Di rumah, Mama Widya kembali membuka surat wasiat yang dititipkan kepadanya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Sampai sekarang, ia masih sangat mencintai almarhum suaminya tersebut. Dan fakta ketika ia sedang memegang surat terakhir yang bertulisan tangan pria itu, membuatnya kembali terkenang pada masa lalu.
Masa-masa yang indah dan penuh makna. Masa-masa bahagia ketika mereka menikah dan berjuang untuk merintis usaha keluarga ini bersama-sama sampai akhirnya mereka bisa memetik hasilnya sekarang. Masa-masa ketika mereka berdua membesarkan Cimut dan Raga dengan kasih sayang yang utuh tanpa pamrih. Masa-masa yang kini hanya berupa kenangan tanpa bisa terulang kembali.
“Adrian… Aku kangen sekali padamu…”
Perlahan, ia kembali membaca baris demi baris tulisan wasiat yang tertulis di sana dengan sangat rapi.
“ Dear Widya-ku yang cantik,
Jika kamu sedang membaca surat ini, berarti jasadku sudah terdiam dengan tenang di dalam kubur dan mungkin saat ini aku sedang mengembara di alam fana sambil menontonmu mengurus kebun hidroponik kita dari atas langit.
Jangan kuatir….
Walaupun sekarang aku tak lagi ada di sampingmu, masih ada Raga dan Cimut yang akan menjagamu dan mungkin…. mungkin kalau perasaan mereka saling bertaut ( hahahaha…. aku sangat berharap seperti itu…) Mereka akan mampu memberimu cucu-cucu lucu yang akan meramaikan rumah sunyi kita. Hhhh… tapi hati manusia memang tak bisa ditebak. Aku sendiri hanya bisa berharap yang terbaik dari keduanya.
Untuk Cimut sendiri, aku memang memiliki sebuah perjanjian untuk menjodohkan anak kita dengan Enrico ketika mereka berdua sudah dewasa nanti atas permintaan Sasongko. Akan tetapi, perjanjian tersebut batal kalau ternyata Cimut menolak untuk dijodohkan dan memilih pria lain sebagai pendamping hidupnya. Aku sendiri sudah mendidik Raga dan Cimut dengan keras menggunakan kedua tanganku sendiri supaya mereka bisa bertahan dan belajar untuk mandiri di setiap kondisi yang mungkin terjadi di dalam kehidupan mereka. Terus terang, aku sangat bangga ketika pada akhirnya mereka berdua berhasil menjadi anak-anak yang mandiri tanpa harus merepotkanmu lebih jauh di hari tua.
Aku juga sudah menitipkan kalian berdua pada Raga. Ia adalah hadiah terbesar bagiku dan anugrah yang luar biasa yang Tuhan sudah berikan pada kita berdua, Ma. Ia juga sudah berjanji untuk menjaga dan merawat kalian berdua sepeninggalku.
Aku juga yang menyuruhnya untuk membuka bisnis café dan menjadikannya seorang barista sehingga ia bisa tetap mengurus perkebunan kopi keluarga kita dan tetap mengontrol kualitas biji kopi yang kita hasilkan.
Tentang Harvard, tolong sampaikan permintaan maafku pada Cimut karena sebenarnya, ia tak memperoleh beasiswa sama sekali. Akulah yang membayar semua biaya pendidikannya di Harvard dan mengatur sebuah perjanjian rahasia dengan pihak kampus seolah-olah Cimut memperoleh beasiswa dari sana. Karena aku tahu bahwa itu adalah impiannya dari dulu. Walaupun sangat mahal, tapi kurasa itu sepadan dengan masa depan Cimut nantinya.
Selain itu, tujuanku juga adalah untuk menjauhkan Cimut dari genggaman tangan Enrico serta melatih karakter Cimut untuk ia bisa belajar beradaptasi di tempat asing. Setelahnya, ia bisa kembali ke sisimu dan meneruskan manajemen perkebunan kopi bersama dengan Raga.
Untuk semua aset kepemilikan keluarga kita sendiri, semuanya ada dibawah nama Cimut tapi tetap saja ia membutuhkan persetujuan dan tanda tangan darimu dan Raga jika ingin mencairkan sejumlah dana. Ok?
Salam untuk Raga, Cimut, dan calon cucu-cucu kita di depannya ya? Ingat..kalau ada seorang opa yang akan selalu berdoa dan tersenyum untuk mereka di dalam surga.
PS. I love you 3000, my sweetheart…
Sayangmu,
Adrian Rapandey
Tangis Mama Widya langsung pecah tanpa tertahan lagi. bahkan setelah kematiannya pun, ia masih sangat peduli dan sayang kepadanya dan anak-anak mereka. Harapannya untuk melihat Raga dan Cimut untuk menyatukan hati mereka berdua….
Kelihatannya akan segera terwujud dalam waktu dekat ini….
“Adrian, sayangku. Terima kasih. Doamu tak sia-sia…”
……………………………………………………………………………
Cimut dan Raga lalu berjalan pelan-pelan menyusuri bukit yang semakin lama semakin menanjak. Nafas mereka berdua terengah-engah karena kakinya mulai terasa berat tapi langkah mereka tak terhenti di sana. Sampai akhirnya mereka sampai di spot favorit mereka. Sebuah kursi taman yang terbuat dari kayu dan sedikit lapuk karena sudah dimakan usia.
Mereka berdua lalu duduk di sana sembari mengamati Kota Bandung di bawahnya. Langit mulai menjelang sore dan udara mulai terasa dingin. Tangan Raga secara otomatis merangkul gadis tersebut dari samping untuk memberinya sedikit rasa hangat dari tubuhnya.
“Eh, Kak. Sejak kapan sih kakak panggil aku Cimut?” tanya Cimut sambil matanya tak lepas saat mengamati pemandangan Kota Bandung di bawahnya.
“Entahlah, aku tidak ingat. Mungkin tak lama setelah aku pindah ke rumahmu. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Tapi aku menyukainya. Hanya orang-prang yang sangat dekat denganku yang memanggilku dengan nama itu. Papa, mama, Nadya, Maura dan terakhir…”
“Kak Raga..” kata Cimut sambil memandang pemuda di sampingnya dengan haru.
Raga tercekat. Entah kenapa di matanya sekarang, Cimut tidak lagi terlihat sebagai seorang anak remaja yang kekanak-kanakan seperti dulu tapi sangat dewasa walaupun wajah imut-imutnya sama sekali tidak berubah. Cimut sendiri, setelah mendengar semua penjelasan Nicole, kini sudah memantapkan hatinya untuk berterus terang pada pemuda tersebut. Apapun yang terjadi. Ia takkan mundur lagi. Ia sudah memendam rasa ini terlalu lama. 4 tahun? Tidak, lebih lama lagi. Sejak kapan? Ia tak tahu. Tapi sejak pemuda itu hadir di hidupnya, Raga sudah memberikan warna yang baru di hidupnya.
“Kak, aku boleh tanya sesuatu?”
“Ya…”
“Untuk kakak, aku ini apa sih?” tanya Cimut sambil menatap lekat-lekat mata pemuda tersebut.
Raga langsung salah tingkah. Bibir dan tenggorokannya mendadak terasa kering.
“Errrr.. itu… itu….”
Duh, gimana cara ngomongnya?? Pikir Raga panik. OH, SHITTT!!!!
Lo cewek yang gue suka, Mut!! SERIUS!!!
“Ok, aku mau tanya satu hal lagi, Kak…”
Raga menoleh lagi pada gadis yang sedang ia rangkul tersebut.
“Dulu, waktu ulang tahun Cimut yang ke 17, apa kita berdua tidur bareng di hotel itu?”