Mata Mama Widya sontak melotot lebar saat mendengar kalimat terakhir Raga. Wanita tersebut langsung membuang muka ke samping sambil sebelah tangannya memegang dadanya. Sementara wajah Raga benar-benar serba salah. Ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
Ini dia! Habislah sudah…. Mampus…. Hidupnya pasti berakhir di sini…. Sekarang!!!
Raga benar-benar merasa bersalah karena Mama Widya sudah begitu baik padanya. Dengan tindakannya yang menodai Cimut pada malam musibah tersebut, itu sama saja dengan sebuah bunyi pepatah lama. Anjing peliharaan yang menggigit tangan tuannya sendiri.
Sekarang, Raga hanya bisa pasrah. Apa tindakan Mama Widya setelah ini? Ia ditampar? Dimaki-maki? Dirajam pakai pisau dapur? Diusir dari rumah dan tidak boleh kembali lagi?
Terserah.
Ia bisa menanggung semua konsekuensi tersebut.
Tapi tindakan Mama Widya berikutnya benar-benar membuat Raga kaget setengah mati!!!
Mama Widya tiba-tiba memeluk erat dirinya sambil mengelus-ngelus rambutnya. Raga bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir di belakang tengkuknya. Mama Widya sedang menangis!!
“Ma?” tanya Raga bingung.
Tindakan wanita ini benar-benar di luar dugaannya!!
“Syukurlah….”
“Eh?” Mata Raga terbelalak kaget sejadi-jadinya. Ia merasa kalau baru saja salah dengar.
“Syukurlah kalau orang itu adalah kamu. Mama memang sudah lama sekali berdoa pada Tuhan supaya jodoh Cimut yang sejati adalah kamu, Kak….”
Ga salah nih??
Raga lalu menatap wanita paruh baya tersebut dengan linglung. “Maksud mama?”
“Dari dulu mama udah ga suka sama si Enrico itu, papa juga. Tapi mengingat hubungan persahabatan mereka yang sudah puluhan tahun, maka dibuatlah perjanjian tersebut. Tapi setiap kali melihat pemuda tersebut, perasaan mama koq ga enak ya? Deg-degan gitu…”
“Justru dengan adanya masalah ini, mau ga mau Cimut harus menikah sama kamu kan, Kak?” kata Mama Widya sambil tersenyum lebar.
“Jadi kita bertiga bisa kumpul bareng-barang lagi kayak dulu. Jadi mama ga kesepian…hehehehe…”
“Ini… ini…. ini…” Raga benar-benar bingung bagaimana harus merespon reaksi ibu-ibu yang satu ini.
“Berarti sekarang kamu tinggal harus ngaku sama Cimut kan? Ngobrol berdua… biar mesra…” goda Mama Widya lagi sambil mengelus-ngelus pipi Raga dengan lembut.
“Uh oh.. ok, Ma…” balas Raga sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tapi mendadak ponsel Mama Widya lalu berdering keras.
Dengan sigap, Mama Widya lalu mengangkat telepon dan setelah beberapa kalimat, wanita itu lalu menutup ponselnya.
“Siapa, Ma?”
“Pak Buntoro, pengacara keluarga kita. Katanya ada surat wasiat papa yang harus dibacakan kepada kita berdua setelah Cimut pulang dari Amerika…”
“Oh, jadi kapan kita bisa bertemu beliau?”
“Besok…”
…………………………………………………………………………….
Marmalade Restoran
“Jadiiiiiiiiiii…. Intinya begitu yaa! Kalian berdua fix jadi bridesmaid gue! Ok! End of discussion…” kata Cimut setelah mereka selesai berbasa-basi dan ngobrol geje sambil cekikikan.
“Emangnya kenapa sih lo harus nikah cepet-cepet, Mut? Lo hamil?” tanya Nadya secara langsung tanpa babibu. Dari dulu, mulut Nadya memang terkenal tajam tanpa suka basa-basi tapi ia selalu jujur dan bersikap apa adanya. Sebuah kualitas yang Cimut butuhkan dari seorang sahabat, ada dalam dirinya.
“Nggak!”
“Iya sih, gue juga rada aneh sih, Mut…koq kayak yang diburu-buru gitu? Kenapa sih?” tanya Maura kepo berat sambil menyesap es teh manisnya.
“Ga papa…cuma ini kan wasiat papa gue jadi mau ga mau gue harus penuhin kan?” balas Cimut serba salah sambil memainkan sedotannya walau hatinya sudah protes berat sama pernikahan sialan ini!!! Dan lagi-lagi ia harus menggunakan tameng alasan yang sama. Wasiat papanya. Kalau saja Enrico tidak punya rekaman itu, segala sesuatunya akan jauh lebih mudah.
“Oia, kabar Raga gimana?” tanya Nadya yang sengaja membelokkan arah percakapan mereka.
“Oh, dia baik-baik aja sih. Kenapa?”
“Ngga, koq perasaan gue, kakak elu itu tambah ganteng ya? Eh, tapi dia udah punya pacar yaa. Siapa itu namanya?”
“Nicole….” Hati Cimut menjerih ngilu saat mengucap nama tersebut.
“Duhhhh…. Sayangggg bangettt. Harusnya dulu gue kejer kakak lo pas beres acara prom nite ya? Eh, omong-omong, lo sendiri ga apa-apa kan? Dulu pas mabok berat?”
DEG!!! Cimut terkesiap. Jantungnya serasa berhenti berdetak sedetik. Me… Mereka tahu seputar malam j*****m itu??
“Kan Raga yang bawa lo ke kamar buat istirahat trus beres acara prom, kita sempet lihat dia keluar kamar juga malam-malam. Gue pikir dia mau beliin elu obat atau apa gitu…”
Melihat ekspresi Cimut yang kebingungan, kening Nadya berkerut.
“Dia ga cerita apa-apa sama lo?”
“Ngga tuh..”
“Aneh…”
Sebentar-sebentar, Kak Raga yang membawanya ke kamar terus Kak Raga pulang setelah acara prom beres, tapi Kak Raga baru muncul waktu pagi-pagi untuk menjemputnya pulang dari kamar hotel. ASTAGA!!!! Sebuah dugaan tiba-tiba menyentaknya secara mendadak. Ini mungkinkah?? Apa benar… ia….dan Kak Raga… telah…..
Sial!!! Ia benar-benar tak ingat apa-apa!!! DAMN!!!
Rrrrtttttt….Rrrrrttttttttt….
Ponsel Cimut tiba-tiba bergetar. Begitu melihat nama si penelepon, ia buru-buru mengangkat ponselnya.
“Halo, Kak Raga. Kenapa?”
………………………………………………………………………
Firma hukum Buntoro Samsudin & Partner
Mereka bertiga sudah siap sedia di kantor Pak Buntoro ketika pengacara tersebut duduk di hadapan mereka dengan tatapan serius. Di atas meja kerjanya, terdapat sebuah map berwarna biru seukuran kertas folio. Setelah beberapa saat, ia lalu mulai berbicara.
“Selamat pagi, Bu Widya. Selamat pagi, Pak Saratoga dan Nona Wina. Terima kasih karena bapak dan ibu sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke firma kami pada pagi hari ini. Sekarang, sudah waktunya bagi saya untuk memberitahukan seputar surat wasiat dari almarhum Bapak Adrian Rapandey sebelum beliau meninggal beberapa tahun yang lalu. Ada sekitar 2 surat yang dititipkan oleh beliau kepada Anda bertiga. Surat pertama mohon dibaca oleh Nyonya Widya dan Bapak Saratoga. Sementara surat kedua, mohon dibaca secara pribadi oleh Nona Wina Rapandey. Nah, silakan….” kata Pak Buntoro sambil menyerahkan kedua surat tersebut dengan sikap formal.
Mama Widya dan Raga langsung membuka surat tersebut dan langsung membaca isinya. Setelah beberapa saat, keempat mata mereka langsung terbelalak kaget selebar-lebarnya sambil memandang balik ke arah Pak Buntoro.
“I… ini… ini…”
Pak Buntoro hanya tersenyum kecil sambil mengangguk singkat ke arah mereka berdua.
Tapi reaksi berbeda ditunjukkan oleh Cimut yang sedang membaca surat tulisan tangan ayahnya tersebut dengan mata berkaca-kaca sambil menutup kedua mulutnya.
“Silakan Anda bertiga simpan surat tersebut baik-baik…”
“Sementara untuk Bapak Saratoga dan Bu Widya, silakan tanda tangani dokumen-dokumen ini terlebih dahulu…”
Dengan tangan bergetar, ditanda tanganinya lembar-lembar dokumen tersebut dengan hati-hati oleh Raga dan Mama Widya.
SELESAI!!
Sebuah senyum lebar muncul di wajah Pak Buntoro. “Akhirnya saya bisa menyelesaikan janji saya kepada almarhum Pak Adrian…”
Sementara Cimut tak kuasa menahan air matanya setelah ia selesai membaca surat wasiat tersebut. Pelan, didekapnya surat terakhir peninggalan papanya itu dan segera dimasukkan ke dalam tasnya.
Raga mengantar kedua wanita itu kembali ke rumahnya, tapi sebelum Cimut dan Mama Widya turun, Raga meminta ijin pada Mama Widya untuk mengajak Cimut ke suatu tempat. Senyum lebar tersungging di wajah wanita paruh baya tersebut sebelum kemudian ia memberikan ijinnya pada mereka berdua dan kemudian masuk ke dalam rumah duluan.
Raga yang masih berada di dalam mobil bersama Cimut lalu berkata.
“Gue mo ngajak lo ke satu tempat, Mut….”
Kening Cimut berkerut bingung.
“Ke mana, Kak?”
Raga kembali menjalankan mesin mobilnya. “Ntar juga lo tau…”
…………………………………………………………………………………….
Portobello Restoran
Seorang wanita muda tampak sedang menunggu seseorang di dalamnya. Tubuhnya yang jangkung, kulitnya yang berwarna putih s**u dengan wajah cantiknya yang blasteran, sukses menarik perhatian semua kaum pria yang juga sedang berada di lokasi yang sama dengannya. Beberapa wanita malah mencibir pedas kepadanya karena merasa cemburu akan kecantikan gadis itu. Tak lama, pintu restoran pun terbuka lebar dan masuklah seorang pria dengan seorang wanita mungil berwajah imut-imutnya di sampingnya.
Melihat kedatangan mereka, wanita cantik itu tersenyum lebar.
“Kalian sudah datang…”
………………………………………………………………………………………….
Cimut menatap Nicole yang sedang duduk di hadapannya dengan perasaan gugup yang luar biasa. Entah kenapa, ia selalu salah tingkah di depan wanita cantik ini. Rasa-rasanya semua keberaniannya langsung lenyap tak bersisa. Ia minder.
“Hai, Wina…” sapa Nicole ramah kepada gadis tersebut.
“Ha…Halo, Kak Nicole…” balas Wina salah tingkah.
“Ada beberapa hal yang Nicole mau ceritakan ke lo soal Enrico. Sesuatu yang gue rasa, elo juga ga tau…” kata Raga sambil menepuk puncak kepala Cimut dengan lembut.
“Iya…” kata Nicole singkat. “Win, aku lagi hamil…”
Mata Wina langsung melotot lebar-lebar tak percaya. Ha… Ha.. Hamil???
Kedua bibir Nicole terangkat ke atas saat melihat ekspresi kaget di wajah Wina.
“Tenang, ini bukan anak Raga koq…”
“Ini bayi Enrico….”
WHAT THE………..???????????
Sekarang mata Wina terlihat seperti benar-benar mau copot dari kedua rongganya. Bayi…. Enrico??
Maksudnya??
“Ada beberapa hal yang Enrico sembunyikan dari kamu termasuk hubungan kami berdua. Lalu, alasan sebenarnya kenapa ia harus cepat-cepat menikahimu dalam waktu sesingkat mungkin…”
“Keluarga Enrico terlilit hutang yang sangat besar dan rumah mereka terancam disita bank. Kamu adalah satu-satunya jalan keluar yang dimiliki keluarga itu untuk bisa membebaskan jeratan hutang mereka….”
“Hah?? Aku?? Caranya??”
“Dengan menikahimu, otomatis keluarga Enrico akan bisa memiliki akses untuk mengambil alih kekayaan keluargamu dan membayar hutang – hutang keluarga mereka…”
“HAH!!! APA??? APA???” teriak Wina kaget. Ia benar-benar tak percaya pada pendengarannya sendiri. Ia dijadikan target pembayar hutang keluarga orang lain?? BAH!!! OMONG KOSONG MACAM APA INI!!!!
Tapi mengingat Enrico memiliki bukti video seksnya dan bisa menggunakannya kapan saja, nyali Wina berubah ciut. Ini… ia… harus bagaimana??
Lalu, Nicole mengulang cerita yang sama seperti yang telah diceritakannya kepada Raga sebelumnya. Tanpa ada yang ditambah atau dikurangi sedikit pun.
“Aku sangat berharap kamu bisa membatalkan pernikahan ini dengan Enrico, Win. Cukup aku aja yang jadi saksi kebrutalan dia. Jalan hidup kamu masih panjang di depan…”
“Dan kuharap, kamu bisa hidup bahagia dengan pemuda pilihanmu sendiri…”
Nicole melirik Raga yang tengah duduk di sebelah Cimut, tapi pemuda tersebut tidak mengatakan apapun.
“Terima kasih banyak, Kak Nicole. Aku akan mempertimbangkan saranmu baik-baik…” balas Wina dengan sopan.
Raga lalu mengantar Nicole pulang ke tempat tinggal sementaranya. Tapi, ketika mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan, Cimut berkata.
“Kak, aku mau ke Bukit Teropong Bintang sebentar. Boleh?”
Bukit Teropong Bintang adalah tempat favorit mereka berdua dulu saat Cimut masih SMU. Mereka berdua seringkali menghabiskan waktu untuk mengobrol banyak hal sambil memandangi pemandangan Kota Bandung dari ketinggian. Dengan udara yang sejuk karena banyaknya pepohonan, tempat ini sangat ideal dan terkenal di kalangan muda-mudi untuk tempat bermesraan antar pasangan.
Raga lalu mengangguk singkat, “Ok, kita ke sana sebentar…”
Sepanjang perjalanan, Cimut berusaha keras untuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang tanpa henti. Ada banyak pertanyaan yang bertalu-talu di dalam kepalanya. Berteriak-teriak seakan minta dikeluarkan segera. Belum lagi dugaan serta keraguan yang perlahan menyelinap ke dalam hatinya.
“Itu Raga, Mut….”
“Dia keluar tengah malam…”
Mungkinkah… Mungkinkah…. Waktu itu… Mereka berdua…. Kak Raga… ia…
“Mut…” kata Raga singkat. “Kita sudah sampai…”