Karena Yuan tidak ada di Balkon, Hani kembali ke kamar. Mimik wajahnya nampak kesal, bibirnya masih manyun. Padahal Hani sudah belajar semaksimal mungkin untuk melayani suaminya malam ini meksipun tidak ada rasa cinta. Eh malah di tinggal begitu saja.
"Nyebelin!" gerutunya sembari melilit-lilit ujung pakaiannya menggunakan jari tangannya.
Hanya menonton video halal bagi yang sudah menikah membuat gadis ini terangsang, tubuhnya sulit menolak, tubuhnya terus mendesak Hani agar melakukan aktivitas panas di atas ranjang.
Terdengar bunyi ringtone, ada telepon masuk dari ayahnya. Hani langsung menggeser ikon warna hijau. Baru saja ditinggal beberapa jam oleh anak gadisnya, Pak Nandi sudah merasa kehilangan saja.
"Assalamualaikum, Pak!" ucap Hani ketika dirinya sudah menjawab telepon dari Ayahnya.
"Waalaikum salam. Maaf, Hani, bapak menggangu malam pengantin kamu. Tapi ... Bapak hanya ingin memastikan, apakah kamu baik-baik saja? Yuan tidak berbuat kasar kan sama kamu?" tanya Pak Nandi, dia begitu mencemaskan keadaan putrinya, beliau takut kalau Yuan tidak bisa memegang ucapannya.
Takutnya, di malam pertama ini Hani terlalu di paksa. Terus, Yuan memperlakukan kasar.
"Hani baik-baik saja kok, Pak. Bapak tidak perlu khawatir, kalau Tuan Yuan macam-macam, Hani pasti lapor sama bapak. Sepertinya, malam ini tidak akan terjadi sesuatu deh. Mungkin Tuan Yuan ada keperluan," kata Hani, meskipun dalam hatinya masih kesal ditinggal begitu saja oleh Yuan.
"Oh syukurlah. Jika Yuan tidak bisa memegang ucapannya, kamu langsung katakan saja sama bapak. Dan ingat pesan bapak, kamu harus buat Yuan jatuh cinta padamu."
"Siap, pak."
Hani dan Pak Nandi mengakhiri teleponnya. Hani meletakan kembali ponselnya di atas nakas. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memutuskan untuk tidur saja. Gadis ini yakin kalau Yuan tidak akan kembali malam ini, jadi dia putuskan untuk istirahat saja.
Baru saja Hani mau memejamkan matanya, terdengar suara langkah kaki. Hani langsung membuka matanya, "apa jangan-jangan itu Tuan Yuan?" Pikirnya.
Hani bangun lagi, dia kembali duduk di ujung kasur, merapikan rambutnya kembali, berharap suara langkah kaki itu suara langkahnya Yuan.
Klek
Suara pintu terbuka, dan benar saja yang datang adalah Tuan Yuan.
"Habis dari mana?" tanya Hani, dia mulai terlihat gugup, "tadi aku ke balkon, tapi Tuan tidak ada."
"Habis beli ini," jawab Yuan sembari menunjukkan sesuatu yang akan menutupi pedang Pusakanya.
"Apa itu, Tuan?" tanya Hani polos, dia tidak tahu sama sekali kegunaan barang itu.
Yuan ketawa kecil, "masa sih kamu tidak tahu?" Tanya Yuan duduk di sebelah Hani.
Gadis ini hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Tubuhnya mulai terasa panas dingin.
"Buat burung merpati milikku, biar aman," kata Yuan.
"Emangnya kalau burung merpati milik Tuan Yuan enggak akan kabur kalau pake ini?"
Yuan terkekeh, gadis ini benar-benar polos nan menggemaskan.
"Hani, Hani!" Tuan Yuan geleng-geleng kepala, "maksudnya burung merpati itu ini." Tangan Yuan menyentuh aset berharganya yang sudah terlihat ON, aset itu masih disembunyikan oleh Yuan.
Glek
Hani tergelak, dia menelan salivanya kasar tatkala melihat sesuatu yang menonjol di balik kain hitam itu.
"Kamu sudah siap?" bisik Yuan, "dia sudah bangun, sepertinya sudah tidak sabar," bisiknya lagi.
Hani teringat dalam adegan video itu, gimana sang — istri memuaskan suaminya.
Hani masih gugup, dia jadi bleng, dia malah jadi bingung harus ngapain? Padahal tadi sudah ia pelajar benar-benar.
"Siap apa ya, Tuan? Maaf, aku masih bingung," kata Hani, sekujur tubuhnya gemetar.
"Sudah kamu tonton videonya?" tanya Yuan seraya melepaskan salah satu kancing kemejanya, dia mulai terasa kegerahan.
"Sudah, Tuan," jawab Hani pasti.
"Sudah paham?" tanya Yuan, dia tidak akan memaksa jika memang Hani belum sepenuhnya paham. Yuan pemula, dia ingin si wanita lebih agresif dibandingkan dirinya.
Hani langsung menatap Yuan, dalam hatinya berkata, "Apa aku harus melakukannya?"
Hani langsung mendorong perlahan tubuh Tuan Yuan sampai terlentang di atas kasur. Jari tangannya mulai membuka satu persatu kancing-kancing yang menempel di kemejanya Yuan.
Yuan tersenyum tipis, dia senang jika gadis ini sudah paham keinginannya.
Hani langsung menjalankan tugasnya dengan baik seperti di artikel-artikel yang dia baca, serta video-video panas yang ia tonton.
"Luar biasa," ucap Yuan dalam hati ketika mulut Hani memanjakan pedang Pusakanya yang memang belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari wanita lain, hanya Hani perdana melakukan itu.
***
Pukul dua belas malam lewat tiga puluh menit, tubuh Yuan sudah ambruk disebelah Hani. Tentu saja cairan putih itu tidak sampai masuk kedalam rahim Hani karena sudah ada pengaman.
Napas Hani dan Yuan masih menggebu-gebu, keduanya terlihat kelelahan.
"Jadi ... begini rasanya? Menyenangkan sekali," ucap Yuan, tersenyum tulus. Terlihat tampan kalau Yuan sudah tersenyum manis seperti ini.
"Jadi beneran? Ini perdana Tuan melakukan ini?" tanya Hani, gadis ini masih belum percaya.
"Ya! Saya memang pria nakal, tapi saya sama sekali tidak pernah sampai melakukan penyatuan seperti apa yang kita lakukan."
"Kok bisa?" tanya Hani ragu.
"Kenapa? kau meragukan saya?" tanya Yuan, menatap intens wajah Hani.
"Ya aneh saja. Tuan bisa menahannya."
"Hahaha ... bisa dong. Hanya sama kamu yang tidak bisa, makanya saya langsung nikahi kamu."
Hani mengulum senyum. Dia merasa paling spesial di mata Yuan. Ia semakin semangat saja untuk membuat Yuan bisa jatuh cinta padanya, agar pernikahan ini bukan hanya sekedar status saja.
"Saya capek, Hani. Saya mau tidur dulu. Terima kasih untuk malam ini," ucap Yuan tulus.
Jari telunjuk Hani menempel di bibir Yuan, "tidak perlu berterima kasih, Tuan, ini sudah tugas aku. Uuummm ... aku kan di bayar, jadi aku harus melayani Tuan dengan baik," ucap Hani.
Yuan menyingkirkan jari telunjuk Hani yang menempel di bibirnya, "tapi kamu belum menikmati uang 1 miliar itu?" tanyanya sembari menatap Hani.
Hani langsung mendaratkan sebuah kecupan sekilas di bibir Yuan, "aku ngantuk, Tuan, aku tidur dulu," ucap Hani yang langsung tidur miring membelakangi Yuan.
Hani tersenyum malu-malu ketika dirinya membayangkan permainan panas tadi.
"Aaaaw! Tuan, pelan-pelan!" teriak Hani sembari menarik-narik rambut Yuan.
Yuan terlihat kesusahan saat pedang sakitnya akan menerobos gawang suci.
"Punya kamu sempit amat sih!" kesal Yuan, dia sudah keringatan, sudah kelelahan karena susah masuk.
"Ish! Punya Tuan tuh ukurannya gede, jadi susah!" Hani tidak mau kalah, dia protes juga.
"Oke! Kita coba sekali lagi!" ucap Yuan.
"Pelan-pelan!" pinta Hani.
Bukan hanya Hani, Yuan pun sama. Dia jadi tidak bisa tidur, dia malah membayangkan pesona Hani saat di atas ranjang.
"Ternyata dia liar juga. Baru belajar tapi sudah pintar," batin Yuan, "tapi dia sangat menyenangkan, apa lagi kalau sudah datang polosnya, sangat menggemaskan."