Hal pertama yang Yoon lakukan saat sampai di apartemen Tadashi adalah, memeriksa di sudut meja kerja apakah kumpulan gambar Tadashi yang akan dibawanya kembali ke Seoul masih ada. Awalnya Yoon sudah bersiap-siap untuk mengomel dan memberengut lagi, namun rupanya benda itu masih ada di sana. Karenanya, Yoon menunjukkan senyum simpul terbaik yang ia miliki dan duduk di balik konter sembari menunggu steak yang sudah Tadashi janjikan.
Tadashi baru ingat belum membuatkan white untuk Yoon. Lantas ia menghentikan kegiatannya dan berbalik untuk membuat white tea.
"Kenapa tersenyum menyeramkan begitu?" Tanya Tadashi sembari memberikan secangkir white tea pada Yoon.
"Aku hanya senang kau tidak membuangnya," ia mengedikkan bahu ke arah meja kerja Tadashi.
Tadashi memandang ke arah yang Yoon tunjuk dan mengangguk mengerti. "Kukira kau sudah melupakannya," ia berbalik lagi dan lanjut memasak.
"Mana mungkin begitu," sahut Yoon santai, ia mulai menyesap white tea perlahan. Mendesah senang menghirup aromanya.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Tadashi selesai memasak dan Yoon membantu menyiapkan segala perlengkapannya kali ini. Perasaan nostalgia dan lapar bercampur menjadi satu. Bahkan Yoon yakin ia bisa berteriak saking bersemangatnya. Pun seperti biasa Tadashi menggodanya dengan candaan-candaan menjengkelkan dan menambahkan banyak sayuran ke piringnya.
Untuk saat ini, Yoon bahkan rela menukar sepiring steak demi melihat Tadashi tertawa dan ceria seperti ini.
Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka dibarengi teriakan Goto yang tanpa berteriak pun suaranya sudah membahana. Akibatnya Yoon tersedak karena terkejut. Tadashi menghentikan kegiatan mengunyahnya dan tanpa sadar menjatuhkan sumpit yang gunakan.
"Yoon? Astaga, kau tak apa?" Mengabaikan teriakan panik Goto, Tadashi mengusap punggung Yoon dengan pelan alih-alih menepuknya dengan keras. Ia jelas tidak tega berbuat begitu.
Yoon nyengir setengah meminta maaf. "Aku tak apa, hanya terkejut," ia melempar pandangan pada Goto dan menggumamkan sumpah serapah sambil menyipitkan mata.
Tadashi menghela napas lega. Memberikan segelas air mineral pada Yoon lalu melakukan hal yang sama pada Goto.
"Maaf, oke," kata Goto tanpa terlihat menyesal. Kepanikan tidak bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya.
Melihat hal itu Yoon jadi tidak tega. Goto yang biasa bertampang sangar terlihat akan menangis begitu, bagaimana bisa ia tidak merasa kasihan. Yoon menghela napas pelan. Meneguk air mineral pemberian Tadashi dan melanjutkan. "Oke, ada apa sebenarnya? Dan hei, kenapa kau juga tidak masuk kantor hari ini?"
"Itu tidak penting sekarang," Goto jadi terlihat benar-benar akan menangis sekarang. "Aku lupa, oh, demi tuhan, terkutuklah aku. Aku lupa," ia bicara sendiri dengan frustasi.
Yoon mengernyit dan memandang Tadashi berharap mendapat penjelasan. Tetapi Tadashi juga menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Untuk beberapa alasan Yoon tidak ingin mengalihkan pandangan dari mata hijau itu. Memandang Goto yang tengah kalut sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat. Terlebih alih-alih menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia malah mengoceh sendiri. Yoon jadi ikut frustasi melihatnya!
"Tenang dulu Goto, coba jelaskan apa yang terjadi-"
"Tenang?! Mana mungkin aku bisa tenang, Tadashi!" Ia melangkah dengan kasar dan mencengkeram kedua bahu Tadashi.
Yoon bergidik ngeri melihatnya. Tadashi yang mengetahui reaksi Yoon lantas diam-diam memberi Goto isyarat.
Sejenak ketegangan menghilang dan Goto mengambil langkah mundur. Ia menghela napas penuh beban sebelum bicara lagi. "Kalian lakukanlah sesuatu padaku, lempar aku dari balkon atau apa pun."
"Baiklah," sahut Yoon langsung, ia hanya bermaksud bercanda untuk mencairkan suasana.
Goto tidak mengacuhkannya. Tadashi memberi isyarat agar ia diam dulu dan mendengarkan Goto sampai selesai.
"Jadi?" Tadashi menagih kelanjutan penjelasan Goto.
Lagi-lagi Goto menghela napas penuh beban. "Aku melupakan hari ulang tahun Alice," suara Goto melemah dan bergetar. Lagaknya benar-benar akan menangis sekarang.
Yoon mengerjap bingung. Ulang tahun Alice? Tunggu. Ia sendiri belum tahu kapan ulang tahun Alice. Tapi Goto tahu? Sudah sejauh apa hubungan mereka? Yoon membuka mulut siap menanyakan banyak pertanyaan dalam kepalanya. Tetapi lagi-lagi Tadashi memberi isyarat agar ia diam dulu. Dengan terpaksa Yoon menutup mulut lagi. Pipinya menggembung serupa ikan buntal. Susah payah menahan diri untuk tidak bicara dulu.
"Hari ini ulang tahun Alice dan aku mengacaukan semuanya. Aku benar-benar menyedihkan. Padahal aku sudah membayangkan untuk membuat kejutan untuk Alice. Meski itu hanya pesta kecil atau apa lah," Goto mengangkat bahu tanpa tenaga. "Tapi aku mengacaukannya. Aku mengacaukan segalanya. Sekarang aku tidak bisa menemui Alice dengan wajah ini lagi."
Tadashi berpikir sejenak. "Kurasa kita masih belum terlambat."
Mata Yoon membulat sempurna. Sudah tidak tahan lagi menahan mulutnya untuk tetap diam. "Hei, benar," ucapnya disertai hembusan napas penuh kelegaan. Ia melirik Tadashi sekilas untuk memastikan ia sudah diperbolehkan bicara.
"Tidak," Goto menggelengkan kepala dengan lemah. Kedua lengannya terkulai seolah telah kehilangan seluruh tenaga yang ia miliki. "Aku sudah mengacaukan segalanya. Aku benar-benar tidak berguna."
"Sudahlah!" Yoon menepuk bahunya dengan keras. Tapi pukulannya sama sekali tidak berdampak pada tubuh Goto yang besar. "Belum terlambat untuk ini, kita masih punya waktu untuk membeli kue dan hadiah-hadiah, iya kan, Tadashi?" Ia mengerling pada Tadashi mencari pembelaan.
"Tentu saja," Tadashi mengangguk yakin, terlihat serius sekarang.
Yoon tersenyum secerah matahari pagi. "Benar, kan?" Ia memandang Goto yang menunduk. Nampaknya akan tetap seperti selamanya jika dibiarkan. "Hari ini ulang tahun Alice, aku bahkan tidak tahu tentang itu. Padahal aku mengenal Alice lebih dulu. Pastilah baginya kau penting. Goto," Yoon tidak menyerah untuk menghibur Goto.
"Justru karena itu," ia mendesah putus asa. "Tadashi kau juga tidak tahu ulang tahun Alice, kan?"
Tadashi menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu."
"Di antara semua teman Alice hanya aku yang tahu, oh bisa kau bayangkan betapa spesialnya aku bagi Alice."
Yoon bersumpah ia tidak iba lagi pada Goto dan ingin muntah sekarang.
"Aku satu-satunya yang tahu, dan aku juga menghancurkan rencana indahku sendiri. Orang sepertiku tidak pantas bahkan untuk sekedar berteman dengannya. Bahkan kau Tadashi, selalu mengucapkan selamat ulang tahun padaku tengah malam."
Yoon membelalak lagi dan memandang keduanya bergantian dengan sorot aneh. Tadashi menggeleng-geleng berusaha menepis pikiran tidak masuk akal Yoon.
"Kalian romantis sekali-"
"Meski begitu," Tadashi langsung memotong ucapan Yoon dengan suara keras. Membuat Goto ikut terlonjak kaget. "Kita masih ada waktu, Goto, percayalah," Tadashi memandang Goto dengan mata berkilat-kilat. Seolah turuti saja aku atau kau akan mati.
Lagi-lagi Yoon memandang mereka bergantian. Kali ini dengan mata menyipit dan pandangan menilai.
Tadashi mendecak dan mengalungkan sebelah tangannya pada bahu Yoon. Kemudian menarik gadis itu ke tempat gantungan dan mengambil coat untuk Yoon dan untuk dirinya sendiri.
"Kita akan pergi sekarang. Membeli kue dan hadiah-hadiah. Tidak ada kata terlambat untuk merayakan ulang tahun seorang teman. Lagipula hari ini baru dimulai," selesai memakai coatnya Tadashi berjalan cepat mengambil kunci mobil di meja kerja dan berjalan keluar.
Yoon buru-buru mengikutinya. Berpikir keras -nyaris panik bahkan- memikirkan hadiah apa yang akan membuat Alice senang.
"Tapi aku ingin setidaknya mengucapkan selamat ulang tahun tengah malam tadi, walau lewat telepon," Goto mengikuti dengan langkah berat. Walau rencana cukup membuatnya merasa ada harapan. Sebagian besar kekecewaan pada diri sendiri masih belum bisa ia hilangkan.
Gaun? Kalung? Sepatu? Yoon masih berpikir keras sampai-sampai raut wajahnya terlihat serius sekali. Ia sungguh-sungguh tidak ingin membuat Alice kecewa.
Tadashi melempar pandangan berkilat-kilat itu lagi pada Goto. Kemudian mengunci pintu apartemen dan berpaling pada Yoon yang diam. Ia mendecak nyaris frustasi. "Oh, ayolah, jangan berpikir macam-macam, Yoon."
"Hah? Apa? Berpikir apa?"
Tadashi tidak menyahut dan sebisa mungkin jauh-jauh dari Goto yang nampaknya ingin bergelayut di lengannya. Ia mengalungkan sebelah tangannya sekali lagi pada bahu Yoon dan berjalan cepat menyusuri lorong. Membuat gadis itu harus setengah berlari-lari kecil untuk menyamai langkahnya yang panjang-panjang.
"Aduh, Tadashi, pelan-pelan sedikit atau gendong aku saja sekalian."
Tadashi berhenti mendadak dan tanpa aba-aba menggendong Yoon dengan kedua tangan. Bahkan tanpa berkata apa-apa lagi ia melanjutkan langkah super cepatnya.
"Hei, hei kau gila!"