Chapter 15

1190 Kata
"Bagaimana dengan yang ini?" Yoon menunjukkan gaun biru pada layar ponselnya. Saat ini ia sedang melakukan panggilan video dengan Sua. Meminta Sua menemaminya belanja sambil menunggu Tadashi datang. Laki-laki itu dalam perjalan menuju ke mari, langsung dari kantornya. Sebenarnya Tadashi meminta ia untuk menunggu. Tetapi Yoon ingin datang lebih dulu, ia sudah tidak sabar. Ia juga sudah memilih beberapa setelan jas untuk Tadashi. "Coba pilih gaun berwarna merah, mungkin itu cocok untuk acara formal macam itu," usul Sua. Yoon mengangguk setuju. Lantas berpindah ke sisi rak lain yang memajang gaun-gaun berwarna merah. "Mana yang bagus?" Yoon mengarahkan layar ponsel pada gaun-gaun itu. "Ish, kau, kan, bisa menggunakan kamera belakang." "Oh, benar," Yoon terkekeh karna kebodohannya sendiri. "Ah, coba itu! Gaun nomor dua dari sebelah kiri." Tanpa bertanya dua kali Yoon meluncur ke tempat yang Sua maksud. Mengambil sebuah gaun dan segera menunjukkannya pada Sua. Dalam layar ponsel Sua terlihat menimbang-nimbang. Setelah beberapa saat ia menggeleng. "Coba yang lain." Yoon mengembalikan gaun tadi ke tempat semula. "Aku ingin terlihat lebih dewasa. Kau tahu, sejenis gaun bodycon kurasa bagus." "Lumayan juga, coba saja tanyakan pada pelayan tokonya." Yoon mengangguk setuju dan bertanya pada seorang pelayan terdekat. Ia pun menunjukkan tempat Yoon bisa menemukan gaun sejenis itu. Begitu sampai di sana ia bergumam takjub. "Kau lihat? Semuanya terlihat bagus, aku sampai bingung harus memilih yang mana. Oh! Lihat yang di sana, Sua! Lihat... Lihat..." Yoon menunjuk sebuah bodycon dress berwarna hitam. Dengan panjang di atas lutut dan bahu yang terbuka. "Pilihan yang bagus!" Sua berseru. "Aku akan mencobanya sebelum Tadashi datang. Aku berfirasat dia tidak akan mengijinkanku memakai gaun semacam ini," selesai bicara begitu ia benar-benar mencoba gaunnya tanpa memutus hubungan. Dan memutuskan untuk membelinya saat itu juga. Tadashi datang tepat saat Yoon mengakhiri hubungan dengan Sua. Dalam sedetik saja laki-laki itu sudah memandangnya curiga. "Kau lama sekali, Tadashi," Yoon berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kau sendiri yang bersikeras datang lebih dulu. Jadi bagaimana? Gaunmu?" Yoon tidak langsung menjawab. "Mmm, itu sudah kuurus. Sekarang kita membeli setelan jas untukmu, aku juga sudah memilihkan beberapa. Ayo!" Ajaknya penuh semangat. "Tidak, tidak, aku sudah memilikinya di rumah. Beli gaun untukmu saja. Lagipula aku jarang berpakaian formal." Yoon memberengut. "Mana bisa begitu, aku sudah mendedikasikan waktuku yang berharga memilih setelan jas yang terbaik untukmu," ia menarik lengan Tadashi secara paksa. Tadashi tidak memiliki jawaban lain lagi selain menurut. Ia tipe orang yang tidak terlalu memerhatikan penampilan, berbanding terbalik dengan Yoon. Akhirnya selama beberapa waktu yang Tadashi rasa berabad-abad ia membiarkan dirinya dibawa ke sana ke mari, mencoba ini dan itu sampai Yoon puas. Setelah sekian lama dan ia nyaris yakin akan mati karena bosan akhirnya Yoon berhenti. Mendudukan ia pada sebuah kursi. Dibantu oleh seorang pelayan membawa beberapa setelan jas sekaligus. "Bangun, Tadashi," perintahnya sok serius. Tadashi mendecak dan bangun dengan malas. Yoon mesti berjinjit untuk menyesuaikan pakaian itu pada Tadashi. "Nah, yang ini cocok dengan gaunku," ujarnya. Tadashi merasa begitu lega. Akhirnya berakhir juga. "Sekarang coba ini di ruang ganti, aku ingin melihatnya." Tadashi menghela napas tanpa tenaga. "Tidak perlu, aku setuju dengan yang ini. Jadi langsung saja." "Mana bisa begitu, kita harus memastikannya dengan teliti." Baiklah. Tadashi terpaksa menurut lagi. Dengan harapan setelah ini semuanya selesai dan ia bisa pergi. Yoon tersenyum senang melihatnya memakai setelan jas itu. "Seleraku memang bagus, cocok dengan gaunku." Tadashi mendadak teringat. "Benar, seperti apa gaunmu?" Senyum Yoon mendadak hilang. Ia jadi sedikit gugup. "Gaunku sempurna tentu saja, aku dan Sua yang memilihnya. Sudahlah, ayo cepat." Meski agak mencurigainya Tadashi menurut saja. Toh, ia bisa keluar juga dari tempat membosankan itu. "Jadi setelah ini kita akan ke mana?" "Membeli sepatu lalu ke salon untuk menata rambutku. Aku ingin membuat rambutku bergelombang sedikit di ujungnya, lalu memakai hairpin polos kurasa cantik juga. Ah, sepatu silver pasti bagus dipadukan dengan gaun hitam, bagaimana menurutmu Tadashi?" Tadashi merasa pusing. Tidak mengerti apa yang dibicarakan Yoon. "Mm, baiklah," sahutnya linglung. "Tadashi, kenapa kau terlihat bingung begitu?" Tadashi bergeming. Yah, kali ini akan menjadi sore yang cukup panjang. *** Tadashi terperangah ketika melihat Yoon keluar dari salon. Ia menunggu begitu lama dan berkali-kali berpikir ia akan terlambat datang ke acara ulang tahun bosnya. Yoon terlihat luar biasa cantik. Ia memakai gaun hitam yang membalut ketat tubuhnya, dengan bahu terbuka dan lengan panjang. Ia akui ia memang sangat takjub, tapi segera saja menyadari pakaian Yoon terlalu terbuka. Ia terlihat terlalu dewasa. Meski Tadashi sadar benar Yoon bukan anak-anak lagi. Tetapi ia tidak suka melihat para laki-laki yang memandang Yoon dengan pandangan menjijikan itu. Tadashi agak takut saat Yoon mulai melangkah. Ia memakai sepatu berhak yang runcing sekali, takut gadis itu akan jatuh. Tapi langsung teringat Yoon biasa memakai boot berhak tinggi juga. "Ada apa dengan wajahmu itu?" Yoon memandangnya kecewa. Jelas sekali ia berharap Tadashi akan memujinya. "Kau memang terlihat bagus dengan semua ini, tapi pakaianmu terlalu terbuka." Yoon memberengut. "Aku sudah mendedikasikan hidupku untuk gaun ini," ia terlihat seolah akan menangis. Tadashi tidak tega melihatnya begitu kecewa. "Kau cantik, Yoon, sungguh. Tapi," sulit sekali untuk mengalihkan pandangan dari bagian atas tubuh Yoon yang terbuka. "Ini terlalu terbuka. Orang-orang akan memandangmu dengan tatapan m***m, itu menjijikan." "Kau yang memandangku begitu." Tadashi langsung terhenyak. "Apa? Eh? Aku tidak bermaksud begitu..." Yoon masih memberengut. Tadashi sudah kehabisan kata-kata. "Begini saja, pakai coatmu sepanjang perjalan ke mobil. Kau bisa melepasnya saat kita sampai." Yoon tersenyum dan mengangguk setuju. Tadashi memutuskan akan langsung pulang ketika sampai di acara ulang tahun bosnya, ia akan membuat alasan sakit perut atau apa pun. Bukannya ia ingin merusak kebahagiaan Yoon. Ia hanya tidak rela saja. Ah, tiba-tiba ia teringat Benedict Carl yang jelas bisa bersikap seenaknya pada Yoon, kan? Sakit sekali. "Tadashi? Ada apa? Kenapa kau terlihat seperti menahan sakit begitu? Kau baik-baik saja?" Tadashi langsung tersadar karna serangan pertanyaan itu. "Aku baik-baik saja." "Jika kau sakit jangan memaksakan diri untuk datang." Tadashi bergeming. Sungguh? Setelah semua yang Yoon lakukan dengan mudahnya bicara begitu? Tidak kecewa kah ia? Tadashi jadi merasa bersalah sudah berencana membohongi gadis itu padahal ia begitu tulus padanya. "Lalu kau bagaimana?" "Aku bisa pergi bersama Goto," ia tersenyum lebar. Hati Tadashi langsung tertusuk rasanya. "Bercanda," Yoon tertawa kecil. "Jika kau sakit aku akan merawatmu," Yoon menyandarkan diri dan memandang lurus sambil tersenyum. Tadashi membeku sesaat. Ia senang mendengarnya. Lantas tanpa pikir panjang lagi menyalakan mobil dan pergi. Tak butuh waktu lama untuk sampai di hotel mewah yang disewa bosnya. Ketika sampai di pintu masuk mereka berpapasan dengan Goto yang langsung histeris. Merasa dikhianati karna Tadashi pergi bersama Yoon sedangkan ia sendirian. "Itulah kenapa aku selalu mengatakan agar kau bergerak lebih cepat mendekati Alice, karna mungkin saja kau bisa mengajaknya sekarang," ujar Yoon, tak membuat Goto merasa lebih baik sama sekali. Ia tersenyum. Mungkin malam ini akan menjadi malam yang panjang. Yoon terlihat bahagia. Mana mungkin ia bisa merusak senyum itu di wajah cantiknya. Hanya saja ia akan memastikan Yoon tidak melepas coatnya. Sepanjang malam itu juga ia selalu mengawasi orang-orang yang berusaha mendekati Yoon. Selalu memberi mereka tatapan layaknya seorang pembunuh yang siap menyerang mereka kapan saja. Dan sebisa mungkin selalu berada di sisi gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN