#NICOLE POV#
Tujuh tahun yang lalu….
Gue dirundung duka tapi Enrico bahagia.
Bukan, bukan gara-gara dia nyakitin gue. Ngga banget. Tapi karena gue baru kena musibah minggu kemarin. Kedua orangtuaku memutuskan untuk bercerai. Papaku tiba-tiba pergi bersama wanita selingkuhannya dan meninggalkan kami berdua. Tanpa kabar, tanpa uang. Lebih parahnya, ayahku juga menilep uang perusahaan dimana ia bekerja. Bosnya…
Oom Sasongko. Papanya Enrico.
Mamaku yang hanya seorang ibu rumah tangga langsung uring-uringan karena orang-orang suruhan Oom Sasongko mendadak datang ke rumah kami untuk menagih hutang dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku hanya bisa duduk bersandar lemas di tembok. Ya Tuhannnn….
Dengan apa kami bisa membayar hutang sebesar puluhan juta tersebut??
Gue tak punya pilihan lain. Dengan langkah tegar, kuberanikan diriku untuk datang ke rumah papanya Enricodan mengajukan diri untuk bekerja di sana dengan resiko potong gaji demi mencicil hutang ayahku serta tetap membuat asap tetap mengepul di dapur kami.
Dengan perjanjian hitam di atas putih, aku dan Oom Sasongko meneken kontrak bersama serta disaksikan oleh Enrico. Surat kontrak tersebut lalu disimpan olehku dan Oom Sasongko. Praktis terhitung mulai besok, aku bekerja di dalam rumah Enrico sebagai salah satu karyawannya. Saat itu, Enrico sudah hampir lulus SMA dan Oom Sasongko berniat untuk membuat sebuah pesta syukuran seberes Enrico wisuda minggu depannya.
…………………………………………………………………………………….
Minggu depan….
Hari syukuran pun tiba.
Suasana rumah Oom Sasongko sangat ramai hari itu. Banyak tamu dan kenalan dari Oom Sasongko yang datang berkunjung sambil mengucapkan selamat atas kelulusan Enricosebelum ia melanjutkan kuliahnya. Gue ingat. Diantara semua keluarga tersebut, ada keluarganya Wina dan Raga.
Setahuku, hubungan kedua keluarga tersebut sangat dekat. Tapi sedekat apa? Gue tak tahu. Tugasku hanya membantu melayani para tamu yang datang dan memastikan kalau mereka semua pulang dengan perut kenyang dan bahagia.
Acara syukuran berlangsung cukup lama. Kurang lebih sekitar 3 jam. Bersama dengan para karyawan catering yang dipesan, gue berjibaku untuk menyiapkan hidangan dan membantu mereka mencuci piring. Karena kebanyakan para karyawan Oom Sasongko, maka gue lebih banyak bertugas di dapur sambil memberi beberapa instruksi dan mengawasi kinerja para pegawai catering. Sampai di penghujung acara, para pegawai catering mulai membereskan hidangan yang tersisa dan gue terduduk lelah di kursi rotan panjang dekat kolam renang. Entah kenapa, ketika aku sendirian, pikiranku kembali membayang kepada sosok ayahku yang tiba-tiba pergi meninggalkan kami. Aku sangat marah sampai mau meledak rasanya!
Lalu, dua tetes air mata jatuh tanpa tertahan lagi. Kedua tanganku terkepal kencang. Aku benar-benar ingin membunuh seseorang waktu itu! Tapi, kemudian seseorang menepuk pundakku dari belakang dan memberikanku beberapa lembar tissue.
“Kau menangis….”
Gue tertegun. Saat itu, di hadapanku hanya tampak sepasang sorot mata yang paling teduh yang pernah gue lihat. Sepasang mata yang sama yang bisa menenangkan batin gue yang tengah galau tak keruan ini.
“Terima kasih…” balas gue singkat sambil menyeka air mata di sudut mata gue.
“Sama-sama. Kalau boleh tahu, kenapa kau menangis?”
“Tidak apa-apa. Hanya ingat ayahku. Dia…. pergi….”
Pemuda itu tak mengatakan apapun setelah mendengar ceritaku. Aku tahu, kedengerannya pasti cengeng sekali kalau aku bercerita lebih lanjut jadi aku diam saja.
“Sayang sekali….”
Kedua mataku melebar otomatis saat mendengar kata-kata tersebut. Apa aku tak salah dengar??
“Gue ga tahu dia meninggal atau pergi beneran. Satu hal yang pasti. Sayang sekali dia meninggalkan seorang anak perempuan setangguh dan sekuat ini….”
Aku tertawa. Ha! Lucu sekali!
Aku tak tahu kenapa, tapi kata-kata pemuda tersebut langsung meredakan amarah yang bergolak di dalam batinku seperti siraman air di padang gurun. Dingin dan menyejukkan.
Pemuda itu tersenyum.
“Sudah baikan?”
Aku mengangguk pelan. “Terima kasih ya?’
“Sama-sama. Omong-omong, papa mamaku juga sudah tidak ada koq. Jadi kita senasib…”
“Oh? Kenapa?” tanya gue penasaran.
“Meninggal. Kecelakaan pesawat saat pergi dinas…” balas pemuda itu singkat.
“Turut berdukacita….” balasku pelan.
“Ya, terima kasih. Kau juga. Yang kuat ya? Ditinggal pergi oleh orangtua kita bukanlah akhir dunia. Masih ada yang kita harus urus dan jalani. Diri kita sendiri..” kata pemuda itu sambil menepuk pundakku sekali lagi dengan pelan untuk menyemangati diriku.
Aku mengangguk. “Iya…”
“Ok, aku pergi dulu…”
“Eh? Namamu?” tanyaku sebelum ia benar-benar menghilang.
“Ragata Saratoga. Panggil aku Raga….”
Hari itu, duniaku berubah. Di dalam mataku, hanya ada ia seorang. Tapi aku tak tahu. Musibah yang menimpa diriku ternyata jauh lebih besar lagi.
……………………………………………………………………………
Malam itu sepi. Semua tamu sudah pulang. Rumah Oom Sasongko kembali ke habitat aslinya. Tenang dan sunyi.
Gue juga beristirahat di kamar sementara yang dipinjamkan oleh Oom Sasongko sebelum gue pulang ke rumah besok. Badan gue berasa lemes banget. Hari ini gue terus kerja non stop selama 8 jam karena harus mempersiapkan banyak hal. Ditambah sebelum para pegawai catering pulang, gue harus memastikan semuanya kembali dalam keadaan rapi dan bersih tanpa ada barang yang hilang.
Gue tengah tidur pulas ketika gue merasakan nyeri di tubuh bagian bawahku sementara setengah bajuku sudah terbuka ke atas. Gue coba bergerak tapi ternyata ada seseorang yang sedang menindih tubuhku dan memasuki liang kewanitaanku dengan paksa. Gue meronta sekuat tenaga sambil berusaha menjerit, tapi tenaga orang itu jauh lebih kuat. Mulut gue dibekap. Nafasnya memburu dan berbau alcohol.
“Jangan bergerak!”
“Jangan menjerit!”
“Atau malam ini akan menjadi malam terakhirmu di rumah ini….”
Gue tercekat. Gue kenal betul suara siapa itu!
Enrico Saputra!!
Gue menangis tertahan sambil menahan sakit. Nafasnya masih memburu penuh nikmat ketika akhirnya ia menumpahkan semua benihnya di dalamku ketika ia o*****e. Dan, itulah awal mula neraka hidupku di rumah itu. Tapi aku harus bertahan. Bertahan sampai aku bisa melihat Raga lagi.