Akhirnya, setelah sepedaan, Kahfi membawaku pulang ke rumahnya kembali. Memaksaku untuk tinggal sebentar dan makan malam bersama setelah melihat meja makan sudah penuh dengan bermacam-macam masakan, mulai dari soto, sambal goreng dan sup iga yang sudah dipanaskan Marsha. Sudah kuduga sebelumnya kalau masakanku tidak akan disentuh oleh tante Marisa, karena beliau lebih memilih menuang kembali soto ayam buatan Renata. Kutatap lagi mangkok berisi sup iga yang malang. Padahal, aku sudah bersusah payah selama seminggu penuh, tapi hanya dicicip sedikit oleh Kahfi dan Marsha. Tak ada komentar sama sekali. Membuatku sedikit kecewa, tapi juga lega. Setidaknya, tidak sakit hati kalau rasanya benar-benar mengerikan. Memang masih layak untuk dimakan, namun tetap saja sangat standar. Makanya, soto mil

