Chapter 24

1325 Kata
Yoon melepas earphone dari telinganya dan melempar pandangan keluar. Ia bergerak gelisah, sebisa mungkin menahan diri agar tidak mengatakan pada sopir taksi yang kini membawanya untuk merubah tujuan ke apartemen Tadashi. Yoon mendesah lelah. Ingin rasanya membenamkan diri atau bisa berteleportasi menuju Central Park menemui Alice. Hari ini Ben pergi seharian, ada masalah pada pembukaan cabang restoran Ben yang baru. Dan masalah itu berpengaruh cukup besar sampai menyebabkan pembukaan resminya ditunda. Yoon tidak tahu bagaimana persisnya. Ia tidak pernah memahami urusan bisnis. Selain itu, ia sudah meminta ijin pada Ben apakah ia boleh keluar. Yoon tak yakin Ben benar-benar memperhatikan sebenarnya -ia pergi dengan sangat terburu-buru- tapi bagi Yoon gumaman tak jelas Ben sudah cukup. Dan kini, Yoon memutuskan untuk bertemu Alice. Yoon mengerang kecewa melihat kursi taman itu kosong. Ia langsung berbalik lagi dan agak menyesal tidak menanyakan keberadaan Alice lebih dulu. Padahal ia ingin membuat kejutan. Yoon memanggil sebuah taksi baru untuk mengantarnya ke apartemen Alice. Begitu sampai, Yoon tak sabar lagi ingin menemuinya. Ia melangkah riang sepanjang aula depan, menaiki lift, menyusuri lorong dan tanpa basa-basi lagi mengetuk pintu apartemen Alice dengan bersemangat. "Alice!" Seru Yoon begitu pintu mengayun terbuka. Alice terkejut mendengar suara Yoon, sedetik kemudian senyumnya yang hangat mengembang. Yoon merasa lebih baik seketika. "Kau boleh mengunjungiku?" Tanya Alice heran seraya mengajak Yoon masuk. Yoon mengangguk cerah. "Ben pergi, jadi aku bisa keluar." Alice mengernyit mendengar nama Ben disebut. "Eh," Yoon mengalihkan pandangan. Kalau bisa ingin melupakan fakta bahwa Alice membenci Ben. "Kau sudah makan, Yoon?" Alice melangkah pelan menuju dapur. Yoon mengikuti dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuhnya. Menahan godaan ingin meyentuh barang-barang cantik di apartemen Alice seperti biasanya. "Aku baru saja makan sebelum ke sini," Yoon membungkukkan badan pada sebuah akuarium bundar berisi ikan emas kecil dan tersenyum senang. Yoon berpaling saat mendengar suara benda berjatuhan dan mendapati Alice berdiri dengan canggung di balik konter. "Alice, apa yang kau lakukan?" Ia berlari ke arahnya dengan cemas. Alice tersenyum menenangkan. "Aku hanya tidak sengaja menjatuhkannya." Yoon menahan napas saat menyadari betapa berantakannya dapur Alice. "Astaga, Alice, apa yang terjadi di sini?" Wajah Alice merona. "Aku mencoba memasak. Sebenarnya aku bisa, meski tidak terlalu pandai, hanya saja aku cemas. Kurasa karna itu aku jadi ceroboh." Yoon memandang Alice penuh sayang. "Tak apa, Alice, aku akan membantumu membereskannya." "Tidak, Yoon," Alice nampak cemas sekarang. "Kau sudah tahu?" Sesaat ia ragu. "Ada apa?" Yoon memiringkan kepalanya ke satu sisi. Berharap sekelebat perasaan aneh yang dirasakannya tadi tak berarti apa-apa. "Itu, Tadashi..." "Tadashi?" Kata Yoon keras tanpa dimaksudkan begitu. Alice mengangguk, alisnya bertaut sedih. "Tadashi masuk rumah sakit semalam." Yoon terhenyak. Mulutnya setengah terbuka tapi tidak mampu mengatakan apa pun. "Dia sakit," Alice berusaha keras mencari alasan. "Tapi tenang saja, Yoon," ia mengulurkan tangan mencari keberadaan Yoon. Yoon mengulurkan tangannya menggenggam tangan Alice. "Tadashi sakit apa?" Lehernya serasa dicekik. "Kurasa," Alice terlihat makin ragu. "Mungkin kelelahan." Yoon menarik napas lega. Meski kenyataannya masih cemas sekali. "Tadashi itu..." Ia berseru marah. "Jika sudah sibuk dengan pekerjaannya pasti jadi lupa pada segalanya!" Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar terlalu cemas. Alice tersenyum. "Dia sangat mencemaskanmu juga, Yoon." Untuk sepersekian detik Yoon hanya menatap Alice heran. "Mmm, Alice, bisa kau beritahu di mana Tadashi dirawat? Aku akan menjenguknya." Alice nampak terkejut mendengarnya. "Sungguh? Bolehkah?" Yoon mengangguk cepat-cepat. Asal Ben tidak tahu. "Boleh. Eh, tapi sebelum itu aku akan membantumu membereskan ini." Alice menggeleng keras. "Tidak perlu, kau ke sana sekarang saja, Yoon," ia mendorong Yoon keluar dari dapurnya yang berantakan. Yoon merasa tidak enak tapi juga setengah bersyukur. Ia sudah sangat cemas dan ingin cepat-cepat menemui Tadashi. Dan kenyataan bahwa Tadashi tidak mau atau tidak bisa mengabarinya terasa mencabik dadanya sekarang. Alice memeberitahu alamat rumah sakit dan ruang tempat Tadashi di rawat. Yoon memeluk Alice singkat dan berlari sepanjang jalan. Cepat-cepat memanggil taksi dan menyuruh sopirnya menyetir lebih cepat. Yoon memandang cemas keluar sepanjang jalan. Ben tidak akan tahu, ia terus meyakinkan diri. Gedung rumah sakit terlihat menakutkan, entah kenapa. Setelah membayar, Yoon melangkah lunglai. Seolah takut tiba-tiba akan tertangkap basah. Ia mengajukan pertanyaan letak ruangan Tadashi pada seorang resepsionis cantik di balik konter. Ben tak akan mungkin berada di rumah sakit. Yoon memutuskan untuk melangkah lebih cepat. Berlari-lari kecil menyusuri lorong dan berhenti di depan sebuah ruangan di ujung. Ia menatap pintu di hadapannya. Apa yang membuat ia ragu di saat-saat terakhir begini? Ia meraih kenop pintu yang serasa dingin dalam genggamannya. Pintu mengayun terbuka dan bukan hanya Yoon yang terkejut, Tadashi juga melonjak kaget saat melihatnya muncul. "Tadashi!" Ia berseru kelewat keras. Menyeberangi ruangan dengan langkah menghentak-hentak dan meraih laki-laki itu dalam pelukannya. Tubuh Tadashi membeku. "Sudah kukatakan berapa kali?" Untuk beberapa alasan ia tidak ingin melepas pelukannya. Ia tidak ingin Tadashi melihatnya menangis, adalah salah satunya. "Kau harus menjaga kesehatan! Jangan terlalu sibuk bekerja!" Ia memukul lengan Tadashi tanpa tenaga. "Apa yang?" Tadashi menemukan suaranya. Masih belum memercayai apa yang terjadi. "Bagaimana bisa kau di sini?" Yoon mengusap wajahnya kasar dan mengambil satu langkah mundur. Memandang Tadashi sengit dengan pipi menggelembung. "Alice memberitahuku! Kau sakit karna kelelahan bekerja!" "Eh?" Yoon menoleh dan baru menyadari kehadiran Goto di sofa seberang. Nampaknya ia baru bangun tidur. Tapi Goto tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat bahu, mengambil jaketnya pada lengan sofa dan pergi. Yoon tidak punya waktu untuk memarahi Goto sekarang. Ia berbalik lagi pada Tadashi, dengan raut wajahnya yang tercengang membuat ia makin sebal. "Kau tidak dengar aku, ya?" Ia berseru lagi. "Aku sudah mengingatkanmu sejak dulu, jangan sampai kelelahan bekerja! Lihat kau sekarang-" Kalimat Yoon tertelan lagi karna tiba-tiba Tadashi menariknya ke dalam pelukannya. Yoon melunak. Berusaha keras agar tidak menangis lagi. "Maaf," kata Tadashi dengan suaranya yang lemah. "Maaf membuatmu khawatir." Yoon membuka mulut ingin marah-marah lagi. Tapi tidak bisa. Setelah beberapa saat Tadashi melepasnya dan melangkah mundur. "Kau sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Yoon dengan volume normal. Tadashi mengangguk. "Aku akan pulang malam ini." Yoon menghela napas lega. "Syukurlah, tapi kau masih agak pucat." Tadashi membuang muka. "Aku sudah tidak apa-apa." Hening lagi. Tadashi ragu-ragu menoleh pada Yoon. "Kau menemui Alice?" Yoon mengangguk, berpaling mengikuti arah pandangan Tadashi di luar jendela. "Begitu," kata Tadashi setengah melamun. "Kau boleh? Maksudku..." Yoon nyengir. "Boleh," sahutnya langsung. "Ben sedang keluar, jadi aku bisa main sesukaku," ia terpaksa berbohong. Tadashi tak bereaksi. Masih menatap lurus-lurus entah pada apa di luar sana. "Begitu, ya..." Yoon mengangguk pelan. Keduanya sama-sama diam begitu lama. Masing-masing sibuk pada pikiran satu sama lain. "Lukamu bagaimana?" Tanya Tadashi memecah keheningan. Yoon terkesiap. "Luka apa?" Tak mungkin Alice mengatakan yang sebenarnya pada Tadashi. Tadashi berpaling padanya. Menunjuk pelipis Yoon dengan dagunya. "Oh," ia langsung merasa lega. "Akan segera sembuh, bukan masalah besar." Tapi Tadashi memandangnya tak yakin. Yoon nyengir makin lebar. "Jadi kau bisa kapan saja menemui Alice sekarang? Atau hanya saat Ben sibuk?" Senyum Yoon mendadak hilang. "Ya, bisa," gumamnya tak jelas. "Tak apa, senang mendengarnya," raut wajah Tadashi berkata sebaliknya. Yoon mengernyit sambil menggigit bibir. "Nanti setelah Ben tidak salah paham lagi, dia tak akan melarangku, kok. Aku masih bisa menghabiskan sisa waktuku di sini bersama kalian," semoga, Yoon berharap sepenuh hati. Tadashi bergeming. Tak suka mendengar 'sisa waktu', seolah Yoon akan menghilang ditelan bumi atau apa. "Sebelum kau kembali ke Seoul," Tadashi mendapati suaranya jadi begitu serak. "Ayo merayakan halloween bersama." Yoon memandangnya untuk beberapa saat. Ke dalam mata hijau Tadashi yang disadarinya begitu ia rindukan. Ia mengangguk sambil tersenyum. "Okay," ia mengerling menggoda. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari berlalu. Sudut-sudut bibir Tadashi terangkat membentuk lengkungan senyum. Rasanya begitu kaku, mungkin ia sudah hampir lupa cara untuk tersenyum. Setidaknya. Tadashi memandang keluar jendela lagi. Ia bisa mempersiapkan diri dan tidak merasakan kehilangan mendadak seperti beberapa waktu lalu. Setidaknya nanti, ia bisa melihat senyuman Yoon untuk terakhir kali, bukannya melihat ia yang terluka. Tadashi tersenyum lagi dengan perasaan hangat yang perlahan mengaliri seluruh tubuhnya yang dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN