Yoon memutuskan datang ke Central Park untuk menenangkan diri. Seharian tidak bisa berhenti memikirkan kejadian semalam. Ia terus bertanya-tanya bagaimana jika hal itu sungguh terjadi?
Yoon mendongak menatap langit sore itu. Jika benar terjadi... Rasanya ingin sekali membunuh mereka sekaligus. Tetapi rasanya, membayangkan hal itu saja membuat Yoon ingin mati. Ia menghela napas dalam. Ingin sekali berhenti memikirkan hal itu.
Ia mengalihkan pandangan dan tepat memandang sosok Alice yang berjalan ke arah bangku di seberang. Langkahnya pelan dengan tongkat itu. Sebelah tangannya yang lain menggenggam sebuah buku dalam dekapannya. Lalu tanpa sengaja sesuatu terjatuh dari buku itu. Yoon mengernyit. Mungkinkah Alice membutuhkan pembatas buku? Benda yang jatuh itu sepertinya pembatas buku. Lantas tanpa pikir panjang lagi Yoon mengambil benda itu. Sebuah daun maple yang dilaminatin. Cantik sekali. Sesaat Yoon takjub tapi segera menyadarkan diri.
"Permisi," ia menyusul Alice yang baru saja duduk di tempat biasa. "Kau menjatuhkan ini?"
Alice terlihat bingung. Seolah mencari arah datangnya suara.
Yoon megulurkan daun itu pada tangan Alice. Alice menerimanya sambil tersenyum, langsung mengerti.
"Ah, terima kasih. Aku tidak menyadarinya."
Yoon mengangguk sambil tersenyum, tapi segera saja sadar. "Sama-sama, kebetulan aku melihatnya terjatuh. Ngomong-ngomong apakah itu daun maple asli?" Ia memerhatikan daun maple itu sekali lagi. Ia jadi menginginkan hiasan macam itu juga.
Alice mengangguk. "Ini asli, aku membuatnya sendiri."
"Wah," Yoon takjub dengan keramahan wajah Alice. Benar-benar menenangkan. "Mmm, bolehkah aku bergabung duduk di sini?"
Alice kembali menunjukan senyumannya yang hangat. "Tentu saja."
Yoon senang, sepertinya Alice memang selalu tersenyum. Dan berada di sisinya terasa sangat nyaman. "Aku juga sering datang ke sini akhir-akhir ini."
"Sungguh? Aku juga suka datang ke sini. Ini tempat yang menyenangkan untuk membaca buku. Oh," Alice mendadak teringat. "Apa aku boleh, tahu siapa namamu?"
Mata Yoon melebar takjub. "Tentu saja!" Sahutnya kelewat bersemangat. "Namaku Yoon, mari menjadi teman baik mulai sekarang."
Alice cukup terkejut, tapi terlihat sama senangnya dengan Yoon. "Kau bisa memanggilku Alice. Senang bisa menjadi temanmu, Yoon."
Ada ketulusan yang Yoon tangkap dari ucapan sederhana itu. Membuat Yoon merasa hangat. Tanpa sadar sudah melupakan beban pikirannya sejak kemarin malam.
"Apa kau berasal dari sini, Yoon?"
Yoon menggeleng. "Aku berasal dari Seoul, aku datang ke sini untuk... Untuk berlibur," Yoon tersenyum nanar. Menyedihkan. "Lalu apa kau tinggal di dekat sini juga, Alice?"
"Mmm," Alice mengangguk ringan.
"Oh, ya. Aku selalu melihatmu membaca buku. Jika aku boleh tahu buku apa yang kau baca?"
Alice menunjukkan buku itu pada Yoon. Bukan buku khusus seperti yang Yoon kira sebelumnya. Hal itu membuat Yoon cukup terkejut.
"Aku suka membaca serial Game of Thrones ini," jelasnya sambil tersenyum.
Yoon membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu agar tidak canggung. Tapi tidak bisa.
Alice seolah mengerti dengan kebingungan Yoon. "Aku memang tidak bisa melihat seperti orang lain pada umumnya. Tapi aku bisa membaca buku dengan menyentuhnya," Alice membuka halaman buku. Menyentuh tulisan-tulisan itu dengan jemarinya.
Yoon begitu takjub begitu Alice membaca bagian-bagian itu dengan benar. "Wah, kau luar biasa, Alice."
Alice tersipu. "Apa, kau suka membaca buku juga, Yoon?"
Yoon menggeleng keras. "Aku lebih suka menonton film, dan film favoritku Beauty and the Beast. Apa kau pernah menonton-" Yoon segera menutup mulut. Ingin sekali meninju diri sendiri.
Alice tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa Yoon."
Yoon memberengut merasa bersalah.
"Aku juga pernah membaca bukunya. Memang bagus, Yoon."
Yoon makin merasa bersalah karna Alice justru menghiburnya.
Alice membuka-buka halaman bukunya, mencari nomor halaman dengan jemarinya dan meletakan daun maple yang dilaminating itu sebagai pembatas.
"Ngomong-ngomong pembatas bukumu sangat indah, Alice. Bisakah kau mengajariku untuk membuatnya?"
"Tentu saja, aku juga memiliki beberapa, kau bisa memiliki salah satunya, Yoon."
"Sungguh? Aaa, Alice, kau baik sekali. Tapi apa kau yakin?"
"Tentu," Alice tertawa kecil dengan tingkah Yoon yang baginya menggemaskan.
Waktu berlalu tanpa sadar. Yoon membicarakan banyak hal dengan Alice. Menceritakan tentang Sua, tentang Tadashi. Sesekali menyinggung tentang Ben. Alice juga menceritakan banyak hal tentang dirinya. Tentang keluarganya. Tentang buku-buku favoritnya. Yoon senang sekali memiliki teman seperti Alice. Bisa mengobrol begitu banyak hal tanpa merasa bosan.
Sampai kemudian mendadak Yoon menyadari kehadiran seseorang di bangku seberang. Memerhatikan mereka dengan wajah bingung dan memelas. Yoon tersenyum licik. Sengaja menggoda Goto. Lihat. Apa Goto berani mendatanginya dan berakhir berkenalan dengan Alice. Masih dengan seringaian itu Yoon balik memerhatikan Goto. Saat itu wajah Goto lucu sekali.
Tapi sayangnya. Bahkan sampai Alice berpamitan pulang Goto tetap diam saja. Hanya melongo sepanjang waktu. Setelah berjanji akan bertemu lagi besok untuk mengajari Yoon membuat daun laminating, Alice pun pergi.
Yoon menghela napas. Lantas bangkit dan menghampiri Goto layaknya seorang ketua gengster. Berjalan dengan sombongnya. Wajah Goto langsung berubah. Seolah akan mendapat kesialan besar begitu Yoon mendekat.
"Kau masih belum berani mengajaknya berkenalan?" Ia mendengus arogan. Mengusap dagu dengan sebelah tangan menambah kesan keren seperti yang diharapkan.
"Berhenti bersikap seperti tokoh antagonis begitu," ucap Goto datar.
Yoon cekikikan. "Habisnya kau pengecut sekali."
Goto memasang raut wajah terluka. "Kau tidak akan mengerti. Betapa sulitnya berada di posisi laki-laki."
Yoon mengangkat bahu, mendudukan dirinya di samping Goto dan memandang menerawang jauh ke depan. "Memangnya sampai kapan kau akan memerhatikan Alice diam-diam. Hanya memerhatikannya dari sini, kau menyedihkan sekali."
"Alice?" Goto memiringkan tubuh memandang Yoon takjub. "Sudah kuduga namanya secantik dirinya."
Yoon tertawa tertahan. "Aku bahkan sudah menduganya kau tidak tahu nama Alice. Oh, ya, Alice juga menceritakan banyak hal padaku."
Goto terkesiap. "Benarkah? Apa saja yang ia ceritakan?" Ia memandang Yoon penuh harap.
Yoon menepuk bahu Goto dengan sebelah tangan. Berlagak dewasa. "Sebagai seorang teman, aku tidak bisa dengan mudah membocorkan informasi temanku terhadap orang asing," selesai bicara ia bangkit dan berlalu.
Goto membeku sesaat. Yoon benar-benar niat sekali membuatnya frustasi. "Hei... Hei... Apa-apaan itu," ia segera bangkit menyusul Yoon. "Siapa yang kau sebut orang asing? Aku bahkan telah menjadi temanmu lebih lama daripada Alice."
Yoon mempertahankan mimik serius di wajahnya sebisa mungkin. Senang sekali bisa menjahili Goto.
"Ah, ayolah Yoon, bukankah kita berteman baik juga?"
Yoon tetap diam.
"Ish, berhentilah bersikap seperti tokoh antagonis begitu," serunya frustasi.
Yoon menghentikan langkah. "Itu menyakitkan sekali," ia mengangkat sebelah tangan menekan d**a, berlagak terluka.
Goto jadi seperti ikan yang dikeluarkan dari air. "Tentu aku tidak bermaksud begitu... Begini saja, aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf."
Yoon berlagak berpikir keras. "Mmm, bagaimana, ya?"
"Di tempat pertama kali kita bertemu, saat kau bersama Tadashi!" Serunya dengan suara terlampau keras.
Yoon tersenyum cerah sekali. "Baiklah."
"Dasar murahan," Goto serasa akan terkena serangan jantung.
***
Entah sudah berapa lama Tadashi menatap ponselnya di meja kerjanya. Rasanya sudah cukup lama ia duduk di sana tanpa melakukan apa-apa. Seharian ini, persis seperti kemarin, ia menunggu kabar dari Yoon. Lagi-lagi gadis itu tidak menghubunginya.
Tadashi menimbang-nimbang untuk memastikannya atau tidak. Tapi dipikir bagaimana pun ia jadi merasa sikapnya berlebihan. Bisa saja Yoon berpikir demikian. Padahal Tadashi sudah memikirkan beberapa rencana. Seperti mentraktirnya steak, atau memasak untuknya. Mungkin juga mengajak Yoon jalan-jalan. Tidak ada yang aneh, kan, dengan sikapnya ini? Kenapa segala hal terasa aneh ketika Yoon kini berada di sini. Tadashi terpekur. Mungkin hal ini disebabkan karena ia sempat memutuskan untuk melupakan gadis itu.
Ah, membingungkan sekali.
Bagaimana pun juga kehadiran Lee Yoon di New York sungguh diluar dugaan. Menghancurkan segala rencana yang sudah ia bangun bertahun-tahun. Meski tak dapat dipungkiri ia sangat merindukan gadis itu. Ingatan Tadashi kembali pada saat melihat Yoon setelah sekian lama. Bagaimana caranya tersenyum, bagaimana caranya menatap dirinya, seolah kembali ke masa lalu di mana tak ada hal yang berubah. Seketika Tadashi sadar, selama ia masih melihat Yoon tersenyum dan memandangnya seperti itu, sampai kapan pun ia tak akan bisa melupakannya. Tidak akan pernah.
Tadashi teringat lagi saat Yoon membuang buku sketsanya. Membuang segala rencana yang telah ia buat. Jadi, tanpa bucket list itu, kira-kira apa yang akan gadis itu lakukan?
Sudut bibir Tadashi melengkung membentuk seulas senyum samar. Bukan hal aneh, kan, jika Tadashi menghubungi Yoon dan mengajaknya keluar. Lagipula Yoon berdalih datang untuk liburan. Tentu saja, sebagai teman, sudah selayaknya Tadashi menemani Yoon selama di New York. Bukan hal yang aneh sama sekali menemani teman lama berlibur.
Tadashi meringis. Bagian teman itu menyakitkan juga. Ya. Sudah diputuskan tidak ada yang aneh dari sikapnya. Kecuali...
Mendadak Tadashi teringat. Yoon berhenti menghubunginya. Berhenti mendatanginya. Mungkinkah karena ia sudah baikan dengan Ben? Mungkinkah Ben sudah tiba di sini?
Bagaimana bisa Tadashi tidak memikirkan kemungkinan itu? Padahal sudah jelas pasti begitu, kan? Yoon sudah tidak membutuhkannya lagi. Sudah ada Ben di sisinya.
Ponselnya berdering tiba-tiba, menandakan sebuah pesan yang masuk. Tadashi meraih benda itu tanpa pikir panjang. Pesan dari Yoon.
Yoon mengirim sebuah foto. Oh. Foto steak dari tempat ia dulu mentraktirnya. Yoon menuliskan.
"Tebak aku makan malam dengan siapa?" ditambah emoji tawa.
Tadashi memejamkan mata. Menahan sesuatu dalam dirinya yang nyaris meluap. Lantas melempar benda sialan itu ke sudut meja dan berlalu.