BELAJAR DULU

1013 Kata
"Sekarang kalian berdua sudah SAH menjadi pasangan suami istri," ucap sang — penghulu memberikan selamat kepada Hani dan Yuan. "Alhamdulilah ..., " sahut Pak Nandi. Berbeda dengan ibunya Hani, dia masih terlihat manyun hanya karena dirinya tidak bisa menikmati uang 1 miliar itu. Baginya, pernikahan ini biasa saja. Hani Pamela yang statusnya sudah resmi menjadi istrinya Tuan Yuan, gadis ini mencium punggung tangan Yuan. Tak lupa, Yuan mencium kening Hani di depan penghulu dan juga Pak Nandi, Ibunya Hani serta Asistennya. Pernikahan ini diselenggarakan di sebuah masjid yang jauh dari pusat kota. "Sekarang kau milikku, Hani Pamela," bisik Tuan Yuan tersenyum nakal, sebentar lagi dirinya akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tubuh Hani sampai gemetaran, dirinya mulai nervous padahal baru mendapatkan bisikan saja dari Yuan. "Nak Yuan, sekarang Bapak serahkan anak gadis bapak sama Nak Yuan, mohon untuk menempati amanah yang sudah saya sampaikan sebelumnya," ucap Pak Nandi sembari menepuk punggung Yuan tatkala Yuan memeluk ayah mertuanya. "Iya, Pa. Jika saya sudah merasa bosan, saya pasti akan kembalikan putrimu," ucap Yuan, dia akan tetap menjadikan Hani adalah mainannya, teman ranjangnya dikala dia merasa menginginkannya, "selama seminggu ini, Hani akan tinggal bersamaku," ucapnya kemudian. Pak Nandi mengangguk, dia sudah menyerahkan tanggung jawabnya kepada Yuan, jadi Pak Nandi setuju-setuju saja jika Yuan akan mengajak Hani tinggal bersamanya. Ibu tirinya menarik lengan Hani, mendekatkan posisi Hani dengannya. "Di mana uang satu miliar itu? Di mana?" tanyanya berbisik sembari mencengkram tangan Hani kuat. "Maaf, Bu, saya tidak tahu. Uang itu sudah di amankan sama bapak," jawab Hani pelan. Wanita itu tampak kesal, padahal dia sangat menginginkan uang itu. Dengan uang itu akan membuat dirinya kaya mendadak. "Percuma juga dong punya menantu kaya, tetap aja kere," batinnya. Lekas, Yuan segera membawa Hani ke tempat yang sudah ia siapkan untuk malam pertama, sedangkan Asistennya mengantar orangtuanya Hani pulang. "Bagaimana? Apakah kamu sudah belajar?" tanya Tuan Yuan ketika sudah berada di dalam mobil. "Belajar apa, Tuan?" tanya Hani tidak mengerti. "Astaga, Hani. Masih belum paham? Saya malas mengajari kamu ya, akan menghambat waktu. Nanti akan saya kirim videonya, kamu belajar. Saya juga sama, belajar dulu, karena sebelumnya saya belum pernah melakukannya meskipun saya punya kebiasaan aneh," kata Yuan memperjelas ucapannya. Namun, tetap saja Hani terlihat masih bingung. "Belajar? Maksudnya belajar apa?" tanya Hani dalam hati. Tak butuh waktu lama, tiba juga di sebuah vila, tempat yang akan menjadi tempat penyatuan. Yuan sudah menyewa tempat ini untuk seminggu. Hani masih terlihat gugup, sedari tadi dirinya terus memainkan jari tangannya. Meskipun Hani sudah mendapatkan perlakuan tidak baik dari Yuan, tapi tetap saja rasa nervous itu ada. "Saya kasih kamu waktu selama satu jam, setelah kamu siap. Temui saya di atas balkon. Saya sudah kirim videonya," kata Yuan setelah berada di kamar. Hani mengangguk, dia duduk di ujung kasur setelah Yuan keluar dari kamar. Hani membuka video yang dikirim Yuan, dia terbelalak ternyata dia suruh belajar cara memuaskan suami. Hani sampai menelan ludahnya susah payah ketika melihat video panas itu. Hani merinding, menolak tidak ingin melakukan apa yang di lakukan tokoh wanita dalam video namun berbeda dengan tubuhnya. "Oh jadi seperti ini?" Hani jadi teringat ucapannya sendiri yang akan membuat Tuan Yuan jatuh cinta padanya agar dirinya tetap dijadikan istri. SEBELUMNYA "Hani, bapak rasa si Yuan itu sebenarnya pria baik-baik. Mungkin saja ada sesuatu yang membuat Yuan seperti itu. Jadi ... baiknya kamu buat Yuan jatuh cinta padamu, buat dia tergila-gila padamu agar pernikahan ini langgeng tanpa ada perceraian," ucap Pak Nandi setelah Yuan dan Asistennya pulang. "Hani juga niatnya begitu, Pak. Tapi ...apakah Hani bisa? Sepertinya selera Tuan Yuan itu tinggi deh, Hani tidak termasuk wanita kriterianya. Bapak tahu sendiri' kan? Tuan Yuan menikahi Hani karena dia ingin tubuh Hani saja, bukan cinta," kata Hani mengeluh, dia merasa tidak yakin bisa menaklukan Yuan. "Coba saja dulu, apa salahnya di coba." "Baik, Pak." Hani semakin semangat saja, awalnya dia selalu ragu. Setelah mendapatkan dukungan dari ayahnya, tekad Hani semakin bulat untuk membuat Yuan jatuh cinta padanya. Hani masih mempelajarinya, masih ada waktu. "Mungkin dengan cara seperti ini, Tuan Yuan akan jatuh hati. Apa salahnya di coba dulu," gumam Hani. Durasi video itu sampai 30 menit, selain nonton Video, Hani juga buka-buka artikel sebagai referensi. Hani sama seperti Yuan, sama-sama pemula jadi belum sepenuhnya paham. Yuan sudah tidak sabar, waktu satu jam menurutnya sangat lama. Akan tetapi, Yuan harus sabar. "Lama amat sih. Huh sabar, 30 menit lagi." Yuan tampak gelisah, tapi dia akan tetap menunggu sampai Hani selesai belajar. Hani di dalam kamar masih tahap belajar dia benar-benar mendalaminya. "Baju dinas? Maksudnya?" Hani baru paham, maksud dari pakaian Dinas itu ternyata lingerie. Hani tidak punya pakaian dinas seperti itu, Hani hanya punya piyama saja. Tidak masalah. Hani mengganti kebaya pengantinnya dengan piyamanya. Hani juga menghapus make up pengantin di wajahnya, Hani terlihat natural tanpa make up namun masih terlihat cantik. Hani menggunakan gincu warna merah biar terlihat cantik nan seksi. Hani juga membiarkan rambutnya terurai panjang biar lebih terlihat mempesona. "Jadi ... Pertama, aku pekik dia dari belakang. Terus .... " Hani terus menghapal, karena dia yang akan memulainya lebih awal. "Setalah itu, tangan aku harus — " Hani terus saja bermonolog sendiri sembari berdiri di depan cermin melihat pantulannya. Hani juga melepaskan satu kancing piyamanya agar terlihat belahan dadanya. "Sah-sah saja kan? Soalnya Tuan Yuan sekarang sudah menjadi suamiku? Apa salahnya kalau malam ini aku jadi wanita kupu-kupu malam?" gumam Hani sembari terkekeh. Yuan sudah habis menyesap rokoknya, tetap saja membuatnya bosan. Tak sabar Tuan ingin segera praktek, akan tetapi Yuan melupakan sesuatu saking buru-buru nya. "Astaga! Pengaman? Saya lupa!" Yuan buru-buru turun, dia akan membeli pengaman dulu di supermarket. Tidak mau sampai benihnya masuk kedalam rahim gadis yang baru saja ia nikahi. Hani sudah siap! Dia segera ke balkon, namun setibanya di sana matanya memicing karena tidak mendapati Yuan. "Lah, kok dia gak ada di sini? Katanya dia mau menunggu di sini?" kesal Hani, dia juga tidak melihat mobil Yuan di bawah sana. "Sia-sia dong tadi aku belajar dulu. Kalau pada akhirnya gagal untuk eksekusi." Bibir Hani terlihat manyun, dia kesal di tinggal begitu saja oleh Yuan setelah dirinya selesai belajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN