Kondisi fisik Nek Ratmi perlahan membaik. Walaupun sesak di dadaanya belum sepenuhnya hilang. Kehadiran Vina dan Jihan yang masih berdiri mematung di luar rumah membuat canggung suasanya. Mereka tidak pergi bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ingin menyaksikan kehancuran Ayana. Di tengah ketegangan yang masih tersisa, sebuah suara terdengar memecah kesunyian desa. Suara itu berasal dari pengeras suara balai desa Jati Makmur yang letaknya tak jauh dari sana. "Kepada seluruh warga desa Jati Makmur, diharapkan untuk berkumpul di balai desa sekarang juga," seru suara dari pengeras suara tersebut dengan nada yang mendesak. Semua orang di ruang tamu Nek Ratmi saling pandang dengan raut wajah bingung. Di desa sekecil ini, pengumuman mendadak biasanya hanya menandakan dua hal: berit

