10 PERJANJIAN RAHASIA

1221 Kata
#RAGA POV# Besoknya… Seperti biasa, gue sampe duluan di tempat pertemuan. Sambil menunggu bocah itu datang, gue pesen segelas moccahino untuk sekedar menenangkan diri. Huffttttt….. Setelah minum steguk, gue ngerasa pikiran gue jadi rada tenang sedikit. Tapi terus terang, di dalam d**a gue, gue masih sedikit mendidih gara-gara apa yang Enrico lakukan ke Cimut kemarin karena menurut gue, semarah-marahnya laki-laki, ia sama sekali ga boleh ninggalin pasangannya sendirian di tempat umum kayak gitu. Itu juga yang selalu papa Adrian ajarin ke gue sebelum ia meninggal dulu. “Jadi laki-laki itu harus gentleman. Harus belajar bertanggung jawab sama wanita yang sudah dipilihnya. Harus terus dijaga. Biar semarah apapun kamu sama dia, ga boleh tinggalin dia sendirian di tempat asing. Kalau ada apa-apa gimana?” Benar, pikirku. Gimana kalo kemarin ada apa-apa sama Cimut? Kalau itu sampai terjadi, gue bakal….. “Hai, Ga. Udah nunggu lama?” Seulas senyum lebar di sebuah wajah tampan menyapaku dengan hangat sambil menarik kursi di hadapanku. Gue balas tersenyum tapi datar. ………………………………………………………………………….. “Jadi?” tanya gue langsung tanpa basa-basi. “Apa masalahnya kemarin?” “Tidak ada masalah apa-apa. Kita cuma ada selisih paham aja. Yahh… wajar aja, namanya pasangan kan kadang-kadang ada beda pendapat. Kamu dan Nicole juga sama kan?” balas Enrico sambil tersenyum lagi. Sumpah! Jika gue perempuan, mungkin gue bakal meleleh lihat senyum tersebut tapi sayangnya gue laki-laki dan gue udah keburu eneg sama ini bocah. “Ok, Cimut ga banyak cerita apa-apa sih sama gue soal masalah kemaren. Menurut gue itu urusan kalian berdua. Cuma gue harap, elu jangan pernah ninggalin Cimut asal-asalan kayak gitu lagi ya? Sebesar apapun pertengkaran kalian, jangan pernah ninggalin adik gue di tempat asing. Gue harap elu bisa jaga dia baik-baik sebagai calon suaminya. Paham??” Enrico tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya tersenyum manis seperti biasa. Tapi gue tahu kalau saat ini, egonya pasti sangat terusik dengan kata-kata gue barusan. “Ok..” balasnya singkat. “Gue minta maaf soal kemarin. Ada lagi yang perlu lo obrolin?” Gue menggelengkan kepala. “Ga ada. Cukup segitu aja…” Kamu berdua lalu bangkit berdiri dan bersalaman. “Nice to meet you, Bro….” kata Enrico sebelum kami berpisah. ………………………………………………………………… Sesampainya di parkiran, aku langsung masuk ke dalam mobil sambil menghela nafas panjang. Cimut..Cimut….sebenernya apa yang lo liat di dalam diri bocah itu sih? Gue ngerti banget kalo lo pengen mewujudkan wasiat papa Adrian. Tapi, tak adakah pria lain yang pantas untuk jadi pendampingmu selain bocah b******k itu? Entah kenapa, gue jadi terkenang akan masa lalu. Masa-masa dimana Cimut masih mengenakan seragam putih abu-abu dan gue masih suka sibuk anter jemput dia setiap hari waktu sekolah dulu. Ia masih berusia 16 tahun dan beberapa minggu sebelum papa Adrian meninggal, ia seringkali bercerita padaku betapa ia menyukai salah satu seniornya yang super keren bernama Enrico Saputra. Juara umum sekolah, kapten basket dan sekaligus ketua OSIS di sekolahnya. Gue seringkali hanya senyum-senyum sendiri saja ketika Cimut dengan gayanya yang heboh berkisah tentang idolanya tersebut karena aku hanya menganggapnya sebagai cinta sesaat. Cinta pertama yang takkan pernah terwujud. Sampai suatu saat, keluarga Enrico yang memang terkenal dekat dengan keluarga papa Adrian mengundang keluarga kami untuk berkunjung dan sekaligus merayakan kelulusan Enrico usai ia menyelesaikan SMU-nya. Terus terang, gue ga ngerasa terlalu betah di rumah mewah tersebut sampai akhirnya mata gue tertumbuk pada seorang gadis yang tengah melamun dengan wajah kuyu. Dari cerita singkatnya, gue bisa ambil kesimpulan kalau gadis tersebut sedang mengalami masalah berat dengan kepergian papanya. Hhh…. Entah bagaimana, gue jadi teringat pada kematian kedua orangtua gue sendiri dan rasa trauma itu mulai membayangi isi otak gue lagi. Beruntungnya, gue memiliki Papa Adrian, Mama Widya, dan Cimut yang membantu gue bertahan untuk melalui semua itu. Tapi gadis ini? Mungkin tak seberuntung itu. Gue mencoba untuk menghiburnya sebaik mungkin yang gue bisa. Syukurnya, cara itu mungkin berhasil. Gue bisa lihat ada segurat kelegaan di wajahnya yang murung tersebut. Ada seulas senyum tipis yang menghiasi mukanya sekarang. Ah.. gadis itu, apa kabarnya dia sekarang ya? ……………………………………………………………………………………………. Di apartemen Nicole…. “AKHHHHH……SAKITTTT………HENTIKANNNNN….NGHHHHH…..!!!!!” keluh Nicole sambil meronta melawan Enrico yang menindihnya sambil memaksakan kejantanannya untuk memasuki liang kewanitaan gadis tersebut. Nafasnya memburu nikmat sementara sebelah tangannya menahan kedua tangan Nicole diatas kepalanya. Wajah Nicole meringis sakit menahan pedih ketika k*********a dipaksa masuk oleh kejantanan Enrico yang berukuran cukup besar secara mendadak berulang kali. Ketika akhirnya Nicole berhasil melepas kedua tangannya dan bersiap-siap untuk kabur. PLAKKKKK!!!!! Sebuah tamparan mendarat dengan sangat telak di pipinya. Tubuh Nicole langsung terpelanting jatuh. Beruntung…. ia tak apa-apa. Sebuah cap tangan merah ada di pipinya dan bentuk wajahnya langsung berubah asimetris akibat tamparan tersebut. Airmata Nicole langsung berderai kencang, tapi ia tak berdaya ketika Enrico kembali menariknya paksa ke atas sofa untuk melanjutkan aksi seksualnya. Kali ini ia bahkan melucuti semua pakaian Nicole sampai gadis itu telanjang bulat. “HENTIKANNN…. AMPUNNNN….TOLONGGG….AKU MINTA MAAFF… APAPUN ITU.. PLEASEEE..” Nicole merintih kesakitan tapi Enrico terlihat seperti orang buta tuli terhadap ratapan wanita yang sedang ditindihnya tersebut. Hari ini, ia benar-benar marah pada Ragata Saratoga karena pemuda itu menegurnya akibat perlakuannya saat meninggalkan Cimut kemarin. Dan ia butuh pelampiasan. Kapan pun Enrico merasa moodnya memburuk, ia akan langsung mencari Nicole untuk memuaskan libido dan sekaligus pelampisan nafsu bejadnya. Dan, Nicole sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk membalas perlakuan kejam Enrico kepadanya. . #NICOLE POV# Gue mengaduh kesakitan tapi Rico benar-benar seperti orang tuli pada semua teriakanku. Kali ini serangannya malah terasa jauh lebih ganas dari biasanya. Dan seperti biasa, gue ga bisa apa-apa. Gue cuma bisa berdoa sama Tuhan supaya Tuhan melindungi janin yang sedang gue kandung sekarang. Walaupun gue tahu kalau gue ga pantas untuk berdoa seperti itu. Tapi kalau gue boleh meminta sebagai seorang ibu, gue akan melakukan hal tersebut, apapun resikonya… Sejak insiden setelah acara syukuran tersebut, gue secara otomatis sudah menjadi b***k seks Enrico di luar sepengetahuan kedua orangtuanya. Untuk menutupi aib kami berdua, gue harus menelan pil anti hamil secara rutin dan bersikap biasa di depan papa mamanya. Gue yang tahu sifat asli Enrico yang doyan judi dan main perempuan di berbagai klub malam di kota ini. Sampai akhirnya, hutang judinya semakin lama semakin membengkak dan Enrico terpaksa jujur sama ayahnya. Oom Sasongko. Waktu itu gue masih inget banget Oom Sasongko marah besar dan menghajar Enrico habis-habisan tanpa ampun. Tapi, karena Enrico adalah satu-satunya anak tunggal yang dimiliki oleh keluarga tersebut, maka Oom Sasongko lalu menggunakan semua kekayaan pribadinya untuk membayar hutang judi anaknya. Sayangnya, tabiat Rico tak berubah. Malah semakin parah. Sekarang, rumah mereka terancam disita bank. Sampai akhirnya, Oom Sasongko di tengah keputusaaannya, memutuskan untuk mengusulkan ide pernikahan dengan Wina karena mengingat hubungan baik dan perjanjian awal ketika kedua anak mereka lahir dulu. Gue pun diajak untuk bekerja sama dan mendekati Ragata supaya Enrico bisa melancarkan rencana pernikahannya dengan lebih cepat dan tanpa halangan. Bodohnya…. Gue setuju. Dengan bantuan finansial dari Oom Sasongko, gue melakukan beberapa bedah plastik pada tubuh gue sehingga menjelma menjadi wujud wanita tercakep di kampus saat itu. Ya, semuanya itu demi Raga. Ragata Saratoga. Pemuda yang sudah menjadi obsesi gue sejak 7 tahun yang lalu. Semesta gue. Apapun akan gue lakukan selama gue bisa memiliki pemuda tersebut di dalam genggaman tangan gue. Kata orang, cinta bisa membuat kita jadi g****k. Yah, sebodoh dan senaif itulah diri gue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN