Aku berlari sepanjang trotoar dari halte sampai dengan bangunan berkanopi untuk menghindar dari hujan, meski pada akhirnya pakaianku benar-benar basah terkena tampias. Kubalik badan memandang pintu kaca yang masih terkunci. Terpasang papan 'close' di balik kaca, meski sudah ada beberapa pegawai yang datang untuk siap-siap membuka kafe sekitar satu jam lagi. Hari ini aku menepati janji pada Kahfi untuk berkunjung ke rumahnya. Bahkan sekotak donat sudah siap, meski kartonnya sedikit basah karena salalu kutenteng selama perjalanan. "Hatchii!" kuusap hidung gatal, lalu bersin berkali-kali lagi. "Astaga, Mbak Gika," seru seoarang gadis remaja yang masih mengenakan daster Hello Kitty dengan kerudung instan. Aku mendongak. Tersenyum lega melihat Marsha menggeser pintu kaca agar terbuka. "Hab

