Ikatan Kepastian

1138 Kata

Perlahan, Altarez melepaskan pagutan kasarnya. Suasana di ruang kerja itu mendadak senyap, hanya menyisakan deru napas keduanya yang memburu. Alta menatap bibir Ayana yang kini memerah dan bengkak, menyisakan bekas saliva yang kemudian ia lap perlahan menggunakan ibu jarinya. Gerakan itu terasa begitu intim. "Mau ketemu nenek lagi? Tapi aku minta satu hal padamu," bisik Alta, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Ayana meremang. "Meminta apa?" tanya Ayana gugup. Suaranya hampir hilang. Gadis itu masih terduduk di atas meja kerja yang luas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya di tengah kondisi pakaiannya yang sudah berantakan. Alta tidak langsung menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Tangannya terulur lem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN