Undangan

1196 Kata
Lara mendapatkan sebuah undangan pernikahan yang dikirim oleh kurir, temannya bernama Naira dan Bayu. Mereka dulunya adalah sepasang kekasih yang populer di kelas. Karena jadian semenjak masuk SMA. Mungkin cinta lokasi karena MOPD. Tak jarang, menjadi bahan ledekan karena selalu berduaan ketika jam istirahat, setelah lulus, Keduanya sama-sama mengejar pendidikan dan karier. Tidak heran, jika baru menikah sekarang. Dan menjadi pernikahan terakhir di satu kelas itu, Karena semua temannya sudah menikah. Lara ingat betul, dulu Bayu sangat nurut Naira. Takut banget kehilangan, dia akan memilih disebut banci daripada ikutan tauran tapi diputusin sama Naira. Luar biasa bukan? Masih adakah zaman sekarang yang seperti ini? Lara menaruh undangan tersebut di bupet tv, agar Dimas melihatnya dan membacanya. Walaupun sudah pasti akan dilarang, tidak ada salahnya mencoba. "Assalamualaikum," ucap kedua anaknya yang baru saja pulang sekolah. "Waalaikumsalam," jawab Lara kemudian mengulurkan tangannya. "Hahaha," tawa Senja tak mau berhenti. "Kamu kesurupam Nak? Kok ketawa terus. Ada apa Bang, kok mukanya ditekuk begitu." "Haha, Mamah harus tau, tadi tuh disekolah ya," ucapannya terpotong kala Shaqa meninggikan suaranya. "Senja! Abang gak mau bantuin kamu ngerjain pr lagi!" Ancaman itu terdengae sangat serius. Namun tawa Senja tak bisa berhenti begitu saja, walaupun sudah dapat beberapa banyak ancaman. Tetap tidak mempan. "Senja, tidak boleh seperti itu, ayo cerita ada apa." Lara penasaran. "Sepatu Abang tadi lepas dari kakinya Mah, ketika pelajaran olahraga dan nyangkut di atas gawang. Terus plastikknya kelihatan. Semuanya tertawa. Itu benar-benar lucu," Bukannya menasihati Senja, Lara justru ikut tertawa mendengar hal itu. Membuat Shaqa semakin kesal dan masuk ke dalam kamarnya. "Mah dikunci," ujar Senja kala ingin membuka pintu kamar. "Yah, marah deh. Shaqaa Mamah minta maaf ya, buka kunci pintunya. Adikmu mau ganti baju ini." Selang beberapa lama Shaqa keluar, dia sudah berganti baju. Shaqa memeilih duduk di sofa L. Dia menekuk kakinya ke atas sofa dan menenggelamkan wajahnya. Lara mengerti, anak laki-lakinya ini sudah tau malu. Selain sifatnya yang pendiam dan selalu ingin terlihat keren. Shaqa sangat benci terlihat konyol, dia sepeti dewasa sebelum waktunya. "Abang kok murung gitu? Udahlah jangan terlalu dipikirkan, besok juga mereka akan lupa." "Masalahnya, mereka kebetulan ada yang sedang pegang handphone Mah, dan adabyang mengabadikannya. Shaqa gak mau sekolah besok." "Biarin, kan biar viral." "Gak mau. Pokoknya besok Shaqa gak mau sekolah." Lara menghela nafasnya. "Yaudah, nanti bilang Ayah dulu, hari ini mau dimasakin apa?" tanya Lara, mencoba membujuk Shaqa. "Tempe orek." Singkat padat dan jelas. Murah meriah dan dapet banyak. Paket hemat anti mahal. Anaknya memang sangat pengertian. "Masak mamahnya jago masak gini, mintanya cuma tempe orek aja." Lara terus merayu anaknya biar tidak bersedih lagi. "SOP Iga." "Ok, siap laksanakan." Lara bersiap ke dapur, memang dia belum sempat masak. Karena harus menyetrika pakaian dan mencuci gorden beserta seprei. Setelah setengah jam masakanpun jadi, Lara memanggil anak-anaknya untuk makan. Mereka segera datang dan duduk di depan makanan yang disipkan Lara. "Mie instan?" tanya Shaqa memastikan pengelihatannya. "Ini rasa sop iga sayang, seriusan deh nih Mamah coba ya, eum enak," ucap Lara sembari mencoba kuah Mie tersebut. "Lagi pula ini pertengahan bulan, kalau belanja daging sekarang, akhir bulan emang mau makan sama garam dan cengek?" Shaqa menepuk jidatnya, nasib sekali mempunyai ibu yang punya selera humor yang sangat tinggi. Senja tersenyum ke arah Lara, dengan memamerkan giginya yang ompong, copot karena makan gorengan yang keras. Setelah makan, mereka bersiap untuk solat dan tidur siang. Sementara Tian waktunya bermaim sampai sore, dan tidak ada waktu istirahat untuk Lara. Karena Tian sedang aktif-aktifnya, jika lolos dari pengawasan. Bisa saja terkena bahaya. Waktu itu, Lara ketiduran. Tian berjalan sendiri ke arah kamar mandi, begitu Lara terbagun, dia panik mencari anaknya yang tak ada di sampingnya. Dia mencoba memanggil dan membangunkan kedua kakaknya. Semua tidak tau, dan mencari Tian sampai keluar, dia panik. Sempat menelepon Dimas, untungnya Dimas sedang bekerja dan tak sempat angkat telepon. Jika tau, Dimas akan pulang ke rumah. Lara yang panik malah merasa ingin pipis, dia masuk ke dalam kamar mandi, dan ternyata di sana ada Tian yang sedang memainkan sabun sambil tertawa. Padahal tadi kakak-kakaknya ke dapur tidak mendengar suara sang adik yang ternyata di kamar mandi. Setelah kejadian itu, Lara lebih hati-hati dan tidak pernah tidur, kecuali si bungsu tidur juga. Sedihnya, Tian tidur saat Lara bekerja merapikan rumah, dan ketika Lara harusnya istirahat, Tian justru bangun dan mengajaknya bermain. Nasib seorang ibu, dan tidak punya orang yang bisa membantu-bantu di rumah. Padahal pekerjaannya terlihat mudah, para lelaki dan suami jugapasti akan berpikir pekerjaan perempuan atau istri itu sangat lah mudah. Tapi jika mengerjakannya tanpa henti, itu juga sangat melelahkan padahal. Suami mana paham, istri sedang enak-enaknya makan, anaknya minta ke kamar mandi pengen buang air besar. Ketika pulang ke rumah, pekerjaan rumah sudah beres semua. Dikiranya gak kerja apa-apa, padahal baru saja istirahat. Sore pun tiba, mereka sudah siap dengan baju tidur masing-masing, menunggu Dimas pulang, sembari menonton televisi. Acara kartun yang sudah diulang-ulang beberapa kali. Tapi masih merasa lucu dan tak pernah bosan ditonton. Lara tak bisa berbuat banyak. Karena ketiga anaknya tidak mungkin dia biarkan menonton sinetron kesukaannya. Tidak baik untuk perkembangan mental mereka. "Assalamualaikum, ayah pulang," ucap seseorang yang sebenarnya sudah diketahui siapa yang datang, dari suara motornya. "Waalaikumsalam," jawab mereka kompak. Senja, Tian dan Lara segera menyalami ayahnya. Berbeda dengan Shaqa yang diam di depan televisi seolah tak tau ayahnya sudah pulang. "Jagoan Ayah kenapa?" Shaqa tidak menjawab, malah masuk ke dalam kamar. Dimas bingung, dan mencari jawaban kepada Lara, setelah dijelaskan panjang lebar. Dimas mengerti, lalu masuk ke dalam kamar anaknya. "Shaqa," Dimas melihat Shaqa sedang membaca buku. "Malu itu gak dosa loh, kenapa harus takut banget, sampai gak mau sekolah." "Ayah gak tau gimana mereka menertawakan aku, tanpa peduli perasaanku." "Membahagiakan orang lain itu dapat pahala loh, masa dapet pahala malah sedih bukan senang." "Ayah, Shaqa serius, besok gak mau sekolah." Shaqa menangis, dia sudah tidak tahan, memngingat bagaimana teman-temannya mengejek dan menertawakannya. "Ayah serius. Besok kamu harus sekolah. Laki-laki boleh menangis, tapi jangan cengeng. Kamu boleh marah tapi jangan kasar. Ingat suatu saat nanti, kamu harus bisa gantikan ayah, untuk menjaga Mamah dan adik-adikmu." Dimas berkata dengan serius. "Ayah mau pergi?" Shaqa menghentkan tangisnya, lalu mengusap air matanya. "Pasti, tapi tidak sekarang. Dan kapanpun itu, berjanjilah untuk menjadi laki-laki yang kuat dan bisa membahagiakan orang-orang di sekitarmu." Shaqa memeluk ayahnya. "Ayah jangan pergi," lirih Shaqa. "Iya, Ayah akan selalu ada untuk kalian." Pelukan hangat seorang ayah yang sudah sangat kelelahan bekerja, mampu menenangkan Shaqa yang merasa sendirian dan tidak berguna. Terkadang, yang dibutuhkan seorang anak tidak selalu berupa barang, tapi juga dukungan moral. Agar bisa menghadapi setiap kenyataan dan rintangan yang tidak selalu sama dengan angan-angan. Dimas keluar dari kamar anaknya, dia melihat ada undangan di atas bupet. Dia melihat nama orang yang akan menikah, tapi dirinya tidak mengenal. "Ini tetangga komplek kita bukan Mah?" tanya Dimas, ketika melihat Lara yang sedang menyapu. "Kamu pikir, aku suka keluar rumah, sampai bisa dikenal sama orang kompleks." Belum apa-apa, Dimas sudah diskak. "Ya terus siapa?" "Teman SMAku," ucap Lara dingin. "Kamu mau datang?" "Jangan tanya begitu, seolah-olah kamu mau kasih ijin, dan nganter aku pergi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN