Pagi yang Canggung

1369 Kata
Pagi hari ini, Lara sudah siap di dapur sejak pukul 5 subuh, setelah menunaikan ibadahnya, lalu membangunkan kedua anaknya untuk ibadah dan mandi. "Mah, Kok Ayah tidur di luar?" Senja yang baru selesai mengucek matanya, mencoba untuk memfokuskan pandangan pada seseorang yang masih bergulung dengan selimut. "Habis nonton bola Kak, makanya tidur di luar." Lara sedikit lebih hati-hati, dia tidak ingin anak perempuannya tau, kenapa sang ayah tersayangnya harus tidur di luar. Senja hanya mengangguk, lalu segera masuk ke kamar mandi, setelah melihat Shaqa keluar dari sana. Sementara Lara, dia mulai menanak nasi di rice cooker. Kemudian mengambil terus dari kulkas dan mulai memecahkannya, lalu di kocok di sebuah mangkuk. Dia tambahkan beberapa bumbu dapur, seperti garam dan merica, tidak lupa diberi irisan daun bawang dan bawang putih. Kemudian siap untuk didadar. Sementara kompor satunya, dia hidupkan untuk menggoreng tahu, yang sudah direndam dengan bumbu semalaman di kulkas. Setelah yang digoreng-goreng sudah siap, tinggal membuat sayur sop kesukaan anak-anak. terakhir dia menyiapkan beberapa minuman. Untuk ke tiga anaknya yaitu s**u dan Dimas teh manis. Sementara Lara? Hanya air putih saja. "Mah, tolong kuncirkan rambut Senja." "Bentar ya Kak, Mamah buat teh manis punya ayah dulu, tunggu di ruang tv aja." "Ada Ayah belum bangun Mah." Lara melihat Jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi. "Yaudah bangunin aja." Lara melanjutkan aktivitasnya. Samar-samar dia pun mendengar Senja membangunkan Dimas. Dimas yang bertanya pukul berapa itu, terdengar kaget, karena waktu sholat subuh sudah terlewat banyak. "Kamu kok gak bangunin Aku?" Tanya Dimas setelah sampai di pintu kamar mandi yang masih satu ruangan dengan dapur itu. Lara menulikan pendengarannya, dia tahu ini tidak boleh. Namun dia manusia biasa yang punya batas kewajaran. Dimas mungkin lupa karena bangun tidur, tapi Lara tidak, dia bahkan hanya tidur setengah jam malam ini. Dimas mengelus dadanya, kemudian lanjut masuk ke dalam kamar mandi. Lara menggelarkan karpet khusus untuk mereka makan. Setelah menata semua makann yang dibantu dibawakan oleh anak-anaknya. Akhirnya menu sarapan pagi sudah siap untuk dihidangkan. "Mah, ayoo. Bantuin aku sisir rambut dulu," ucap Senja yang sedari tadi rambutnya seperti singa. "Iya, mana sisirnya?" Senja memberikan sisir lalu mereka menjauh dari makanan. "Mah, sepatu olahraga Shaqa yang warna biru di mana ya? Kok dicari di rak gak ada?" "Yang ada gambar ceklis itu? Udah mamah cuci kok." "Gak ada Mah, sudah dicari-cari." "Kamu gak teliti kali, carinya satu-satu Abang." "Awas ya, kalau Mamah cari ketemu." Shaqapun mengangguk. Lara berpikir terakhir kali dirinya mencuci sepatu itu kemarin pagi, yang harusnya sepatu itu sudah ada di rak. "Astaghfirullah. Sepatunya belum di angkat," Lara berlari ke arah dapur, justru bertabrakan dengan Dimas yang baru keluar dari kamar mandi, sontak saja Dimas tidak sempat menyelamatkan handuknya yang melorot, karena mencoba menyelamatkan Lara, walaupun tetap gagal juga. Lara salah tingkah sendiri, ke dua anaknya sudah menutup muka dengan kedua tangan, begitu juga lara, yang memejamkan matanya. "Kalian kenapa sih? Orang Ayah pakai celana pendek," ucap Dimas sembari membetulkan handuknya yang melorot. Mereka bertiga perlahan membuka matanya. Menatap Dimas yang terlihat kesal sembari masuk ke dalam kamar. Lara segera pergi mengambil sepatu. "Abang sih, Senja kan lagi mau disisirin Mamah. Jadi gagal deh, tuh liat rambut Senja masih kusut," gerutu Senja sembari memperlihatkan rambutnya yang belum selesai disisir. "Yaudha sini, Abang sisirin." Shaqa adalah termasuk anak sulung yang sangat bisa diandalkan. Walaupun kerap kali menjahili adiknya, Shaqa juga sangat menyanyanginya. Jika Senja ada tugas sekolahpun selalu dibantunya seperti membuat karya lukis ataupun kerajinan. Shaqa nomor satu soal seni, pelajaran matematikannya yang justru sedikit turun, kecuali menghitung uang. Berbanding terbalik dengan Senja, dia sama sekali tidak suka seni, selalu mengeluh karena tidak bisa. Jika soal matematika dia maju paling depan, mungkin karena soal matematikanya baru pertambahan dan pengurangan. "Abang. Maafin Mamah, sepatu Kamu basah." Lara memperlihatkan sepatu olahraga itu pada anaknya. "Aduh. Gimana dong, masa aku pakai sepatu formal." "Eum gimana ya, ini hanya basah sedikit sih," "Yaudah, dalamnya pakai plastik aja, biar kaos kaki kamu gak basah." "Ayah, itu memalukan." "Gak akan ada yang tau Shaqa. Emang kamu mau ditertawakan karena olahraga pakai sepatu formal?" "Baiklah, dengan berat hati," ucap Shaqa mengangguk lemas. "Maaf ya Sayang," ucap Lara bersimpati pada Shaqa. "Iya, Aku maafin." "Bukan sama Kamu, tapi Shaqa." Lara kesal, karena Dimas menjawab ucapan yang bukan untuknya. Sementara kedua anaknya, malah tertawa melihat kelakuan Ayah dan Mamahnya. Mereka bersiap untuk sarapan, semua sudah mengambil nasi beserta lauk pauknya. Larapun sama, karena Dimas akan menegurnya, jika tidak ikut makan bersama. Sekalipun, Lara sedang mengerjakan cucian, atau memandikan Tian. Dimas akan meminta kedua anaknya untuk menunggu ibu mereka. Jawabannya cukup menggelitik, karena Dimas tidak suka makan tidak ditemani Lara, akan sulit untuk menelan makanan tersebut. Rasanya sedikit sekali suami zaman sekarang begini, yang ada makan di restoran gak inget sama anak dan istri hanya makan nasi pakai gorengan. Baru suapan ke tiga, suara Tian menangis terdengar oleh mereka. Lara buru-buru untuk bangun, tapi didahului oleh Dimas. "Udah, Kamu lanjut makan aja, biar aku yang bawa Tian." Lara mengangguk, dia selalu merasa gagal dan bersalah jika memulai perseteruan dengan Dimas. Rasanya suaminya terlalu baik, sementara dia sudah tidak kuat jika harus dikurung seperti ini. "Mah, kok gak lanjut makan?" Tanya Senja yang melihat Lara melamun. "Eh iya, ayo kalian habiskan makanannya, udah jam enam lewat, nanti terlambat." "Tenang Mah, guru olahraganya selalu datang pukul 8." "Mungkin karena sedang ad urusan, siapa tau hari ini sudah datang jam 7 ke sekolah. " "Masa udah di tahun begitu terus." "Shaqa, guru olahraganya mungkin rumahnya jauh, siap tau harus nganterin anaknya sekolah dulu, atau istrinya kerja. Jadi datangnya sedikit terlambat." "Mah, kenapa sih kalau murid yang telat dihukum, kalau guru yang telat gak dihukum." "Siapa yang bilang?" "Aku gak pernah liat guru olahragaku lari keliling lapangan karena terlambat." "Itu karena pak guru sudah ijin ke guru piket." "Jadi kalau Aku mau telat harus ijin dulu?" Pertanyaan polos itu keluar sana dari mulut Shaqa. "Shaqa Senja jangan mengikuti jejak Ayahmu dong tolong," ucap Lara frustasi dengan pertanyaan kedua anaknya. Kenapa semakin bertambahnya usia, semakin banyak pertanyaan yang sulit Lara dan Dimas jawab. Dia mengerti orangtua harus bisa mengedukasi anak-anaknya. Tapi kalau pertanyaannya seperti ini, Lara juga bingung. Bohong dosa, gak bohong nanti anaknya malah tumbuh dengan pemikiran yang sempit. "Kok bawa-bawa Ayah Mah, ada apa?" tanya Dimas yang datang dengan Tian yang ada digendongannya, Tian menyenderkan kepalanya pada ceruk leher Dimas. "Anak Kamu nanya, katanya kenapa guru olahraga mereka telat tapi gak dihukum?" Dimas hanya tersenyum, dia ingat dulu pernah menanyakan hal yang sama pada orangtuanya dan dia juga pernah bercerita pada Lara soal ini, kalau dulu sih dia langsung diskak oleh orangtuanya dengan jawaban anak kecil jangan ikut urusan orang tua. Kalau sekarang sih, udah beda. Cara mendidik seperti itu, akan membuat anak kesulitan untuk mempunyai pemikiran yang terbuka. "Nanti kalau sudah dewasa, nanti kalian mengerti sayang. Jadi, sebaikknya kaliam selesaikan makan dan ayah antar ke sekolah, mau?" "Mau!" Teriak mereka berdua gembira. Lara bernafas lega, tapi setelah mendapat bisiskan dari Dimas dia cemberut. "Kamu harus belajar banyak soal berkilah padaku Sayang." Lara tidak peduli, dia mengambil Tian dari gendongan Dimas dan mulai menyuapi anaknya sarapan. "Mah, ini sepatiku gak akan lepas kan?" tanya Shaqa setelah mendapatkan raket dari Lara. "Enggak Kamu tenang aja, udah segera berangkat, Ayah sudah menunggu di motor." Shaqa menyalami tangan Mamahnya lalu bersiap untuk bergabung naik motor bersama Senja dan Ayah. Mereka berangkat sekolah, sementara Lara membereskan piring dan gelas bekas sarapan mereka, dia langsung mencucinya karena tidak biasa menumpukkan banyak cucian kotor. Sementara Tian, menonton acara kartun kesukaannya di televisi. Sesekali anak itu tertawa, seolah mengerti dengan apa yang dilihatnya. "Dede mandi dulu yuk!" "Nonono," "Tian, sudah siang, bau asem nanti." Lara terus membujuk Tian agar mau mandi. Anak itu, malah terlihat seperti mau menangis. "Kenapa sih, semua anak malah mengikuti gen Dimas. Perasaan gak pernah salah ngidam." "Assalamualaikum," ucap Dimas. "Waalaikumsalam," jawab Lara pelan. "Kamu lagi dapet Mah? Perasaan sensitif banget sama Aku." "Dapet apa?" Lara naik pitam. "Kamu beneran lagi dapet ini mah. Yaudah, Aku pamit kerja dulu ya." Sebenarnya Dimas bukan tidak menyadari bahwa Lara masih marah padanya, dia tidak ingin membesar-besarkan masalah. Dia yakin, marahnya Lara tidak akan lama. Karena mereka tidak pernah punya bertengkar lama sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN