat, sebelum ia berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, diikuti oleh Vina yang hanya memberikan lirikan sekilas pada Ayana. Ayana terpaku. Mengapa ayahnya begitu mudah melepasnya? Mengapa tidak ada nasihat? Mengapa tidak ada pembicaraan tentang mahar atau pesta? Semuanya terasa terlalu mulus. Hanya Jihan yang masih tertinggal di ruangan itu. Gadis itu melangkah mendekat ke arah Ayana dan Angga dengan senyuman manis yang tampak menghiasi wajah cantiknya. "Ayana, Angga... walaupun pernikahan kalian belum sah dilaksanakan hari ini, tapi aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat," ucap Jihan dengan nada riang yang terkesan dipaksakan. "Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia." Ayana hanya bisa mengangguk kaku. "Terima kasih, Jihan." Namun, di balik kata-kata manis itu, sebuah pengkhianatan sedang terjadi tepat di depan mata Ayana yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Saat Jihan berdiri sangat dekat dengan Angga, jemari lentik Jihan dengan sengaja menautkan diri pada jemari Angga di balik tubuh mereka. Angga tidak menolak, ia justru membalas genggaman tangan Jihan sambil memberikan senyum tipis yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Setelah melakukan aksi diam-diam itu, Jihan berbalik dan meninggalkan mereka berdua dengan langkah gontai. Ayana hanya bisa menatap punggung adik tirinya itu dengan perasaan bingung yang luar biasa. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ini? batin Ayana bertanya-tanya. Mengapa semuanya terasa aneh? Mengapa Ibu tirinya yang biasanya galak tiba-tiba menjadi sopan? Mengapa Ayahnya yang materialistis tidak menuntut apa-apa dari Angga? Dan tatapan m***m pria tua tadi... apakah itu hanya kebetulan? Ayana tidak tahu bahwa saat ini ia sedang berada di tengah rencana jahat. Baskoro setuju ia menikah dengan Angga besok hanya agar Ayana tetap berada di Bandung dan mudah diserahkan pada Tuan Doni di hari pernikahannya. Dan Angga... pria yang ia anggap pahlawan itu, ternyata memiliki rahasia yang jauh lebih gelap dengan Jihan. Ayana menghela napas panjang, mencoba menelan semua kecurigaan yang menyiksa pikirannya. Ia mencoba menghibur diri sendiri; mungkin mereka sudah benar-benar berubah karena melihat penderitaan Nenek di desa. Di sisi lain, Altarez Atmaja juga sudah menyiapkan pesta pernikahan yang sesungguhnya untuk menghancurkan jebakan pernikahan palsu tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN