Gedung mewah berlantai dua di pusat kota Bandung menjadi tempat yang Angga pilih untuk menjadi saksi terikatnya janji sucinya dengan Ayana. Di lantai satu, dekorasi bunga warna-warni yang harum menghiasi pelaminan. Ayana berdiri di sana, tampak anggun dalam balutan gaun putih susuu yang membalut tubuh rampingnya. Rambutnya dihias sederhana namun elegan, memancarkan kecantikannya yang alami. Namun, di balik penampilannya yang memukau, hati Ayana merasa berdebar karena kegelisahan yang ia rasa.
Mungkin karena persiapan pernikahan yang memang sangat singkat. Dan satu hal yang juga sangat disayangkan, Baskoro mencegah Ayana memberitahu sang nenek tentang pernikahan dadakan ini.
"Kondisi jantung nenekmu sedang tidak stabil, Ayana. Jangan buat dia terkejut dengan berita seperti ini," ucap ayahnya tadi pagi. Ayana tak bisa membantah; keselamatan neneknya adalah prioritas utamanya.
Ayana tampak mondar-mandir di depan pintu masuk venue, matanya tak lepas menatap jalanan utama melalui jendela besar. Tak lama, Baskoro menghampirinya.
"Ayana, hari ini adalah pernikahanmu. Kenapa kamu tampak gelisah seperti itu?" tanya Baskoro. "Harusnya kamu senang karena Angga memilih gedung semewah ini untuk momen penting kalian. Oh ya, pemberkatan kalian akan dilaksanakan di lantai satu ini."
Ayana hanya diam. Entah mengapa, firasatnya mendadak tidak enak.Hingga saat ini Angga belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh derap langkah kaki yang menggema. Serombongan bodyguard berpakaian hitam masuk dengan wajah garang. Mereka membawa bermacam-macam buket bunga mahal di tangan mereka.
"Minggir! Beri jalan!" perintah salah satu dari mereka dengan nada tegas.
Vina, yang kebetulan berdiri sedikit di tengah, tak sengaja tertabrak rombongan tersebut. Bahunya tersenggol cukup keras hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan.
"Siapa sih mereka? Arogan sekali!" hardik Vina geram sambil membetulkan posisi kebaya mahalnya.
Baskoro yang memperhatikan penampilan para bodyguard itu tampak mengenali lambang yang tersemat di jas mereka. Wajahnya berubah sedikit tegang namun penuh rasa segan. "Kalau tidak salah, itu para pengawal Si Mata Elang. Ayah mendengar kabar bahwa Altarez Atmaja juga akan melaksanakan pemberkatan nikahnya di lantai atas hari ini," jelas Baskoro pada istri dan anaknya.
Jihan yang ada di sana terperangah. Matanya membelalak penuh keterkejutan. "Yang benar, Yah? Siapa calon pengantin wanitanya?" tanyanya antusias. Selama tinggal di Bandung, Jihan tahu betul bahwa kehidupan pribadi Altarez sangat tertutup dan hampir tidak pernah terendus media.
Ayana yang mendengar percakapan itu hanya bisa membatin dalam diam. Huh, pria gila itu bilangnya tidak gampang jatuh cinta, tapi buktinya sekarang dia mempersiapkan pernikahan dengan wanita lain. Dasar buaya. Ayana merasa bersyukur karena ia tidak termakan rayuan Alta; fokusnya kini hanyalah menunggu Angga.
Sepuluh menit berlalu dan kecemasan Ayana mulai berubah menjadi ketakutan. Ia akhirnya memilih masuk ke dalam venue pemberkatan di lantai satu. Ruangan itu sudah dipenuhi kolega ayahnya dan beberapa orang yang tidak ia kenali, ia berpikir mereka adalah rekan kerja Angga.
Begitu Ayana melangkah masuk, semua pasang mata tertuju padanya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Kenapa Angga belum datang juga, Yah?" tanya Ayana akhirnya pada sang ayah yang berdiri di sampingnya.
Jihan dan Vina saling melempar pandang dengan senyum sinis yang tertahan. Tiba-tiba, Vina menunjuk ke arah pintu. "Wah, lihat! Pengantin pria sudah datang."
Mendengar itu, jantung Ayana berdegup kencang. Seorang pria berjas hitam elegan dengan bunga hias terselip di saku jasnya melangkah mendekat dari arah belakang Ayana. Senyum di bibir Ayana mengembang sempurna. Ia sudah membayangkan betapa tampannya Angga hari ini. Namun, begitu ia membalikkan badan dengan penuh binar bahagia, dunianya seolah runtuh seketika.
"Tuan Doni, akhirnya Anda tiba," sambut Baskoro dengan nada yang sangat ramah.
Ayana membeku. Pria di hadapannya bukanlah Angga, melainkan Tuan Doni—pria tua m***m yang ia temui di rumah kemarin. Tuan Doni mengenakan setelan pengantin lengkap, menatap Ayana dengan seringai yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ayana melirik ke arah ayahnya dan di sana ia menemukan senyuman kemenangan yang tergambar jelas. Dengan tubuh gemetar, Ayana mencoba bertanya, "A-apa yang sedang Anda lakukan di sini?"
Tuan Doni tertawa puas, suara tawa nyaringnya menggema di seluruh ruangan. "Aku? Untuk menikahimu lah, Ayana! Apa lagi? Hahaha!"
Vina menimpali dengan nada tajam, "Benar, Ayana. Hari ini kau akan pulang ke rumahnya sebagai istri sahnya."
"Kalian benar-benar cocok, Ayana. Jangan sia-siakan kesempatan ini," tambah Jihan dengan nada mengejek.
Ayana menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air mata mulai menggenang. "Tidak! Ini tidak mungkin! Aku hanya ingin menikah dengan Angga! Mana Angga?!" teriak Ayana panik.
Ia merogoh tas kecilnya dan mencoba menghubungi Angga dengan ponselnya. Tangannya gemetar hebat hingga ponsel itu nyaris jatuh.
Tuttt... Tuttt...
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi."
Suara operator itu terdengar jelas, sungguh menyakitkan bagi Ayana. Ponselnya merosot dari genggamannya. Ia tidak tahu bahwa selama ini, Angga telah bersekongkol dengan keluarganya. Semua surat perizinan nikah telah dimanipulasi.
Wajah Ayana pucat pasi, keringat dingin membanjiri tubuhnya di balik gaun putih itu. "Kenapa nomornya tidak aktif? Dia sudah berjanji..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Tuan Doni menatap remeh gadis di hadapannya. Melihat Ayana yang hancur justru membangkitkan gairah brengseknya. Ayana dalam kepanikannya, mencoba untuk berlari keluar dari ruangan terkutuk itu. Namun, tangan besar dan kasar Tuan Doni dengan sigap menyambar lengannya.
"Hey! Mau ke mana, Gadis Cantik? Menikahlah denganku, akan kubuat kau bahagia," ucap Tuan Doni seraya menarik Ayana mendekat.
Rasa jijik yang luar biasa membuncah dalam d**a Ayana. Dengan sisa keberaniannya, ia menghentakkan kakinya dan menendang tepat di area sensitif pria tua itu menggunakan ujung heels-nya yang tajam.
"Aakhhh!" Tuan Doni mengerang kesakitan dan melepaskan pegangannya.
Ayana segera berbalik dan mencoba berlari menuju pintu keluar. Namun, Jihan tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan gerakan cepat, Jihan meraih sebuah balok kayu dekorasi yang entah darimana asalnya.
BRAK!
Hantaman keras tepat di belakang leher membuat dunia Ayana seketika menjadi gelap. Tubuhnya ambruk, namun sebelum menyentuh lantai, dua bodyguard Tuan Doni dengan sigap menangkap badannya yang lemas.
Dengan pandangan yang mulai kabur dan air mata yang jatuh satu per satu, Ayana menatap wajah-wajah orang sekelilingnya yang tersenyum puas di atas penderitaannya. Kesadarannya perlahan menghilang, namun satu pertanyaan terus menghantui benaknya sebelum semuanya benar-benar gelap.
Ke mana Angga? Mengapa dia tega melakukan ini padaku?
Ayana tidak tahu, bahwa di gedung yang sama, Altarez Atmaja akan datang menjadi penolongnya, siap untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi miliknya.