Keheningan menyelimuti halaman Balai Desa Jati Makmur. Altarez Atmaja kini berdiri di hadapan Ayana. membuat gadis itu benar benar gugup, lidahnya seolah kelu, dan tenggorokannya terasa teecekat. Ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah semua yang baru saja dilontarkan Alta di depan semua warga. Alta, di sisi lain, sangat menikmati setiap kegugupan Ayana. Baginya, ketidakberdayaan gadis itu adalah pemandangan yang paling indah. Ia ingin Ayana sadar bahwa ke mana pun ia berlari, bayang-bayang Si Mata Elang akan selalu menemukannya. Alta mundur satu langkah, memutus kontak mata intens dengan Ayana, lalu kembali menghadap ke arah massa yang masih diliputi rasa takjub dan penasaran. Ia ingin menciptakan sebuah situasi di mana Ayana tidak hanya merasa terikat oleh paksaa

