“GILA!!!! ELU UDAH GILAAA, MUT!!!” bentak Raga marah setelah ia kembali dari membereskan semua kekacauan di dalam apartemen Nicole dan membuat gadis tersebut tidur nyenyak di dalam kamar sebelumnya. Cimut sendiri hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah. Kalau boleh jujur, ia juga sebenarnya sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Siapa sangka dibalik topeng tampan dan senyum memikatnya, Enrico sebenarnya adalah iblis yang sedang menyamar?
Cimut ingin mundur tapi langkahnya terhalang. Parahnya lagi, ia sama sekali tak bisa jujur pada Raga tentang masalahnya sekarang. Ia ingat malam itu. Malam penuh aib di mana ia tiba-tiba terbangun paginya dalam keadaan telanjang bulat di bawah selimut hotel. Bagian dadanya penuh dengan bekas cupang sementara area selangkangannya terasa sangat sakit dengan beberapa bercak darah di atas seprai. Ia langsung memekik penuh horror saat melihat hal itu. Apakah? Ia? Baru….
Cimut tak berani berpikir lebih jauh lagi. Sialnya lagi, ia sama sekali tak ingat apa-apa.
Satu hal yang pasti, ia sudah tak suci lagi. Ada seseorang yang sudah merenggut mahkota keperawanannya tanpa ia tahu siapa. Itu faktanya.
Cimut langsung menangis tersedu-sedu sambil mengutuki dirinya. Mengumpati kebodohannya untuk menenggak minuman beralkohol padahal sebelumnya ia sama sekali belum pernah minum minuman seperti itu dan sekarang ia menerima akibatnya!!!
SIAL! SIAL! SIAL! SIAL! SIAL!!
Apa kata ibunya dan Kak Raga kalau mereka tahu hal ini? TIDAK!! MEREKA BERDUA SAMA SEKALI TIDAK BOLEH TAHU!!
Cimut masih galau ketika ia tiba-tiba mendengar ketukan dari arah luar pintu dan sebuah suara yang sangat familiar untuknya. “Mut? Udah bangun??”
Entah kenapa, Cimut mendadak merasa sangat bersalah. Ia merasa sangat kotor. Ia sangat malu pada dirinya sendiri sekarang.
“U..Udah, Kak….” Katanya sambil bangkit dan berpakaian kembali. Ia juga lalu menghapus semua makeupnya yang berantakan di wajahnya. Mukanya kembali bersih sempurna tapi hatinya tidak.
Saat ia menyambut wajah Kak Raga yang tengah tersenyum untuk menjemput dirinya, Cimut merasa manjadi perempuan paling munafik sedunia.
………………………………………………………………………
Raga tak habis pikir. Kenapa ada perempuan sebodoh ini di hadapannya? Lebih parahnya, wanita itu adalah adik angkatnya sendiri. Sosok gadis yang sangat sangat ia sukai!!
Enrico sudah jelas-jelas menjebak dan mau mencelakainya secara terang-terangan. Tapi kenapa Cimut masih mau kembali ke dalam pelukan b******n b******k itu? Mantra apa yang dipakai b*****t itu terhadap gadis kesayangannya tersebut???!!!
“Itu wasiat papa, Kak Raga. Kakak tahu sendiri kan??”
“Tapi papa Adrian juga kan pasti ga mau lihat lo menderita di tangan laki-laki b******k kayak gitu, Mut?!!!”
Ini pertama kalinya mereka berdua bertengkar secara terbuka di apartemen Raga. Sebelum-sebelumnya, Raga selalu mengalah pada adik angkatnya ini. Tapi hari ini tidak. Apalagi jika urusannya menyangkut nyawa dan komitmen konyol seumur hidup ini. TIDAK!!
“Kak, percaya deh…. Aku ga punya pilihan lain lagi…” desah Cimut lirih.
Ia teringat lagi pada video seks yang dikirimkan oleh Enrico kepadanya tadi.
Kening Raga berkerut bingung. Ada sesuatu yang sangat salah di sini.
“Apa ada yang kau sembunyikan dari kakak? Kamu diancam misalnya?”
Cimut menggeleng tapi wajahnya sedih sekali.
“Aku mau pulang, Kak. Sekarang…..”
Sepanjang perjalanan menuju rumah Cimut, mereka berdua tak bicara apa-apa. Ada sebuah suasana yang asing di sana. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. Hening. Sepi. Raga dan Cimut sibuk larut dalam pikirannya masing-masing. Kemudian tanpa terasa, mobil Raga sudah sampai di depan pintu pagar rumah Cimut.
Cimut bergegas keluar tanpa basa-basi lagi. “Bye, Kak. Terima kasih karena sudah mengantarku pulang..”
Hari itu, hati Raga terasa perih sekali.
……………………………………………………………………..
Beberapa hari kemudian….
Raga dan Tony sibuk bergulat di manajemen cafenya ketika sebuah ide tiba-tiba terlintas di dalam kepala Raga. Ia lalu cepat-cepat menyelesaikan pembukuannya dan pamit sebentar ke Tony. Ia akan kembali ke Leonhart Club dan mencari tahu sejelas-jelasnya kepada semua petugas yang ada di sana tentang Enrico Saputra. Dilihat dari gelagatnya, pemuda itu mungkin merupakan salah satu pelanggan tetap di club tersebut.
Saat itu hari menjelang sore dan beberapa petugas inti sudah berjaga di dalam club untuk menyambut pelanggan mereka. Raga dengan cepat lalu meghampiri beberapa orang untuk menanyakan beberapa pertanyaan tapi kemudian pandangan matanya tiba-tiba terantuk pada salah satu sosok yang sangat dikenalnya.
“Nicole???”
Tertangkap basah, Nicole langsung gelagapan.
“Kamu ngapain di sini??”
“Errr… itu… itu….emmm….”
……………………………………………………………………………..
Di luar club, di salah satu restoran….
Raga menatap Nicole yang sedang makan dengan lahapnya di hadapannya. Ada banyak pertanyaan yang tak terucap dan berputar-putar di dalam kepala pemuda tersebut sekarang, tapi untuk sementara ini, ia akan membiarkan gadis tersebut melahap makanannya sampai selesai.
Dalam waktu 10 menit, semua nasi dan lauk di atas piring Nicole habis sudah.
“Terima kasih…” ujar Nicole sambil tersipu malu.
“Kamu…..”
“Aku bekerja di sana sebagai penata visual….”
Nicole langsung memberikan penjelasannya sebelum Raga menyelesaikan kalimatnya.
Raga menghela nafas panjang. “Kenapa?”
Ia merasa aneh dan terkejut karena sepengetahuannya, Nicole bekerja di sebuah perusahaan swasta milik teman ayahnya dan bukan di klub malam seperti ini.
“Karena aku butuh uang…” jawab Nicole singkat.
“Bukankah kau bekerja di…”
“Aku bohong….. maaf…..” balas Nicole lagi dengan kepala tertunduk. Ia merasa sangat bersalah.
Sebuah kecurigaan tiba-tiba muncul di dalam benak Raga. Seperti lapisan kabut yang memudar perlahan. Menyibak fakta dan kebenaran yang mulai tersirat pelan-pelan.
“Nicole, gue mau tanya sesuatu sama lo…”
Nicole mendongak dan menatap sepasang mata pemuda tersebut yang tengah memandangnya dengan sangat serius.
“Janin yang ada di perutmu…”
“Apakah itu benar anakku?”
Nicole langsung meneguk ludah. Pelupuk matanya berkaca-kaca sementara kepalanya kembali tertunduk ke bawah.
Mungkin… ini saatnya ia berkata jujur. Apapun yang akan Enrico lakukan lagi kepada tubuhnya setelah ini, ia takkan peduli lagi. Ia sudah benar-benar cape dengan semua kebohongannya selama ini.
“Bukan…”
“Janin siapa itu, Nicole?” tanya Raga penuh selidik.
“Ini bayi Enrico…”
“APAAA???” Raga merasa seperti baru saja tersambar halilintar saat mendengar berita tersebut.
Belum selesai sampai di sana, Nicole lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Raga, masih ingatkah kamu dengan seorang gadis remaja yang kamu temui di acara syukuran di rumah Oom Sasongko dulu? Papanya Enrico?”
Raga mengangguk. “Ya, lalu?”
“Akulah gadis tersebut….”
Mata Raga melotot lebar-lebar sampai terlihat hampir copot dari rongganya. “Kamu??”
“Aku melakukan beberapa bedah plastik pada tubuhku dengan bantuan Enrico untuk satu misi.”
“Kamu….”
“Aku sudah menyukaimu sejak pertemuan pertama kita dulu maka aku menyetujui rencana Enrico untuk mendekatimu. Sementara ia melakukan pendekatan untuk mendapatkan Wina. Ia berpikir kalau kau tidak ada makan akan jauh lebih mudah untuknya supaya bisa mengambil hati gadis tersebut. Tapi yang tidak kusadari adalah faktor X yang terjadi seiring berjalannya waktu dan ketika hubungan kita berdua semakin dekat…”
Nicole tersenyum konyol pada dirinya sendiri.
“Apa yang kukira adalah rasa suka semata, ternyata berubah semakin dalam. Rasa itu semakin lama semakin besar sehingga aku benar-benar ingin menginginkanmu seutuhnya. Tanpa dibagi ke wanita lain. Ragata Saratoga adalah milikku seorang….”
“Tapi begitu aku melihat Cimut dan bagaimana sikapmu padanya, aku tahu aku sudah tidak punya kesempatan. Kau…..”
“Menyukainya bukan?”
Sekarang gantian Raga yang meneguk ludah. I…ia tahu? Ia tahu kalau aku menyukai Cimut?
“Dan bukan hanya rasa suka sesaat. Kupikir pasti lebih dalam dari itu…”
Nicole menghela nafas panjang sekali lagi. Kali ini, ia mengatakan semuanya. Ia menyerah kalah. Ia letih. Saat ini, Nicole hanya ingin menghilang dari atas muka bumi sepenuhnya. Lenyap. Tak berbekas. Tapi sebelum itu, ia akan menguak seluruh kebenarannya sekarang.
“Raga, dengarkan aku baik-baik…”
.