Fakta

1289 Kata
Faktanya, kebanyakan cowok emang lebih tertarik sama cewek yang gendut. Dadanya. -Undefinable- Suasana di area kolam renang mendadak sepi. Padahal hari ini adalah jadwal latihan. Karena pelatih renang SMA Adhyastha yang tiba-tiba tidak bisa datang dikarenakan sedang berada di luar kota, ekstrakurikuler renang hari ini diliburkan. Sebagian anggota mungkin menganggap ini suatu keberuntungan karena mereka bisa beristirahat di rumah. Tapi tidak dengan Shafa, ia justru uring-uringan karena hal itu. Saat ini Shafa sedang berada di tepi kolam renang lengkap dengan seragam putih abu-abu yang masih melekat di tubuhnya. Ujung kaki hingga lutut ia masukkan ke dalam air, jari-jari kakinya bermain disana. Di samping kolam renang terdapat loker untuk penyimpanan barang milik anggota klub renang. Fabian, Arsen dan Caca sedang bersandar disana sambil menatap Shafa yang dari sekitar setengah jam lalu tak kunjung berhenti merendam kakinya di air. Jika kalian bertanya bagaimana bisa mereka berada di area kolam renang di saat ekstrakurikuler renang sedang di liburkan? Fabian tersenyum jahil, kunci ajaibnya berguna disaat-saat seperti ini. Setelah pengumuman dari guru pembimbing yang menyatakan bahwa hari ini ekskul renang di liburkan, Shafa adalah orang pertama yang menyatakan protes. Ia ingin latihan seperti biasanya. Tapi alasan dari pelatih membuat Shafa tak bisa berkutik. Demi mewujudkan keinginan Shafa. Fabian menggunakan kunci ajaib serbaguna miliknya untuk membuka gedung olahraga. Arsen dan Caca yang bukan merupakan anggota klub renang juga ikut masuk ke area kolam renang dengan alasan tidak punya kerjaan. Arsen menepuk pundak Fabian, "Sampe kapan Shafa kayak gitu? Dia nggak takut kena kutu air?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Arsen ketika dirinya merasa jengah melihat Shafa dari tadi merendam kakinya di air kolam. Fabian menghendikkan bahunya, "Nggak bakal. Gue pernah nungguin Shafa kayak gini sampe dua jam. Biarin aja dia dulu. Lagian, Shafa suka sama aroma air kolam." Arsen melotot, "Nggak bermutu. Ngapain suka sama aroma air kolam? Bisa aja, itu air udah bercampur sama kencing orang." Caca menoyor kepala Arsen, "Kencing lo kali, Sen." "Hehe, Caca. Tau aja." sahut Arsen. Tangannya merangkul pundak Caca. "Singkirin tangan lo sekarang atau gue patahin?" Arsen segera menyingkirkan tangannya dari pundak cewek berambut pirang alami itu, "Duh, Caca. Kalo lagi marah tambah cantik aja." "Apaan sih!" "Ca, lo tau gak perbedaan antara lo sama kolam renang?" Caca menghendikkan bahunya. Malas peduli dengan ocehan Arsen. Lagian, siapa yang tertarik dengan cowok buaya plus nggak waras kayak Arsen? Kalau ada, pasti bukan Caca orangnya. Arsen berdehem, "Kolam renang untuk gue renangi, sementara lo, untuk gue nikmati. Muehehe." Caca melotot, "Boleh nggak sih gue bunuh lo sekarang?" "Nggak boleh," Arsen menggeleng, "Kalau bukan ayah yang nganterin." cengirnya. Saat itu juga, Caca melepas sepatu kets-nya, lalu menempelkan bagian alasnya pada wajah Arsen, "Gue nggak segaja keinjek t*i kucing. Beruntung banget, lo doyan. Makanya gue kasih." Arsen melongo sebentar. Namun pada detik berikutnya ia segera menceburkan diri ke kolam renang. Fabian dan Caca tergelak. Sementara Shafa yang berada di tepi kolam sedikit terkejut karena percikan air tiba-tiba mengenai dirinya, membuat baju seragam yang dikenakannya menjadi basah dan menerawang. Fabian memutar bola matanya malas, "Gombalan lo nggak bermutu, Sen. Lain kali kalo mau gombalin cewek, tingkatkan dulu ilmu pengetahuan lo mengenai seluk beluk percintaan." "Alah, sok banget. Lo normal aja kagak!" Arsen menimpali. Badannya berada di dalam air hingga leher, menyisakan kepala yang muncul dipermukaan. Kayak buaya beneran. Fabian mengangkat sebelah alisnya, mengabaikan Arsen. Lalu beranjak mendekati Shafa. Di iringi oleh Caca. Fabian menarik kunciran rambut Shafa, "Mikirin apa sih, lo, Fa?" tanya Fabian. "Makanan." "Buset, dah. Daritadi lo ngelamun sambil berendam di air cuma buat mikirin makanan? Bilang dong, Fa. Biar abang Arsen BIARIN." sahut Arsen. Dalam kondisi seperti itu, ia masih sempat mengeluarkan kalimat-kalimat tak bermanfaat. "Nggak waras." gerutu Caca sambil menyilangkan tangannya di depan d**a. Arsen nyengir lagi, "Menurut kitab kuning karya eyang gue. Saat kita jatuh cinta, t*i kucing pun rasa coklat." celotehnya. Shafa mengernyit, Fabian bergidik, dan Caca membuat gerakan seperti ingin muntah. "Thanks, ya, Ca. Berkat jatuh cinta sama lo, gue nggak harus beli dulu kalo mau makan coklat cukup kas--" "Cukup kasih dia t*i kucing aja, Ca." potong Fabian. Caca memasang kembali sepatu kets-nya. Sejujurnya, sepatu itu bersih, tidak ada t*i kucing ataupun t*i Arsen. Caca hanya kesal, makanya berucap seperti tadi. "Gue pulang duluan ya," ucapnya. "Loh? Kok pulang? Arsen ganteng di tinggalin?" tanya Arsen dengan tampang melongo. "Orang gila." hardik Caca lalu menenteng tasnya, meninggalkan mereka bertiga. "Gue emang gila, Ca. Gila karena cinta lo!" teriak Arsen. Fabian menggelengkan kepalanya, "Astaghfirullah. Bukan temen gue." ucapnya. "Fa, baju lo basah. Ganti dulu sana. Habis itu kita pulang." "Gue nggak bawa baju ganti, Bian. Gimana?" Fabian menghela nafas, "Ngerepotin banget sih." gerutunya, "Yaudah, ayo ikut gue." Fabian menarik Shafa menuju kamar mandi yang biasa digunakan anggota klub renang untuk berbilas, meninggalkan Arsen yang masih mengambang di kolam renang. Di depan kamar mandi, Fabian melepas baju seragamnya, menyisakan baju kaos putih yang ia kenakan. Shafa menutup matanya, "Bian, lo udah normal ya?! Jangan perkosa gue, Bian! Gue nggak mau! Gue nggak mau!" teriak Shafa histeris. Fabian menoyor kepala Shafa, "Siapa yang mau merkosa lo, sih? Lo ketularan gilanya Arsen ya, Fa?" Perlahan, Shafa menyingkirkan telapak tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutup mata. "Lagian lo, sih. Pake buka baju dihadapan gue segala." "Nih, pake dulu baju gue. Daripada pake baju lo yang basah itu, ntar masuk angin." Fabian menyodorkan seragamnya pada Shafa. "Udah dua hari nggak gue cuci, sekalian gue minta cuciin sama lo." "Nggak mau, baju lo bau." tolak Shafa mentah-mentah. "Baju lo basah, Fa." Fabian kekeuh tetap ingin menyuruh Shafa memakai seragamnya, "Daleman lo kelihatan." ucap Fabian pada akhirnya. Lain dari perkiraan, Shafa malah nyengir dan mendekatkan dirinya pada Fabian. "Daleman gue kelihatan? Berarti dari tadi lo liatin ya? Coba tebak, gue pake warna apa? Motifnya kayak gimana?" sahut Shafa sambil menaikturunkan alisnya. Fabian melotot lalu menyentil kening Shafa, "Cewek gila. Ganti baju sana!" Shafa menggelayutkan tangannya di leher Fabian. "Gue ganti baju, kalo lo bisa nebak warna apa dan motif apa." "Lo kenapa sih, Fa?!" kesal Fabian. "Jangan bikin rumah sakit jiwa di Indonesia malah nambah gara-gara lo sama Arsen jadi gila." "Tebak dulu, dong." "Warna merah muda, motifnya gue nggak tau." pasrah Fabian pada akhirnya. "Oke, gue ganti baju dulu. Tungguin ya," Shafa mengambil seragam di genggaman Fabian, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Fabian mengacak rambutnya kasar, punggungnya bersandar pada tembok di samping pintu kamar mandi. Tangannya memegangi d**a sambil meringis, jantung gue kenapa sih?! Pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Shafa yang sudah berganti seragam. Seragam itu tampak sangat kebesaran di tubuh mungilnya. "Padahal daleman gue juga basah. Lo nggak ada niat buat minjemin gue daleman gitu?" tanya Shafa. "Bacot, Fa." sahut Fabian lalu menarik pergelangan tangan Shafa. Berlama-lama dengan Shafa di tempat ini hanya membuat Fabian ikut-ikutan gila. Dan juga, tidak baik untuk kondisi jantungnya yang sedari tak bisa berhenti bergetar. Tiba di parkiran, Arsen sedang memeras baju seragamnya yang basah karena insiden t*i kucing tadi. "Oh, bagus ya, ninggalin gue sendirian di kolam renang. Tega lo pada!" gerutunya. Fabian dan Shafa saling tatap, "Barusan kayak ada yang ngomong. Siapa, Bian?" tanya Shafa sambil tertawa. "Biasa, Fa. Pasien RSJ Sambang Lihum nyasar ke sekolah kita." "b*****t LO BERDUA!" kesal Arsen. Fabian dan Shafa hanya menghendikkan bahu mereka, mengabaikan u*****n Arsen. "Gue kok kelihatan gendut banget ya make baju lo gini." ucap Shafa. "Lo kan emang gendut, Fa. Makan mulu sih," sahut Fabian sambil mengeluarkan motor sport-nya dari parkiran. Shafa memanyunkan bibirnya, "Kayaknya gue perlu diet deh." Fabian memberikan jaketnya pada Shafa, agar cewek itu menutupi pahanya, "Nggak usah, Fa. Maksain diri banget. Lebih baik tampil apa adanya aja. Lo gendut, gak bakal bikin bumi runtuh juga." Arsen mengacungkan jempolnya, "Bener kata Bian, Fa. Gak papa kalo lo gendut. Lagian nih ya, kebanyakan cowok emang lebih suka sama cewek yang gendut. Dadanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN