14 ANCAMAN

1293 Kata
“ITU PASTI KAU BUKANN???!!!!!” desis Enrico marah sambil mencekik leher Nicole dengan kasar dan membantingnya ke dinding. Nicole megap-megap saat dicekik sedemikan rupa oleh Enrico. Matanya berair. Wajahnya memerah karena kehabisan nafas sementara udara di dalam paru-parunya menyusut drastic. Mulut Nicole megap-megap berusaha keras untuk mengucapkan beberapa patah kata untuk menenangkan pemuda tersebut. “Ric….ic…Ricoo…pleasee…” Rico tiba-tiba mengendurkan cekikan jarinya dan tubuh Nicole langsung melorot ke bawah. Nicole sendiri langsung terbatuk-batuk kencang sambil berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kembali mengisi kapasitas paru-parunya yang sudah kehilangan daya. Tanpa sadar, ia juga mengelus perutnya. Untunglah, janinnnya ini sangat kuat walaupun setelah ia menerima perlakuan yang sangat kasar dari Enrico. Enrico sendiri sama sekali tidak ambil pusing akan keadaan Nicole yang setengah semaput akibat perbuatannya tersebut. Di dalam otaknya, ia sibuk berpikir keras untuk mencari cara alternative agar bisa segera menikahi Cimut. FUCKKK!!! SHITTTT!!! Padahal jika tidak ada gangguan ia pasti sudah berhasil meniduri gadis itu di club!!! DAMN!!! Padahal tinggal sedikit lagi…. Enrico mulai membanting barang-barang yang ada di ruang apartemen Nicole dan membuat wanita itu terpekik ngeri karena barang-barang pecah belah kesayangannya kini sudah hancur berantakan di atas lantai. SHIT!!! s**t!!! s**t!!! Apa perlu ia mengeluarkan kartu trufnya sekarang?? Tiba-tiba ponselnya berdering kencang. Enrico lalu melihat layar ponselnya. Dari Oom Sasongko. Ayahnya. Tanpa sadar, di dalam hatinya, ia mulai mengumpat lagi. “Ya, Pa?” Enrico berusaha menekan suaranya sehalus mungkin. “Jadi bagaimana kelanjutan hubungan kamu dan Wina, Co?” tanya Oom Sasongko yang berusaha keras berpura-pura tenang. Hari ini ia baru saja menerima 3 telepon dari bank yang menagih pembayaran hutang secepatnya. Tidak ada jalan lain, ia terpaksa harus menelepon putranya. “Baik. Tunggu sebentar lagi, Rico dan Cimut pasti akan menikah secepatnya…” “Ok, papa tunggu berita baik dari kamu secepatnya yaa…” KLIK!! Mereka berdua lalu memutuskan sambungan telepon. Tidak ada jalan lain, dengus Enrico kesal. Sepertinya ia memang harus menggunakan kartu as terakhirnya sekarang. Melihat Nicole yang masih terduduk di atas lantai sambil memegangi lehernya, Enrico hanya menunjuk wanita tersebut dengan jarinya. “Ingat apa tugas lo, Nicole!!! Ingat berapa ratus juta yang sudah kami keluarkan untuk memoles setiap jengkal tubuh lo hingga lo bisa jadi kayak sekarang!!! Ingat itu baik-baik!!! Gue ga peduli cara apapun yang harus lo lakukan, pokoknya bikin Raga menjauh sejauh-jauhnya dari Wina!!!” “NGERTI LO??!!!” Nicole hanya mengangguk pasrah tanpa suara sementara air mata berderai di pipinya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Tanpa basa – basi, Enrico segera keluar dari ruangan tersebut. Begitu pemuda tersebut keluar, Nicole langsung menangis terisak-isak tanpa henti. Berbagai emosi yang dipendamnya dalam-dalam langsung meluap keluar begitu saja. Sudah berapa lama ia hidup seperti ini? Di tengah himpitan dan tekanan Enrico yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sebuah lap kotor? Dan parahnya, ia sama sekali tidak bisa bercerita kepada siapapun tentang kondisinya tersebut. Ibunya yang sudah tua masih memerlukan banyak dukungan finansial untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kedua adiknya juga. Kalau ia melawan, habislah sudah!!! “Raga….” Tanpa sadar, ia mengucapkan nama tersebut. “Raga…” ucap Nicole sekali lagi. Nama itu seakan-akan seperti sebuah mantra ajaib untuknya. Raga tidak setampan Enrico, tapi ia sama sekali tidak pernah berlaku kasar atau tak hormat kepadanya. Bahkan selama mereka berpacaran, tindakan paling jauh yang dilakukan oleh Raga kepadanya adalah mengecup kening, kedua pipinya, dan bibirnya sesekali saja. Sisanya? Mereka lebih banyak berpegangan tangan dan berpelukan saja. Tanpa ada satupun kontak fisik yang melebihi batas. Hanya itu. Tapi saat ini, ia sangat sangat merindukan pemuda tersebut. Jauh melebihi apapun…. Walaupun ia tahu kalau cintanya pada Raga hanya sebuah cinta sepihak. Satu arah. Tanpa balasan. Tapi untuknya, itu jauh lebih dari cukup. Ia merasa sangat bahagia walau hanya dekat dengan pemuda tersebut di sisinya saja. Pelan, tanpa sadar, ia menekan sebuah nomor di ponselnya. Setelah beberapa kali deringan, seseorang menjawab panggilan teleponnya. “Ga…. Tolong gue…” kata Nicole dengan suara parau. ………………………………………………………………………………………. Di seberang sana… Raga yang menerima panggilan Nicole langsung bangkit dan bersiap untuk pergi. Cimut masih terlelap di atas kasurnya. Raga hanya menulis sebuah pesan singkat di samping ranjang tersebut, kalau-kalau Cimut nanti terbangun tiba-tiba. Ada segelas air dan obat pengar juga yang Raga sudah siapkan untuk gadis itu. Setelah memastikan semuanya aman, ia langsung keluar dan menuju parkiran mobil di area bawah tanah. …………………………………………………………………………………………………. Cimut masih tertidur pulas ketika ia terbangun perlahan oleh suara deringan ponselnya yang terus- menerus. Dengan mata sepet dan masih mengantuk, ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Tapi begitu ia melihat nama si penelepon, bulu kuduknya langsung berdiri. Nama Enrico tercetak lebar-lebar di sana. Seakan-akan berteriak memanggil namanya. Cimut menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia mengangkat telepon. “Halo?” ………………………………………………………………………………………………….. Apartemen Nicole Mata Raga terbelalak kaget saat melihat kekacauan di dalam ruang apartemen Nicole. Berbagai barang pecah belah yang hancur berantakan tampak berserakan di atas lantai sementara keadaan Nicole sendiri tak kalah berantakannya. Kedua mata gadis itu sembab. Bukti nyata kalau ia baru saja menangis hebat sebelumnya. Ada bekas bengkak di lehernya. Pertanda kalau ia baru saja mengalami penyerangan fisik sebelumnya. “Astaga..astaga?? Kenapa ini? Nicole?? Kamu ga papa?” Tanya Raga panic dan cemas. Terlebih lagi Nicole juga sedang hamil muda. Faktor keselamatan dan janinnya merupakan prioritas utama untuknya. “Ada perampok….perampok tadi, Ga…” “Pas aku pulang, dia lagi cari-cari barang berharga di sini. Karena ketahuan olehku, aku dicekik sampai pingsan. A..Aku takut…Ga…” Tubuh Nicole menggigil hebat saat menceritakan hal itu. Sementara yang ada di dalam kepala Nicole adalah bayangan Enrico yang sangat mengerikan saat sedang mencekik dirinya. Nicole belum pernah merasa sedekat itu pada kematian sebelumnya. Nicole kembali menangis ketakutan. Sementara Raga hanya bisa memeluk gadis tersebut dalam diam. Saat ini, yang Nicole paling butuhkan adalah sebuah rasa aman. Sebuah perasaan nyaman kalau ia tidak sendirian saat baru saja mengalami musibah yang tengah menimpanya. Kedua tangan kekar Raga memeluk Nicole dalam sunyi. Tapi itulah semua yang Nicole butuhkan saat ini. Bagi Nicole, Raga adalah rumahnya. Tempatnya berlindung dari semua masalah dan derita yang menghimpitnya selama ini. Raga adalah surganya. Nafas hidupnya. Sekaligus tempat perlindungannya. Tak ada tempat yang paling nyaman bagi Nicole selain berada di dalam pelukan pemuda tersebut. …………………………………………………………………………………… Enrico tengah menunggu di sebuah café sambil bersiul-siul riang. Mulutnya sesekali menyesap es kopi moccacino yang dipesannya dengan nikmat. Tak lama, datanglah seorang gadis berwajah imut-imut dengan ekspresi muka sesuram awan mendung ke hadapannya. Gadis itu menarik kursi dan langsung duduk di depannya. “Langsung saja. Apa maumu…” “Baiklah! Kalau begitu gue ga usah pakai basa- basi lagi. Gue mau bulan depan nanti, kita sudah…” “Menikah….” Gadis itu terkesiap kaget. Matanya melotot lebar-lebar karena permintaan gila tersebut. Tapi, ia tak punya pilihan lain… “Ok…” jawab Cimut singkat. Sebuah seringai iblis muncul di wajah Enrico. 15 menit sebelumnya…. Cimut menolak mentah-mentah permintaan Enrico untuk kembali mengajaknya bertemu hari itu. Tapi file video berikutnya yang dikirimkan oleh Enrico kepadanya, membuat gadis itu tak bisa berkutik. Itu adalah sebuah video seks dimana dirinya sedang bercinta dengan posisi woman on top. Suara desahan dan lenguhan yang terdengar jelas di sana, sudah lebih dari cukup untuk membuat merah telinga siapapun yang mendengarnya. Dan wajah Cimut terlihat sangat jelas walaupun angle kamera diambil dari arah samping. “Bercinta entah dengan siapa pada saat kau berulangtahun yang ke 17. Sepuluh tahun yang lalu… Kira-kira bagaimana perasaan ibumu dan Raga saat mengetahui hal ini?” “Kau sudah tak perawan lagi. Menurutmu apa masih ada laki-laki yang mau menerima dirimu yang kotor seperti itu??” cecar Enrico dalam pesan singkatnya. “Kalau dalam waktu 15 menit, kau menolak bertemu denganku, akan kusebarkan video ini ke grup kelas kita. Bagaimana menurutmu?” Sebuah ancaman. Sebuah jerat mati yang ditaruh oleh Enrico di leher Cimut. Ia tak bisa apa-apa dan hanya bisa tunduk patuh pada kemauan pemuda tersebut. “Baiklah, ayo ketemu sekarang….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN