Ayana masih dalam kondisi pingsan ketika tubuhnya yang lemas tak berdaya diseret paksa oleh dua pria berbadan besar, membawanya kembali ke hadapan Tuan Doni yang berdiri menunggunya. Rasa sakit di bagian belakang lehernya akibat hantaman Jihan masih berdenyut hebat, membuat pandangannya berputar. "Hey! Bangun kau!" bentak salah satu bodyguard Tuan Doni. Tanpa belas kasihan, pria itu memukul-mukul pipi Ayana dengan kasar, berusaha memaksa kesadarannya kembali. Ayana mengerjap. Kepalanya terasa sangat berat. Ia terpaksa membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat masih sama, altar pelaminan yang dihias bunga-bunga indah—sebuah pemandangan yang tidak pernah ia inginkan ketika kembali membuka mata. Tuan Doni melangkah maju, tangan keriputnya sesekali memegangi area sensitifnya yang masih

