Setelah membeli kue terang bulan yang Dimas ucapkan tadi, akhirnya mereka pulang, Lara memperhatikan Dimas yang sejak keluar dari minimarket diam saja. Mungkin karena insiden tadi, masa iya cemburunya belum juga ilang. Padahal udah punya anak tiga. Lagian tadi itu kan Lara tidak sengaja mengobrol. Bukan sengaja-sengaja atau tebar-tebar pesona. Tapi lelaki itu tetap tidak paham situasinya.
"Kamu kenapa?" Bisik Lara, ketika melihat kedua anaknya yang sedang mengerjakan pr setelah, melaksanakan solat magrib dan mengaji, sementara yang paling kecil sudah tertidur. Karena lelah diajak berbelanja.
Dimas tidak menjawab, lelaki itu terus memandang layar televisi padahal sedang iklan. Lara tidak selesai sampai di situ, dia mencoba cara lain, seperti menggoyang-goyangkan bahu atau mengacak rambut Dimas agar lelaki itu mau menoleh. Namun Dimas tetap pada pendiriannya. Dimas malah mencoba menghindar dengan berdalih membantu kedua anaknya mengerjakan PR.
"Coba sini ayah periksa. Wahh ini sih harus dapat seratus."
"Yang aku Yah,"
"Ini juga harus dapat bintang 7."
"Kami pintar kan?"
"Iya, anak siapa sih?"
"Mamah," jawab mereka dengan kompak. Membuat Lara tertawa, dan Dimas tentu saja cemberut. Dia yang memuji kenapa Lara yang dapat hadiah. Lara berpikir sepertinya besok harus memasak ayam goreng yang lezat untuk kedua anaknya yang super hebat itu.
"Selesai." Teriak Shaqa dan Senja berbarengan. Kemudian, mereka segera berlari ke arah Lara dan ikut menonton televisi. Di rumah ini, jadwal menonton televisi untuk anak-anak ketika malam hari hanya boleh sampai jam delapan saja. Sementara mereka selesai mengerjakan tugas pukul setengah delapan. Artinya, setengah jam berharga itu, tidak mungkin mereka lewatkan begitu saja.
"Mah, besok aku suruh bawa raket."
"Aku juga, kita besok olahraga badminton soalnya."
"Yaudah nanti besok mamah siapin."
"Ok, Ayah tumben gak nonton televisi dulu?"
"Ayah cape kerja sayang, kalian juga besok harus sekolah lebih baik tidur, sudah malam."
"Yaudah, kami tidur dulu Mah,"
"Iya, jangan lupa lostionnya dipakai."
Mereka mengangguk lalu masuk ke dalam kamar, mereka satu kamar, namun kasur Shaqa dan Lara terpisah, memang menjadi lebih sempit, tapi sejak umur 5 tahun Shaqa sudah meminta untuk memiliki kasur sendiri. Anak lelaki Lara memang berbeda dengannya dan Dimas. Lara sangat beruntung sekali, Shaqa memiliki attitude yang baik, dan selalu mendapatkan juara utama di kelasnya. Sementara Senja, dia sedikit aktif sehingga jika ada rapat orangtua gurunya selalu mengatakan hal-hal yang sudah dilakukan Senja di sekolah. Lara mengerti, setiap anak memiliki kepribadian masing-masing, dia juga sadar, Senja akan mengerti jika sudah waktunya. Jadi, Lara hanya anak menasihatinya saja.
Dia mendidik anak-anak dengan cukup baik, sejauh ini tidak ada kekerasan di dalamnya. Hanya suara teriakan Lara yang kadang membuat tetangga datang, itu saja. Lara masuk ke dalam kamarnya, awalnya Dimas sedang memainkan handphonenya, tapi ketika Lara masuk, Dimas segera menaruhnya lalu memilih untuk tidur. Lara yakin sekali lelaki itu belum tidur. Lara kemudian bergabung di ranjang yang sama dengan Dimas. Dia mencoba untuk memegang bahu suaminya, satu kebiasaan Dimas saat ingin tertidur adalah, lampu harus mati, jika tidak matanya akan terjaga terus.
"Mas, Kamu kenapa?" Tanya Lara sedikit berbisik. Dimas tetap saja tidak mau berbicara. Lara mencubit-cubit ringan bahunya yang berotot itu, tapi Dimas tetap tidak bergeming. Cara terakhirnya adalah, mencium punggung suminya, Lara menenggelamkan wajahnya dipunggung itu. Dimas yang imannya lemah bisa apa? Akhirnya luluh juga.
"Aku mau istirahat, jangan diganggu."
"Itu bisa ngomong, kenapa diem aja dari tadi?"
"Kamu kebiasaan, suka ngobrol sama laki-laki di depan aku,"
"Kalau di belakang emang boleh?"
"Ya jangan! Argh I know you Know what i mind."
"Enggak. Kali ini, kamu yang keterlaluan Mas, gimanapun aku tetap makhluk sosial, pasti akan berkomunikasi dengan orang lain." Tolong diingat, obrolannya tadi dengan lelaki di depan kasir itu bukan obrolan seorang teman, hanya hal biasa. Kenapa harus dicemburui?
"Lara, kamu tau sendiri, aku gak punya rasa kepercayaan diri yang banyak. Kalau kamu ngobrol sama orang lain terus tiba-tiba kamu suka sama dia, aku dan anak-anak gimana?"
Lara takjub, atas pemikiran Dimas yang terlampau jauh. Kenapa lelaki itu harus memikirkan hal-hal yang tidak penting, logikanya yang harus takut ditinggalkan itu Lara. Secara dia tidak bekerja dan hanya seorang ibu rumah tangga yang jarang dandan, lebih tepatnya tidak boleh. Belum lagi, melahirkan 3 anak membuat badannya berubah drastis ketika saat masih gadis dulu, kadang Lara lupa untuk memakai minyak wangi, karena sibuk mengurusi anak-anak. Sementara Dimas, lelaki itu justru selalu tampil modis dan juga otot-otot di badannya semakin terbentuk, mungkin karena dipakai untuk bekerja terus. Lelaki itu bisa melihat perempuan mana saja yang jauh lebih cantik di luaran sana. Dan saat waktu itu terjadi, Lara bisa apa? Ya memang dari dulu, Dimas tidak pernah mempermasalahkan hal itu, dia juga sangat amat berterimakasih ketika Lara mengadu berat badannya yang semakin hari semakin naik. Dimas berharap dengan gendutnya Lara, tidak akan ada lelaki yang tertarik dengan istrinya ini.
"Dim kayaknya kamu gak sehat deh."
Dimas berbalik, dia menatap Lara dengan penuh tanya. Dimas mengedipkan kedua matanya, lalu bangun dari tempat tidur.
"Kita perlu bicara!"
Dimas memilih untuk duduk di lantai sembari bersila, mau tidak mau Lara juga ikut duduk berhadapan dengan Dimas.
"Lara."
"Dimas."
"Kita udah bahas ini 10 tahun yang lalu Lara, harusnya kamu paham, dan gak ngungkit ini lagi."
"Aku pikir, gak akan sebegininya Mas, aku ngeliat Mbak Anika punya suami yang posesif tapi dia masih bisa pergi sendiri ke pasar, ke minimarket, bahkan beberapakali ke luar kota. Bang Arza gak seaneh kamu, yang ngelarang aku bahkan untuk beli ke tukang sayur depan rumah, kalau gak ada kamu."
"Aku cuma mau, kamu gak berpaling."
"Dimas. Kamu tau aku, kamu percaya sama aku, dan aku pastikan bahwa. Aku gak akan berpaling dari kamu." Lara mencoba untuk menyakinkan Dimas.
"Aku gak bisa." Kali ini, setelah ucapan Lara. Bukannya Dimas mengerti justru sebaliknya, lelaki keras kepala itu berkata dengan nada yang lirih.
"Terus aku harus gimana supaya kamu mau ngerti, aku butuh bebas Dimas. Setidaknya sebulan sekali, kamu bolehin aku untuk keluar rumah. Aku butuh udara segar, aku butuh diri aku sendirian!" Lara sudah mulai emosi, dia menahan tangisnya.
"Aku gak bisa Lara. Aku gak akan sanggup ngebayangin hal-hal yang akan nyakitin diri aku sendiri."
"Kamu paranoid tau gak! Aku cuma butuh, waktu untuk sendirian Dimas."
"Sekarang aku tanya, kenapa selama sepuluh tahun ini, baru kali ini kamu minta hal ini sama aku? Kenapa gak dari 5 atau berapa tahun yang lalu? Kamu udah mulai bosen sama aku?"
"Susah bicara sama kamu. Sampe Abis Kamis jadi Senin juga kamu akan berlagak gak ngerti apa yang aku ucapin." Lara bangkit dari duduknya. Dia kembali pada kasur dan memilih untuk rebahan.
"Kita belum selesai bicara!"
"Enggak. Aku udah selesai, aku sekarang minta kamu pilih tidur di luar, atau aku yang tidur di luar."
"Kok gitu. Kan masalahnya sudah selesai."
"Ok, aku yang tidur di luar." Lara sudah siap membawa bantal dan selimutnya, namun ditahan Dimas.
"Fine. Aku tidur di luar." Dimas mengalah, setelah dia membawa selimut dan bantal keluar dari kamar, Lara seger mengunci pintunya. Dia terisak. Siapapun boleh anggap dirinya terlalu lebay, silahkan! Tapi siapapun yang bilang begitu, mereka tidak merasakan sakitnya menjadi Lara, bagaimana Lara bertahan hidup bersama Dimas yang selalu mengekangnya ini dan itu.
Tak jarang ketika kumpul keluarga, semuanya berkata. "Enak jadi Lara. Dimas kerjanya rajin, udah kebeli ini itu. Gak pernah kedengaran ngutang lagi. Beruntung banget kamu Lara. Harus nurut sama suamimu, jangan kebanyakan main handphone melulu, urusi anak-anak dengan benar." Kira-kira begitulah yang selalu mereka katakan. Padahal di dapurnya, semua berbanding terbalik.
Lara tidak sempat untuk memainkan handphone, Lara bahkan bisa menyisir rambut, ketika sanga anak yang paling bungsu sudah tertidur. Di mana letak enak ya jadi Lara. Dimas gak bisa ngurusin anak, gak bisa beresin rumah, gak bisa masak, gak bisa nyuci, bahkan pakai dasi sendiri dan sisir rambut, harus Lara yang bantuin.
Semua terjadi, semenjak kedua orangtuanya tiada, 2 tahun setelah mereka menikah, kabar duka itu pertama kali datang atas kepergian Bapanya, kemudian setahun disusul oleh Umi. Lara kehilangan tempat untuk bersandar, untuk meluruhkan segala kekesalan dan kepahitannya berumah tangga. Sekalipun tidak bercerita, rasanya bisa dinasehati orangtua sudah lebih dari cukup. Bagaimana mereka akan selalu menerima Lara, menerima kekurangannya dan membantu setiap kesulitan yang dialami. Sekalipun Lara bukan anak tunggal, dia tidak begitu dekat dengan suadara kandungnya yang lain. Mereka tinggal berjauhan di kota yang berbeda-beda.
Lara membolak-balikkan badannya, dia kehilangan rasa kantuknya. Setelah ingat bahwa kedua anaknya meminta untuk disiapkan raket. Dia bangun dan pergi ke bagian dapur. Dia membuka satu kardus berukuran besar yang sudah berdebu. Ada tulisan dari spidol yang masih bsia dibaca 'Memories' perlahan Lara membuka selotipnya lalu mengambil dua raket beserta beserta koknya.
Dia kembali ingat.
Flashback
Lara berusia 20 tahun, dia masih terlihat imut, dengan pakaian olahraganya dia masih seperti anak SMA, berjingkrak-jingkrakan di lapangan badminton.
"Yeeee menang lagi."
"Curang kamu mah."
"Lah kok Aku? Kalau udah pro emang bakalan susah di kalahkan."
"Sekarepmu."
Dimas berpura-pura marah. Lara tau sebenarnya, permainan badmintonnya tidaklh bagus, dia juga sering membuang kok tak beraturan. Tapi Dimas selalu berkata bahwa dia mendapatkan poin. Hal sederhana ini, yang biasa Dimas lakukan ketika dirinya sedang dalam masalah, ketika banyaknya tugas kuliah dan beban kehidupan yang terjadi di usia dua puluhan. Dimaslah yang menemaninya melewati itu semua. Biasanya setelah selesai main badminton. Dimas dan Lara akan makan soto Betawi di tempat langganan mereka.
"Mas kalau udah menikah nanti, kita bawa anak-anak ke sini ya."
"Iya, nanti kalau kita udah jadi kakek nenek, anak-anak sibuk sama urusan masing-masing kita akan tetep ngedate ke sini."
"Lucu juga ya, kamu udah beruban, keriput, giginya ompong."
"Yeee, semua orangtua juga begitu, kamu juga begitu."
"Kalau begitu, kamu masih sukak aku?"
"Tergantung,"
"Kok gitu."
"Kamu masih cantik gak nanti haha."
"Yeee, kamu juga bakal jelek nanti. Terus aku cari brondong."
"Gak akan aku biarin, aku bakal tetep jaga badan aku, rawat penampilanku, supaya kamu gak bisa ngelirik yang lain."
"Sekalian aja kurung aku."
"Ya, boleh dipraktekkan."
Flashback off
Setiap ucapan adalah doa, dan Lara menyesalinya sekarang.