20 THE BIG DAY

2508 Kata
Sebulan kemudian di Rumah Kartipah…. Senyum lebar tak henti-hentinya mengembang di wajah Raga ketika hari besar itu akhirnya tiba. Dengan menggunakan beskap putih dengan aksen warna emas, jas itu tampak kontras dengan warna kulitnya yang kecoklatan tapi sekaligus sangat serasi dengan dirinya. Raga sendiri tampak sangat gagah dan tampan dalam balutan busana pengantin pria. Sementara Cimut yang sedang dirias di dalam kamar, tampak anggun dan cantik dengan kebaya berwarna abu-abu muda dengan taburan Kristal dan payet yang menambah pesonanya sebagai ratu sehari. Sementara Mama Widya sibuk menjamu tamu – tamu undangan dibantu oleh Tony, Nicole, Nadya dan Maura. Pernikahan mereka digelar secara sederhana sesuai dengan keinginan Cimut dan Raga. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang untuk menghadiri acara sakral sekali seumur hidup tersebut. Area outdoor juga dihias secara sederhana karena secara keseluruhan, lokasi tersebut sudah sangat memadai untuk sebuah acara pernikahan dengan kapasitas tamu sekitar 300 orang. Sementara Pak Buntoro juga sudah menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Dengan adanya bukti rekaman suara dari ponsel Cimut serta bukti rekaman video dari ponsel Enrico, pemuda tersebut terbukti bersalah dan didakwa 12 tahun penjara oleh pengadilan. Ayahnya pun tak luput dari hukuman atas kasus penipuan beberapa property dan penggelapan pajak negara. Akibatnya ayah beranak tersebut harus menghabiskan hari-hari mereka berikutnya di balik jeruji besi. Ketika Cimut sudah selesai dirias, gadis itu langsung dijemput oleh Nadya dan Maura untuk diantar langsung ke Raga yang sudah menunggunya dengan sabar di atas pelaminan. Suasana pesta sendiri berlangsung secara meriah tapi tetap teratur dengan suasana yang sangat intim dan penuh canda tawa. Persis seperti yang Cimut impikan selama ini! Sementara Nicole hanya mengamati pemandangan tersebut dengan penuh haru. Raga dan Wina. Benar-benar pasangan yang serasi sperti sudah ditakdirkan langsung oleh Tuhan sendiri. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berdoa dengan tulus. Semoga kebahagiaan pasangan tersebut akan terus berlangsung sampai seumur hidup mereka. ………………………………………………………………………… Seorang pria tua nampak sedang sangat menikmati acara resepsi yang berlangsung hangat tersebut dengan mata berkaca-kaca. Senyum lebar di wajahnya menyatakan kalau ia sedang berada dalam suasana hati yang sangat bagus. Terutama saat ia melihat senyum bahagia di wajah kedua mempelai. Ia bisa melihat semua pengunjung di acara pernikahan tersebut tapi tak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya. Tiba-tiba bahunya ditepuk dari arah belakang. “Pak Tua, kenapa kau bolos dari tugasmu di dunia bawah?” tegur seorang pria jangkung berwajah datar kepada pria tua tersebut. “Astaga, Azaaaa….. tolonglah beri aku kesempatan kali ini aja. Hari ini adalah hari pernikahan anak kesayanganku satu-satunya. Tidakkah kau akan memberiku sedikit kelonggaran??” tanya pria tua tersebut dengan wajah memelas. Azalel menghela nafas panjang. Dari dulu, Adrian tidak pernah mungkir dalam menjalankan tugasnya. Baru hari ini saja pria itu bolos dari tugas rutinitasnya. Dengan sebuah alasan khusus. “Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Kehadiranmu sangat dibutuhkan di pos pengontrol cuaca bumi bawah…” “Siap, Bos!!” kata Adrian sambil memandang ke arah resepsi pernikahan dengan tatapan yang paling teduh. Tatapan seorang ayah. Semua doanya untuk mereka berdua…. Terkabul sudah……………….. “I’m so proud of you both, Raga. Cimut. Congratulations and stay happy ever after…..” . ALTERNATE ENDING Setelah acara resepsi selesai, Raga dan Cimut lalu beristirahat di kamar pengantin yang khusus sudah disediakan untuk mereka. Dengan tubuh lelah, Raga langsung cuci muka dan berganti pakaian dengan baju piyama yang sudah disiapkan. Sementara Cimut sendiri juga berusaha untuk melepas baju kebayanya tapi sedikit kesulitan sehingga Raga perlu turun tangan untuk membantu istrinya tersebut. Perlahan-lahan, baju kebaya itu pun terlepas dari tubuh Cimut serta mengekspos warna kulitnya yang putih bersih. Raga memeluk Cimut dari belakang sambil menciumi tengkuk gadis tersebut dengan penuh gairah. Cimut yang kegelian hanya bisa membiarkan dirinya menikmati setiap belaian dan ciuman yang diberikan oleh suaminya tersebut. Hari ini adalah hari paling bahagia dalam kehidupan mereka berdua dan mereka ingin menikmatinya dengan cara seintim mungkin sebagai sebuah pasangan baru. Ketika Raga akhirnya memangku Cimut di atas kasur, gadis itu lalu bertanya. “Kak, sebelum kita melakukan ritual malam pertama kita, mau ga kita melakukan sesuatu dulu?” Raga mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di pundak gadis tersebut. Cimut lalu mengeluarkan surat wasiat dari papanya dan bertanya. “Apa kakak tak pernah penasaran dengan isi surat papa untukku?” Raga tersenyum dan kemudian mereka berdua membaca surat tersebut secara bersama-sama. “Dear Cimutku yang selalu papa sayang, Jika kamu baca surat ini, berarti papa harus minta maaf sama kamu. Karena papa udah ga bisa jagain kamu lagi. Karena papa udah ga bisa lagi antar jemput kamu ke mana-mana. Karena papa ga akan bisa lihat dan kasih tangan kamu ke sosok pria yang akan menggantikan tugas papa untuk jaga kamu sampai kamu menua dan menghembuskan nafas terakhirmu serta bertemu papa lagi di sini…. Papa titipkan kamu dan mama untuk dirawat dan dijaga oleh Raga sampai kamu benar-benar dewasa dan siap mengarungi kehidupanmu sendiri. Walaupun di dalam hati papa yang terdalam, papa berharap sesuatu yang lebih dari hubungan kalian daripada sekedar hubungan kakak adik. Dan jika itu yang terjadi, maka papa adalah orang pertama yang memberikan restu pada kalian berdua walaupun tubuh ini tak lagi hadir secara kasat mata, tapi papa akan menitipkan doa yang paling tulus dari dalam surga untuk kalian berdua. Lalu, semua aset keluarga kita juga sudah papa urus di bawah namamu tapi untuk pencairan dana tetap harus dibawah persetujuan serta campur tangan dari mamamu dan Raga. Satu lagi, tentang perjanjian papa dan Oom Sasongko mengenai perjodohanmu dan Enrico, jangan terlalu ambil pusing pada hal tersebut. Jika kamu menemukan pria lain yang kau anggap pantas sebagai suamimu, maka perjanjian perjodohan tersebut dianggap batal dan tidak pernah terjadi. Hiduplah dengan baik dan jangan lupa untuk terus bahagia. Jagalah ibumu baik-baik seperti papa merawat mamamu dulu. Tetap sehat dan jangan lupa makan teratur ya? Papa masih ingat betapa repotnya Raga dulu sewaktu mengurusmu gara-gara sakit maagmu sering kambuh karena kamu suka lupa makan. PS. Papamu yang super keren dan sayang banget sama kamu dan Raga. Adrian Rapandey Mata Cimut berkaca-kaca sekali saat saat ia selesai membaca surat tersebut. Sementara Raga hanya memeluk gadis tersebut dengan erat di dalam dekapannya. “Ada satu lagi, Mut. Sebenarnya ketika kamu dulu berangkat ke Harvard, itu bukanlah beasiswa tapi Papa Adrian yang membayar semua biaya kuliahmu terlebih dahulu….” “Ap…Apaa??” tanya Cimut kaget. “But it’s worth it, Mut. Papa hanya berharap kalau kita berdua bisa meneruskan bisnis kopi keluarga kita…” “Dan itulah yang akan kita lakukan, Kak..” balas Cimut sambil mengecup pipi suaminya tersebut. “Terima kasih untuk semuanya, Kak. Untuk keberadaanmu. Untuk selalu ada bersama dengan aku dan mama. Untuk….hmmmphhhh…” Raga tiba-tiba memagut bibir Cimut secara mendadak dan melumatnya dengan mesra. “Sttt….ngobrolnya nanti aja. Sekarang aku mau menjalankan tugas negara dulu sebagai suami…” Cimut hanya tertawa cekikikan sambil membiarkan Raga melepas satu persatu pakaiannya untuk ritual malam pertama mereka. ……………………………………………………………………….. Dua tahun kemudian…………………. Nicole sedang mengurus pembukuan café ketika Tony tiba-tiba masuk dan dengan wajah sumringah memberitahukan sebuah berita baik kepadanya. “Nicole! Cimut dah lahiran!!!” Wajah Nicole langsung berubah cerah. “WAH, SERIUSAN???” Tony lalu mengangguk cepat. “Iya, gue mau ke sana sekarang. Lo mau ikutan ga?” Nicole lalu mengangguk singkat sambil cepat-cepat berkemas dan mengikuti langkah kaki Tony menuju parkiran mobilnya. 20 menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit khusus ibu dan anak dimana Cimut bersalin. Dengan wajah berseri-seri, Raga menyambut kedatangan mereka berdua dengan Mama Widya sambil memamerkan bayi laki-lakinya yang baru saja lahir beberapa saat yang lalu. Mata Raga masih memerah karena terharu. Ia kini adalah seorang ayah! Sebuah status baru yang membawanya ke level baru sebagai seorang laki-laki dewasa. “Selamat, Ga!” kata Tony sambil memberikan kado kepada Mama Widya yang juga turut menunggui proses kelahiran cucu pertamanya tersebut. “Selamat ya, Ga..” kata Nicole sambil menyalami tangan pemuda tersebut. Cimut sendiri masih harus beristirahat karena operasi Caesar yang baru saja dilakukannya. “Iyaaaa… thank you… thank you….” “Kenalin nih, jagoan baru di keluarga kita. Namanya Jiwa Raditya Saratoga…hahahahaha…” “Seneng banget kalian bisa datang bwat nengokin si kecil…hehehehe…” balas Raga sambil menunjukkan wajah anaknya kepada Tony dan Nicole. Bayi tersebut sangat menggemaskan dengan kedua pipinya yang montok dan berwarna kemerahan sementara rambutnya yang lebat berwarna hitam pekat. “Cih… Jiwa dan Raga. Kek pantun aja. Pas benerrr…… wakakakakakkkk…” kata Tony sambil tertawa cekikikan. “Ya ampunnn. Ga. Anak lo lucu banget!! Cakep pastinya ntar kalo udah gede nih…” puji Nicole gemas saat melihat bayi gembul tersebut. Raga tidak mengatakan apa-apa tapi sebuah senyum bangga ada di wajahnya yang tampan. Setelah mereka mengobrol beberapa lama, Nicole dan Tony lalu pamit pulang. Di dalam perjalanan, Tony bertanya,” Abis ini, lo mau ke mana, Nicole?” “Oh, gue harus jemput Sharon dari daycare. Ga papa, turunin aja gue di café ntar gue tinggal pesan ojek online….” “Oh gitu… ga papa deh. Biar gue anter lo aja. Ga jauh ini…” “Eh, eh… ga usah, Ton. Seriusan…gue bisa sendiri koq..”kata Nicole sungkan sambil melambai-lambaikan kedua tangannya untuk menolak bantuan Tony. “It’s ok, Nicole. Lagian ada hal lain yang gue pengen obrolin sama elu. Mungkin mulai dari hari ini dan seterusnya, gue pribadi yang akan antar jemput elu dan Sharon setiap hari…” “Maksudnya??” Nicole merasa kalau ia baru saja salah dengar. “Maksudnya gue pengen hubungan kita ga cuma sekedar jadi rekan kerja aja. Ga Cuma jadi atasan bawahan aja. Gue pengen lebih dari itu. Gue pengen jadi orang pertama yang bikin elu dan Sharon bahagia mulai dari sekarang…” Nicole terdiam. Kepalanya tertunduk malu saat masa lalu kembali membayangi benaknya. Semua dosa dan perbuatan nistanya terhadap Raga dan Wina yang ia lakukan dulu bersama Enrico. Sungguh amat sangat keterlaluan dan tak terampunkan. “Ton, makasih. Gue tersanjung banget tapi maaf… gue bukan cewek yang tepat buat lo. Gue itu…” “I know. Raga udah cerita semuanya sama gue. Tapi gue juga ga buta, Nic. Selama 2 tahun gue merhatiin lo. Sikap lo, gaya bicara lo, semuanya… sampai ketika elu bekerja di café kita, Nic. Dan gue tahu, lo bukan wanita biasa. Lo pekerja keras, tekun, ramah, lucu, unik, asik, dan rajin banget. Lo selalu berusaha untuk jadi ibu terbaik untuk Sharon walaupun kehidupan lo sebagai single parent itu keras. Gue salut banget sama lo, Nic….” “Dan gue pengen banget bisa jadi bagian dari hidup lo dan Sharon ke depannya. Boleh kah?” tanya Tony sungguh-sungguh. Nicole bisa merasakan ketulusan dalam nada suara Tony. Ia tahu kalau pemuda ini sedang berkata jujur kepadanya. “Tapi gue… gue bener-bener ga pantas buat lo, Ton…” Tony lalu menggenggam tangan Nicole dan mencium punggung tangan wanita tersebut. “Setiap orang berhak untuk dapat kesempatan kedua, Nic..” “Bolehkah gue jadi kesempatan kedua di hidup lo sekarang?” Mata Nicole basah oleh air mata. Ia sangat terharu dengan ketulusan pemuda tersebut. Lalu, tanpa suara, ia mengangguk pelan. Saat itu, Nicole merasa kalau surga masih tersenyum kepadanya. ………………………………………………………………….. Kepala Cimut masih sedikit berputar akibat efek suntikan anesthesianya sebelum proses kelahiran operasi Caesarnya. Ketika Raga memasuki kamarnya, papa baru tersebut lalu menaruh Jiwa yang sedang tertidur ke dalam baby boxnya serta mendekati ranjang istrinya tersebut. “Hai…” kata Cimut lemah. “Hai juga..” kata Raga sambil menopang badan sang istri dari belakang dan mengatur posisi bantal supaya Cimut bisa duduk dengan lebih nyaman. Raga lalu mengambil makanan khusus untuk ibu bersalin dan menyuapi Cimut dengan telaten. “Kak….mau tanya donk…” kata Cimut di sela-sela suapan makanannya. “Hmmm?” “Apa sih hal terbaik yang terjadi dalam kehidupanmu?” Raga tersenyum saat mendengar pertanyaan konyol tersebut. Sebuah pertanyaan yang seharusnya Cimut pun tahu jawabannya. Raga mencium kening istrinya tersebut dengan lembut sambil menjawab. “Kamu…..” “Dan Jiwa……” a sambil menunjukkan wajah anaknya kepada Tony dan Nicole. Bayi tersebut sangat menggemaskan dengan kedua pipinya yang montok dan berwarna kemerahan sementara rambutnya yang lebat berwarna hitam pekat. “Cih… Jiwa dan Raga. Kek pantun aja. Pas benerrr…… wakakakakakkkk…” kata Tony sambil tertawa cekikikan. “Ya ampunnn. Ga. Anak lo lucu banget!! Cakep pastinya ntar kalo udah gede nih…” puji Nicole gemas saat melihat bayi gembul tersebut. Raga tidak mengatakan apa-apa tapi sebuah senyum bangga ada di wajahnya yang tampan. Setelah mereka mengobrol beberapa lama, Nicole dan Tony lalu pamit pulang. Di dalam perjalanan, Tony bertanya,” Abis ini, lo mau ke mana, Nicole?” “Oh, gue harus jemput Sharon dari daycare. Ga papa, turunin aja gue di café ntar gue tinggal pesan ojek online….” “Oh gitu… ga papa deh. Biar gue anter lo aja. Ga jauh ini…” “Eh, eh… ga usah, Ton. Seriusan…gue bisa sendiri koq..”kata Nicole sungkan sambil melambai-lambaikan kedua tangannya untuk menolak bantuan Tony. “It’s ok, Nicole. Lagian ada hal lain yang gue pengen obrolin sama elu. Mungkin mulai dari hari ini dan seterusnya, gue pribadi yang akan antar jemput elu dan Sharon setiap hari…” “Maksudnya??” Nicole merasa kalau ia baru saja salah dengar. “Maksudnya gue pengen hubungan kita ga cuma sekedar jadi rekan kerja aja. Ga Cuma jadi atasan bawahan aja. Gue pengen lebih dari itu. Gue pengen jadi orang pertama yang bikin elu dan Sharon bahagia mulai dari sekarang…” Nicole terdiam. Kepalanya tertunduk malu saat masa lalu kembali membayangi benaknya. Semua dosa dan perbuatan nistanya terhadap Raga dan Wina yang ia lakukan dulu bersama Enrico. Sungguh amat sangat keterlaluan dan tak terampunkan. “Ton, makasih. Gue tersanjung banget tapi maaf… gue bukan cewek yang tepat buat lo. Gue itu…” “I know. Raga udah cerita semuanya sama gue. Tapi gue juga ga buta, Nic. Selama 2 tahun gue merhatiin lo. Sikap lo, gaya bicara lo, semuanya… sampai ketika elu bekerja di café kita, Nic. Dan gue tahu, lo bukan wanita biasa. Lo pekerja keras, tekun, ramah, lucu, unik, asik, dan rajin banget. Lo selalu berusaha untuk jadi ibu terbaik untuk Sharon walaupun kehidupan lo sebagai single parent itu keras. Gue salut banget sama lo, Nic….” “Dan gue pengen banget bisa jadi bagian dari hidup lo dan Sharon ke depannya. Boleh kah?” tanya Tony sungguh-sungguh. Nicole bisa merasakan ketulusan dalam nada suara Tony. Ia tahu kalau pemuda ini sedang berkata jujur kepadanya. “Tapi gue… gue bener-bener ga pantas buat lo, Ton…” Tony lalu menggenggam tangan Nicole dan mencium punggung tangan wanita tersebut. “Setiap orang berhak untuk dapat kesempatan kedua, Nic..” “Bolehkah gue jadi kesempatan kedua di hidup lo sekarang?” Mata Nicole basah oleh air mata. Ia sangat terharu dengan ketulusan pemuda tersebut. Lalu, tanpa suara, ia mengangguk pelan. Saat itu, Nicole merasa kalau surga masih tersenyum kepadanya. ………………………………………………………………….. Kepala Cimut masih sedikit berputar akibat efek suntikan anesthesianya sebelum proses kelahiran operasi Caesarnya. Ketika Raga memasuki kamarnya, papa baru tersebut lalu menaruh Jiwa yang sedang tertidur ke dalam baby boxnya serta mendekati ranjang istrinya tersebut. “Hai…” kata Cimut lemah. “Hai juga..” kata Raga sambil menopang badan sang istri dari belakang dan mengatur posisi bantal supaya Cimut bisa duduk dengan lebih nyaman. Raga lalu mengambil makanan khusus untuk ibu bersalin dan menyuapi Cimut dengan telaten. “Kak….mau tanya donk…” kata Cimut di sela-sela suapan makanannya. “Hmmm?” “Apa sih hal terbaik yang terjadi dalam kehidupanmu?” Raga tersenyum saat mendengar pertanyaan konyol tersebut. Sebuah pertanyaan yang seharusnya Cimut pun tahu jawabannya. Raga mencium kening istrinya tersebut dengan lembut sambil menjawab. “Kamu…..” “Dan Jiwa……”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN