19 SERANGAN BALASAN

1312 Kata
MATI GUE!!!!! Muka Raga langsung berubah pucat pasi sepucat-pucatnya. Matanya melotot lebar-lebar. I…Ia tahu?? Cimut tahu kalau mereka berdua, tidak… tepatnya… ia… Melakukan itu? Saat Cimut sedang mabuk berat?? FUCKKKK!!!! GUE HARUS NGOMONG APA SEKARANG??? “Kak?” tanya Cimut lagi dengan tatapan polosnya. “Eh, iya?” “Itu kakak bukan?” “Karena Nadya dan Maura lihat kakak keluar dari kamar hotel tempat aku tidur pas beres acara prom….” SIALANNNN!!!! MEREKA TAHU JUGAAA??? Sekarang Raga benar-benar panik!! “Itu.. itu…..” “Kalau bukan kakak… ya tidak apa-apa…” kata Cimut sambil menghela nafas dengan berat hati. “Tapi berarti mau tidak mau, berarti aku harus tetap menikah dengan Enrico walaupun aku tahu kalau laki-laki itu sangat brengsek.” “EH??? KENAPA????” tanya Raga kalut. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis ini. “Karena ia memiliki bukti video seks aku pada malam itu, Kak. Walaupun wajah partner tidur aku tidak terlihat, tapi posisi saat aku melakukan gaya women on top dan bagian tubuhku yang telanjang terlihat jelas di sana. Kalau aku tidak mau menikahi Enrico bulan depan, ia mengancam akan memberitahu mama dan menyebarkan video tersebut ke grup alumni SMA dan ke media social lainnya. Jadi…” “Aku ga punya pilihan lain, Kak…” kata Cimut pasrah. Menjaga nama baik dan kehormatan keluarga jauh lebih penting bagi Cimut, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan dirinya untuk disantap dibawah tindihan laki-laki b***t tersebut. Raga menepuk jidatnya. JADI ITU SEBABNYA!!! Alasan dibalik kenapa Cimut tetap bersikeras untuk menikahi Enrico, apapun yang terjadi? Sekarang darah Raga benar-benar mendidih marah sampai ke ubun-ubun. Dasar laki-laki pengecut!!! Umpatnya dalam hati. “Itu aku…” “Eh? Kenapa, Kak?” “Aku yang ada bersamamu waktu itu, Mut. Pria anonym tanpa identitas saat kita tidur bareng di hotel. Itu aku…” “Nadya dan Maura tidak salah lihat. Akulah pria b******k yang menodaimu saat kau baru saja menginjak usia 17 tahun saat itu. Maaf, Mut… aku.. aku…” Raga belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba sesuatu yang empuk menyumbat bibirnya. Membuatnya tersentak kaget bukan kepalang. “Aku menyukaimu, Kak Raga….sungguh…” Mata Cimut berkaca-kaca saat ia mengatakan kalimat berikutnya. “Setelah malam itu, setiap saat aku melihatmu, aku merasa sangat kotor dan hina, Kak. Aku selalu merasa tak pantas untukmu. Di dalam kepalaku, aku yang sudah ternoda dan tak perawan ini sebaiknya mundur dari hadapanmu dan membiarkan kakak untuk memilih wanita lain yang jauh lebih baik dan pantas daripada diriku, Kak…..” “Tapi aku sangat….sangat….bersyukur sekarang karena ternyata orang itu adalah dirimu, Kak…” “Masalahnya aku tak yakin apakah kakak memi…hmphhhhh….” Sekarang, gantian Raga yang melumat bibir gadis tersebut. Cimut menutup matanya dan membiarkan dirinya terbuai oleh pagutan bibir Raga yang melumatnya dengan lembut serta penuh kasih sayang. Lalu, ciuman berikutnya berubah menjadi semakin panas dan liar ketika Raga mendudukkan Cimut di atas pangkuannya. Sampai kemudian, setelah beberapa saat, mereka berdua menghentikan ciumannya dengan nafas tersengal-sengal. “Lo masih meragukan perasaan gue ke lo, Mut?” tanya Raga sambil mendekap gadis tersebut di pangkuannya dengan mesra dan mengecup kening gadis tersebut. Cimut menggeleng sambil tersenyum manja. “Nah, soal Enrico, gue pikir… kita harus minta bantuan seseorang deh…” “Siapa?” Raga mengambil ponselnya dan menekan satu tombol nama di sana. “Halo, Pak Buntoro…. Maaf kalau tak keberatan….” ………………………………………………………………………….. Seminggu kemudian…. Enrico sedang mengetuk-ngetukkan buku jarinya dengan tak sabar di atas meja. Hari ini Cimut mengajaknya bertemu untuk membicarakan beberapa hal seputar pernikahan mereka. Enrico sendiri tampak tak terlalu peduli akan masalah tersebut. Bahkan jika hanya menikah di depan catatan sipil pun tak apa-apa. Yang penting secara hukum, status mereka sah sebagai sepasang suami istri. Nah, setelahnya…. ia akan menghajar tubuh gadis itu habis-habisan dengan “senjatanya” sementara ayahnya akan menguras harta kekayaan keluarga Wina dan melunasi hutang mereka sehingga rumah mereka tak jadi disita bank. Membunuh dua burung dengan satu batu..HA! RENCANA SEMPURNA! “Hai, Enrico… Sudah lama menunggunya?” tanya Cimut dengan gaya casualnya seperti biasa. Tapi hari itu ia sedikit modis dan mengenakan makeup tipis sehingga terlihat lebih cantik. “Maaf aku terlambat…” kata Cimut lagi setelah ia duduk dengan anggun di depan pemuda tersebut. Mereka berdua memang sengaja untuk mencari sebuah pojok yang agak sepi dan tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa mengobrol dengan lebih leluasa. “Tidak apa-apa. Jadi, apakah kau sudah memutuskan tanggal pernikahan kita?” cecar Enrico tak sabar. Cimut tersenyum sambil menggeleng pelan. “Belum…” “Dan kemungkinan, aku juga harus menundanya….” Enrico tertawa kecil saat mendengar ucapan gadis tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lo benar-benar tidak mengerti situasinya ya?” Dengan santainya, Enrico lalu mengeluarkan ponselnya dan dengan senyum mengejek, ia berkata, “Gue punya video seks lo di sini loh? Dan lo mau lihat ekspresi nyokap lo saat melihat anak kesayangannya tengah bercinta dengan seorang pria yang tidak jelas?? Apa kata beliau?? Belum lagi nanti komentar dari teman-teman alumni lo dan orang-orang di media social??” “Wina Rapandey yang terhormat itu adalah seorang p*****r murahan…” desisnya keji dengan mata menyipit tajam. “Lo mau semua orang mengetahui hal ini?? Lo dah siap??” Enrico dengan sengaja memutarkan video tersebut dengan suara yang sedikit dikeraskan sehingga terdengar jelas oleh telinga gadis tersebut. “Bagaimana?” Anehnya, Cimut tetap tenang tanpa ada satupun guratan emosi di wajahnya. Ia hanya tersenyum kecil dan berkata,”Boleh aku menanyakan beberapa hal padamu?” “Silakan…” “Ketika kau merekam video tersebut, kau sama sekali tidak meminta ijin padaku bukan?” “Ya….” “Dan kau dengan sengaja menggunakan video tersebut untuk mengancamku?” “Kenapa tidak?” Senyum di wajah Cimut semakin lebar dan ia tiba-tiba menekan tombol stop di ponselnya. “Terima kasih atas semua jawabanmu, Senior. Aku sudah mengumpulkan bukti yang cukup untuk mengirimmu ke balik jeruji….” Selesai Cimut mengatakan kalimat tersebut, sebuah sosok yang sudah sangat dikenal oleh Enrico langsung muncul dari arah belakang gadis itu dan mereka berdua langsung berciuman singkat dengan sedikit menggebu-gebu sebelum pemuda itu lalu duduk di sebelah Cimut sambil merangkulnya dengan mesra. Enrico ternganga saat melihat adegan tersebut di hadapannya. Tapi kemudian ia mendesis marah. “Ragata Saratoga!!!!” “Mau apa kau di sini??” “Mau memberimu undangan pernikahan kami…” balas Raga santai sambil menaruh sebuah kartu undangan di atas meja restoran diantara mereka bertiga. Mata Enrico mendadak terbelalak kaget saat melihat kartu undangan tersebut. “I.. Ini…. Ini…” “Gue pasti nikah, tapi bukan sama lo, Ric. Nih calon suami gue, Ragata Saratoga. Gue yakin lo dah kenal dia kan?” balas Cimut sinis sambil menyandarkan kepalanya di ceruk leher Raga. “b*****t!!!!” Enrico tiba-tiba berdiri sambil bersiap mau menonjok wajah Raga ketika mendadak semua pengunjung restoran bangkit berdiri secara bersamaan dan langsung menodongkan pistol ke arahnya!! “Saudara Enrico Saputra, Anda ditahan atas tuduhan penghinaan di muka umum dan ancaman terbuka yang dilakukan terhadap Nona Wina Rapandey. Anda berhak untuk diam atau segala sesuatu yang Anda katakan dapat digunakan untuk melawan Anda di pengadilan…” kata salah seorang petugas polisi yang berpakaian preman sambil memborgol kedua pergelangan tangan Enrico yang masih sangat syok dengan keadaannya sekarang. “AP…. APAAN INI!!! HEH!!! LEPASKAN AKU CEPAT!!! b******k!!!” “Selain itu, kami juga akan menuntut Anda dengan pasal berlapis dalam UU Pornografi…” “Hukumannya minimal 6 tahun sampai 20 tahun penjara…” kata salah seorang pria berusia setengah baya yang mengenakan kacamata dengan mimic wajah serius. “HAH??? APAAA??? SIALAN!!!!” Enrico mencoba untuk meronta dan kabur. Sayangnya, ia kalah kuat dan jumlah. Hal terakhir yang ia lihat sebelum digiring ke kantor polisi adalah senyum mengejek di wajah Raga serta bibir Cimut yang bergerak tanpa suara ke arah dirinya. MAMPUS LO… “Jadi apa rencana kalian sekarang?” tanya Pak Buntoro setelah sosok Enrico menghilang dari dalam restoran. Tanpa banyak bicara, Cimut langsung memberikan sebuah kartu undangan pernikahan kepada pria tersebut. “Ini….” Sambil menerima kartu itu dengan wajah sumringah, Pak Buntoro lalu memasukkannya ke dalam tas sambil berkata,” Kalian tahu, Adrian selalu mengharapkan hal ini. Melihat kalian berdua di atas pelaminan…” “Terima kasih banyak, Pak Buntoro…” kata Raga sambil menyalami tangan pengacara tua tersebut dengan penuh hormat. “Akan kupastikan b******n itu untuk mendekam dalam waktu lama di penjara…” kata Pak Buntoro lagi sebelum ia pamit pulang pada pasangan tersebut. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN