Yoon merenung sambil bertopang dagu. Ia memandang pantulan bayangan dirinya dalam cermin di hadapannya. Ia masih mengingat kejadian kemarin malam. Ia juga tidak tahu kenapa ia tiba-tiba bisa begitu. Membuang semua rencana yang ia harapkan bisa terwujud bersama Ben jelas tidak merubah apa pun.
Yoon menghela napas lelah. Sebenarnya apa sih yang ia inginkan? Jauh-jauh datang ke New York untuk menenangkan diri, kan? Dari apa? Dari permasalahannya dengan Benedict Carl yang tiada habisnya! Tetapi bahkan ketika sampai di sini ia masih belum bisa lepas memikirkan laki-laki itu. Rencana awalnya untuk tidak merepotkan Tadashi pun nyatanya sia-sia belaka. Tidak sehari pun sejak pertama kali ia menginjakan kakinya di New York tanpa bantuan Tadashi.
Yoon menghela napas lagi. Kali ini menyeret tubuhnya bangkit dan berjalan terseok-seok ke ranjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya dan berguling mencari bagian dingin di kasur itu.
Apa jadinya jika tidak ada Tadashi? Bukankah sudah dipastikan ia akan hancur berkeping-keping. Bahkan ia bisa merasa sedikit lepas dari Ben karena Tadashi selalu ada di sisinya, karena ia tidak pernah sendirian.
Ya. Sendirian. Yoon bertanya-tanya kenapa hal itu begitu mengganggunya. Ia tidak pernah tahan sendirian dan sepi. Seolah ia bisa sekarat jika terus dibiarkan begitu.
Kosong. Hidup tapi mati. Perasaan-perasaan itu yang selama ini begitu menyiksanya. Tak bisakah hubungannya dengan Ben menjadi baik-baik saja? Seperti saat pertama kali ia mengenal laki-laki itu? Sosok yang lembut dan penuh perhatian. Kalau dipikirkan kembali, rasanya Yoon sudah kehilangan sosok itu. Dan ia tidak tahu ke mana perginya.
Sebelah tangannya terangkat menggapai langit-langit. Bagian yang bahkan mungkin tak pernah ia genggam, lalu secara tiba-tiba ia sadari telah hilang.
Dulu, seperti apa rasanya mencintai dengan sederhana? Bahkan ia sudah tidak mengingatnya. Ia sudah lupa.
Lantas, setelah semua yang terjadi dan masih berjalan sampai saat ini. Kenapa ia tetap tidak bisa melepaskan Ben? Padahal dulu Yoon pun tahu, ia pernah memutuskan untuk mengakhiri semua ini jika Ben sudah tidak mencintainya lagi. Tapi benarkah? Benarkah Ben memang tidak mencintainya lagi? Tapi ia juga tidak pernah memutuskan Yoon? Kenapa?
Yoon mengerang frustasi. Ia menarik tubuhnya bangkit dan menyeret langkah menuju dapur. Ia sudah belanja pagi tadi, agar tidak selalu merepotkan Tadashi. Tapi alih-alih membeli banyak kebutuhan untuk memasak ia malah tergoda pada bir dan memutuskan untuk membelinya cukup banyak.
Yoon meraih dua kaleng bir dan beralih menuju balkon. Ia ingat saat dulu berpikir bisa melihat apartemen Tadashi dari sini. Ia mendengus tertawa. Dibukanya penutup kaleng dan menegaknya.
"Wahh..." erangnya, merasa sedikit lega.
Ia cukup senang dapat menikmati pemandangan yang cukup indah dari balkon ini. Dibandingkan apartemen Tadashi, apartemen yang disiapkan Ben ini empat kali lebih besar. Namun, meski begitu. Berada di apartemen Tadashi serasa jauh lebih hangat. Serasa lebih hidup. Ah, ia jadi merindukan tempat itu. Ngomong-ngomong ia belum menghubungi Tadashi seharian ini. Dipikir-pikir mereka jadi lebih sering berbalas pesan dan menelepon satu sama lain malah saat kini mereka berada di tempat yang berdekatan.
Oh. Yoon mendadak teringat. Ia belum menghubungi Sua lagi. Yah, gadis itu semakin sibuk akhir-akhir ini. Sudut bibir Yoon mengembang membentuk seulas senyum. Senyuman bahagia bercampur sedih. Membayangkan bagaimana protektifnya Yuta pada Sua membuat ia merasa sedikit iri. Yoon berharap ia juga bisa merasa seperti itu. Melihat cara Yuta mencintai Sua selalu membuat Yoon takjub. Seolah hanya ada Sua satu-satunya di dunia. Seolah Sua adalah pusat dari hidupnya.
Yoon mendongak memandang langit malam itu. Ia bersyukur, sangat bersyukur sahabat paling berharganya memiliki seseorang yang sangat mencintainya. Yoon merasa lega karena pada akhirnya ia tidak perlu mengkhawatirkan Sua lagi.
Ah, pasti akan menyenangkan jika ia menghubungi Sua. Yoon berbalik masuk untuk mencari ponsel. Saat itu ia juga ingat ingin mengirim foto Tadashi saat ia mentraktirnya steak.
Begitu menemukan benda itu di meja segera saja Yoon mengirim foto Tadashi yang diambilnya.
Yoon menopang dagu dengan sebelah tangan sembari menunggu. Tak membutuhkan waktu lama sampai sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Ia berseru senang. Sua masih mengingat Tadashi seperti seharusnya. Ia bahkan senang karena Yoon tidak di sini sendirian.
Malam kian larut tanpa sadar ia menghabiskan waktu bertukar pesan dengan Sua. Jika Yuta tidak mengomel pasti mereka tidak akan berhenti mengobrol. Yoon mengerti, bagaimana khawatirnya Yuta karna kondisi Sua saat ini. Yoon juga berharap dengan segenap hati, Sua akan selalu sehat begitu pun calon bayinya. Membayangkan hal itu membuat hatinya terasa hangat.
Yoon bangkit dan berjalan keluar menuju balkon lagi. Mengingat-ingat apa ia sudah makan siang ini? Ia merasa agak lapar. Tadashi juga tidak menghubunginya, mungkin ia sibuk. Lagipula ia tidak boleh terus bergantung padanya begini.
Eh, baru saja memikirkan tentang Tadashi, ponselnya mendadak berdering. Sebuah telepon masuk dari Tadashi.
"Ya?" Sahutnya sambil menempelkan benda itu ke telinga. "Ada apa Tadashi?"
Hening sejenak.
"Hanya memastikan kau baik-baik saja."
Sudut-sudut bibir Yoon terangkat. Ia mengangguk meski Tadashi tidak bisa melihatnya.
"Oh! Aku baru ingat," seru Yoon tiba-tiba. "Ada salam dari Sua," jelasnya ceria.
"Kau baru menghubunginya?"
Yoon mengangguk lagi.
"Syukurlah."
Yoon kembali tersenyum. "Aku senang mendengarnya baik-baik saja. Yah..." Yoon mendesah lega. "Aku juga tidak khawatir lagi karena ada Yuta di sisinya."
"Hmmm," jeda sejenak. "Lalu bagaimana denganmu? Sudah merasa lebih baik?"
Yoon melipat sebelah tangannya pada pembatas balkon, lantas meletakan kepalanya di sana. Menatap ke kejauhan sambil menerawang. "Begitulah."
"Begitu... Jangan lupa makan dan hubungi aku jika ada sesuatu."
"Siap, Maam!"
Tadashi mendengus tertawa. "Baiklah, istirahat sana. Jangan sakit selama di sini."
"Uwaaaah, Tadashi, kau romantis sekali..." ledek Yoon sambil cekikikan.
Tadashi mendecak, berlagak kesal. "Kau akan merepotkanku jika sakit, tahu."
"Aku tahu... Aku tahu..." Yoon memberengut, tapi merasa senang. "Baiklah, sampai jumpa."
Hubungan terputus.
Sekarang apa? Ia merasa kosong lagi. Teringat Ben, tentu saja. Bukankah jika seseorang mencintaimu maka ia akan mengkhawatirkanmu, memikirkanmu...
Yoon tersenyum samar. Sekedar memberi kekuatan untuk diri sendiri. Meski ia tidak tahu di mana dan bagaimana kisah ini akan berakhir nanti. Tetap jalani saja.
Yoon melonjak kaget ketika tiba-tiba bel pintu apartemennya berdentang. Keningnya berkerut dalam. Siapa? Satu-satunya orang di New York yang mengetahui keberadaannya hanya Tadashi. Dan tidak mungkin laki-laki itu tiba-tiba datang padahal barusan meneleponnya. Mungkinkah... Ben?
Yoon mengambil langkah cepat menuju pintu. Setengah dirinya berharap Ben yang datang, tetapi bagian dirinya lain justru merasa takut. Ketika pintu mengayun terbuka mata Yoon membulat melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Seorang gadis berwajah campuran asia eropa. Rambut hitamnya tergerai melewati bahu. Ia memakai gaun di atas lutus dengan bahu terbuka.
Anehnya, gadis itu juga sama-sama terkejut melihat Yoon. Yoon berusaha bersikap normal dan menghilangkan keterkejutan dari wajahnya. "Ya? Ada yang bisa kubantu?"
"Ah," gadis itu tergagap. Melambai-lambaikan kedua tangan dan mengalihkan pandangan gugup. Dilihat dari gelagatnya seolah ingin menghilang saja dari tempat itu.
Yoon memiringkan kepala ke satu sisi. Ikut bingung dengan tingkah gadis itu.
"Maaf, aku salah apartemen," ia menunjuk ke belakang dan melangkah mundur.
Yoon membuka mulut, tapi tidak tahu pasti apa yang harus dikatakan.
"Apa kau mencari Ben?" Yoon dan gadis itu sama-sama terkejut dengan pertanyaannya. Yoon tidak tahu kenapa ia menanyakan hal itu, dan yang lebih aneh, apa-apaan reaksinya ini?
"Benedict Carl," Yoon memperjelas. Entah keberaniannya mendadak muncul. Hanya saja ia merasa aneh dengan sikap gadis ini. Wajahnya tidak terlalu cantik, Sua sepuluh kali jauh lebih cantik darinya. Dan hei, kenapa pula Yoon menilai fisiknya begitu? Kenapa ia merasa membenci gadis ini?
Kenapa juga reaskinya menunjukan bahwa memang benar ia mencari Ben?
"Kau relasi kerjanya?"
Gadis itu gelagapan. "Tidak, itu tidak benar. Aku hanya salah orang," lantas ia buru-buru pergi. Tanpa bisa menyembunyikan kecemasan dan ketakutan dari wajahnya.
Yoon baru akan mengejarnya ketika sadar, untuk apa? Ia tidak bisa mencurigai seseorang tanpa bukti begini. Kalau pun ia memang relasi Ben kenapa datang selarut ini? Dan pakaiannya terlalu terbuka.
Yoon masih belum beranjak dari ambang pintu. Ben memang sudah sering datang ke New York, tapi Yoon kira ia belum pernah menempati apartemen ini sebelumnya. Itu yang dikatakan Ben. Ia secara khusus menyiapkan apartemen untuk mereka tinggali. Pasti hanya salah paham saja. Tidak mungkin hal buruk yang sesaat melintas di otaknya itu benar.
Tidak mungkin.
Yoon merasa sesuatu menusuk jantungnya. Tepat ke jantungnya. Sakit sekali. Mendadak ia merasa kesulitan bernapas. Tidak. Hal itu tidak mungkin benar. Apa-apaan ini? Kenapa reaksinya berlebihan sekali?
Tapi jika benar. Jika benar Ben melakukan hal itu. Ia akan mati. Yoon yakin ia tidak akan sanggup menerimanya.
Yoon menggeleng keras. Yoon bodoh, ia memaki diri sendiri. Mana mungkin terjadi. Itu mustahil...
Tapi kenapa.
Kenapa ia merasa cemas?
***
Tadashi memandang ke kejauhan dari balkon kecil apartemennya. Menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Yoon saat ini. Seharian gadis itu tidak memberinya kabar apa pun dan hal itu membuatnya cemas tentu saja. Terlebih setelah kejadian kemarin malam
Tangan Tadashi mencengkeram besi pembatas balkon. Menghela napas dalam dan memandang menerawang. Setidaknya ia merasa sudah cukup lega setelah mendengar suara Yoon. Ia terdengar baik-baik saja.
Seharian Tadashi menimbang-nimbang untuk menghubungi Yoon atau tidak. Mengingat selama gadis itu masih di Seoul ia bahkan nyaris tak pernah menjawab telepon darinya. Bukan tanpa alasan. Tadashi hanya berpikir bisa perlahan melupakan gadis itu jika berhenti berhubungan dengannya. Dan selama itu ia juga selalu menyibukan diri dengan pekerjaan. Di lain sisi ia terus merasa cemas. Jadi pada akhirnya ia menelepon Yoon duluan.
Tadashi bertanya-tanya apa Yoon sudah baikan dengan Ben? Ia tidak habis pikir kenapa Yoon masih bertahan dengannya.
Mungkinkah... Sama seperti yang ia sendiri rasakan. Yoon juga selalu menemukan cara menyembuh dengan sendirinya? Begitukah?
Pandangan Tadashi meredup sedih. Setidaknya, jika masih ingin mempertahankan Yoon sebagai kekasihnya, bisakah Ben bersikap lebih baik.
Genggaman tangan Tadashi mengeras. Setiap memikirkan laki-laki itu selalu saja membuatnya marah. Yah, bagaimana pun juga. Ia berharap Yoon akan baik-baik saja.