12 PROM NITE – FLASH BACK (1)

2350 Kata
Bariton Café, malam hari Raga dan Tony sedang mengurus pembukuan café ketika ponsel Raga tiba-tiba berbunyi. Tanda notifikasi sebuah pesan yang masuk ke dalamnya. Tapi ketika Raga melihat nomor pengirim pesan tersebut, keningnya berkerut bingung. Itu adalah sebuah nomor asing. Tidak dikenal. Tapi isi pesannya langsung membuatnya terkesiap kaget! “WINA DALAM BAHAYA!!! LEONHART CLUB, LANTAI 2, RUANG VIP, SEBELAH MEJA BAR!!!” Cepat-cepat Raga mengambil jaketnya dan mengambil kunci motor Tony. “Bro!! Gue pinjem motor lo…” Tony hanya mengangguk singkat sembari matanya tetap menelusuri baris demi baris angka yang tersusun rapi di depannya. Di saat yang sama, Raga sudah melesat pergi. Untunglah club tersebut tidak terlalu jauh dari tempatnya. Dalam waktu kurang dari 10 menit, ia sudah sampai dan langsung naik lift ke lantai 2. Dentuman hingar bingar music diskotik benar-benar memekakkan telinga. Sementara jumlah pengunjung semakin meningkat dan mulai memenuhi dance floor. Sebagian besar sudah meliuk-liukkan tubuh mereka secara sensual dengan goyangan erotis. Bau asap rokok, parfum, keringat, dan alcohol memenuhi udara. Kepala Raga terasa pening karena ia sama sekali tak terbiasa dengan situasi tersebut. Tapi ia tak boleh berhenti sekarang. Matanya nyalang mencari meja bar yang ternyata terletak di pojok ruangan. Setelah menuju meja bar, Raga langsung berbelok ke kanan dan menemukan sebuah ruangan tersembunyi dengan tulisan capital besar-besar di depan pintu. VIP ROOM. ………………………………………………………………………………………. Cimut tidak berdaya ketika Enrico memapahnya menuju ruangan tersembunyi di sebelah meja bar. Seluruh ruangan terasa berputar-putar dan kakinya terasa seperti jeli. Ia tak sanggup berjalan. Jadi ia hanya bisa pasrah ketika Enrico akhirnya mengunci pintu dan membaringkan tubuhnya ke atas sebuah sofa besar. Ruangan tersebut cukup gelap dengan penerangan sangat seadanya dari lampu obor miniature yang dipasang di dinding. Mata Enrico berkilat m***m ketika tangannya mulai menggerayangi lekuk tubuh gadis itu pelan-pelan. Cimut berusaha untuk meronta tapi tubuhnya serasa lemas dan tidak mampu bereaksi sesuai dengan perintah otaknya. “Berani menentangku, Win? Huh?? Sekarang gue bakal kasih lo pelajaran yang akan lo ingat seumur hidup!!!” Enrico mulai membuka pakaian Wina satu persatu. Dimulai dari atasannya yang ia tarik ke atas dan memperlihatkan bra yang Wina sedang pakai hari itu. Lalu, ia mulai membuka kancing dan menarik ritsleting celana panjang gadis tersebut. Cimut berusaha keras untuk melawan. Tapi tenaganya benar-benar lenyap entah ke mana. Ia sama sekali tak bisa melawan Enrico yang kini mulai menindih tubuhnya dan meremas-remas payudaranya. Bibir pemuda itu juga berjuang untuk memagut bibir gadis yang sedang berada di bawah tubuhnya. “Nggaa….mauuu…..ughhhh… lepassss….. lepasss…..” Sampai akhirnya Enrico sukses memagut paksa bibir gadis itu dan mengulumnya dengan nikmat. Cimut melenguh. Tetap mencoba untuk melawan himpitan tubuh Enrico tapi semakin lama ia meronta, Enrico malah semakin birahi dan memperkuat cengkramannya pada tubuh Cimut. Ia tak sadar kalau ada seseorang yang tengah berjuang untuk mendobrak pintu ruangan tersebut dari arah luar, sampai akhirnya… BRUAKKKKK!!!! Pintu ruangan terbuka lebar ke arah dalam. Enrico merasa seseorang menariknya paksa dan menjauh dari tubuh Cimut. Belum habis rasa kagetnya, orang yang sama langsung melayangkan pukulan ke arah wajahnya sekuat tenaga. DUAGGGGG!!!! Tubuhnya langsung terpental ke belakang secara otomatis dan menabrak tembok. Kepala Enrico tersengat rasa sakit yang luar biasa. Matanya berkunang-kunang. Tapi, di saat yang berbarengan, orang tersebut juga langsung menarik Wina keluar dari ruangan tersebut dan menembus kerumunan pengunjung yang tengah berjoget dengan asiknya di bawah siraman lampu laser. ………………………………………………………… Begitu mereka berada di luar club, Raga langsung memanggil taksi dan langsung menyuruh taksi tersebut untuk segera pergi menuju apartemennya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dengan kecepatan tinggi, taksi tersebut meliuk-liuk di tengah kepadatan jalan raya dan sukses memasuki pelataran parkir sebuah bangunan bertingkat. Raga lalu memapah Cimut yang masih teler, masuk ke dalam lift serta menekan tombol kamar apartemennya. Dengan lembut, ia menggendong Cimut dan membaringkan gadis tersebut di atas kasur dan kemudian menyelimutinya. Sambil memandang wajah polos Cimut yang sedang tertidur, ia membelai-belai rambut gadis tersebut dan memberikan kecupan di keningnya. Syukurlah, ia datang tepat waktu. Siapapun pengirim pesan misterius tersebut, ia sangat berterimakasih padanya. Sambil menunggui Cimut, Raga berbaring di sebelah gadis tersebut dan ingatannya kembali membayang ke masa lalu. Sebuah momen dimana ia membuat aib paling besar sepanjang ia hidup selama 27 tahun dalam kehidupannya sebagai seorang manusia. Sebuah momen yang mengubah hubungannya dengan Cimut sampai hari ini…. …………………………………………………………………………. Pesta prom night SMU Bangsaku Berkarya…. 10 tahun yang lalu… Cimut menyeringai lebar-lebar. Sebuah senyuman yang luar biasa lebar ada di wajahnya. Hari ini ia berulangtahun yang ke 17. Tujuh belas!!!! Genap sudah perjuangannya untuk berganti status dari seorang gadis remaja menjadi seorang wanita dewasa. Di dalam kamarnya, Cimut melompat-lompat gembira sambil mematut dirinya sendiri di depan cermin. Hari ini adalah hari spesialnya. Dan bukan hanya itu. Di hari yang sama ini… Ada pesta prom night di sekolahnya. Seakan-akan seisi sekolah ikut merayakan hari ulang tahunnya tersebut. YEAYYYY!!!! Cimut lalu membongkar seisi lemarinya dan mencari-cari baju yang paling cocok untuk dipakainya ke acara prom night malam ini. Ada beberapa gaun yang ia miliki. Hmm… yang biru tua, bagus sih. Terkesan mewah tapi koq rasanya kurang pas ya? Gaun off shoulder warna emas, errr…. Bikin gue jadi 10 tahun lebih tua ga sih? Hmmm…. Akhirnya setelah kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 30 menitan, Cimut akhirnya memilih sebuah dress midi klasik berwarna kuning pastel model A-line dengan beberapa ornament Kristal di bagian pinggang dan bahu. Terlihat sederhana tapi juga anggun dan asyik dilihat. Benar-benar pas dengan gayanya yang simple dan kasual. Cimut sedang memoles wajahnya dengan makeup ringan ketika Raga mengetuk pintunya pelan-pelan dari arah luar. TOK!! TOK!! “Mut, dah beres? Kita harus berangkat sekarang. Gue kan harus bantuin Satrio untuk check sound dan ngecek urutan multimedia untuk acara prom night kamu…” “Iya.. iya…” balas Cimut sambil membereskan peralatan makeup serta memberikan sentuhan terakhir pada bibirnya yang mungil. Ia mengulum bibirnya supaya warna lipstiknya tercampur rata. Lalu, terakhir, ia mematut dirinya sekali lagi, setelah puas dengan tampilan barunya, Cimut langsung mengambil dompet clutch selempangnya dan segera membuka pintu. ………………………………………………………….. Raga yang sedang bersiap-siap untuk mengetuk pintu sekali lagi tiba-tiba terlongo kaget ketika pintu kamar mendadak terbuka. Cimut yang langsung keluar lalu memberikannya senyum yang paling manis untuk pemuda tersebut. Raga terpana. Gadis ini… sejak kapan ia jadi cantik begini?? “Maaf menunggu lama, kak…” kata Cimut sambil menggamit lengan kakak angkatnya tersebut. Raga yang juga sudah tampil rapi dengan kemeja putih bercorak dan celana jins serta tas ranselnya, tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengelus pelan kepala gadis tersebut sambil berkata. “Ayo…” Cimut dan Raga lalu berpamitan pada mama Widya lalu Raga segera menjalankan mobilnya menuju hotel dimana pesta prom night sekolah Cimut berada. Saat berada di jalan, Cimut bertanya, “Dandanan aku menor ga, Kak?” Raga hanya tersenyum sambil menjawab,” Ngga, kamu cantik koq. Serius….pas sama bajunya..” Dipuji begitu, Cimut hanya tersipu malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di Hotel Plaguna. Di pelataran parkir, sudah ada beberapa mobil berjejer rapi dan setelah memarkir mobilnya, Raga langsung membukakan pintu mobil Cimut dan mereka berdua segera masuk ke dalam hotel. Di ruang aula, suasana pesta masih sepi. Hanya ada beberapa panitia acara, lalu tim sound, multimedia, serta pengisi acara saja yang sudah bersiaga. Dekorasi ruangan juga terlihat serasi dengan gaya anak muda jaman sekarang yang bertema tahun 1920an dengan tema The Great Gatsby. Raga yang sudah datang lalu menyuruh Cimut untuk berkeliling sementara ia harus mulai menjalankan tugasnya. Raga langsung berjalan menuju belakang panggung dan menepuk pundak Satrio. “Hei, Sat..” “Eh, Ga. Syukur lo dah datang. Yuk, bantuin gue cek multimedia sekarang…” Raga hanya mengacungkan salah satu jempolnya dan segera mulai bekerja. …………………………………………………………………………… Cimut berkeliling hotel dengan santai sambil sesekali melirik jam tangannya. Hmm… kurang lebih setengah jam dari sekarang, acara prom night mereka akan dimulai. Pukul 18.00, para tamu mulai berdatangan…. Para siswi dan siswa SMU Bangsaku Berkarya mulai memasuki ruangan aula dan mereka semua kompak mengenakan dress code yang sudah ditetapkan yaitu busana vintage bergaya tahun 1920an. Cimut sedang duduk di dekat meja cocktail ketika matanya celingukan seperti sedang mencari seseorang. Sampai tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang dari belakang. “Woiiiii, Mut!!! Udah datang aja lo…wahahahahaha……” “Mauraaaaa!!! Nadyaaaa!!! Gile ih… gue pikir ga bakalan datang lo pada…” balas Cimut sambil memeluk kedua sahabat gokilnya tersebut. “Eitssss… kesempatan terakhir dan seumur hidup buat tampil kece badai di acara sekolah. Kapan lageeeeee….” balas Maura sambil menyibakkan rambutnya yang panjang ke belakang dengan gaya narsisnya. Nadya dan Cimut lalu tergelak dengan kelakuan ababil Maura. Mereka sudah hafal sekali makhluk ajaib yang satu ini. Tanpa terasa, setengah jam sudah berlalu dan sekarang hampir dua pertiga ruangan sudah terisi oleh para siswa angkatan akhir serta para guru yang juga diundang dalam acara ini. Musik pengiring mulai dinyalakan dan acara pun dimulai. Beberapa band pengiring juga turut hadir dan meramaikan acara prom night tersebut. Maura, Cimut, dan Nadya masih asik mengobrol bersama ketika sesosok tubuh jangkung lalu menghampiri mereka bertiga. “Hi, girl. Will you be my dance partner tonight?” Ketiga pasang mata gadis itu langsung menoleh pada si empunya suara. Dan Cimut langsung menahan nafas begitu mengetahui pemilik suara tersebut. Enrico!!! Itu Enrico Saputra!!! ASTAGAAA!!!! Demi apa ya Tuhan dari semua perempuan cantik di pesta ini, ia memilih untuk mendekati kelompok itik buruk rupa seperti mereka. Cimut sudah naksir Enrico dari dulu. Di matanya, Enrico adalah sosok pemuda idamannya. Tampan, mempesona, pintar, dan berbakat. Ia benar-benar sempurna tanpa cela. Dan penampilannya malam itu benar-benar memukau. Ia terlihat tampan sekali dengan kemeja warna merah anggur dipadu dengan jas dan celana panjang yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Rambutnya juga dicat dengan warna coklat gelap yang terlihat samar-samar di bawah cahaya lampu ruangan. Terlihat kontras tapi sangat serasi dengan kulit wajahnya yang berwarna terang. Bentuk dagunya yang sempurna serta senyumnya yang menggoda iman. Omaigottt…. Nadya dan Maura kembali duluan ke alam nyata saat melihat pemandangan menakjubkan di depan mereka. Mereka berdua sampai harus menepuk-nepuk punggung Cimut untuk menyadarkan gadis tersebut. “MUTTTTTT!!! BANGUNNNNN!!!!” Cimut langsung gelagapan saat punggungnya ditepuk keras-keras oleh kedua sahabatnya tersebut. “Eh?? Eh?? Apaa?” Enrico hanya berdehem sambil tersenyum geli saat melihat reaksi gadis tersebut. “Diajak dansa sama Prince Charming. Mau ga lo??” tanya Maura dengan nada sedikit keras di telinga Cimut. Sementara music mulai melantunkan melodi lambat sebagai kode untuk memulai acara dansa waltz. Ada beberapa pria yang juga mulai melantai dengan pasangannya masing-masing. “Bukannya ada gossip kalau lo sedang pacaran dengan Nellysia? Kenapa malah mampir ke sini?” tanya Nadya ketus. Ia memang kurang menyukai Enrico dari dulu. Entah kenapa. “Kalau begitu kenapa kedua tanganku kosong?” tanya Enrico balik sambil mengangkat kedua tangannya. Sukses membungkam bibir ketus Nadya. Pemuda itu tersenyum sekali lagi. Enrico memang seharusnya tidak berada di sini karena ia sudah lulus 2 tahun yang lalu, tapi karena dinilai berhasil dalam menyelenggarakan acara prom night selama 2 periode berturut-turut, ia akhirnya diundang kembali sebagai salah satu tamu kehormatan. Cimut masih terbengong-bengong ketika tiba-tiba Maura mendorong tubuhnya ke depan. Sehingga ia hampir terjungkal dan menabrak Enrico yang sedang berdiri di depannya. “ Aduhhhhhh….” Kata Cimut kaget. Tapi ia tak sempat bereaksi lagi ketika salah satu tangannya langsung digandeng oleh Enrico yang segera mengajaknya melantai ke tengah ruangan. Maura hanya melambai dengan wajah tersenyum lebar kea rah Cimut yang semakin menjauh dari mereka berdua. Sementara Nadya hanya terdiam saja sambil menyesap gelas sampanyenya. “Hari ini ulang tahunmu yang ke 17 bukan?” bisik pemuda tersebut di telinga Cimut yang langsung membuat wajah gadis itu memanas seketika. Enrico langsung memeluk pinggang gadis tersebut sementara sebelah tangannya memegang tangan Cimut. Semenit berikutnya, tubuh mereka sudah bergerak harmonis sesuai irama. “Happy birthday, Wina Rapandey. I wish all the best for you…” bisik pemuda tersebut dengan mesra di telinga Cimut. Cimut langsung tersipu malu sekali lagi. Malam ini… sudah pasti adalah malam terbaiknya!! ……………………………………………………………………. “Wahhhh… gue ga nyangka kalau Cimut bisa dansa juga..” kata Satrio sambil nyengir dan menyikut pinggang Raga yang tengah sibuk mengontrol mix condenser. “Eh, apa?” tanya Raga bingung sambil matanya ikut mengikuti arah mata Satrio. Tapi pemandangan yang ia lihat, malah membuat hatinya terasa ngilu. Setelah beberapa menit, Raga langsung memelototi layar computer yang ada di hadapannya. Berusaha untuk menenangkan hatinya yang terasa gundah gulana. ……………………………………………………………………….. Setelah kurang lebih satu jam, acara dansa itu pun usai. Para guru lalu pamit pulang. Tak lama kemudian, musik pengiring langsung berganti dengan seorang DJ yang mengganti lagu dengan nuansa techno dan EDM. Ruangan aula yang tadinya khidmat langsung berubah menjadi hingar bingar ala diskotik. Semua orang mulai menari dan melompat-lompat gembira seiring suara hentakan musik. Minuman beralkohol mulai dibagikan diantara siswa tapi Cimut sendiri sudah kembali ke tempat duduknya bersama dengan kedua sohibnya. Jantungnya masih berdebar kencang akibat efek pesona Prince Charming barusan. Ia tak menyangka! Kalau biasanya si keren Enrico yang selalu ia lihat dari kejauhan, kini malah mengajaknya berdansa barusan sambil mengucapkan selamat ulang tahun. GILA! GILA! GILA! Ia merasa seperti sedang bermimpi. Begitu pelayan membagikan gelas berisi minuman beralkohol, Cimut langsung menyambar 2 gelas dan menenggak isinya sampai habis. Ia merasa perlu untuk meredakan kegugupan dan jantungnya yang masih berdetak secara anomali. “Mut!!! Lo gila!!!” tegur Nadya sambil cepat-cepat menyingkirkan gelas kosong yang habis ditenggak oleh Cimut tadi. “Lo kan ga pernah minum yang ginian!!! Gimana kalo lo mabok coba!!!” “Eitssss…. Dia udah dewasa sekarang…udah boleh minum yang ginian, Nad. Jangan terlalu kaku lah jadi orang…” balas Maura membela Cimut. Tapi di saat yang sama, Cimut mulai merasa kalau ruangan di sekitarnya mulai berputar. Pandangannya mulai kacau. Pijakan kakinya tak lagi mantap dan stabil. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Kurang lebih 2 jam lagi, acara akan selesai. “Mut??” tanya Nadya cemas sambil menahan tubuh Cimut yang mulai limbung. Apa yang ia kuatirkan terjadi juga. Bocah ini mabok!!! Dilihat dari wajahnya yang memerah dan pandangannya yang sudah mulai teler. PARAH!!! INI SIH BENAR-BENAR GAWAT!!! “Ra, panggil Raga! SEKARANG!!!” Maura yang panic cepat-cepat menuju ke bagian multimedia di area belakang. Kepala Raga yang sedang mengawasi layar LCD ikut bergoyang-goyang sedikit mengikuti irama ketika tiba-tiba Maura menarik tangannya. “Ga!! Gawat!! Cimut mabok!!!” “Apa??” tanya Raga sambil mendekatkan telinganya karena suara music yang terlalu keras. “CIMUT MABOK, DODOL!!! IKUT GUE CEPETAN!!!” Raga langsung berlari mengikuti langkah Maura di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN