Udara pedesaan yang sejuk serta aroma tanah basah menyambut kedatangan Ayana. Perjalanan dari kota menuju desa yang biasanya memakan waktu berjam-jam terasa lebih lama bagi gadis itu. Begitu turun dari angkutan umum di persimpangan desa, Ayana tak lagi memedulikan rasa lelah yang menggelayuti kakinya. Ia berlari menembus jalanan setapak, mengabaikan tatapan heran beberapa penduduk desa yang melihatnya masih mengenakan pakaian yang tampak terlalu bagus untuk ukuran orang desa. "Nenek!!" teriak Ayana histeris begitu kakinya menginjak pelataran rumah kayu sederhana milik mereka. Suaranya pecah, mengguncang kesunyian sore itu. Ia mendorong pintu rumah yang tidak terkunci. Di dalam, beberapa tetangga wanita, termasuk Bu Ratna yang meneleponnya kemarin, duduk mengitari tempat tidur di ruang te

