Kehabisan Garam

1457 Kata
Dengan bertambahnya penghasilan, ternyata tidak bisa membuatnya bisa menikmati itu semua, karena mereka juga memiliki anak lagi, artinya kebutuhan semakin bertambah. Awalnya mereka berniat sudah cukup memiliki dua anak sepasang. Namun Allah berkehendak lain, menurunkan si gemas Septian untuk menambah warna dalam kehidupan mereka. Sebenarnya Lara tidak masalah dengan itu semua. Dia menikmati perannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Seandainya saja Dimas mengerti, bahwa dia juga butuh hiburan. Memang iya, Dia memiliki handphone, untuk bisa melihat dunia. Tapi dia juga butuh me time untuk dirinya sendiri. Ada kalanya, dia merasa jenuh. Dia ingin menikmati waktu sendiri, beristirahat dari kebosanan rutinitas. Menikah muda, tidak membuatnya bisa menikmati waktu yang cukup banyak untuk berkelana. Bisa dibilang, masa mudanya belum lah puas. Dia juga baru sempat merasakan dunia kerja selama satu tahun saja. Sangat disayangkan sekali sebenarnya. Ijazah S1 nya tidak terpakai lagi. Dia mengambil jurusan bisnis management. Jika saja, Dimas memberikan kelonggaran untuk bekerja. Mungkin, kehidupannya akan jauh lebih baik dari yang sekarang. "Mamam mam," ucap anak bungsunya. Bayi manusia yang sedang gemas-gemasnya ini. Mengatakan ingin makan. Lara segera ke dapur. Sembari menggendong balitanya. Dia membuatkan nasi beserta sayur. Beruntung sekali rasanya memiliki Septian. Balita itu, berhenti sendiri untuk menyusui ketika usianya satu tahun. Jadi, Lara tidak perlu sibuk untuk menyapihnya. Tian juga senang makan sayur, dia tidak rewel dalam memilih makanan untuk dimakan. Hanya saja, Tian alergi seafood, sama seperti Dimas, dan berbeda dengan dirinya beserta ke dua anaknya yang sudah bersekolah. "Ya ampun, mamah lupa jemur baju, kamu tunggu tunggu sebentar ya." "Yayaya." Lara mencium buah hatinya, lalu pergi sebentar meninggalkan Septian beserta maknanya di ruang serba guna. Kadang ruangan ini dipakai untuk makan bersama, atau setrika baju, kadang di pakai untuk bermain anak. Lara menyelesaikan menjemur bajunya, dan kembali ke menemui sang anak. "Tiannn, kenapa diacak-acak Nak, aduh berantakan deh itu ke karpet." Tian hanya tertawa. Memperlihatkan giginya yang belum tumbuh semua. "Anak soleh, gak boleh gitu lagi ya," "Yayaya." "Pinter, ganteng banget sih, anak siapa ini?" Lah, tadi kan bilang anak soleh, hmm. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," "Mamah, kita pulang." "Wah jam berapa sekarang? Aduh mamah belum masak buat makan siang." "Aku belum lapar kok, kita bisa nunggu sampai makanan siap." "Aku juga." "Yaudah, mamah masak dulu." Lara lupa, garam dan bumbu penyedap lainnya sudah habis." "Senja. Tolong ambilkan handphone Mamah sayang, maaf." "Ini Mah," "Terima kasih," "Kembali kasih, Senja nonton tv lagi ya." Lara mengangguk. Dia berniat untuk menelpon suaminya. "Hallo Mas," "Iya, ada apa sayang?" "Penyedap rasa sudah habis, aku ijin ke minimarket dulu ya," "Jangan. Tinggu aku pulang aja." "Mas, ini anak-anak mau makan siang, Aku lagi masak." "Yaudah Tunggu, biar aku anterin ke rumah." "Kenapa gak diojekin aja sih? Kamu kan lagi kerja." "Jam istirahat Sayang," "Terserah kamu lah." "Love you." "Hmm." Benar saja, lima belas menit kemudian, Dimas datang membawa pesanan sang istri. "Ayah sudah pulang?" Shaqa bertanya. Anak sulungnya itu sedikit berbeda sifatnya. Dia lebih dingin dan bahasanya pun terkadang baku. Lara waktu hamil senang nonton drama korea. Dia berharap memiliki berwajah seperti artis Korea. Tak salah kan? Namanya juga harapan. Walaupun sesuai kenyataan. Ternyata memiliki anak yang bersifat dingin. Membuatnya, sedikit bingung. Shaqa terkadang, lebih suka menghabiskan waktunya dengan buku bacaannya. Jarang bicara hal yang tidak perlu. Namun, dia sangat sayang keluarga. Ketika Lara sakit, Shaqa akan mengasuh Tian dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah yang dia bisa. Di tidak sadar, sebentar lagi, anaknya akan tamat sekolah dasar. "Iya jagoan. Ini Mah, pesanannya." "Mau sekalian bawa bekel gak?" "Boleh, tapi buru-buru ya, Aku takut telat." Lara mengangguk, dan segera membuatkan bekal. "Tadinya, Aku mau sekalian belanja sabun juga." "Nanti sore aja, nunggu Mas pulang ya." Lara mengangguk lagi, kadang dia tidak mengerti jalan pikiran Dimas. Apa salahnya sih, hanya pergi ke depan komplek saja. Mereka tinggal di komplek perumahan. Tapi yang ukurannya paling kecil. Jadi, jarak ke minimarket yang ada di depan, lumayan jauh. Padahal Lara bisa mengendarai sepeda motor. Namun, Dimas tidak mengijinkannya. Mungkin sebaiknya, dia benar-benar harus membicarakan perihal masalah ini pada Dimas. Dimas harus mengerti bahwa seorang istri tetaplah makhluk sosial. Dia tidak bisa mengadu pada siapapun, orangtuanya telah berpulang dua tahun yang lalu, kakak beserta adiknya sudah berkeluarga semua, dan mereka berada di kota yang berbeda-beda. Jika curhat melalui telepon, dia lebih suka bertatap muka langsung. "Mah," "Iya, ada apa?" "Minggu depan, kita ada acara berenang di sekolah." "Iya, nanti Mamah bilang Ayah dulu ya." "Iya Mah," Anaknya sudah mulai remaja. Sejak kelas satu, Shaqa tidak pernah ikut acara renang ataupun Study tour. Dimas lebih memilih membayar ongkosnya, daripada harus membiarkan anaknya pergi. Lara melihat ke tiga anaknya yang sedang sibuk bermain, rasanya dia ingin, ketiga anaknya tumbuh dengan kenangan masa kecil yang indah. Waktu dirinya seusia mereka, Lara adalah anak yang cukup aktif, dia senang bermain di luar bersama teman-teman sebayanya. Dia memang tidak pernah, tau alasan sebenarnya Dimas selalu melarangnya ini dan itu, karena perubahannya sangat terasa saat mereka sudah satu tahun menikah. Lara merapihkan mainan anak-anak, karena ketiga anaknya sudah kelelahan bermain, merek ketiduran. Lara melihat jam di dinding, waktunya mengambil jemuran. Biasanya dia tidak akan langsung melipatnya, dia akan taruh pakaian tersebut di bak, setelah itu, nanti malam dia akan menyetrikanya. Setelah itu, membuat cemilan untuk anak-anak, karena biasanya mereka bangun tidur, terus mandi dan lapar. Namun kompaknya tidak mau makan nasi. Mereka akan meminta camilan. Beruntungnya, Lara adalah wanita yang gemar memasak. Jadi tidak perlu, buang uang banyak untuk sekedar membeli jajanan. Seperti saat ini, dia membuat Donat madu. Hanya perlu waktu satu jam, untuknya membuat makanan tersebut. "Mamamam." Tangis anak bungsunya pecah. Lara segera berlari ke ruang tamu. Dengan tepung yang masih menempel di apron-nya. "Anak ganteng, udah bangun, hemm bau acem. Mandi dulu yuk!" Shaqa dan Senja ikut terbangun, karena suara tangis sang adik. "Selalu seperti itu, jika bangun nangis." "Kamu juga waktu seumur Tian, selalu seperti itu." Senja kalah telak, Abangnya itu, selalu membela si bungsu. Dulu, dirinya yang selalu disayang, sekarang semua perhatian tertuju pada Tian. Awalnya dia merasa sudah tidak disayang lagi, tapi ketika sang ayah memberikan pengertian dia sedikit mengerti. Bahwa tugasnya sekarang pun harus bisa menjaga dan menyayangi sang adik. "Assalamualaikum, Ayah pulang!" Shaqa segera membukakan pintu. Mereka bersalaman pada Dimas. "Eum harum masakan, Mamah buat apa De?" "Kakak Ayah." "Eh iya salah, maksudnya Kakak." "Kami tidak tau, karena baru bangun tidur." "Mamah dan adik ke mana?" Bukan menjawab mereka menunjuk ke satu arah, Dimas mengikuti arah pandang ke dua anaknya. Lara mencium tangan suaminya. "Kamu kebiasaan deh, jangan megang anak ketika pulang kerja. Harus mandi dulu!" "Iya maaf, Aku lupa terus." "Padahal anak udah tiga." "Kalau nambah satu lagi, mungkin enggak." "Dimasss!" "Masmasmas." Lara menutup mulutnya, karena lupa ada balita manusia yang sedang aktif-aktifnya meniru. Dimas hanya memberikan tatapan kesalnya, lalu menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan mereka. "Ayah Sayang." "Yayayahyah." "Shaqa Senja, Mamah dan Ayah mau pergi belanja dulu, kalian diam di rumah dan tidak boleh berbuat kacau." "Iya Mah," jawab mereka kompak. "Ingat tidak boleh," "Membukakan pintu, jika ada orang yang tidak dikenal, jika kenal pun di suruh untuk tunggu di luar, sampai mamah dan ayah kembali." "Aduh pinternya." "Ayo Mah, ayah sudah siap." Mereka sampai di sebuah minimarket. "Kok kita gak ke tempat kerja Mas aja?" "Enggak." "Kenapa Mas, takut ya, ketauan selingkuhmu ternyata sudah punya istri." "Enggak lah, ngaco kamu. Aku pengen beli kue bulan, kan dari sini lebih deket." "Kirain." Lara kembali memilih-milih barang yang harus mereka beli, sedikit risih sebenarnya. Karena Dimas selalu mengikutinya. Padahal lelaki itu, tidak ada urusan dengan bahan-bahan dapur. Lara melihat ke arah lain, ibu-ibu yang seuisinya belanja sendiri, suami mereka menunggu di parkiran atau duduk di kursi yang disediakan. Tidak seperti Dimas. Ke kasir pun, dirinya diikuti. "Jangan nengok ke kiri." Dengan refleks Lara menengokkan dirinya ke kiri, tetapi tangan Dimas lebih dulu, menahannya. "Ada apa?" "Cowok tadi keputihan." "Masalahnya?" "Kamu gak akan ngerti, ini urusan laki-laki." "Urus saja pikiranmu sendiri lah. Aneh." Lara hendak membayar. Namun Dimas lagi-lagi menarik tangannya. "Kasirnya yang cewek aja, yang laki-laki ngantrinya lama." Lara masih berusaha untuk sabar. Padahal, mereka hanya tinggal menunggu satu ibu-ibu di depannya. "Silahkan duluan Mbak," pemuda tersebut mempersilahkan Lara untuk membayar lebih dulu. "Gak apa-apa Dek, kamu duluan saja," "Saya masih ada yang harus diambil, jadi Mbaknya saja duluan, gak apa-apa," Dimas geram sendiri, melihat adegan seperti film roman picisan di hadapannya. Apalagi pemainnya adalah istrinya sendiri. Yang sudah dia jaga ketat, tapi masih kecolongan juga. Brak "Berapa semuanya Mbak?" Aksi Dimas memberhentikan kedua orang yang saling berdebat itu. "Kami scan dulu ya Pak," jawab petugas tersebut dengan ramah. Alamat perang dunia kesekian ini. Lara mengerti Dimas sedang kesal padanya, ini adalah alasan kenapa Lara selalu mencari cara untuk pergi ke minimarket sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN