9 PERSIAPAN PERNIKAHAN

1223 Kata
#RAGA POV# Gue lagi nemenin Nicole untuk lihat-lihat perlengkapan bayi di mall. Nicole kelihatan seneng banget pas lihat baju-baju bayi atau peralatan yang lucu-lucu. Walaupun gue bilang sebenernya masih terlalu awal untuk itu, tapi dia ga peduli. Yah, mungkin namanya perempuan mungkin memang suka banget sama yang namanya belanja. Udah karakter aslinya kalii… Saat Nicole lagi sibuk lihat-lihat baju, tiba-tiba telepon gue bunyi. Pas gue cek layarnya. Ada nama Cimut yang tercetak besar-besar di ponsel gue. Gue langsung angkat teleponnya. “Yooo…kenapa, Mut?” Hening sesaat ketika kemudian suara Cimut terdengar dari seberang sana. “Kak Raga, maaf… aku mau minta tolong…” ……………………………………………………………………….. 30 menit berikutnya, gue dah nyampe di tempat Cimut. Dia lagi berada di Rumah Kartipah. Salah satu lokasi yang sedang diincarnya untuk tempat pernikahan mereka. Tapi pemandangan berikutnya yang gue lihat bener-bener bikin hati gue sedih banget. Begitu lihat kedatangan gue, Cimut langsung berlari dan memeluk gue dengan mata sembab. Gue tahu banget, kalo Cimut kayak gini, biasanya dia abis berantem atau moodnya lagi ancur total. Nah, yang mana? “Kenapa, Mut?” tanya gue lembut sambil membelai rambutnya yang tebal dan berombak. “Rico ga mau lokasi pernikahan kita di sini. Padahal dari dulu, gue pengen banget kalo nikah tuh bisa di tempat ini. Kak Raga tau kan kalau gue suka banget sama suasananya Rumah Kartipah?” Gue cuma bisa manggut-manggut sambil menepuk-nepuk punggung Cimut untuk menenangkan gadis itu. Rumah Kartipah adalah salah satu lokasi favorit Cimut untuk pernikahan idamannya dari dulu. Walaupun tidak terlalu besar, tempat itu sangat asri dan teduh dengan pepohonan akasia yang tertata dengan sangat rapi. Belum lagi penampilan interior ruangannya yang menggunakan desain kontemporer dengan perpaduan gaya modern minimalis dengan beberapa sentuhan ornament sebagai aksen di beberapa bagian ruangan. Temboknya didominasi oleh warna putih dan warna-warna alam. Sangat pas jika ada seseorang ingin merayakan hari jadi atau melakukan pesta pernikahan dengan suasana yang intim dengan para kerabat atau sahabat-sahabat dekatnya. Dari dulu, Cimut memang menginginkan suasana pesta yang tidak terlalu ramai agar ia bisa menikmatinya bersama-sama dengan orang-orang terdekatnya. Karena menurutnya, momen sekali seumur hidup, haruslah disaksikan oleh orang-orang yang dekat dengannya dan bukan sebagai acara glamour fashion show. “Rico pengennya kita bisa nikah di gedung atau aula gitu. Jadi bisa ngundang banyak orang untuk datang ke acara nikahan kita….” Gue menghela nafas dengan berat hati. Empat bulan lagi… Kalau dengan lokasi pernikahan yang dipilih oleh Cimut, akan sangat masuk akal untuk bisa membicarakan semua t***k bengek pernikahan karena persiapannya tidak akan terlalu ribet dan dengan jumlah tamu yang tidak terlalu banyak, makan semua persiapan akan bisa dilaksanakan secara lebih matang. Tapi, jika di gedung pertemuan atau aula besar, wah!!! Membayangkannya saja kepala gue udah pening….. “Kenapa lo ga ngomong sama Rico supaya lokasinya ga di sini aja sih, Mut?” Meskipun gue ngerasa agak aneh kenapa mereka harus terburu-buru untuk segera menikah. Tapi jawaban Cimut pasti karena itu merupakan amanat terakhir dari papa Adrian yang harus ia jalankan. That’s it! “Gue udah ngomong!!! Maksa malah!!! Eh, kita berdua malah berantem parah di depan staf marketingnya!!! Lo tau ga dia ngomong apa? Lo tuh perempuan!!! Udah nurut aja sama gue!! Kenapa sih????” “Abis itu gue ditinggal….” Air mata Cimut hampir saja berderai keluar lagi ketika aku buru-buru untuk menenangkan gadis itu cepat-cepat. Dari dulu Cimut merupakan anak yang sangat keras kepala dan mandiri karena papa Adrian selalu mengajarkannya untuk memegang prinsipnya sendiri serta menanggung setiap konsekuensi dari semua pilihan yang ia ambil. Walaupun perempuan, papa Adrian sama sekali tidak pernah bersikap lembek terhadap dirinya. Ia tetap memperlakukan kami sama saja. Akibatnya, Cimut bertumbuh menjadi seorang gadis yang sangat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan keluarga. Ia bisa menjaga sikap dan sama sekali tidak mau tunduk kepada siapapun jika tanpa dibarengi oleh sebuah alasan yang jelas. Jadi, dalam kasus ini, ketika ia harus mengikuti tuntutan Enrico hanya dikarenakan gendernya sebagai perempuan yang dianggap lebih lemah dalam status sosialnya dibandingkan dengan laki-laki, pantas saja Cimut ngamuk berat!!! “Ya sudah, sudah… sini gue anter lo pulang dulu. Mata lo jangan sembab gitu. Ntar gue lagi yang kena semprot nyokap lo…” kata gue sambil bawa dia masuk ke dalam mobil untuk mengantarnya pulang. SHITT!!!! Dari dulu gue emang ga suka sama si bocah itu!! Entah kenapa… Tapi kini gue tahu kenapa. Dan sekarang, gue harus mikir gimana caranya untuk bisa ngobrol baik-baik sama bocah itu… . #ENRICO POV# SHITTT!!! f**k!!! FUCKK!!! Gue terus mengumpat-ngumpat kasar di dalam hati karena masalah ini!!! Berani-beraninya gadis ingusan tadi berbicara dengan suara keras dan membentaknya saat mereka melakukan survey lokasi pernikahannya. KAMPRET!!!!! Seumur-umur, selain kedua orangtuanya, Enrico tak pernah diperlakukan sekasar itu oleh orang lain. Baru Wina saja yang dengan sangat berani menentangnya habis-habisan seperti itu di depan orang lain. Sebenarnya tempat pilihan Wina ga jelek-jelek amat, ditambah interior ruangannya yang asik dan cozy, tempat itu sebenarnya sangat ideal untuk pernikahan mereka. Apalagi di tengah waktu yang super mepet kayak gini. Masalahnya adalah jumlah tamu undangan yang dirasa Rico sangat jauh dari kata ideal. Jika Wina hanya ingin mengundang sekitar 100 – 200 tamu undangan, Enrico ingin sepuluh kali lipatnya dengan penampilan yang super glamour. Biar dunia bisa melihat seperti apa pernikahan seorang Enrico Saputra sebenarnya!!! Apalagi ditambah kekayaan keluarga Rapandey yang tersohor itu. Enrico sangat yakin kalau ia bisa melaksanakan semuanya dengan sangat sempurna. Uang bukanlah masalah untuk mereka. Nitttt…Nitttt…. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Dari ayahnya. “Gimana, Co? Persiapan acara pernikahannya?” Rico langsung menjawab. “Lancar, Pa. Ga ada masalah…” Cih! Pada akhirnya, yang namanya wanita tetaplah harus tunduk pada pria. Itulah nasib dan takdirnya. Dalam masalah berhubungan seks pun, bukanlah titik ejakulasi wanita terasa paling nikmat ketika ia sedang berada di bawah tindihan seorang pria?? Rico mendengus kesal mengingat betapa lancangnya Wina kepada dirinya tadi. Diam-diam di dalam hatinya, ia sudah merencanakan sebuah pembalasan agar gadis itu tak lagi bisa melawan dirinya. Nittt..Nittt… Sebuah notifikasi kembali masuk di ponselnya. “Ok, Co. Papa serahin semuanya sama kamu ya? Ingat, masa tempo hutang keluarga kita jatuh 4 bulan lagi. Pastikan kalau Wina sudah menjadi milikmu sebelum waktu itu…” Sebuah senyum mengejek muncul di raut wajah Rico yang tampan. Sampai saat ini, belum pernah ada seorang wanita pun yang berhasil menolak pesona dirinya. Apalagi ia juga mendengar selentingan kalau dulu Wina sempat naksir dirinya. Hmm… ceritanya akan jauh lebih mudah kalau begitu. Rico baru saja menyalakan mesin mobilnya ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk lagi ke dalam ponselnya. Nittt…Nittt…. Wajah tampannya yang cerah langsung berubah gelap ketika ia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Ragata Saratoga!! “Hi, Rico! Ini Raga. Sorry kalo gue ganggu lo. Kira-kira lo ada waktu kapan ya? Ada yang mo gue obrolin…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN