Afgan segera menelepon sekretaris nya di kantor (Laras) untuk menunda meeting dengan klien sampai dia pulang kembali ke indonesia.
Sementara itu di Belanda eyang ibu Van Den Berg masih menunggu jam pulang kerja Titah untuk segera meneleponnya.
Indonesia
Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Masih di anjungan Jawa Tengah..
"Sayang sebentar ya mas Afgan telepon Laras dulu", kata Afgan.
"Iya mas Afgan", sambung Titah.
Belanda
Di rumah eyang romo Van Den Berg,
Di ruang TV..
"Jam enam sore satu menit lagi di Indonesia, pasti belum sampai di rumah nanti saja deh tunggu jam tujuh saja di Indonesia", kata eyang ibu Van Den Berg masih menunggu untuk menelepon Titah.
"Amit kanjeng ibu niki ing inum riyen teh manis angete", kata Darmi yang memberikan teh pada eyang ibu Van Den Berg.
"Loh mi, kula mboten tedha ing buatkan teh manis anget", kata eyang ibu Van Den Berg.
"Biar kanjeng ibu sedikit tenang dan tidak gelisah seperti ini", sambung Darmi.
"Assalamu'alaikum", Makmur memberikan salam pada Darmi dan eyang ibu Van Den Berg.
"Wa'alaikumussalam", Darmi dan eyang ibu Van Den Berg menjawab salam dari Makmur.
"Permisi, maaf kanjeng ibu", kata Makmur.
"Inggih mur, punapa ?", tanya eyang ibu Van Den Berg.
"Kula ing kengken kanjeng romo mbekta kanjeng ibu dhateng sesuatu panggen uga kanjeng romo sampun berada ing ngrika sakmenika kanjeng ibu", jawab Makmur.
"Dhateng pundi mur ?", tanya eyang ibu Van Den Berg lagi.
"Apunten kanjeng ibu, kula mboten mangertos", jawab Makmur lagi.
"Oh mekaten nggih sampun panjenengan tengga ing ngajeng kamawon kula jagi-jadi riyen", kata eyang ibu Van Den Berg.
"Inggih kanjeng ibu", sambung Makmur.
Indonesia
Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Di anjungan Jawa Tengah lagi..
"Iya pokoknya begitu saja ya Laras meeting dengan klien lusa kita tunda sampai saya dan suami pulang dari Belanda, iya wa'alaikumussalam", kata Afgan yang menelepon Laras.
Titah pun sudah selesai ngajar tari, Afgan juga baru selesai menelepon Laras sekretaris nya di kantor.
Dan tepat di jam makan malam eyang romo Van Den Berg menelepon Titah, mengabarkan kalau eyang ibu Van Den Berg sakit, karena rindu pada anak-anaknya dan juga cucu-cucunya.
Afgan yang melihat Titah bertambah panik segera merubah keputusan nya untuk pergi ke Belanda malam harinya bersama dengan keluarga nya.
Titah juga memberitahukan adik-adiknya kalau eyang ibu Van Den Berg sakit, adik-adiknya dan juga keluarga juga Pergi ke Belanda.
Di rumah Afgan,
Di ruang TV..
"Lik tolong buatkan s**u ya", kata Silvy.
"Iya mbak, habis pulang les capek ya ?", tanya Paijo.
"Iya lik, untuk uda Kamil, adiak Zidan dan juga mbak Citra ya", jawab Silvy.
"Oh inggih mbak Silvy, susunya sing coklat atau sing putih mbak Silvy ?", tanya Paijo lagi.
"s**u coklat lik", jawab Silvy lagi.
"Oke..", seru Paijo.
"Ini cemilannya, Citra dan Zidan sudah pulang belum, dia kan tadi beli gorengan juga Silvy ?", tanya Kamil.
"Alun uda, suaro klakson mobilnya papi tuh da", jawab Silvy lagi.
"Iyo uda Kamil alah tau Silvy, papi jo mami, kan yang uda Kamil tanyo bahak Citra jo adiak Zidan alah sampai rumah atau alun Silvy ?", tanya Kamil lagi.
"Alun uda", jawab Silvy lagi.
"Assalamu'alaikum", Titah dan Afgan memberikan salam pada Silvy dan Kamil.
"Wa'alaikumussalam", Silvy dan Kamil menjawab salam dari Titah dan Afgan.
"Loh kok kalian hanya berdua, Citra dan Zidan kemana ?", tanya Titah.
"Ada di atas ya, di kamar ?", tanya Afgan juga.
"Assalamu'alaikum", Zidan dan Citra memberikan salam pada Titah, Afgan, Silvy, dan Kamil.
"Wa'alaikumussalam", Titah, Afgan, Silvy, dan Kamil menjawab salam dari Zidan dan Citra.
"Nah itu adiak Zidan jo adiak Citra, pi, mi", jawab Kamil.
"Mi, pi", kata Zidan dan Citra mencium tangan Titah dan Afgan.
"Hehe lupa", kata Kamil dan Silvy yang juga mencium tangan Titah dan Afgan.
"Iya", kata Titah dan Afgan yang mencium anak-anak nya.
"Mami mau tanya kalian berdua habis darimana ?", tanya Titah.
"Habis beli gorengan mi", jawab Zidan.
"Oh..", seru Titah dan Afgan.
"Oh ya hampir saja papi lupa, nanti setelah makan malam ada yang papi ingin bicarakan dengan kalian semua", kata Afgan.
"Soal apa pi, mi ?", tanya Citra.
"Nanti saja dibahasnya, mami dan papi mau masuk ke kamar dulu, mau ganti baju", jawab Afgan.
"Permisi tuan mami, tuan papi", kata Paijo.
"Oh ya jo habis ini saya ingin bicara dengan kamu", sambung Afgan.
"Siap tuan papi", kata Paijo.
"Ya sudah yuk pi, ganti baju", sambung Titah.
"Iya mi", kata Afgan.
"Nah anak-anak ini s**u coklatnya", kata Paijo yang memberikan s**u coklat kepada anak-anak Titah dan Afgan.
"Terimakasih ya lik", sambung anak-anak Titah dan Afgan.
"Ama-ama hehe", kata Paijo lagi.
Belanda
Di rumah eyang romo Van Den Berg,
Di kamar eyang romo Van Den Berg dan eyang ibu Van Den Berg..
"Darling, why are you, you have a fever, Darling ?", tanya eyang romo Van Den Berg.
"A little unwell from Darling, maybe tomorrow it's a bit better", jawab eyang ibu Van Den Berg.
"Wait for Darling, wait", kata eyang romo Van Den Berg dengan panik.
"Okay darling", sambung eyang ibu Van Den Berg.
Di depan kamar eyang romo Van Den Berg dan eyang ibu Van Den Berg..
"Haduh bagaimana ini, darling sakit pasti karena rindu oleh anak-anak dan cucu-cucu", kata eyang romo Van Den Berg masih dengan panik.
"Mi, mi", kata Makmur yang melihat eyang romo Van Den Berg mondar-mandir di depan kamarnya.
"Apa mur ?", tanya Darmi.
"Itu kanjeng romo ngapain ya mondar-mandir didepan kamarnya seperti itu", jawab Makmur.
"Iya ya mur, ya sudah yuk kita kesana saja terus tanya pada kanjeng romo", kata Darmi.
"Oke..", seru Makmur.
"Assalamu'alaikum", Makmur dan Darmi memberikan salam pada eyang romo Van Den Berg.
"Wa'alaikumussalam", eyang romo Van Den Berg menjawab salam dari Makmur dan Darmi.
"Nuwun suwun apunten sadurunge kanjeng romo, kawula ugi Darmi karep bertanya pareng ?", tanya Makmur.
"Pareng mur, mangga", jawab eyang romo Van Den Berg.
"Mi gantian kamu yang tanya, tadi kan aku sudah", kata Makmur.
"Iya mur", sambung Darmi.
"Apunten sadurunge kanjeng romo, punapa kok kanjeng romo modar-mandir teng ngajeng kamar kados menika wonten punapa kanjeng romo, kanjeng ibu murka nuwun wonten kanjeng romo ?", tanya Darmi.
"Mboten mi, bojo kawula mboten murka wonten kawula, kawula nembe panik", jawab eyang romo Van Den Berg.
"Panik punapa ta kanjeng romo ?", tanya Makmur lagi.
"Bojo kawula nembe gerah, panjenenganipun demam mi, mur", jawab eyang romo Van Den Berg lagi.
"Loh kok panik sih kanjeng romo, nuwun menawi kanjeng ibu gerah gampang tinggal telepon dokter kemawon mboten usah panik kados punika kanjeng romo, kasinggihan kan mur ?", tanya Darmi lagi.
"Inggih mi", jawab Makmur.
"Saya tau Darmi, Makmur, tapi masalahnya bukan itu, istri saya sakit karena kangen dengan anak-anaknya dan cucu-cucunya", kata eyang romo Van Den Berg masih dengan panik.
"Lah itu mah gampang kanjeng romo tinggal telepon mbak Titah saja, bilang kalau kanjeng ibu sedang sakit dan kangen kepada mbak Titah dan cucu-cucunya besok mungkin langsung sampai Belanda, seperti yang sudah-sudah ya kan mi ?", tanya Makmur lagi.
"Iya mur", jawab Darmi.
"Kalian benar juga, saya segera telepon Titah, oh ya ini ada sesuatu untuk kalian berdua", kata eyang romo Van Den Berg yang memberikan uang pada Makmur dan Darmi.