Sebenarnya..

1267 Kata
Seseorang pernah bilang; percuma kalo lo pintar matematika tapi gak bisa ngitung berapa banyak kesalahan yang lo perbuat. -Undefinable- Arash : Hari ini, jam 3 sore, hutan pinus. Jangan ngaret, Fa. Shafa yang baru saja tiba dirumahnya lantas mendengus kesal ketika membaca pesan tersebut. Ia melempar asal-asalan tas dan kaos kaki yang dikenakannya. Hampir saja ia melupakan bahwa hari ini adalah hari sabtu, hari dimana Shafa akan belajar dengan Arash. Jam 3 sore? Hutan pinus? Shafa benci belajar. Lalu mengapa tempo hari dia mengatakan bahwa ia ingin belajar dengan Arash? Shafa merutuki dirinya sendiri karena hal itu. Bagi Shafa, belajar itu membosankan. Belajar itu merepotkan. Shafa sempat berpikir untuk tidak pergi ke tempat yang telah ditentukan Arash. Namun setelah ia pikir-pikir, ini adalah langkah awal untuk Shafa mengetahui apakah ada hubungannya antara Arash dengan teror di kolam renang beberapa waktu lalu. "Nggak ada pilihan lain." gumam Shafa. Ia melirik arloji hitam yang bertengger manis di pergelangan tangan sebelah kirinya, "Sekarang udah jam dua lewat tiga puluh empat menit. Gue cuma punya waktu dua puluh enam menit buat siap-siap." ucapnya bermonolog dengan diri sendiri. Buru-buru, Shafa melepas seragam sekolahnya. Menggantinya dengan baju santai yang biasa ia kenakan sehari-hari. Rambut lurusnya ia biarkan di gerai. Shafa memakai sedikit cologne gel di pergelangan tangan dan lehernya. Ia menepuk-nepukkan bedak bayi beraroma jeruk di wajahnya. Dengan polesan sedikit liptint dan,- "Selesai!" girang Shafa. Untuk belajar, mungkin Shafa akan memerlukan buku. Tapi Shafa tidak mempunyai buku catatan yang bagus, karena semua buku catatan yang dimilikinya Shafa gunakan untuk mencorat-coret hal yang tidak penting. Seperti menggambar wajah Fabian dengan bentuk lonjong misalnya. Ngomong-ngomong soal Fabian, "Ah, iya. Gue inget! Bian pernah ngasih gue binder." ucap Shafa lalu membuka lemarinya. Binder warna biru--yang sekarang sudah cukup usang karena terlalu lama disimpan--itu adalah pemberian dari Fabian pada Shafa ketika mereka lulus Sekolah Dasar. Shafa sangat ingat, waktu itu Fabian pernah bilang; simpen baik-baik, jangan dipake untuk hal yang gak penting. Ini berharga banget walaupun harganya nggak sampai seratus ribu. Shafa meletakkan binder itu di dalam keranjang sepedanya. Ia berjalan sambil menggiring sepedanya hingga keluar dari pagar, ia melihat Fabian yang tidak memakai baju sedang mencuci motor sport-nya di depan rumah, walaupun terhalang oleh pagar, Shafa bisa melihatnya dengan jelas. Shafa menutup matanya lalu berteriak, "BIAN! TOLONG JANGAN PAMER ROTI SOBEK DIHADAPAN GUE! GUE MAKAN PAKE SELAI STROBERI TAU RASA LO!" Fabian yang mendengar suara cempreng itu lantas menghentikan aktivitasnya, lalu keluar pagar untuk melihat tetangga yang berada di sebrang rumahnya itu. "Apasih, Fa! Teriak-teriak kayak suara lo bagus aja." Shafa menatap tajam Fabian, "Gue nggak suka ya, kalo lo keluar rumah gak pake baju gitu." Fabian terbahak, "Kalo gitu, gue juga nggak suka ya, kalo lo keluar rumah pake hotpants kayak gitu!" "Ish! Tau ah! Gue berangkat sekarang." Shafa ingin mengayuh sepedanya, namun ditahan oleh Fabian. "Mau kemana? Tumben pake sepeda. Kenapa nggak gue anterin aja?" ujar Fabian si tetangga limited edition. "Misi rahasia. Belajar sama Arash." sahut Shafa, ia sempat menendang tulang kering Fabian sebelum mengayuh pedal sepedanya. Fabian meringis kesakitan, "Cewek gila!" umpatnya. Tiba-tiba Shafa berhenti mengayuh ketika berada pada jarak sekitar 10 meter dari Fabian. Fabian kira cewek itu ingin minta maaf, tapi nyatanya tidak. Ia malah berteriak, "BIAN. BINDER YANG LO KASIH GUE PAKE BUAT BELAJAR SAMA ARASH KARENA GUE NGGAK PUNYA BUKU!" Fabian terdiam, tubuhnya seketika kaku. Bahkan ketika Shafa sudah pergi dari hadapannya, Fabian belum menyadarinya. Tangannya mengepal kuat, "Binder itu...," *** "Lo terlambat sepuluh menit tiga puluh tiga detik." Arash duduk di pondok kecil dengan kaki menyilang. Shafa tampak ngos-ngosan karena terlalu kencang mengayuh sepedanya ketika berangkar tadi, "Kasih pengertiannya dikit dong, gue berangkat naik sepeda. Ya wajar aja kalo gue telat. Lo pikir gampang ngayuh sepeda saat hari panas-panas gini?" ocehnya. Arash tersenyum tipis, ia menyodorkan sebotol minuman dingin pada Shafa. "Gue tau. Yaudah, sekarang lo gue kasih dispensasi. Nih, minum." Shafa langsung merampas botol itu dan langsung meminum isinya. "Untuk permulaan, kita belajar matematika ya, Fa." Byurr! Shafa menyemburkan minuman dingin yang ia minum di hadapan Arash. Sehingga membuat baju dikenakan cowok itu sedikit basah. "Astaga. Maaf, Rash. Gue nggak sengaja," ujar Shafa sambil mengusap baju Arash yang basah di bagian d**a. Arash menatap Shafa dari jarak terdekat. Lalu menyingkirkan tangan Shafa dari dadanya, "Nggak usah, Fa. Basah dikit doang." "Tapi gara-gara gue--" "Nggak usah dipikirin. Sekarang buka buku catatan matematika lo, kita belajar sama-sama." Shafa menggaruk pipinya, lalu berjalan ke arah sepedanya, "Gue nggak bawa buku. Gue cuma bawa ini," ucapnya sambil menunjukkan binder berwarna biru. Arash mengangkat sebelah alisnya, entah kenapa ia tiba-tiba teringat sesuatu, "Binder? Warna biru?" Shafa mengangguk, "Iya, waktu kita lulus SD. Gue dikasih Fabian." Arash langsung terdiam. Ia ingat, dan dugaannya benar. Ia tersenyum penuh arti lalu mengambil salah satu buku miliknya, "Lo pake ini aja buat nyatat. Binder itu terlalu bagus. Sayang kalo di coret-coret pake tulisan lo yang konon mirip jejak kaki angsa lagi joget." "Ish! Dasar nyebelin!" gerutu Shafa, "Yaudah, ayo belajar," lanjutnya, mengambil buku dari tangan Arash. Arash membuka buku paket matematikanya. Ia sengaja membawanya karena yakin cewek dihadapannya ini tidak akan melakukan itu. "Nah, lo coba kerjakan soal ini dulu. Ini paling gampang." Tunjuk Arash pada soal nomor 1 halaman 59. Antiturunan f(x) sama dengan sepuluh x akar x Shafa membaca soal itu dalam hati, keningnya berkerut. "Gue nggak ngerti! Soal apaan sih!" Arash melongo. Ini adalah soal paling gampang menurut versinya. "Ini soal dari bab tiga, Fa. Bab Integral," jelas Arash. Shafa berpikir keras. Ia pernah mendengar kata integral, tapi tak tahu kapan ia mendengarnya. Selama ini, jika ada pelajaran matematika, Shafa tidur diam-diam. Karena tempat duduknya yang berada di barisan paling belakang, guru tidak mudah tahu. "Gue nggak pernah belajar ini dan nggak akan pernah. Kita ganti aja, belajar Bahasa Inggris yuk?" tawar Shafa. Arash menggeleng, "Kita belajar matematika karena lo nggak ngerti, jangan mentang-mentang lo ngerti Bahasa Inggris jadinya yang lo pelajarin Bahasa Inggris mulu." Shafa memanyunkan bibirnya. "Kita baru belajar Integral di pertemuan minggu kemaren. Masa lo nggak inget?" Nah, itu dia. Shafa pernah mendengar kata integral saat Bu Endah mengajar. Setelah itu Shafa tertidur. "Gue inget." "Kalo inget. Jelasin ke gue, kenapa integral di sebut anti turunan?" tantang Arash. Shafa kembali menggaruk pipinya lagi, "Karena dia males turun. Makanya anti turunan." Arash menoyor kepala Shafa, "Salah. Jawabannya, karena Integral merupakan kebalikan turunan makanya disebut anti turunan." "Lo udah tau tapi nanya ke gue. Ish!" Shafa berdecak kesal. "Sekarang gue yang nanya, kenapa lo suka matematika yang merepotkan ini? Kenapa lo bisa pintar dalam ilmu hitung-menghitung yang selalu melibatkan x dan y ini?" Arash lagi-lagi tersenyum. "Gue nggak tau kenapa gue bisa. Mungkin karena gue belajar." "Terus, kenapa lo mau masuk kelas IPS? Padahal otak lo lebih cocok jadi anak IPA." Mendadak, Arash terdiam. Memikirkan jawaban yang pas, "Seseorang pernah bilang ke gue, percuma kalo gue suka matematika tapi nggak bisa ngitung berapa banyak kesalahan gue." jedanya, "Sejak saat itu, gue kurang suka angka, tapi gue tetep belajar matematika karena emang udah tugas gue sebagai pelajar. Dan ya, gue pengen masuk kelas IPS karena gue pengen belajar sejarah." "Ih! Itu pelajaran yang paling gue benci dari sekian banyaknya pelajaran yang gue benci!" oceh Shafa. "Gue pengen nanya lagi." Arash berdecak, "Lo mau belajar apa mau jadi wartawan sih? Tanya aja." "Lo, kenapa bisa benci banget sama renang?" tanya Shafa pada akhirnya. Arash kembali terdiam. Kata renang sangat berpengaruh untuk Arash. Ia memang benar membenci kegiatan yang satu itu, "Kenapa nanya itu?" Shafa menggertakkan giginya. Kenapa setiap kali ia menanyakan tentang renang, Arash selalu lama menjawab? Menyebalkan sekali. "Jawab aja, Rash. Gue pengen penjelasan, bukan pertanyaan balik." Arash menghela nafas berat, "Sebenarnya..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN