Chapter 25

1096 Kata
Tadashi tersadar dari lamunan mendengar Goto berdeham keras-keras dari meja kerjanya di sudut ruangan. Selalu begitu tiap kali Tadashi tidak sengaja melamun. Yah, bagaimanapun juga sulit menyingkirkan Yoon dari pikirannya. Terlebih kenyataan bahwa ia kini bisa lagi bertemu dengannya. Meski ia tahu pasti hari-hari itu tak akan bertahan lama. Namun untuk saat ini, tidak ada yang lebih Tadashi syukuri dari pada hal itu. Ia mengalihkan pandangan pada jendela di seberang ruangan. Cuaca sore ini cerah dan daun-daun yang berguguran tersapu angin membawa sensasi hangat dalam hati Tadashi. Goto berdeham keras lagi. Ia selalu mengawasi Tadashi sejak ia keluar dari rumah sakit. Seolah Tadashi akan bertindak bodoh lagi hanya karena ia melamun. Meski begitu Tadashi tidak bisa menyalahkan kekhawatiran Goto padanya. Ia menyeret perhatiannya kembali pada pekerjaannya dan menunduk. Seluruh pekerjaannya sudah beres dan ia tidak tahu apa yang perlu ia lakukan lagi. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung-ujung jarinya. Tak bisa menyangkal betapa ia berharap Yoon akan tiba-tiba datang mengejutkannya. Tadashi menghela napas dalam bersamaan dehaman Goto yang didramatisir terdengar lagi. Tadashi mengacuhkannya. Dan kembali sibuk memikirkan Yoon yang tidak menunjukkan tanda-tanda mau memberikan nomor ponsel barunya. Bahkan ia juga tidak repot-repot berusaha meminta nomor ponsel Tadashi. Tentu tak apa. Toh, pada akhirnya nanti ia akan berhenti juga menghubungi Yoon. Tadashi mendesah lelah. Tak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum pasti sanggup ia lakukan. Ia memeriksa arlojinya dan mulai membereskan barang-barang di meja, memasukkan semua ke dalam tas kantornya. Begitu ia bangkit terdengar suara kursi di dorong mendadak dan benar dugaannya. Goto terburu-buru membereskan barang-barangnya dan mengikuti Tadashi. Sementara Tadashi bertukar sapa pada teman-teman kantornya yang lain, Goto sudah separuh jalan mengejarnya. Mereka telah sampai di pintu depan saat tiba-tiba ponsel Goto berdering. Goto menempelkan benda itu di telinga dan mencengkeram kenop pintu menggunakan sebelah tangannya yang lain. Mencegah Tadashi pergi. Tadashi menggulirkan mata padanya dan terpaksa menunggu. Untuk beberapa alasan ia tidak ingin berdebat. "Ya, Alice?" Wajah Goto berseri-seri. Tadashi tidak ingin menguping sebenarnya. Tapi jika yang dibicarakan Alice berkaitan dengan Yoon, ia rasa ia perlu mendengarkan. Goto melepas cengkeramannya dari kenop pintu saat menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti makan malam, tetapi Tadashi bergeming. "Oh, Tadashi juga?" Ia melirik Tadashi dari ujung matanya, seakan tak suka melihat Tadashi di sisinya. Padahal jelas-jelas ia sendiri yang sudah menahan Tadashi di sana. "Oh, begitu?" Raut wajahnya berubah penuh pengertian. "Tentu saja aku mengerti, Alice," ia tersenyum senang dan hubungan terputus. Tadashi baru akan menarik kenop pintu terbuka saat Goto menahannya. "Apa?" "Alice mengundang kita makan malam," senyum Goto melebar nyaris menyeramkan. Sebelah alis Tadashi terangkat heran. "Aku?" Sekejap kemudian ia mengerti, pasti ada Yoon juga. "Ya!" Seru Goto seolah bisa membaca pikiran Tadashi. "Aku tidak yakin apa Yoon bisa memasak, tapi begitulah yang Alice katakan," ia mengayun pintu terbuka. "Semoga saja dia tidak meracuniku," gumamnya sambil lalu. Tadashi mengikuti langkah-langkah panjang Goto. Tergesa-gesa dan tidak sabar menemui Alice. Tadashi tidak bisa tidak tersenyum karenanya. Mereka langsung menuju apartemen Alice dengan mobil masing-masing. Tadashi tak habis pikir ia bisa bertemu Yoon lagi secepat ini. Tentu saja ia tak mengeluh. Justru senang mendapati harapannya menjadi nyata. Perjalanan singkat itu tidak mengusik Tadashi dalam kesibukkannya memikirkan Lee Yoon. Ia membayangkan -setengah merasa geli- apa yang akan Yoon masak untuk mereka. Seumur hidup gadis itu tidak terlalu suka menghabiskan waktu berlama-lama di dapur. Tadashi membanting pintu mobilnya tertutup dan mendongak memandang langit. Ia bertanya-tanya kenapa Alice mengundang mereka sekarang, waktu untuk makan malam masih jauh berjam-jam lagi. Mungkinkah ada sesuatu yang ingin mereka lakukan terlebih dulu? Atau ada sesuatu yang akan ia sampaikan pada Goto dan tidak seharusnya ia mengikutinya. Mengingat Goto tidak memberi instruksi apa pun. Namun kebingungan Tadashi segera terjawab saat Goto memanggilnya. "Melamun lagi, eh?" Katanya. Ia memberi isyarat dengan sebelah tangan agar Tadashi mengikuti. "Mau melamun di sini sampai besok?" Ia bergumam tak jelas. Terkadang Tadashi meyakini Goto masih kesal padanya karna kejadian kemarin itu. Goto berjalan cepat menyusuri lorong, nyaris tergesa-gesa lagi. Sebegitu tidak sabarnya ingin bertemu Alice. Ia merapikan kemejanya dan membenarkan letak jam tanganya. Kemudian berdeham-deham kecil sebelum akhirnya mengetuk pintu. Pintu mengayun terbuka dan Yoon menyambut mereka dengan ceria. Sebelah tangannya menggenggam spatula yang hampir saja mengenai wajah Goto saat ia berseru sambil mengangkat kedua tangan. "Duduklah.. Duduklah," kata Yoon mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamu. Hanya ada sebuah sofa yang diperuntukan untuk dua orang di ruang tamu kecil itu. Lalu sebuah kursi goyang di sisi lain dan sebuah meja kayu bundar yang rendah. Ditambah berbagai macam hiasan seperti vas bunga kering, patung kayu dan yang lainnya. Ruangan mungil itu selalu berhasil membuat siapa pun merasa nyaman. Secara keseluruhan apartemen Alice sebenarnya, Tadashi meralat. Ia dan Goto duduk berdesakan di sofa itu. Mengingat betapa besarnya tubuh mereka. Goto tak terlihat keberatan sama sekali. Matanya yang berbinar cerah menatap ke dalam ruangan. Berkilat tak sabar menunggu Alice keluar. Beberapa menit berlalu Yoon kembali. Membawa sebuah penampan kayu mengkilat dengan dua buah cangkir porselen bermotif bunga di atasnya. "Di mana Alice?" Tanya Goto saat Yoon menaruh cangkir-cangkir itu di meja. "Di dalam tentu saja." "Sebenarnya apa yang kalian lakukan?" "Membuat perayaan kecil untuk Tadashi, dia baru keluar dari rumah sakit," Yoon memberitahu Goto seolah Goto tidak mengetahui fakta itu. Tadashi tersenyum senang tapi Goto memberengut. Terdengar suara sebuah benda jatuh menghantam lantai dan Goto melompat berdiri. "Apa yang terjadi?" Ia melotot pada Yoon yang balik menyipit padanya. "Tunggu saja," ia menyibakkan rambutnya dan berlalu. Goto mengacuhkannya dan mengikuti. Tadashi memiliki firasat buruk dan ikut bangkit juga. "Kau tunggu saja di luar," Yoon berkata saat mereka menyeberangi ruangan tengah menuju dapur. "Aku bisa membantu." Yoon memandangnya tak yakin dan setengah meremehkan. Goto mendecak. "Seperti kau bisa memasak saja." "Aku bisa! Aku pintar membuat kue." Tadashi tahu itu benar. Yoon memang tidak terlalu baik dan tidak suka memasak pada umumnya. Tapi dulu ia selalu membuat kue sendiri untuk ulang tahun mendiang kakeknya, kakek Lee. "Ada apa, Alice?" Tanya Yoon begitu ia memasuki dapur. Alice mendongak, raut wajahnya terlihat kebingungan. "Sepertinya aku menjatuhkan mangkuk lagi." "Oh, tak apa biar aku ambil," Yoon berjongkok di balik konter dan kembali dengan sebuah mangkuk. "Hai, Alice," Goto menyapa seolah tak ada yang terjadi. Alice tersenyum ramah seperti biasanya. "Kau akan memasak apa?" Goto melongok ke konter dan mengerut kecewa. Benar-benar berantakan sekali, tapi ia buru-buru mengenyahkan kekecawaan itu dan tersenyum lagi. "Kami akan membuat omelet dan spaghetti bolognese meatballs," ujar Yoon penuh semangat. Goto menatapnya dengan ekspresi 'aku tidak tanya kau' dengan bibir mengerucut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN