11 JEBAKAN

1351 Kata
Cimut menangis terisak-isak setelah Raga mengantarnya pulang kemarin dari Rumah Kartipah. Moodnya benar-benar hancur total dan nafsu makannya hilang. Ia langsung mengurung dirinya di dalam kamar seharian tanpa mau keluar sama sekali. Ia benar-benar bete dengan Enrico Saputra, bekas pemuda yang ditaksirnya dulu. Malah, kalau boleh memilih, ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini! Tapi masalahnya, ia sendiri tahu betapa dekat hubungan ayahnya dengan Oom Sasongko, ayah Enrico sebelumnya. Dan ,ia memang pernah mendengarnya secara langsung dari mulut ayahnya untuk menjodohkan kedua anak mereka agar cerita persahabatan mereka takkan pernah hilang. Jika Cimut berani mengingkari ikatan pernikahan ini, ia merasa akan mengkhianati ayahnya yang telah tiada. Ia galau. Cimut berkali-kali menghela nafas dengan berat hati tapi ia sendiri tak bisa memikirkan solusi yang paling tepat untuk masalah ini… Ia mengakui kalau dulu memang ia menyukai Enrico. Pria itu adalah idola sekolahnya. Senyum manisnya sukses memikat hati semua siswa perempuan di semua angkatan, termasuk Cimut. Dulu, ia sangat memujanya sampai menggebu-gebu dan bahkan terbawa sampai ke mimpi. Dulu, pemuda itu bagaikan dewa tertampan dalam sejarah hidupnya. Dulu. Sekarang? Kak Raga telah mengubah dunianya. Semestanya tak lagi bernama Enrico Saputra tapi Ragata Saratoga. Sosok kakak angkatnya yang selalu ada di sisinya dan selalu mendengarkan keluh kesahnya. Apapun yang terjadi. Sosok pengganti ayahnya. Pelindung keluarga. Walaupun pemuda itu kini sedikit berubah sikap padanya, Cimut yakin kalau Kak Raga yang sekarang tetaplah Kak Raga yang dikenalnya dari dulu. Di saat itu, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalamnya. Dari Enrico. “Sayang, aku minta maaf untuk hari ini. Aku kelewatan banget sama kamu tadi, kalau misalnya besok kita ketemuan lagi. Boleh?” Cimut terdiam. Keraguan yang teramat dalam membayangi hatinya. Tapi kemudian ia membalas. “Boleh…” ……………………………………………………………. “GOTCHAAAA!!!!!” teriak Enrico girang. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya yang tampan, tapi anehnya Nicole bergidik seram saat melihat senyum itu. Enrico baru saja selesai mandi dan rambutnya masih setengah basah, sementara tubuhnya yang jangkung dihias oleh sekumpulan otot – otot sempurna yang membalut tubuh bagian atasnya. Dadanya yang bidang serta perutnya yang rata menambah keindahan sejatinya sebagai seorang pria dewasa. Enrico sangat bangga dengan penampilannya dan sekalu menjaga agar tubuh atletisnya tetap terjaga dengan baik. Ini adalah modal utamanya untuk selalu bisa pamer dan menggaet perempuan-perempuan cantik yang ia mau sesuka hatinya. Jika Nicole adalah perempuan biasa, ia juga sudah pasti tergiur dengan penampilan Enrico yang sangat sempurna. Sayang, ia sudah tahu karakter monster ini luar dalam. Dibalik wajahnya yang tampan dan pesona senyumnya yang mematikan, pria ini adalah ular berbisa dan setan yang menjelma sebagai manusia. Predator dan maniak seks. Nicole adalah saksi hidupnya. Tapi ia harus bertahan dulu untuk sementara ini. Sampai kapan? Nicole juga tak tahu. Mungkin sampai Enrico berhasil melaksanakan semua rencananya dengan baik. Dan Nicole bisa menggaet Raga untuk dirinya sendiri. Raga…. Mengingat nama itu, kedua pipi Nicole bersemu merah muda. Walaupun Raga terkadang temperamental, ia tak pernah menunjukkan sisi kasarnya di depan Nicole. Pria itu bisa menjaga sikap dan sangat mandiri. Raga juga selalu memperlakukannya dengan sangat terhormat seperti dirinya adalah seorang ratu. Di depan Raga, Nicole benar-benar merasa nyaman dan sangat terlindungi. Walaupun ia tidak setampan Enrico, tapi sikap gentlemannya benar-benar membuat Nicole merasa utuh sebagai seorang wanita. Dari yang tadinya sebuah rasa suka, kini berubah menjadi sebuah obsesi dan hasrat yang menggelora. Begitu subjektif. Posesif. Raga adalah miliknya. Satu-satunya. Untuknya. Diam-diam Nicole merasa kasihan pada Wina. Wina adalah gadis yang sangat baik. Hanya saja nasibnya kurang beruntung sehingga ia menjadi sasaran empuk Enrico. ………………………………………………………. Besoknya, malam hari, Leonhart Club Seorang gadis muda tampak sudah sampai di depan sebuah klub malam yang cukup terkenal di Kota Bandung tersebut. Keraguan berkilat di matanya sebelum akhirnya ia menapakkan kedua kakinya dan memasuki klub tersebut. …………………………………………………………………………………. 3 jam sebelum gadis itu tiba….. Enrico sibuk mewanti-wanti pramuria dan petugas bar untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Tak lupa, ia juga menyelipkan sepasang amplop tebal untuk mereka berdua dalam misi ini. Senyum lebar langsung terlihat di wajah ketiganya. Tanda sebuah kesepakatan illegal nan rahasia telah terjadi. Seorang wanita cantik dengan dandanan seronok dan pakaian ketat yang menyembulkan semua lekuk tubuhnya dengan sempurna langsung menghampiri Enrico. Ia adalah salah satu wanita penghibur favorit pemuda tersebut. “Halo, Sayang… Kamu menghilang ke mana saja?” goda wanita seronok itu dengan nada yang sangat manja. Enrico hanya terdiam saja sambil membiarkan wanita itu duduk di atas pangkuannya dan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dari atas. Begitu semua kancingnya sudah terbuka sempurna, bibir wanita itu langsung memagut bibir Enrico dengan ciuman yang sangat beringas. Seakan-akan itu akan menjadi hari terakhirnya untuk bisa melumat bibir pemuda tersebut. Perlahan, Enrico bisa merasakan gairah libidonya mulai menggelegak naik dan celananya menyesak. Kejantanannya mulai mengeras ketika akhirnya ia menggendong wanita tersebut dan membawanya ke dalam ruang VIP yang memang biasa digunakannya untuk bercinta sepuas hati dengan para wanita penghibur favoritnya. Masih ada waktu 2 jam lagi sebelum waktu pertemuannya dengan Wina. Cukuplah untuk menabur benih ala doggie style. …………………………………………………………………….. Cimut sampai di dalam ruangan klub dengan jantung berdebar-debar. Demi apaaa Tuhannn…seumur-umur ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat haram seperti ini. Minuman beralkohol dan bar adalah dua hal yang selalu dihindarinya karena kedua orangtuanya sangat keras terhadap hal-hal semacam ini. Sekarang, malah tunangannya sendiri yang mengajaknya bertemu di tempat seperti ini. Dasar sial! Cimut lalu melihat jam tangannya dan menahan nafas akibat bau rokok dan alcohol yang menyengat di sekelilingnya. Kepalanya mulai terasa pening. Ughhh… Ia sama sekali tak suka lama-lama di sini. Di dalam ruangan temaram tersebut, ia bisa mendengar suara music yang menghentak dan beberapa orang mulai menggoyangkan tubuh mereka secara sensual. Terhanyut dalam alunan music EDM dan lampu spotlight kerlap-kerlip di atasnya. Cimut baru saja mau keluar lagi dan berinisiatif untuk mengganti tempat pertemuan mereka ketika sebuah tangan merangkul pundaknya dari arah samping. “Sudah lama?” tanya Enrico yang entah bagaimana bisa menemukan keberadaan dirinya di tengah suasana yang serba remang-remang tersebut. “Emmm… baru datang…” balas Cimut ragu-ragu. Logikanya berteriak untuk segera keluar dari tempat tersebut tapi tangan Enrico mencekal pundaknya dengan keras. Membuatnya tak berkutik. “Ikut gue…” perintah Enrico tegas tanpa mengendorkan rangkulannya sedikit pun. Sambil setengah dipeluk oleh pemuda tersebut, Cimut pasrah sembari langkah kakinya bergerak bersama dengan langkah Enrico menembus kerumunan orang yang tengah berjoget di dalam ruangan tersebut. Setelah beberapa saat, mereka berdua sampai di table bar. Melihat kedatangan pasangan tersebut, petugas bar langsung tanggap dan segera memberikan 2 gelas martini kepada mereka. Cimut yang melihat minuman tersebut langsung menggeleng-gelengkan kepala sambil melambaikan tangannya. “Gue ga bisa minum minuman beralkohol…sorry…” Ia masih ingat benar apa yang terjadi padanya saat ia tanpa sengaja minum minuman beralkohol sewaktu acara prom nite di sekolahnya dulu. Trauma tersebut masih membayanginya sampai sekarang. “Kadar alkoholnya ga tinggi koq. Lagian ada gue yang bakal jagain lo. Gue kan tunangan lo. Ingat?” Cimut mengangguk dengan sangat terpaksa. Akhirnya, ia terpaksa minum juga. “Ini aja ya?” katanya setelah menghabiskan isi gelas tersebut. Seulas senyum lebar muncul di wajah Enrico. “Ok… Win, gue…. benar-benar minta maaf sama lo seputar yang di Rumah Kartipah. Ga seharusnya gue meninggalkan lo sendirian di sana waktu itu…” Cimut hanya mengangguk-angguk. Tapi kemudian ia merasa kepalanya terasa berputar-putar. Wajah Enrico di hadapannya juga berubah buram perlahan-lahan. “Ughh…” keluh Cimut sebelum beberapa menit berikutnya, ia jatuh lemas di pelukan Enrico. Seringai iblis muncul di wajah tampannya. Tanpa ia ketahui, kalau ada sepasang mata yang menyaksikan seluruh adegan tersebut dari atas. . #NICOLE POV# Gue shock!!! Sekaget-kagetnya!!! Itu Wina kan? Ngapain dia di sini???? Sekali lihat juga gue udah tahu kalau gadis itu adalah perempuan baik-baik yang sampai mati pun takkan pernah mau menginjakkan kakinya di tempat model begini. Otak gue langsung berputar keras. ENRICO!!! BANGSAT!!! PASTI b******n ITU YANG MEMAKSANYA KEMARI!!! Naluri alarm gue langsung menyala keras!!! Ada yang ga beres di sini!! Cepat-cepat gue pinjam ponsel salah satu staf bar dan segera mengetik pesan singkat kepada Raga. Gue emang ga suka sama kedekatan mereka, tapi biar bagaimana pun gue ga boleh biarkan gadis polos itu jadi korban kebiadaban Enrico berikutnya!! TERKIRIM!!! Nicole menghembuskan nafas lega sembari berdoa. Raga, cepatlah datang!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN