"Nggak usah lo lihat terus jamnya. Nggak bakal lari," ujar Radiv saat memergokiku menatap jam dinding untuk kesekian kali. Aku tak mengelak, tapi langsung menunduk, kembali fokus pada layar PC. "Lo beneran nggak ke bandara?" tanyanya lagi. Mungkin, sudah sepuluh kali dia menanyakan hal yang sama, meski lagi-lagi kujawab dengan gelengan kepala. "Nggak." "Yakin? Mumpung ini masih jam istirahat. Katanya, satu jam lagi pesawatnya mau berangkat?" "Kalau gue datang, mau ngomong apa, Div? Masa tiba-tiba muncul setelah kemarin gue minta udahan?" "Tapi, dalam hati lo sebenarnya nggak mau udahan, kan? Berharap Kahfi perjuangin lo lagi, kan? Ck! Udah basi tahu nggak cara kayak gitu, Gi. Nggak bakal berguna buat pria kayak Kahfi. Mending, ya, sekarang lo nyusul, terus baikan sebelum menyesal nant

