"Tidak! Cukup!" Kata itu terlontar begitu saja, memotong kalimat Ayana dengan tajam. Suara Alta tidak hanya keras, tapi juga sarat akan getaran yang tidak bisa ia sembunyikan. Pria yang biasanya tampak kuat itu kini justru mundur beberapa langkah. Dada Alta bergemuruh hebat. Ia ingin sekali berteriak, menunjukkan bekas luka di bahunya, dan mengatakan bahwa dialah orangnya. Namun, ego dan rasa sakit hati karena penolakan Ayana selama ini membuatnya tertahan. "Aku tidak ingin mendengarkan apa pun lagi," lanjut Alta seraya memalingkan wajah. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, mencoba menekan emosi yang meluap-luap. Bukannya berhenti karena melihat gelagat aneh Alta, Ayana justru semakin tenggelam dalam memorinya sendiri. Kesedihannya pecah. "Dia pasti sedang menungguku

