Chapter 26

1275 Kata
Tadashi memandang menerawang pada kekacauan di konter. Ia tidak yakin kapan omelet bisa cocok dipasangkan dengan spaghetti. "Kalau begitu aku akan membantu," Goto menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku. "Aku juga." "Tidak!" Kata Yoon, Goto dan Alice bersamaan. Tadashi membeku dibuatnya, ia baru setengah jalan melipat lengan kemejanya. Yoon menggeleng keras. "Kau baru sembuh, Tadashi. Istirahatlah," ia berjalan memutari konter dan mendorong Tadashi agar duduk di meja makan. "Di mana tehmu?" Ia menatap Tadashi dengan mata membelalak. Bukankah Yoon sendiri yang meletakkannya di meja ruang tamu? "Oh, benar," Yoon menjawab pertanyaannya sendiri dan berlalu. Dalam sekejap ia kembali membawa cangkir teh Tadashi, meninggalkan yang satunya milik Goto. Goto tidak ambil pusing dan mulai membantu Alice dengan segala sesuatunya. Yang nampaknya Alice lebih suka jika dibiarkan mengerjakan tugasnya sendiri. "Minumlah," Yoon memberi instruksi padanya. Tadashi menurut dan langsung minum. "Aku tidak terlalu pandai membuat omelet," ia mengedikkan bahu. "Tapi Alice pandai sekali!" Ia berseru bangga. "Semoga saja Goto tidak merecokinya," ia berlalu lagi meninggalkan Tadashi. Aneh rasanya membiarkan orang-orang yang biasanya ia masakkan memasak untuk dirinya. Baru beberapa menit berlalu mereka sudah ribut sekali. Sekarang Alice jadi kebingungan. Tadashi tidak bisa diam saja membiarkan kekacauan ini. Tapi lagi-lagi mereka bertiga dengan kompaknya berkata tidak. Tadashi terpaksa mengempaskan tubuhnya kembali ke kursi. Memerhatikan Yoon yang tidak berhenti mendebat segala hal yang Goto lakukan. "Nah, ini baru benar," Yoon menyingkirkan benda-benda tak terpakai di konter dan mengeluarkan sebuah pisau yang berkilat berbahaya. Tadashi langsung melompat berdiri. "Biar aku saja!" Kata Tadashi dengan nada mendesak yang kentara dalam suaranya. "Tidak!" Mereka berseru kompak lagi. Tadashi mendekat ke konter dan menatap Yoon lekat. "Kalau begitu, setidaknya biarkan aku memberi instruksi," pintanya. Sesaat Goto dan Yoon saling pandang. Lalu sadar mereka tidak memiliki pilihan lain dan mengangguk setuju. Yoon mulai mencincang bawang bombaynya. Tadashi menasehati potongannya terlalu besar. Tapi segera saja menyesal karna berkali-kali Yoon akan mengiris jarinya sendiri. Sementara itu Goto mengurus daging dan Alice sibuk dengan omeletnya. Pada akhirnya hasil yang mereka harapkan begitu jauh dari ekspetasi. Spaghettinya terlalu matang dan saus bolognesenya mengeluarkan aroma gosong yang menyengat. Lalu Goto tidak sengaja menyenggol sebuah botol merica dan menumpahkan seluruh isinya pada omelet Alice. Satu-satunya masakan yang berhasil. Goto terus-terusan meminta maaf. Alice tersenyum dan tidak masalah dnegan itu. Ia justru merasa lebih tidak enak karna Goto tidak hentinya merengek. Yoon mengernyit dan jelas kecewa sekali. "Tak apa, aku akan memakannya. Ini spesial masakanmu," kata Tadashi sepenuh hati. Yoon langsung menjauhkan spaghettinya dari jangkaun Tadashi. "Aku ingin merayakan kepulanganmu, bukan mengirimmu kembali ke rumah sakit," keluhnya. Tadashi menarik kerah belakang Goto agar menjauh dari Alice dan nemberinya isyarat untuk diam. Goto diam, agaknya akan menangis saking merasa bersalahnya. "Kalau begitu kita masih bisa memesan makanan, karna kalian tidak mengijinkanku memasak tentunya," ia memandang Alice, Goto dan Yoon bergantian. "Tentu tidak," desah Yoon, masih kecewa sekali. "Tapi.. Ya.. Tak ada pilihan lain." "Baiklah, kalian ingin makan apa?" Goto memandang Alice. "Steak," sahut Yoon langsung. Tadashi nyengir, jelas Goto tak akan setuju. Jadi ia memutuskan akan membuatkan Yoon steak nanti. Mendadak ia tersadar. Nanti itu kapan? Ia meringis menyakitkan. Setengah jam setelahnya mereka makan dengan perasaan lebih menyenangkan. Sebagai ganti steak Yoon memilih pizza dan Alice menyetujuinya. Goto yang awalnya tak setuju lagi -ia berharap Alice yang memilih lebih dulu- akhirnya setuju. Obrolan mereka tak tentu arah. Tak ada tujuan pasti. Tapi Tadashi mendapati dirinya merasa ringan. Terlebih melihat Yoon yang berceloteh riang di sisinya dengan mata berbinar cerah. Membuat Tadashi merasakan sensasi hangat yang menenangkan. Ia memindah sepotong pizza dari piringnya ke piring Yoon. Yoon berhenti berbicara dan memandangnya heran. "Aku tak bisa makan banyak," Tadashi tersenyum lebar. Yoon mengangguk-angguk senang. "Tapi setelah ini kau harus makan lebih banyak lagi." Tadashi mengangguk pasti. "Ngomong-ngomong, kau bisa bebas datang ke sini, memangnya si Ben itu tidak melarangmu?" Goto tidak bersusah payah untuk menyembunyikan ketidaksukaannya pada saat menyebut nama Ben. Tadashi mengernyit. Berharap Goto tidak menanyakan hal itu. Alice yang duduk di sebelahnya nampaknya juga mengharapkan hal yang sama. Tanpa diduga-duga Yoon nyengir seceria sebelumnya. "Ben pergi, urusan bisnis," ia mengedikkan bahu seolah itu bukan masalah besar. "Tak tahu kapan kembalinya," ia melanjutkan dengan mulut penuh sehingga ucapannya terdengar tak lebih dari gumaman yang tak jelas. Goto mengangkat bahu acuh. Tadashi berpaling memandang Yoon lagi. Yang sesaat diyakininya meredup sedih. "Oh, ya, aku belum pernah merayakan halloween sebelumnya. Aku rasa, jika kalian mau bisakah kita merayakannya bersama-sama?" Kata Alice yang jelas berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Tadashi merasa sesuatu bergejolak dalam perutnya. Halloween. Ia jelas tak bisa lupa. Hari sesudah itu, Yoon akan kembali ke Seoul. Yoon mengangkat wajahnya memandang Alice dengan tampang serius. "Hei, benar," lagaknya ia baru saja mengingat sesuatu. "Ide bagus, Alice!" Ia berseru keras membuat Goto tersedak. Alice tersenyum padanya sekaligus menepuk-nepuk punggung Goto dengan lembut. Tadashi bergeming. Melirik Yoon dengan ujung matanya, bertanya-tanya ucapan Yoon tadi apakah pertanda jawaban ia setuju menghabiskan waktu helloween bersama mereka. Lalu bagaimana dengan Ben? Hal itu rasanya begitu mustahil. Waktu berlalu cepat dan tak ada pembahasan lagi mengenai Ben. Tadashi -dengan sedikit ragu- menawarkan Yoon untuk mengantarnya. Sekali lagi ia cukup terkejut Yoon tidak keberatan. Kalau begitu, sudah dipastikan Ben tidak ada di New York sekarang. Atau setidaknya berada di tempat cukup jauh dari apartemen mereka. "Kau tahu," kata Yoon setelah mobil melaju dan ia selesai melambaikan tangan dengan bersemangat pada Alice dan Goto. "Aku baru ingat dulu pernah merencanakan sesuatu untuk Alice." Tadashi melirik sekilas padanya. "Rencana apa?" Yoon menghela napas setengah terdengar sedih. "Alice mengatakan padaku bahwa aku adalah teman pertamanya. Dan dari sejauh yang aku tahu, keluarga Alice sengaja mengasingkan dia," Yoon mendesah lagi, kali ini jelas terdengar sedih. "Karena itu aku berpikir ingin mengajak kalian -kau dan Goto- untuk berteman dengan Alice lalu membuat acara sederhana semacam tadi. Semata-mata untuk membuat Alice tidak merasa kesepian lagi." Tadashi mendengarkan sepenuh hati, meski perhatiannya terbagi pada jalanan di depan. "Tapi sekarang malah Alice duluan yang mengajakku membuat rencana ini," Yoon memberengut kecewa pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa membayangkan," ia memandang jauh ke depan dengan tatapan menerawang. "Bagaimana rasanya hidup sendirian seumur hidupmu. Kesepian itu sangat tidak menyenangkan Tadashi." Fakta bahwa ungkapan itu berasal dari apa yang Yoon rasakan sendiri membuat hati Tadashi serasa perih. Meski bagaimanapun juga ia tahu, Yoon lah yang memilih hal itu sendiri. "Aku sempat merencanakan bersepeda bersama-sama di Brooklyn Bridge!" Tiba-tiba Yoon berseru ceria lagi. "Seperti yang kita lakukan dulu Tadashi," ia menatap Tadashi berseri-seri. Sesaat Tadashi yakin tak bisa mengalihkan perhatiannya lagi pada apa pun selain gadis itu. Tapi Yoon buru-buru mengomel karna Tadashi tidak fokus menyetir. Tadashi tertawa kecil sebagai gantinya. "Aku senang jika kita bisa melakukannya lagi." Hening sejenak. Yoon tersenyum sambil menundukkan pandangan. Tadashi tak mengerti apa yang salah dari ucapannya. Meski tetap tersenyum begitu Tadashi tahu benar ada kesedihan yang Yoon sembunyikan. "Tadashi," ia berkata ragu. "Untuk saat ini aku belum bisa menghubungimu lagi, maksudku sampai Ben mengerti-" "Tak apa," kata Tadashi sebelum Yoon sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak ingin mendengar nama Ben disebut-sebut lagi. "Oh," Yoon menjatuhkan pandangannya lagi dan sibuk memainkan ujung gaunnya. Akhir dari perjalanan ini berakhir. Salah satu hal yang paling tidak diingkan Tadashi sebenarnya. Yoon tersenyum untuk terakhir kali dan melambaikan tangan ketika Tadashi memutar mobilnya dan pergi. Tadashi termenung. Ia senang Yoon merencanakan menghabiskan waktu bersamanya, meski bersama Alice dan Goto juga ia tidak masalah. Tapi menghadapi kenyataan bahwa lagi-lagi Yoon bergantung pada apa yang Ben perintahkan membuat Tadashi merasa jengkel. Ia belum pernah terbiasa dengan itu. Setidaknya, ia berharap dengan putus asa. Di saat-saat terakhir ini ia bisa terbiasa dengan semua hal memuakkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN