Chapter 6

1610 Kata
Saat berjalan kaki menyusul Yoon di tempat biasa ia menunggu, mendadak Tadashi teringat pada bucket list terakhir yang Yoon tulis. Tepatnya saat malam hallowen. Yoon ingin menggunakan gaun yang dipakai Belle dalam film Beauty and the Beast. Lalu berdansa diiringi lagu yang berjudul sama. Berdansa, ya. Tadashi merenung sesaat. Bukankah jelas dengan siapa Yoon ingin melakukannya? Ia menghentikan langkah. Mendongak menatap langit sore itu. Seperti yang sudah Yoon katakan. Ben akan datang ke New York, kan. Jadi Yoon tidak sepenuhnya membuat bucket list itu untuknya. Atau mungkin, bahkan tidak sama sekali. Kenapa? Kenapa juga Yoon harus melakukan sesuatu untuk dirinya? Dan kenapa juga ia masih bersikap egois dan berharap Yoon bisa menyadari perasaannya? Begitu menurunkan pandangan dan memandang ke depan. Matanya tepat menangkap sosok Yoon yang tersenyum, berjalan mendekat sambil melambaikan tangan. Benar. Kebahagiaan gadis itu yang terpenting, kan. "Aku tidak melihat Alice hari ini," lalu ia celingukan mencari Goto. "Alice tidak datang ke sini setiap hari. Dan ya, Goto sudah hapal dengan jadwalnya karna itu ia tidak ikut denganku." Yoon mengerjap. "Wah," sahutnya kemudian. Padahal ini bukan pertama kalinya bagi Tadashi melihat Yoon bersama Ben. Tapi rupanya ia masih belum terbiasa. Tidak pernah terbiasa. Ia masih merasakan sakit itu. "Ngomong-ngomong kenapa kau jadi terus datang ke sini?" Mata sipit Yoon tepat memandang matanya. "Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," ucapnya setengah melamun. Apa ada sesuatu yang dipikirkan gadis ini? Atau ia hanya bosan? Tadashi mengeluarkan buku sketsa kecil dari saku coat hitam yang ia kenakan lalu memberikannya pada Yoon. Alis Yoon terangkat penuh tanya. "Mungkin kau membutuhkannya, bucket listmu." Bibir Yoon membentuk huruf o yang lucu. Ia menerimanya sambil mengangguk-anggukan kepala. Lalu tiba-tiba teringat dan tersentak memandang Tadashi. "Tadashi, bukankah kau bilang akan menggambarku?" Kening Tadashi berkerut heran. "Aku tidak pernah mengatakannya." Yoon langsung memasang raut wajah sedih. "Tadashi..." Awalnya Tadashi berpura-pura tidak melihat wajah itu, tapi bukan Yoon namanya jika tidak berhasil membujuk dirinya. Ia mendesah kalah. "Baiklah. Hei, tunggu," ia mengangkat sebelah tangan menghentikan euforia Yoon yang hampir meledak. "Aku bahkan tidak membawa pensil atau pun pulpen. Dan yang ada di sini hanya buku sketsa kecil ini," ia menunjuk buku sketsa di tangan Yoon. Yoon tersentak kecewa. Sepertinya ia juga baru menyadarinya. Lalu medadak berpikir keras. "Yang terpenting kau sudah mau menggambarku," ia menatap mata Tadashi lekat-lekat. Tadashi agak terkejut dengan itu. Hari ini Yoon agak aneh, kenapa juga menatap dirinya seolah sedang menembus ke dalam jiwanya. Apa mungkin ada sesuatu? Mendadak Tadashi teringat lagi. "Bukankah kau ingin berdansa sambil menggunakan gaun yang dipakai Belle?" Yoon mengangguk. Tadashi jadi ragu. Gadis ini tidak seceria biasanya. "Jadi, kau ingin aku menggambarmu saat sedang berdansa?" Yoon merenung. "Atau kau ingin aku menggambarmu sekarang?" Yoon masih diam. Hanya mengangkat wajah memandang Tadashi lagi. "Ada sesuatu?" Bisa dirasakannya jantungnya berdegup luar biasa cepat sembari menunggu jawaban gadis itu. "Tadashi," suara Yoon menyerupai bisikan. "Jika aku membuang buku sketsamu ini dan menggantinya dengan yang baru, apa kau akan marah padaku?" Tadashi mengernyit bingung. "Kenapa?" Yoon menunduk lagi, sekilas terlihat sedih. "Tidak apa-apa." Sejauh yang Tadashi ingat tidak ada yang aneh dari bucket list yang Yoon tulis. Kebanyakan hanya mengunjungi tempat-tempat terkenal di New York. Mungkinkah? Ada kaitannya dengan Ben? Jika bucket list Yoon yang terakhir berkaitan dengan Ben, namun sekarang ia malah ingin membuangnya, mungkinkah disebabkan karna hubungan mereka sudah berakhir? Tidak, tidak. Tadashi tidak boleh berpikir terlalu jauh. "Kau kesal padaku?" Yoon menggeleng pelan. Sebelah tangannya terangkat mencengkeram coat Tadashi. "Antar aku ke Brooklyn Bridge." Tadashi tidak bertanya apa-apa lagi. Langsung saja ia menuruti permintaan Yoon. Sepanjang perjalanan dalam mobilnya pun Yoon tidak bicara. Ia terus memandang keluar jendela. Bahkan ketika mereka sampai di Brooklyn Bridge. Yoon masih diam saja. Sepanjang jalan di jembatan itu, Tadashi sengaja membiarkan Yoon berjalan di depannya. Jadi ia bisa mengawasi gadis itu. Yoon juga tidak memprotes. Ia hanya terus berjalan tanpa suara. Kemudian saat mereka sudah cukup jauh. Yoon mendekat ke sisi jembatan. Memandang ke bawah dengan tatapan kosong. Tadashi langsung siaga. Ia merasa jantungnya sudah jatuh ke dasar perut melihat segala keanehan Yoon. Yoon merogoh saku coat yang ia kenakan. Mengeluarkan buku sketsa Tadashi, menarik napas dalam dan melemparnya sejauh yang ia bisa. Tadashi melongo. Yoon tersenyum puas. "Sialan kau, Ben! Aku membencimu!" Pekiknya dengan suara keras. Orang-orang mulai menatap ke arahnya, tapi Yoon bahkan tidak peduli. "Tadashi," ia menoleh dengan mata berapi-api. "Aku akan mengganti buku sketsamu dengan yang baru." Baiklah. Tadashi tidak masalah dengan itu. Tapi Yoon masih bicara dengan suara yang terlampau keras. "Jadi," mendadak ia merasa gugup. Eh, apa-apaan perubahan itu. "Jadi tetaplah baik padaku, tetap membuatkanku steak dan menemaniku nonton Beauty and the Beast," air mata itu muncul begitu tiba-tiba. Tadashi terkesiap. Sesuatu seolah menusuk jantungnya detik itu juga. Ia berjalan cepat mendekati Yoon, bersamaan gadis itu mengulurkan tangan dan memeluknya. Pada awalnya Tadashi ragu untuk membalas pelukan itu. Entah kenapa ia merasa bersalah. "Aku sudah membuang semua rencana busuk itu," ucap Yoon sambil sesenggukan. Tadashi mengangkat sebelah tangan ke puncak kepala Yoon. Mengusapnya begitu pelan seolah takut bisa melukainya. Jadi, alasan kenapa Yoon tidak pernah mengambil buku sketsa itu darinya karna ini? Apakah saat ini, hubungan Yoon dan Ben sudah berakhir? Tidak. Tadashi begitu membenci dirinya saat itu. Mana mungkin ia bisa merasa senang di saat gadis yang dicintainya menangis? Lantas ia memeluk Yoon begitu erat. Tidak boleh seperti ini. Tidak boleh... *** Yoon memandang jauh ke seberang West River. Air mata di pipinya mulai mengering. Dan kini ia duduk dengan tenang di salah satu bangku yang tersedia di Brooklyn Bridge. "Sudah merasa lebih baik sekarang?" Tadashi mengikuti arah pandang Yoon jauh ke Manhattan. Matahari mulai terbenam sekitar lima belas menit lalu. Suasana ini cukup menenangkan. Yoon mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. Hening lagi begitu panjang. Tadashi baru akan menawari Yoon makan ketika gadis itu tiba-tiba bersuara. "Kau ingat saat aku bertengkar dengan Ben di apartemenmu?" Tadashi memandangnya sesaat. "Ya, aku masih mengingatnya." Setitik air mata lagi jatuh melewati pipi Yoon. "Sejujurnya, Tadashi... Aku sangat malu karna kau melihat semua itu," Yoon mengatur napas sejenak. Tadashi sesekali menoleh ke arahnya lalu kembali memandang jauh ke Manhattan agar tidak kentara. Karena mungkin saja, diperhatikan seperti itu di saat seperti ini bisa membuat Yoon merasa tidak nyaman. "Aku sangat bodoh, ya?" Tadashi mengangguk. Yoon menoleh karena Tadashi diam saja. "Kau barusan mengangguk?" Tadashi mengangguk lagi. "Ish, kau benar-benar," Yoon mendengus tertawa di tengah tangisnya. Lalu menghela napas lagi, berpaling dan tersenyum. "Aku menghabiskan lima tahun terakhir bersama Ben," ia menggeleng. "Bukan waktu yang singkat. Tapi Tadashi, apa kau tahu? Sebenarnya aku tidak tahan diabaikan. Sejak pertengkaran terakhirku di apartemenmu, sampai saat ini Ben belum menghubungiku sama sekali." Hening lagi. "Kadang aku bertanya-tanya apa bahkan dia masih memikirkanku? Aku begitu jauh darinya saat ini. Aku..." Yoon menoleh, kali ini menatap lekat mata Tadashi. "Apa menurutmu aku hanya menjadi beban?" Tadashi termenung. Baru saja Tadashi akan menjawab tapi Yoon sudah mendahuluinya. "Apa bagimu aku hanya menjadi beban untukmu?" "Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?" Yoon langsung nyengir. Terlihat lega juga, tapi merasa bersalah di lain sisi. "Aku selalu merepotkanmu, kan?" "Tentu saja, bukan kau namanya jika tidak membuatku repot." Yoon tersenyum lagi. "Meski begitu, bukankah memang gunaku untuk membantumu?" Pertanyaan retoris. Tadashi tersenyum sambil memandang langit. "Apa menurutmu, aku hanya menjadi beban bagi Ben?" Yoon memaksakan seulas senyum. "Dia selalu mengatakan aku tidak berguna dan semacamnya, dia juga mengatakan aku selalu mengganggu dan tidak bisa mengerti kesibukannya." Mata Tadashi membulat. Ia memandang Yoon, benar-benar tidak menyangka. Gadis itu tidak pernah bercerita tentang perlakuan menyakitkan itu. Sesaat Tadashi akan meledak. Tapi ia segera menyadari ia tidak boleh bersikap begitu. Bagaimana pun juga Yoon masih mencintai si b******k itu. "Kau tahu, Yoon. Jika seseorang benar-benar mencintaimu dia tidak akan memperlakukanmu begitu." Yoon tersenyum lagi. Senyuman yang dipaksakan. Demi Tuhan, Yoon. Bisakah ia berhenti tersenyum begitu. Senyum sedih itu mengacaukan pikiran Tadashi secara keseluruhan. Membuatnya ingin meninju wajah Ben detik itu juga. "Aku tahu, aku tahu Ben tidak mencintaiku lagi. Tapi masalahnya aku masih mencintai dia." Ia tidak salah dengar, kan? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Yoon mengatakan hal semacam itu? Apa yang sudah Ben sialan lakukan padanya? "Yoon, kau-" Yoon melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Astaga, Yoon. Berpura-pura tidak terluka ini bukan gayamu! "Aku mengerti, aku memang hanya menjadi beban dan sudah seharusnya aku memperbaiki sikapku." "Itu tidak benar," Tadashi mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Tapi ia tidak bisa merasakan sakit itu. Karena ada yang jauh lebih sakit di dalam dirinya. "Tadashi, bolehkah aku jujur padamu?" "Kau selalu jujur padaku." "Aku sangat, merindukan Ben yang dulu." Pada detik itu, Tadashi yakin tidak akan pernah melupakan senyuman Yoon yang menyakitkan itu. "Dengar," ia memutar posisi duduknya menghadap Yoon. "Laki-laki yang mencintaimu, tak akan pernah menganggapmu sebagai beban. Justru sebaliknya, baginya kau adalah sumber kekuatannya. Dan hanya orang bodoh saja yang mengatakan kau tidak berguna." Yoon bergeming. "Yoon, sebagai temanmu, aku bisa saja melarangmu bertemu Ben seumur hidup. Bahkan jika Sua tahu hal ini, aku jamin pasti gadis itu sudah membunuh Ben." Yoon tertawa kecil. Meski bisa dilihat air matanya mulai berjatuhan. Tadashi terhenyak. Mendadak ia ingat, tidak ada yang bisa dikatakan pada orang yang mencintai seseorang sampai seperti ini. "Aku tahu, kau tidak akan melakukan itu, kan, Tadashi? Karena aku memercayaimu." Tadashi menatap mata Yoon lurus-lurus. Berusaha mencari hal lain selain kesedihan. Bolehkah saat ini ia meminta Yoon agar tidak memercayainya? "Yoon," ucap Tadashi serius. Seketika itu juga Yoon berhenti tersenyum. "Jika sekali lagi aku mendengar Ben bersikap kurang ajar padamu, kau tak akan bisa memercayaiku lagi," dilihat dari matanya, Tadashi tahu Yoon mengerti bahwa dirinya bersungguh-sungguh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN