Cahaya matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah gorden yang tebal, memantulkan sedikit cahaya hangatnya tepat di wajah Ayana. Ayana perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan ruangan. Plafon kamar yang tinggi menyambut pandangannya. Asing. Kamar itu masih terasa terlalu asing untuk dirinya yang belum terbiasa dengan kemewahan yang ada. "Oh, aku ketiduran semalam," ucapnya lirih sembari meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Anehnya, tidurnya terasa cukup nyenyak. Mungkin karena beberapa hari terakhir energinya terkuras habis untuk mengurus Nek Ratmi, atau mungkin karena rasa lelah mental menghadapi obsesi Altarez yang tak berujung. Ayana bangkit, mengumpulkan kesadarannya satu per satu. Fokus utamanya segera ke

