Chapter 14

1430 Kata
Yoon berniat datang ke apartemen karena tidak sabar menunjukkan daun laminating yang ia buat sendiri. Meski di lain sisi ia masih sedih karena keadaan Alice. Namun begitu sampai di apartemen Tadashi, yang ia temui malah Goto yang tidur menelungkup di sofa. Terlihat seperti seseorang yang sudah tidak memiliki niat untuk hidup. Yoon berjalan melewatinya tanpa dosa sambil memanggil Tadashi. Saat itu ia sedang berada di dapur. Tadashi langsung mengangkat wajah. "Hei, Yoon!" "Eh?" Langkah Yoon terhenti tepat di depan konter, memutar kepala memandang Goto. "Apa?" "Kau benar-benar tidak merasa bersalah, ya?" Yoon mengernyit. "Tadashi, Goto mabuk, ya?" "Dia mabuk karna jus buatanku, kau mau?" Tadashi menyodorkan sebuah gelas berisi jus alpukat ke konter. "Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" Keluh Yoon dengan suara berbisik. Goto mendadak bangkit. Membuat Tadashi dan Yoon ikut tersentak. "Bagaimana bisa kau tidak merasa bersalah setelah yang kau lakukan padaku? Kau mengatakan akan ke Central Park juga tapi saat aku datang kalian tidak ada dan aku dikatai gila." Mulut Yoon membentuk huruf o yang lucu. "Itu..." Ia nyengir sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Aku lupa memberitahumu, hari ini Alice mengajakku ke apartemennya untuk membuatkan ini," Yoon menunjukkan daun laminating itu dengan bangga pada Tadashi. "KAU KE APARTEMENNYA?!" Yoon langsung menutup telinga. "Dan juga, bagaimana bisa kau terus lupa memberitahuku? Apa jangan-jangan dugaanku benar selama ini? Alice memang tidak menyukaiku, kan?" Tadashi menggelengkan kepala dan menghela napas lelah. Mata Yoon menyipit. "Kau ini bicara apa, sih?" Goto tidak menghiraukannya dan menjatuhkan diri ke sofa lagi. Kali ini dengan posisi telentang. "Aku benar-benar meminta maaf karna lupa memberitahumu, tapi sebagai gantinya aku akan mengajakmu berkunjung ke apartemen Alice." Goto tersentak. "Benarkah?" Yoon mengangguk. "Kenapa? Kapan?" Ia menghampiri Yoon dengan penuh semangat. Menyerangnya dengan begitu banyak pertanyaan. Tadashi berjalan memutari konter. Lantas berhenti di sisi Yoon dan mendorong Goto menjauh. "Tenangkan dirimu sedikit, kau ini seperti seseorang yang belum pernah berkencan saja." Wajah Goto memerah. Tadashi terkesiap. "Sungguh? Bahkan sekali pun?" "Hei, Tadashi, kau juga sama saja denganku!" Goto tidak mau kalah. Berusaha menutupi kegugupannya. Yoon mendesis. "Bagaimana bisa aku berkumpul dengan orang menyedihkan macam kalian." Goto dan Tadashi langsung terdiam. Seolah kata-kata itu langsung menusuk ke jantung mereka. Begitu tepat sasaran dan sakit sekali. "Oh, ya, Tadashi. Aku datang untuk mengambil gambarku. Dan juga," Yoon memberikan daun laminating itu pada Tadashi. "Aku menepati janjiku," ia tersenyum simpul. "Kau tidak membuatkan untukku juga?" Goto menunjuk diri sendiri. "Aku lupa, tapi mungkin suatu saat Alice akan membuatkannya untukmu. Asalkan kau berhenti bicara omong kosong dan mengambik tindakan yang benar untuk mendekati Alice," jeda sejenak. "Oh! Dan karna Alice telah menjadi sahabatku sekarang, aku juga berkewajiban untuk melindunginya, jadi aku harus memastikan hanya orang-orang baik yang bisa mendekatinya." Senyum penuh harapan Goto menghilang seketika. "Kau jahat sekali." "Baiklah, kalau begitu bantu aku menyiapkan makan malam," ujar Tadashi sambil lalu. Goto mengernyit heran, mengikutinya. "Ada apa? Kenapa mendadak kau terlihat senang sekali?" Yoon memerhatikan mereka dengan pandangan senang. Mendudukan diri di balik konter dan meminum jus buatan Tadashi. "Hei, Yoon kenapa kau tidak ikut membantu Tadashi?" Goto berseru dari sisi lain konter. Yoon tersenyum santai. "Aku bantu dengan doa." "Kau ini benar-benar," ia berbalik pada Tadashi. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa kau bertahan dengannya begitu lama." Yoon tidak ambil pusing dengan segala ocehan Goto sepanjang acara masak memasak itu. Ia senang sudah menepati janji. Ia senang karna jus buatan Tadashi ini enak sekali. Jadi sekarang ia hanya tinggal memikirkan cara untuk membuat suatu acara agar mereka bisa berkunjung ke apartemen Alice. Yoon mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada dagu. Atau mungkin mengajak Alice keluar saja? Akan sulit, kan, tiba-tiba membawa mereka datang. Tetapi jika keluar ia bisa membuat alasan, entah karna pesta ulang tahun salah satu dari mereka atau apa. Yah, meski mungkin terpaksa membuatnya berbohong, karna Yoon tahu pesta ulang tahun dirinya mau pun Tadashi masih lama. Pokoknya apa pun itu, yang terpenting ia bisa membantu Alice agar tidak merasa sendirian lagi. Dan meski Goto banyak omong dan bodoh, tapi Yoon lumayan yakin perasaan Goto pada Alice tulus. Jika pada akhirnya mereka bisa bersama. Yoon harap Goto bisa menjaga Alice dengan baik. Memastikan ia tidak merasa sendirian dan kesepian lagi Yoon menunduk sedih. Harapan yang sama yang ia harapkan terjadi pada dirinya. Pada Benedict Carl. *** Biasanya Tadashi tidak membiarkan Yoon ikut membantunya. Jelas ia tidak ingin Yoon terluka karna gadis itu cukup ceroboh. Tetapi kali ini ia membiarkannya membantu Goto menata piring di meja. Sudah selama ini Goto masih mengomel saja. Mirip sekali dengan Yoon. Mereka bergantian mengomel satu sama lain. Akhirnya setelah makan malam dimulai keduanya jadi lebih tenang. Tadashi hanya tersenyum, senang sikap keduanya cukup menghibur dirinya. "Ah, aku baru ingat. Pesta ulang tahun bos tinggal dua hari lagi, ya?" Ia menghela napas lelah. Seolah menanggung beban paling berat di dunia. "Rasanya aku tidak ingin ikut saja." Yoon memandang Goto dan Tadashi yang tidak bereaksi, bergantian. Matanya membulat penasaran. "Kenapa?" Tanyanya dengan mulut penuh. "Karena semua orang membawa pasangan." Yoon mengerjap. Langsung mengerti. "Kalian memang menyedihkan." Beberapa hari terakhir Tadashi juga memikirkan tentang undangan pesta ulang tahun bosnya. Ia merasa tidak enak sempat berpikir untuk mengajak Yoon. Ia takut Yoon berpikir aneh tentangnya. Ia takut hubungan mereka yang sudah bertahan begitu lama akan berubah karna keegoisannya ini. "Ish, setidaknya berikanlah dukungan untuk kami." "Itu salahmu sendiri, kenapa perkembanganmu begitu lama," ujar Yoon tidak mau disalahkan. "Jangan berdebat saat makan," nasihat Tadashi. Membuat Goto yang baru membuka mulut terpaksa menahan apa pun yang ingin dikatakannya. "Lalu kau akan mengajak siapa nanti?" Tadashi sontak berhenti menambahkan sosis pada piring Yoon. Mengangkat wajah menatap Goto yang memandangnya tanpa dosa. Yoon langsung menyadari ketegangan itu dan menyeringai lebar. "Goto, cuci piringnya setelah ini." "Apa? Kenapa?" Yoon cekikikan di sampingnya. "Kau juga, Yoon. Jangan ada pertanyaan lagi." Yoon terkesiap. "Apa? Kenapa aku juga? Ini semua salah Goto, kenapa aku ikut disalahkan? Tadashi..." ia mulai merengek. "Apa maksudnya salahku?" Tadashi bergeming sementara keduanya terus bertengkar. Bahkan selama mencuci piring pun mereka masih terus bertengkar. Tadashi cukup takjub dengan kemampuan mereka bicara tanpa lelah. Dan tentu, ia tidak mungkin membiarkan Yoon tanpa pengawasan. Ia memastikan Yoon menggunakan sarung tangan khusus untuk mencuci piring. Gadis itu berkali-kali merengek padanya. Lucu sekali. Akhirnya setelah perdebatan panjang selesai juga. Mereka berdua menghabiskan waktu dua kali lebih lama dibanding Tadashi saat mencuci piring. Karna malam makin larut dan Goto memiliki peraturan malam dari sang ibu, ia pun pamit pulang. Ia dan Yoon mengantarnya sampai pintu apartemen. "Jadi, kenapa kau tidak ikut pulang? Yoon nyengir. Lalu sambil tersenyum simpul mengulurkan tangan. "Gambarku?" Tadashi tidak bisa tidak ikut tersenyum. Ia pun berbalik menuju meja kerjanya. Mengambil sebuah kotak berwarna silver dan memberikannya pada Yoon. Awalnya Yoon bingung tapi tetap menerimanya. Namun setelah membuka kotak itu ia memekik senang. "Astaga, Tadashi! Ini indah sekali..." Berkali-kali ia mengusap kaca bingkai yang berisi gambar dirinya. "Aku sampai ingin menangis," padahal ia tersenyum begitu lebar. Tadashi merasa begitu puas. Bahagia. Senyuman Yoon sangat berarti baginya. Dan melihat dengan kedua matanya sendiri Yoon bahagia karna dirinya adalah kebahagiaan yang tak terbayarkan. "Yoon, apa kau mau datang ke pesta ulang tahun bosku bersama-" Tadashi langsung tersadar. Apa-apaan ini. Kenapa ia tiba-tiba bertanya begini?! Yoon mengangguk sambil tersenyum senang. "Lagipula aku punya banyak waktu luang." Seluruh ketegangan yang menguasai tubuh Tadashi perlahan menghilang. Digantikan perasaan aneh yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat daripada biasanya. Yoon mengalihkan pandangan dari gambarnya memandang Tadashi yang diam saja. Wajah Yoon berubah seketika. "Tadashi, kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam?" Tadashi tercekat. "Ti, tidak," ia segera membuang muka. Mengusap wajahnya yang memanas. "Sungguh?" Tadashi mengangguk. "Karna sudah malam aku akan mengantarmu pulang." "Apa? Kenapa? Aku bahkan bisa bebas tidur di sini semauku," serunya, terus berusaha memandang wajah Tadashi yang terus menghindar. "Aku tidak akan meninggalkanmu jika kau sakit! Kau tidak bisa memaksaku pergi." Tadashi menghela napas kalah. "Aku tidak sakit." Yoon memasang raut wajah serius dan galak. Ia ingin memastikannya sendiri. Tadashi tahu itu. Lantas tanpa diminta ia membungkukkan badan. Yoon mengangkat sebelah tangan memeriksa kening Tadashi. Sejenak berpikir. "Benar, kau tidak demam. Lalu kenapa?" Ia memandang Tadashi lekat. Tadashi langsung menjauh. Sebisa mungkin menghindari kemungkinan wajahnya bertambah merah. "Apa jangan-jangan kau salah makan? Kau alergi pada sesuatu, Tadashi?" Yoon terkesiap. "Tadashi, kita harus segera memeriksakanmu!" Ia menarik lengan Tadashi. Mau sekeras apa pun usaha Yoon menyeretnya tentu tidak akan berhasil. Tubuh Tadashi jauh lebih besar darinya. Akhirnya Tadashi menahan kening Yoon. Gadis itu langsung berhenti bergerak. "Apa?" Tanyanya galak. "Aku baik-baik saja, Yoon," Tadashi senang Yoon mencemaskannya. Tapi ia tidak ingin membuat gadis itu mencemaskannya lebih jauh lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN