Raga membaringkan dirinya di atas sofa dengan lunglai. Tubuhnya terasa lemas sekali. Seakan-akan ia baru dihantam sepuluh gerbong kereta api sekaligus. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Lagi. Dan lagi. Lagi. Terus. Berulang-ulang tanpa henti sampai ia merasa ketegangan di dalam tubuhnya sedikit mengendur. Hufffffff…..
3 jam sebelumnya……
Bagai sumbat botol yang terlepas keluar, Nicole akhirnya menceritakan semuanya kepada Raga tanpa ada yang ditutupi lagi. Tentang siapa dirinya yang sebenarnya, tentang bagaimana Enrico memperlakukannya sebagai b***k seks murahan setiap saat ia mau melakukannya, tentang keadaan keluarganya, tentang pekerjaan yang dilakukannya, tentang keadaan keuangan Oom Sasongko yang tengah diambang pailit dan apa niat Enrico sebenarnya dibalik pernikahannya yang terkesan sangat diburu-buru tersebut. Semua cerita itu benar-benar menempelak kesadaran Raga tanpa henti. Ia bagai ditampar bolak-balik oleh tangan tak kasat mata saat itu. Semua cerita yang didengarnya terasa begitu keji, irasional, tak masuk akal, dan mustahil. Tapi melihat ekspresi Nicole yang begitu prihatin dengan air matanya yang tak henti berderai dan ketika gadis itu berkali-kali bersumpah atas nama Tuhan untuk semua hal yang ia ceritakan, Raga hanya punya satu pilihan.
Percaya.
Tapi Raga benar-benar syok berat saat mendengar kenyataan yang didengarnya barusan. Semuanya ternyata hanya tipuan belaka. Kebohongan besar. Palsu. Imitasi. Tidak nyata. Cerita Nicole terdengar seperti sebuah ilusi. Sebuah sinetron. Opera sabun atau apapun namanya itu. Entahlah.
Tapi ketika Nicole mengatakan kalimat terakhirnya, Raga tersentak kaget.
“Kau masih ingat nomor tak dikenal yang menyuruhmu untuk segera datang ke Leonhart Club?”
“Itu aku…..”
“Aku pengirim pesan itu, Raga….karena aku ga mau Wina jadi korban Enrico berikutnya. Cukup aku yang mengalami semua siksaan fisik itu, Ga. Not her. Wina is…. really a good girl…”
Nicole tercekat. Sudah 2 jam mereka di sana dan malam semakin larut.
Raga menghela nafas panjang. Berusaha untuk mencerna semua ucapan Nicole sebelumnya. Tapi yang pasti, gadis itu harus pindah secepatnya dari apartemennya yang sekarang!
Raga lalu menelepon Tony dan meminta ijin untuk meminjam apartemennya untuk sementara waktu. Untuk ke depannya, Raga akan memikirkan rencana lebih lanjut untuk memastikan keselamatan gadis tersebut dan janin yang sedang dikandungnya. Walaupun bayi itu bukanlah anaknya. Yang jelas, Raga tidak akan membiarkan Enrico untuk kembali menyentuh Nicole untuk kesekian kalinya!
“Nicole, kemasi pakaian dan barang-barang penting lo sekarang. Gue bakal bawa lo ke tempat aman di mana Enrico ga akan bisa nyentuh lo lagi. Ok?”
Nicole hanya bisa mengangguk berkali-kali sembari airmatanya terus meleleh tanpa henti.
“Te..ri..ma ka…sih..Ga… sung…guh…te….ri…ma ka….sih…. ba..nyak…”ucapnya lirih di tengah isak tangisnya.
Ia benar. Raga adalah dewa pelindung dan penyelamatnya. Wina adalah….
Salah satu wanita paling beruntung yang bisa memenangkan hati pria sebaik malaikat ini.
………………………………………………………………………………
Nicole sudah aman sekarang. Sekarang, bagaimana caranya ia menyelamatkan Cimut? Waktunya tinggal sebulan lagi dan Cimut akan menikahi monster j*****m tersebut!!!
Otak Raga berpikir keras. Bagaimana? Bagaimana ini? Bagaimana?
Apa yang harus ia lakukan untuk bisa membatalkan pernikahan terkutuk itu??
Tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara adalah mengaku!
Yah, mengaku pada Mama Widya seputar aib yang dilakukannya berdua dengan Cimut di malam penuh dosa tersebut! Sebuah kesalahan dan kebodohan yang ia sangat sesali sampai sekarang. Sekarang, ia sambil memegang ponselnya, Raga berkali-kali mengelus dan menepuk dadanya pelan-pelan untuk menenangkan dirinya sendiri. Tak lupa, ia juga terus-menerus menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali. Lagi. Lagi. Lagi. Sampai kemudian, jarinya mulai menekan satu tombol nama di dalam ponselnya.
Raga menunggu dengan sabar sampai seseorang menjawab dering teleponnya di seberang sana.
“Halo, Ma…?”
“Raga? Iya, ini mama. Kenapa, Ga? Mau ngobrol sama Cimut?”
DEG!!! Jantung Raga serasa berhenti berdetak sesaat ketika nama gadis itu disebut.
“Cimut ada, Ma?” tanya Raga pelan sambil terus-menerus berdoa supaya gadis itu sedang berada di luar atau apapun. Yang penting tidak ada di rumah.
“Oh, Cimut tadi dijemput Nadya sama Maura. Ada yang mau diobrolin seputar persiapan pernikahannya dengan Enrico katanya..”
Hufffff…. Raga langsung menghembuskan nafas lega. Ok! This is it! Confession time!
Prepare yourself, Raga!
“Kalau Raga boleh ke sana sebentar, Ma? Ada hal penting yang Raga mau obrolin sama mama sebentar…”
“Oh. Ok! Mama tunggu ya, Ga? Mama juga udah kangen banget pengen ngobrol banyak sama kamu. Dahhh…”
KLIK! Mereka berdua langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Pyuhhhh… Sambil mengambil kunci mobilnya, Raga menabahkan hatinya dan bersiap dengan semua kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi ketika ia menceritakan semuanya pada mama angkatnya tersebut. Yah! Ia laki-laki! Apapun yang terjadi ke depannya, ia harus berani bertanggungjawab dan menanggung semua konsekuensinya.
………………………………………………
30 menit kemudian…..
Mobil Raga sampai di depan rumah Cimut dan Mama Widya sendiri yang langsung membukakan pintu untuk anak angkat tersayangnya tersebut karena kaki Bi Enna sedang terkilir akibat terpeleset saat sedang mencuci baju beberapa hari yang lalu.
Melihat Raga, Mama Widya langsung tersenyum manis selebar-lebarnya dan memeluk tubuh pemuda tersebut seerat-eratnya. Kerinduannya terhadap sosok Raga langsung meluap keluar tanpa basa basi lagi.
“Udah makan, Kak?” tanya Mama Widya lembut sambil mengajak Raga masuk ke dalam rumah.
“Udah, Ma. Makasih…” balas Raga sambil merangkul tubuh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut dari samping.
“Ok…jadi kenapa? Ada apa? Ga biasanya loh kamu tiba-tiba telepon dan mengajak ngobrol mama kayak gini…” kata Mama Widya setelah mereka berdua duduk di meja makan.
“Ummm… gini, Ma. Tentang pernikahannya Cimut sama Enrico….”
Raga lalu menarik nafas sebentar sambil berpikir untuk menata ulang kata-katanya. Sementara Mama Widya mengangkat kedua alisnya.
“Ya?”
“Raga ga setuju, Ma. Raga ga setuju mereka berdua menikah cepat-cepat, Ma…”
“Oh, kenapa?”
“Karena… karena….”
Tenggorokan Raga tercekat. Keringat dingin mulai membasahi belakang punggungnya. Gustiiiiii… mau jujur koq susah banget yaa….Tuhannnnn….
“Karena Raga udah melakukan sesuatu hal yang ga pantas sama Cimut, Ma…”
“Maksudnya?”
“Raga….Raga… waktu Cimut dulu ulang tahun yang ke 17….kita berdua ga pulang ke rumah kan waktu itu, Ma?”
“Iyaaa sih. Bukannya karena kalian ada acara sekolah kan? Waktu itu??” tanya Mama Widya dengan kening berkerut sambil berusaha mengingat-ngingat.
“Iya… kami berdua ga pulang karena…. karena…..”
Mata Mama Widya seketika melebar. “Karena……..”
“Karena……. kami berdua mabuk berat waktu itu. Jadi, Raga…. Cimut… kami berdua… tidur bersama…”
“Itu tidak sengaja… kecelakaan… maaf…”
Raga menggigit bibir bawahnya keras-keras dan kepalanya tertunduk ke bawah karena rasa bersalah yang teramat dalam.
“Ma, Raga sudah menodai Cimut malam itu. Maaf…..”
.