Chapter 28

1589 Kata
Langit gelap ketika Yoon memeriksa keluar balkon. Kekhawatiran yang ia rasakan sejak membuka mata pagi ini semakin terasa jelas dalam benaknya. Ia tidak tahu kenapa. Apa karena cuaca? Atau sesuatu yang lain? Ia berbalik masuk kembali dan mengeratkan pegangannya pada sweater tipis yang ia kenakan, seolah sedang kedinginan. Ben nampak sibuk mempersiapkan beberapa hal yang akan ia bawa. Seperti yang ia katakan semalam, ia akan pergi untuk beberapa hari. Yoon memerhatikan dalam diam. Jantungnya berdebar-debar lebih cepat dari biasa. Bagaimana pun juga ia sudah memikirkan hal ini begitu lama. Ia bahkan sudah dengan sangat hati-hati memikirkan kata-kata yang akan ia sampaikan padanya. Namun semua rencana itu lenyap seketika melihat bahwa ia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menyampaikannya, ditambah kekhawatiran aneh yang mendadak muncul sama sekali tidak membantu. Yoon berusaha berpikir positif dan mengatakan kepada diri sendiri bahwa ini tidak apa-apa. Ini hal yang biasa-biasa saja. Tetapi setiap kali sedikit keyakinan muncul, bayangan di mana Ben marah hari itu muncul kembali dan otaknya seolah membeku seketika. Yoon menghela napas berat tanpa sadar. Membuat Ben yang sedang mengikat tali sepatu mengangkat wajah memandangnya. Yoon nyengir, berharap tidak terlihat aneh. Ben menunduk lagi, lalu saat selesai dengan sepatunya ia bangkit dan memeluk Yoon dengan lembut. "Jangan sedih," ia berbisik. Aneh. Ucapan Ben malah membuatnya menjadi sedih. Tanpa sebab. "Tidak," ia berbohong, yang amat disesalinya suaranya terdengar parau. Kekhawatiran itu mendadak meledak dalam dirinya. Yang belum Yoon tahu kenapa. Rasanya, jika ia bisa, jika ia boleh, ia ingin mencegah Ben pergi. Ben mengusap-usap kepalanya. Yoon menahan diri sebisanya. Tetapi ia tahu ia kalah pada akhirnya. "Apa kau harus pergi hari ini?" Ia mundur sedikit agar bisa memandang wajah Ben. "Ya." Yoon mengernyit mendengar suara Ben yang tiba-tiba terasa asing. Seolah bukan bibir favoritnya itu yang barusan mengatakannya. Sesaat Ben berpikir. Kemudian menunduk dan mengecup puncak kepalanya. "Aku akan baik-baik saja," ia terihat serius. Yoon mengernyit. Apa Ben bisa membaca kekhawatiran itu dalam dirinya? Ben tersenyum. Senyuman yang lagi-lagi terasa asing. "Jaga dirimu, oke? Aku akan menghubungimu sebisaku, kau prioritasku, Yoon." Yoon diam saja. Ia ingin menikmati mata biru indah itu untuk beberapa lama. Lalu saat Ben beranjak untuk mengambil tas kantor dan ransel di meja. Yoon tahu ini lah waktunya. Sekarang atau tidak sama sekali. Sekarang atau hal itu akan terulang lagi. "Ben," suara Yoon kecil tanpa ia maksudkan begitu. Membuat ia sendiri tidak yakin bisakah Ben mendengarnya. "Ya?" Ben berbalik sambil memeriksa jam tangan. Yoon menggigit bibir. Ayolah, ayolah... Ia memaksa diri untuk bicara. "Ini mengenai Tadashi," jantungnya berdegup gila-gilaan. Ia sampai lemas dengan kekuatan itu. Ben menghentikan gerakannya. Ia berpaling lambat-lambat dari jam tangan dan pada wajah Yoon. Yoon tidak tahu harus menilainya bagaimana. Wajah Ben datar tanpa ekspresi. "Ada apa dengannya?" Ia bertanya. Suaranya juga terdengar datar. Yoon memberi jeda, walau hal itu jelas tidak membantu. "Maksudku, aku tak lama lagi akan kembali ke Seoul," ia memerhatikan wajah Ben lekat-lekat. Alis Ben terangkat, Yoon menangkap sekilas percikapan rasa senang dalam wajah datar itu. "Dan kau mengerti bahwa Tadashi sudah berteman lama sekali denganku. Jadi, bolehkah aku barangkali mungkin, sesekali menghubunginya, atau menemuinya. Lagipula aku bersama Alice juga," ia menambahkan cepat-cepat. Dengan kecewa mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Jika Ben sampai marah lagi, maka itu sepenuhnya salah dirinya. Yoon menerima itu. Tetapi Ben tersenyum. Kejutan yang tak disangka lebih dari apa pun. "Tentu, dan aku yakin bisa mempercayaimu kau tidak akan berbuat macam-macam dengannya. Kau tahu batasanmu." Yoon bergeming. Lalu setelah waktu yang dirasanya cukup lama, ia mengangguk. Ucapan Ben yang tenang sarat peringatan. Ia harus berhati-hati. Mungkin Ben belum menerima Tadashi sepenuhnya. Meski begitu ia tetap senang. Toh, akhirnya ia bisa main lagi bersama mereka. Bayangan di mana ia berkumpul bersama saat pesta halloween mendadak memenuhi otak Yoon. Ia membayangkan banyak hal yang harus ia persiapkan. Semua bayangan itu hilang saat Ben bicara. Ia mengatakan akan pergi sekarang. Mereka berpelukan untuk terakhir kali dan berpisah. Yoon bergeming di tempat. Menyadari satu hal kini. Bahwa saat pesta halloween itu, akan ada Ben, tidak hanya mereka berempat. Bagaimana ia bisa mengaturnya? Yoon mengangkat bahu. Yang terpenting ia harus menghubungi Tadashi sekarang. Eh, ia menghentikan langkah. Ia tidak lagi memiliki nomor ponsel Tadashi! Yoon mengeluh sebal. Berjalan menghentak-hentak ke arah gantungan pakaian, ia melepas sweater tipis yang ia kenakan dan menggantinya dengan coat merah marun. Mengambil sepatu hitam berhak tinggi dan memakainya. Tak lupa bercermin dulu memastikan wajahnya terlihat cukup baik. Yoon menimbang-nimbang sesaat. Lalu memutuskan untuk memakai lipstik merah yang ia suka. Dan tentu yang disukai Ben juga. Ia berjalan memutar menyeberangi ruangan. Mengambil tas tangan hitam di rak, memasukan dompet dan ponsel di sana dan berlalu. Ia menghela napas ketika telah berhasil keluar dari gedung apartemen. Hari ini lancar. Kenyataan bahwa ia akan bertemu Tadashi segera membuat kekhawatiran aneh itu terlupakan. Sebenarnya masih terlalu pagi untuk menemui temannya yang satu itu. Ia mungkin baru sampai di kantornya. Yoon bersenandung riang. Ia tidak peduli. Ia sudah jengah sekali selalu berada dalam ruangan. Jadi kemungkinan ia akan menunggu Tadashi sampai seharian tidak terasa mengganggu. Sambil terus melangkah Yoon memandang ke sana ke mari, mencari taksi. Sambil menimbang-nimbang akan ke mana hari ini. Ah, benar. Ia belum sarapan. Di dekat apartemen Tadashi ada restoran yang menyajikan berbagai masakan khas Korea Selatan. Cukup lama Yoon tidak memakan makanan itu. Jadi tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk ke sana. Sekali lagi, tidak memedulikan fakta bahwa ia bisa saja makan di sekitar sini yang lebih dekat ketimbang jauh-jauh ke apartemen Tadashi. Sebuah taksi muncul dan Yoon bergegas. Sepanjang perjalanannya, Yoon memandang keluar jendela. Seolah tidak pernah melihat keluar seumur hidupnya. Walau cuaca dingin, ia merasa hangat. Sampai tanpa sadar perjalanannya terasa begitu cepat. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Yoon turun dengan langkah riang. Perhatiannya tertuju pada gedung apartemen Tadashi di seberang. Cukup jauh, sih. Tapi Yoon senang. Ia akan bisa dengan leluasa main di sana lagi. Tanpa sadar, pemikiran ini membawanya pada harapan-harapan menyenangkan bahwa Tadashi akan memasak lagi untuknya. Mengingat betapa cerewetnya Tadashi soal makanan, Yoon jadi mengeluh senang. Terlalu senang untuk merasa sebal. "Yoon?" Yoon tersentak. Untung benar ia tidak sampai berteriak karena terkejut. Ia berputar sambil melotot. Namun begitu tahu siapa yang ada di hadapannya, senyum bahagianya mengembang. "Tadashi!" Ia berseru bersemangat. Berlari ke arah laki-laki itu. Tepat hanya berjarak satu langkah, Tadashi menghentikannya dengan mendorong Yoon tepat di kening. Hal ini seketika membawa ingatannya kembali pada hari pertamanya menginjakkan kaki di New York. Bedanya kejadian itu di Brooklyn Bridge. Dan sekarang, Tadashi melakukan ini di pinggir jalan di tengah keramaian. "Hei!" Yoon menepis tangannya marah. Wajahnya pasti memerah karena malu. Ha! Tadashi pasti senang sudah berhasil mempermalukan dirinya. Tetapi, ketika Yoon mendongak untuk menatap mata hijau itu. Raut wajah Tadashi terlihat serius alih-alih senang. "Kenapa?" Yoon menyadari dirinya kecewa. Mungkinkah Tadashi tak senang bertemu dirinya? "Kau?" Tadashi mengangkat sebelah tangan dan menunjuk-nunjuk kening Yoon dengan sebelah tangan. Yoon mengerang dan langsung menjauh. Tapi Tadashi bodoh itu malah mengikuti dan tetap menunjuk-nunjuk keningnya. Dengan tatapan aneh yang terlihat seperti, apakah yang dilihatnya nyata? "Hei!" Yoon berteriak sebal. Menepis tangan Tadashi jauh-jauh dan berhenti melangkah. Tadashi memiringkan kepala ke satu sisi. Nampak takjub sekaligus heran. "Astaga, bagaimana kau bisa ada di sini?" Yoon memberengut seketika. Memilih untuk tidak menjawab agar Tadashi tahu bahwa ia marah sudah diperlakukan begitu. Alih-alih meminta maaf, Tadashi malah tertawa. Kemudian entah sadar atau tidak ia menjatuhkan barang bawaannya yang juga baru Yoon sadari ada di sana sejak tadi. Tadashi memeluknya dengan tangan kosong. Yoon terkesiap. Tubuhnya membeku. Apa-apaan ini? Apa kepala Tadashi terbentur atau barangkali ia jadi agak sinting? Tadashi melepas pelukannya sama tiba-tibanya saat ia memeluk Yoon. Seolah ia sendiri terkejut pada apa yang ia lakukan. Yoon memandanginya heran. Tadashi berbalik dan mengambil kembali barang-barang yang berjatuhan di jalan. Ah, rupanya Tadashi baru belanja persediaan dapur. Yoon berjongkok di sisinya dan ikut memungut beberapa kentang yang menggelinding. "Ada apa, sih? Kau jadi sinting sekarang, huh?" Yoon enggan menghilangkan nada kesal dari suaranya. "Tidak, kurasa kau yang sinting." Yoon mendengus. "Seharusnya kau senang melihatku tahu!" Yoon sadar kekecewaannya lebih besar dari niatnya mengatakan candaan ini. "Akhinya ada seseorang yang mau membuatmu repot lagi." Tadashi terkekeh. Kekehan yang menyebalkan sekali. "Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau bisa ada di sini?" "Untuk main tentu saja," Yoon meletakkan kentang terakhir yang dipungutnya ke dalam kantong kertas yang di bawa Tadashi saat mereka sama-sama beranjak bangun. Tadashi memandangnya untuk beberapa saat. seolah menilai. Ia tersenyum pada akhirnya. Lalu melanjutkan langkah pulang. Yoon mengikuti tanpa menunggu ditawari. "Kau sudah sarapan?" Tanyanya, setelah keheningan panjang menyelimuti mereka. "Belum," sahut Yoon jujur. Ia memandang melewati kaca-kaca ke dalam ruangan di sepanjang jalan. Ada banyak restoran dan berbagai toko di sini. Sementara restoran tujuannya sudah tertinggal jauh. "Baiklah, kau ingin makan apa?" Mata Yoon membulat memandang Tadashi tak percaya. Ia jarang sekali berbaik hati begini. Yoon jadi curiga, barangkali Tadashi baru mendapat pacar atau apa. "Kau kenapa tidak ke kantor hari ini?" Tadashi mengernyit. "Malas saja, kenapa?" Yoon mengangkat bahu. "Kau belum menjawab pertanyaanku," ia mengingatkan. Yoon tidak bisa tersenyum kali ini. Mengabaikan seluruh pertanyaan dalam benaknya dan berkata lantang. "Steak." Tadashi tidak menyahut. Namun Yoon dapat melihat senyuman di wajah itu. Mereka berhenti sebentar, bersiap untuk menyeberangi jalan. Saat Tadashi menggenggam tangannya kemudian, dan memastikan mereka aman untuk menyeberang, Yoon merasa. Ada perasaan nyaman yang telah lama ia kenal. Bukan sesuatu asing yang membuatnya merasa dingin. Sekali lagi, walau cuaca dingin. Yoon merasa hangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN